Bisyri Ichwan
Suasana menjelang shalat Idul Fitri tadi pagi di pelataran Suq Sayyarat di Nasr City, Cairo. udara dingin sudah mulai terasa (Foto : Bisyri)
Tidak ada alunan takbir menggema ketika shalat maghrib usai ditunaikan, semakin malam semakin sepi, seperti tidak ada bedanya sama sekali antara hari-hari biasa dengan hari raya. Cairo tampak biasa-biasa saja. Di jalan raya lalu lalang kendaraan mulai terlihat lengang, hanya dibutuhkan beberapa menit saja untuk berputar-putar di wilayah Nasr City, Cairo. Kendaraan umum juga jarang sekali ditemukan dan bisa dihitung dengan beberapa jari.
Ketika adzan subuh berkumandang, mulailah masjid-masjid menyemarakkan takbir. Ketika kondisi seperti ini, rasa rindu akan hari raya di tanah air mulai saya rasakan. Cendela rumah saya buka untuk mendengarkan alunan takbirnya dari kota seribu menara. Walaupun seharian belum tidur dan istirahat, rasa ingin menghormati dan merayakan hari serta shalat bersama di masjid terdekat di Cairo begitu ingin sekali ditunaikan.
Mandi dan berkemas-kemas, bos saya sudah menunggu di mobil sedan toyota kesayangannya, kami diajak bersama shalat ied di masjid Syarbini, dekat dengan Suq sayyarat yang menjadi tempat pusat pasar mobil bekas seluruh Mesir. Jam menunjukkan masih setengah enam pagi. Keluar dari apartemen, hawa dingin langsung begitu menusuk, walaupun sedikit ada hawa sejuk. Ternyata, pada hari raya sekarang sudah hampir memasuki musim dingin yang biasanya jatuh pada awal bulan Oktober.
Takbir terus berkumandang dari masjid di kota seribu menara. Kami memarkir mobil di seberang jalan agak jauh dari masjid, karena jika dekat-dekat, alamat tidak bisa keluar nantinya karena begitu banyaknya para jama’ah yang juga memarkir mobilnya di sana. Kawasan ini memang pusat untuk shalat Ied di wilayah Hayyul asyir selain di masjid Assalam di bawwabah ula.
Kami duduk di pelataran Suq Sayyarat dan tidak memilih masuk ke dalam masjid, karena di dalam masjid sudah full sejak shalat subuh tiba. Orang-orang Mesir mulai berdatangan bersama keluarga, laki-laki, perempuan, anak-anak terlihat sangat bersuka cita. Di depan saya duduk, ada bapak yang memasukkan mobilnya ke dalam area tempat shalat dan ternyata ketika pintu mobilnya dibuka, dia orang cacat yang tidak bisa berjalan, tetapi ingin shalat ied bersama dan orang-orang di sekitarnya menolongnya untuk keluar mobil dan mendudukkan di kursi rodanya.
Para jama’ah dari berbagai negara mulai berdatangan hadir disela-sela alunan takbir mulai menggema. Ada yang Rusia, afrika, Malaysia dan Turki, semua tumplek blek menjadi satu di sini. Untuk barisan belakang semua di isi oleh para wanita. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 06.20, sang imam yang ada di dalam masjid sudah mulai menjelaskan tata shalat ied yang akan ditunaikan, salah satu penjelasannya adalah dalam shalat ada 7 takbir di rakaat pertama dan lima takbir di rakaat kedua.
Kami shalat bersama. Suq sayyarat yang biasanya dibanjiri oleh mobil-mobil bekas, sekarang menjadi lautan manusia, dari berbagai negara. Kawasan Nasr City memang menjadi salah satu daerah favorit tempat tinggal para mahasiswa dari berbagai negara, terutama para mahasiswa Al-Azhar. “Allahu akbar”, kami mulai khusyu’ untuk menikmati lantunan ayat-ayat yang dibaca.
