Bajo – Ruteng – Bajawa (1)

Abhisam


Rabu, 19 Agustus 2009

Sekitar pukul 11.00 WITA aku tiba di Labuhan Bajo, ibukota kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kabupaten ini baru dimekarkan sekitar 6 tahun lalu dari induknya, kabupaten Manggarai. Terik menyengat. Matahari tidak terlalu bersahabat di sini. Namun keindahan pulau-pulau yang tersebar di sekitarnya cukup mengurangi sengatan panas.

Sesaat sebelum pesawat Pelita Air, Fokker F-28, mendarat di Bajo, tampak pulau-pulau bergandeng mesra seakan memberi ucapan selamat datang. Pulau-pulau tersebut tidak hijau seperti umumnya pulau, mungkin karena tandus. Namun unik. Biru air laut dan pulau-pulau dipisahkan oleh air berwarna hijau, dan terlihat pekat. Biasanya, yang kutahu, warna hijau yang mengitari pulau tipis saja, tapi ini benar-benar terlihat pekat. Begitulah pulau-pulau yang tertangkap mata sesaat sebelum mendarat di Bandara Komodo.

Sayang memang, untuk kedua kalinya aku ke Bajo dengan pesawat dari Denpasar, seat di window tidak kudapatkan. Tapi dibanding pertama kali kesini, pesawat Pelita Air jauh lebih cepat, 55 menit saja dari Denpasar. Padahal jika terbang dengan Indonesia Air Transport (IAT) atau Riau Airlines (RAL) bisa memakan waktu sampai satu setengah jam. Pesawat Pelita memang lebih besar, kapasitas penumpangnya hampir sampai 90 orang. Dan bukan pesawat baling-baling. IAT atau RAL paling hanya sekitar 50 penumpang kapasitasnya.

Turun di Bandara Komodo, ah, dibanding bulan Maret lalu aku kesini bandara sudah berubah.  Tidak banyak, tapi lumayan juga. Paling jelas adalah patung komodo di nama bandara. Dulu tidak begitu, Bandara Komodo hanya sebatas papan nama biasa saja. Di dalam bandara juga ada beberapa perubahan kecil, seperti cat yang nampak baru, toilet yang sedikit lebih bagus, poster-poster pariwisata yang lebih rapi dan sedap dipandang.

Bandara Komodo diambil dari nama Pulau Komodo yang (konon) resmi jadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Pulau Komodo secara cepat menjelma magnet bagi wisatawan manca. Penerbangan Bajo ke Denpasar dan sebaliknya penuh. Sulit sekali dapat tiket. Aku bisa dibilang beruntung. Beberapa wisman mengeluhkan ini.

Dan memang banyak sekali wisman di bandara. Mungkin hanya selang 5 menit pesawat Pelita landing –bagasi saja belum keluar- menyusul RAL, dan sebagian besar penumpangnya adalah wisman. Jika frekuensi penerbangan ditambah pasti akan lebih banyak lagi wisman.

Dalam perjalanan ke Hotel Pelangi, lewat di dataran yang cukup tinggi, terlihat jelas Pelabuhan Bajo. Ah, aku lupa namanya. Luar biasa indah. Terik matahari membuat laut berkilauan. Banyak kapal-kapal, rumah-rumah penduduk, dan beberapa pulau yang terlihat dekat. Ada juga yang tertangkap pandanganku, kubah masjid berdiri menyembul.

Sampai di Hotel Pelangi, sebelum masuk ke kamar, aku diminta mencari Pak Haji. “Beliau yang tahu pembagian kamar,” kata orang di meja receptionist. Setelah bertemu dan berbincang, aku tahu ternyata Pak Haji itu orang Bugis. Hmm, orang Bugis selalu mencari pesisir, pikirku. Orang yang dipanggil Pak Haji itu lalu bercerita lebih jauh tentang sejarah orang Bugis sampai ke Bajo.

Aku sempat salah sangka, sebab kukira orang Bugis sampai ke Bajo karena faktor Kesultanan Gowa-Tallo.

