Monday, 13 September 2010
Kornelya
Hari ini Jews Holiday Rosh Hasannah, sekolah anak dan suamiku libur, sayapun bisa lebih santai, tidak harus bangun pagi. Setelah sarapan jam 9, mumpung gadis kecil sainganku untuk menguasai remote masih tidur, saya mencoba nonton TV. Klik pertama, pidato presiden, pindah channel, klik kedua berita kebakaran, aku mencoba menyimak siapa tahu rumah sang Pastor gendeng bin egois yang berencana membakar Qur’an yang terbakar, ternyata dugaanku salah yang terbakar malah rumah penduduk di California. Penyebab kebakaran disinyalir diakibatkan oleh saluran gas alam yang bocor. Kucoba pindah ke channel olahraga, match ganda pria US Open 2010 baru saja dimulai.
Akupun duduk manis menyimak pertandingan antara kembar bersaudara Bryan (USA) Vs Rohan Bopanna (India) Aisam Al Qureshi (Pakistan).
Sambil menonton pertandingan yang begitu alot dan mendebarkan, pikiran saya yang sudah terkontaminasi politik berpikir, betapa hebat dan berjiwa besarnya kedua atlet ini dan juga pelatih serta pejabat pemerintahnya yang mau mengesampingkan konflik politik, agama, ras dan terotory tapal batas kedua Negara, menjunjung tinggi makna sportivitas olahraga.
Duta besar kedua negara, bersama sanak-saudara dan warga keturunan kedua negara memberi support saat mereka bertanding. Bayangkan apa yang terjadi bila Taufik Hidayat memilih orang Malaysia sebagai pasangan gandanya dalam Thomas Cup.
Kembali ke US Open 2010, kemelut kedua negara, ataupun krisis bencana alam yang melanda Pakistan tidak mengendurkan semangat juang kedua anak muda ini. Dua hari sebelumnya dalam perempat final mereka mengalahkan pasangan Argentina Eduardo Schwank and Horacio Zaballos 7-6 (7/5), 6-4.
Walau pertandingan berkahir dengan kemenangan pasangan USA 7-6, 7-6, moment penyerahan piala kemenangan menjadi sangat sentimental, kedua pemain menggunakan kesempatan ini untuk menyerukan untuk berhenti saling curiga dan berperang, hilangkan ego jalin perdamaian.
Semifinalis lainnya :
Rafael Nadal Vs Fernando Verdarco , 7-5, 6-3, 6-4
Roger Federer Vs om DJ Jerman, oh sorry Novak Djokovick (Serbia)
Vera Zvonareva Vs Caroline Wozniacki 6-4, 6-4
Juara bertahan Kim Clijsters. Vs Venus Williams 6-4, 6-7, 6-4
Bila sportivitas dijunjung tinggi, maka olahraga akan menjadi jembatan perdamaian yang efektif
September 13th, 2010 at 23:39
Mba Phie, aku hanya melihat dari perspektive lain. Btw, sebentar jam 4 sore pertandingan final Putra. channel 4 ABC News atau ESPN akan menyiarkan secara langsung. Salam!!
September 13th, 2010 at 21:50
aku malah ga denger yg ini mba kornelya, pdhl bbrp kali buka channel mo liat US open. wah klo taufik hidayat milih org malaysia bisa2 dikutuk seindonesia raya hehehe….
September 13th, 2010 at 21:16
Nvergiveup, betul , kejujuran dimulai pada jujur pada diri sendiri. Salam!!
September 13th, 2010 at 21:09
kornelya : jadi sebenarnya para pengurus olahraga negeri kita tercinta masih terjebak dan suka dengan prestasi semu ya… duh…
bu probo : ya kalau masalah dicurangi..nyeseg memang. saya waktu itu ga merasa si juara mencurangi saya sih.. lebih ke dia mencurangi diri sendiri (dan kalau ga salah inget, akhirnya dia juga mendapatkan hadiahnya sendiri koq….)
saya sempet nyesel kenapa ga ngomong ke panitia, tapi akhirnya malah bersyukur..
katanya hal2 besar dimulai dari diri sendiri. mungkin ibu bisa memulai dari sekolah ibu? (lho..koq malah dhawuh ini giman. jian murid kurangajar…. ampun buuu)
September 13th, 2010 at 20:44
Mba, Linda, line bordernya apakah untuk tunggal atau ganda seperti bulutangkis. Hitungannya 15 +15 + 10 = 40 equal 1 point. Game pada saat point mencapai 6 atau maksimal 7.
Aku yang penting ayunkan raket dan berkeringat. Kalau main sama anakku dia selalu kubiarkan menang, supaya besok mau nemenin aku main lagi. Salam!!