Tidak menunggu lama, usai shalat ied bersama, sebelum khutbah shalat selesai disampaikan, semua para jama’ah yang hadir di pelataran Suq sayyarat langsung membubarkan diri dan menuju rumah masing-masing untuk sungkem bersama keluarga. Saya mulai berjabat tangan dengan semua orang yang dikenal, entah siapa saja mereka, yang penting terlihat dari Indonesia, dengan senyum mengembang saya salami saja mereka, bagaimanapun mereka adalah saudara.
Kami langsung pulang ke rumah untuk menyempurnakan telpon ke keluarga di Indonesia sejak tadi malam. Hanya berselang satu jam, bos mengajak saya kembali untuk pergi ke masjid Assalam untuk bershilaturahim dengan para orang Indonesia, tidak hanya para mahasiswa saja, para bapak diplomat KBRI juga para tenaga kerja, semua berkumpul di sana.
Masjid Assalam di kawasan Bawwabah ula, Nasr City memang menjadi pusat untuk berkumpulnya orang Indonesia ketika hari raya tiba, entah idul fitri ataupun idul adha. Sejak 2005 hingga 2010 ini pihak KBRI Cairo memohon kepada Pihak manajemen Masjid Assalam untuk dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia untuk shalat di Masjid tersebut dan memanfaatkan ruang dan lapangan disekitarnya untuk Halal bi halal/ramah tamah. Biasanya acara shalat idul fitri orang Indonesia dimulai jam 9 pagi dan setelah itu ada acara makan bersama di tempat yang telah disediakan.
Tadi pagi saya sudah shalat ied di kawasan Suq sayyarat di masjid Syarbini, sehingga ketika datang ke masjid Assalam yang telah disewa untuk para orang Indonesia, di sana langsung sungkem-sungkem dengan para teman mahasiswa Indonesia dan dilanjutkan dengan mencari makanan yang sudah tersedia. Tidak lupa untuk bernarsis ria di papan baliho yang ada di belakang masjid yang tertulis di sana “Duta besar RI dan Keluarga Besar KBRI Cairo, mengucapkan : Selamat Hari Raya Idul fiti 1 Syawal 1431 H”.
Kesempatan berkumpul dengan para mahasiswa dan orang Indonesia juga menjadi ajang promosi para teman-teman yang ada. Ada yang ketika membagikan makanan sambil menyelipkan majalah ataupun bahan bacaan yang mereka buat, ada yang menyelipkan informasi bisnis, pihak KBRI Cairo juga memberikan selebaran tentang informasi lapor pendidikan ke KBRI di sela-sela membagikan makanan yang ada.
Tidak lama saya di sana, hanya sekitar setengah jam. Usai berjabat tangan dengan teman-teman yang saya kenal dan mengambil sekotak makanan, kami langsung pulang dengan mobil toyota bersama bos. Kebetulan sebelum berangkat ke masjid tadi, kami sudah masak-masak daging sendiri di rumah dan sudah makan, sehingga di masjid Assalam ini masih terasa kenyang.
Ya, paling tidak rasa rindu dengan Indonesia terobati dengan bertemu dan bershilaturahim bersama teman-teman Indonesia di Cairo. Semua teman-teman Indonesia yang tersebar di Mesir juga berdatangan di masjid Assalam yang telah di sewa oleh KBRI. Dalam kondisi seperti ini, seperti tidak sedang berada di Mesir dan serasa pantas di negeri sendiri, karena semuanya adalah orang Indonesia.
Inilah Cairo. Ketika hari raya tiba, sebagaimana kota-kota besar seperti Jakarta, akan banyak ditinggalkan oleh para penghuninya yang sedang mudik ke desa-desa. Usai shalat suasana bertambah sepi. Keramaian akan berpindah ke tempat wisata. Syarm Seikh kabarnya hari ini juga sangat ramai sekali, tempat salah satu wisata andalan yang saya menyebutnya sebagai seperti Bali yang ada di Indonesia. Hadaiq (taman-taman wisata) dalam kota juga banyak didatangi orang.