“Bukan, kalau Bima iya. Kesultanan di sana erat sekali hubungannya dengan Gowa-Tallo,” jelas Pak Haji, “Orang Bima banyak juga di Bajo.”

Ingatanku terlempar pada bulan Juni 2008. Aku sudah sampai ke Kesultanan Bima, NTB, bahkan sampai masuk-masuk ke kamar Sultan, kamar Bung Karno, tempat penyimpanan alat-alat perang, dan jalan belakang tempat Sultan menyelamatkan diri jika ada bahaya. Bima, salah satu Kesultanan besar yang pernah menjadi kiblat di Indonesia Timur, rusak oleh Orba. “Waktu itu sambil menunggu markas batalyon dibangun, tentara dipindah sementara ke keraton ini. Habislah peninggalan-peninggalan yang ada, dirusak atau diambili tentara. Kadang juga diambil sebagai kenang-kenangan pejabat pusat yang kemari. Tapi waktu itu, siapa berani protes?” Begitu cerita penjaga keraton waktu aku ke sana.

“Jadi banyak orang Bima juga di sini ya?”

“Iya, Bugis, Bima dan Jawa.”

“Oh, banyak juga orang Jawa di sini?”

“Di kotanya, Bugis dan Bima juga lebih banyak di kotanya.”

“Lalu bagaimana ceritanya orang Bugis sampai kemari?”

“Sekitar tahun 50-an, isu gerombolan sangat menakutkan di Sulawesi Selatan. Kalau kita tidak suka sama orang, tinggal tunjuk saja ia gerombolan, pasti segera mati dibunuh. Karena itu banyak orang lari, dan arus yang cukup banyak itu salah satunya ke Bajo.”

“Karena pesisir ya, pak?” tanyaku, teringat kubah masjid di pelabuhan tadi.

Pak Haji mengangguk.

“Lalu gerombolan itu apa pak?”

“Itu sebutan untuk pengikut Kahar Muzakar.”

Seperti PKI juga batinku. Tinggal tunjuk, habis dihakimi massa. Tak perlu pembuktian atau pengadilan.

Aku ingin bertanya lebih banyak sebenarnya. Tapi seperti ada keengganan dari Pak Haji jika ditanya soal itu. Ia mungkin punya luka, mungkin trauma, dan mendalam. Entah. Aku jadi urung.

Selesai masuk kamar dan istirahat sebentar, aku keluar ke halaman depan hotel. Ramai sekali. Tanah lapang di depan hotel dipenuhi manusia. Bendera merah putih kecil tampak semarak. Ada ogoh-ogoh juga. Mungkin orang Bali yang membuat. Karena aku harus pergi ke BNI setempat, aku mencari ojek. Luar biasa. Jalanan macet oleh pawai. Sepeda, sepeda motor, mobil, bis, rombongan pejalan kaki, bahkan traktor pun berbaris. Semua penuh dengan merah putih.

Di pinggir-pinggir jalan wisman berjejal. Ada yang sibuk mengambil gambar, ada yang menunjuk-nunjuk sesuatu sambil tertawa, ada juga yang berbicara (mungkin bertanya) pada penduduk sekitar situ. Mereka seakan larut dalam pesta kemerdekaan republik ini. Meriah juga, gumanku. Tapi karena harus segera ke BNI, aku tidak sempat berlama-lama apalagi larut dalam pesta itu.

Kembali ke hotel. Sepanjang jalan pawai sudah sepi. Di lapangan masih cukup ramai. Terik lumayan reda, tapi tetap terasa menyengat. Jalanan di Bajo sudah lumayan bagus ternyat, aku baru sadar. Berbeda dengan pertama aku datang bulan Maret lalu. Wisman dimana-mana. Seakan Bajo banjir wisman. Pantas saja tiket pesawat penuh terus sampai bulan September.

Aku coba iseng bertanya bagaimana jika mau ke Pulau Komodo pada Pak Haji.

“Wah, mahal, bisa 600 – 900 ribu sewa kapalnya.”

“Tidak ada yang lebih murah Pak Haji?”