Saya malas untuk keluar dan menghabiskan hari pertama hari raya ini di dalam rumah sambil menikmati hidangan yang ada. Sesekali menyapa para sahabat yang ada di Indonesia lewat jaringan dunia maya. Bagaimanapun juga, jarak jauh pada era modern seperti sekarang ini justru seharunya harus bisa semakin melekatkan tali persaudaraan dan tali persahabatan yang ada, karena semua telah terasa mudah untuk berkomunikasi dan berutur sapa.
—————————————-
Dengan penuh ta’dhim, saya mengucapkan Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin kepada para sahabat pembaca semua. Selamat hari raya Idul Fitri 1431 H. Taqobbalallahu minna wa minkum, shiyamuna wa shiyamukum.
Semua jama’ah membubarkan diri usai shalat ied ditunaikan dan mulai bersungkem dengan para saudara dan orang yang dikenal (Foto : Bisyri)
Foto di pelataran Suq Sayyarat ketika suasana masih tampak sepi dan jama’ah masih belum banyak yang datang, namun di dalam masjid Syarbini, takbir sudah ramai dikumandangkan (Foto : Bisyri)
Foto di belakang masjid Assalam yang telah disewa pihak KBRI Cairo, di depan baliho ucapan selamat selamat lebaran dari KBRI (Foto : Bisyri)
Salam
September 13th, 2010 at 10:03
gamal giddan, org Mesir bahasa Arabnya tidak ada konsonan J, jadi kalau huruf JIM dibaca GIM. Jamal jiddan, tapi org Arab Saudi tidak suka memakai JIDDAN, kalau di Saudi, gamal giddan, menjadi JAMAL MARRA. Gitu yg saya tau.
Bener itu, artinya ganteng banget, wakaka
September 13th, 2010 at 06:47
hahaa..ben seneng lah..mancingnya dapet ikan..
kikikikiki
takbiran jaman di kampung arak-arakan gitu lah. bedug…rebana, tetabuhan bikin seru… bukan bleyeran knalpot…. (yang saya yakin yg knalpotnya suaranya meraung-raung itu pas muter ga ada suara takbirnya…
September 13th, 2010 at 06:15
Bisyri : seperti yang kuduga artinya. Makanya saya nanya apa artinya sama dengan jamal jiddan
September 13th, 2010 at 06:06
takbiran, sih OK asal jangan sampai keindahan gema takbir dan suara bedug, kelelep sama gerungan suara sepeda motor. *sigh*
September 13th, 2010 at 04:39
selamat idul fitri semuanya….mohon maaf lahir batin…
Gamal giddan itu artinya ganteng sekali……hihihi
September 13th, 2010 at 00:31
Bisyri, memang takbiran ala Indonesia paling meriah dan berkesan. Menggugah jiwa menyebar kebahagiaan. Salam!!
September 13th, 2010 at 00:14
Haha.. langsung mecungul pas dirasani RC cepek..
Memang kalau takbiran jadul gimana dab?
September 13th, 2010 at 00:12
lho kang anoew… budaya takbiran sekarang dengan 10-15 tahun lalu ada udah jauuhhh berbeda…
klo RC 100 haha… itu mah jaman saya udah SMP…
September 13th, 2010 at 00:00
Hallo Bisyri… Selamat Idul Fitri..maaf lahir batin.
Seru ya Lebarannya rame-rame walaupun jauh dari tanah air.
Sukses selalu ya di negeri yang jauh.
Alexa…hahaha..komennya aku jadi ketawa sendiri.
September 12th, 2010 at 23:49
Maaf lahir batin juga, cak..
@Nep, lhayo jelas beda tho budaya sana dalam takbiran dibandingkan sini.
keinget pas muter-muter kota pakai RC-100 yo dab?