“Ada sebenarnya. Ikut dengan kapal-kapal nelayan, kapal kecil, paling hanya 50  – 60 ribu. Tapi harus menginap dulu, tidak bisa langsung pulang.”

“Ooo gitu ya…”

“Atau ke Pulau Rinca saja, di situ juga banyak komodo. Lebih dekat, lebih murah juga.”

“Waaah Pak Haji, saya mau lihat tujuh keajaiban dunia, bukan mau lihat komodo,” candaku.

***

Jum’at, 21 Agustus 2009

Setelah selesai semua urusan di Bajo, jam 7 pagi aku berangkat ke Ruteng, ibukota Manggarai, NTT. Tidak ada yang sempat kukunjungi selama tiga hari dua malam di Bajo. Paling hanya makan malam di pinggir pantai, ikan sunu, dengan nasi, 19 ribu rupiah. Cukup murah. Aku teringat Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, 10 jam perjalanan laut dari Luwuk. Di sana sunu juga primadona. Tapi di Bajo ikannya kecil sekali. Yah, tentu saja, 19 ribu. Beda Bajo, beda Bangkep. Bangkep benar-benar surganya ikan; ikan melimpah dan murah.

Perjalanan dari Bajo ke Ruteng menyisakan trauma buatku. Kelokan jalannya seakan tidak putus selama 4 jam penuh. Seingatku hanya ada satu jalan lurus panjang, selebihnya kelokan. Kelokan itu pun pendek-pendek. Ah, aku benar-benar tidak bisa menikmati perjalanan. Memang jalannya bagus. Tapi buatku lebih baik jalan rusak lurus daripada jalan bagus penuh kelokan, pendek-pendek pula.

Sampai di Manggarai siang, di Hotel Sindha. Dengan keadaan mual-mual, aku baru bisa istirahat malamnya karena beberapa tugas yang harus diselesaikan. Tapi baru saja beranjak istirahat, aku baru sadar akan kehadiran rombongan yang membawa peralatan lengkap. Peralatan yang, menurutku, tidak lazim dibawa ke daerah seperti ini kecuali ada sesuatu. Rombongan itu juga agak tidak lazim. Beberapa orang bule, laki-laki dan perempuan, campur dengan beberapa orang Indonesia yang bukan orang asli sini, bukan untuk wisata aku yakin.

Pemilik hotel mengatakan padaku, mereka adalah rombongan antropolog.

“Di desa Liangbua, tidak jauh dari sini, ditemukan fosil Homo Florensis. Mereka sedang meneliti itu.”

“Itu penemuan baru ya pak, kok rasanya tidak pernah dengar?”

“Sekitar setahun lalu kalau tidak salah. Itu si bule Perancis hidungnya tajam sekali. Dia seperti bisa membau jejak manusia purba. Katanya dia punya, entah museum entah laboratorium, antropologi di Perancis sana.”

“Seru juga sepertinya.”

“Si bule yakin jejak Homo Florensis sampai ke Bajawa, tapi belum tahu persisnya dimana. Fosil-fosil yang sudah ditemukan sementara disimpan di kantor bupati.”

Aku amati rombongan itu, lebih dari sepuluh orang. “Liangbua tempatnya ya pak?”

“Liang itu artinya gua. Bua artinya dingin. Jadi Liangbua artinya gua dingin.  Mereka masuk ke lorong-lorong gua mencari jejak manusia purba.”

Aku baru sadar, di Ruteng dingin sekali. Padahal aku belum mandi dari pagi. “Iya pak, di sini dingin sekali ya.”

“Biar disiapkan air panas sebentar. Mandi lalu istirahat saja dulu. Kalau mau ke Liangbua bisa diatur. Rombongan itu biasa berangkat diantar mobil hotel setiap hari pukul 9 pagi. Kalau mau menyusul bisa. Kita berangkat jam 10 saja. Jadi biar mereka pasang peralatan-peralatan dulu, dan kita di sana bisa melihat bagaimana mereka bekerja. Gua itu mirip aula besar.”

Wah, ini pengalaman langka. Aku harus mencari waktu. Menyiapkan diri.


To be continued….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *