Hong Kong & Shenzhen Dalam Lensa: Buildings

Josh Chen – Global Citizen


Tulisan ini sebenarnya tertunda agak lama setelah kami balik dari liburan beberapa waktu lalu di saat liburan anak sekolah bulan Juni – Juli tahun ini. Setelah balik dari liburan, banyak sekali hal yang datang silih berganti, dan akhirnya memang harus disempat-sempatkan untuk menuangkannya dalam tulisan.

Before, Now and Then

Tahun 1995 adalah tahun di mana aku serba pertama kali. Pertama kali naik pesawat, pertama kali pergi jauh, pertama kali pergi lama, pertama kali ke luar negeri. Waktu itu acara student exchange di Taiwan selama 3 minggu. Tapi bukan acara ini yang akan diceritakan, namun adalah acara sesudah student exchange itu. Kami rombongan dari Semarang memutuskan dan sudah mengatur jauh hari dari Semarang untuk mampir ke Singapore dan Hong Kong.

Sewaktu mendarat di Kaitak Airport perasaan campur aduk karena pertama kali ke Hong Kong yang selama ini aku lihat di film-film saja. Kaitak sekarang sudah tidak dipakai untuk international flight, tapi diganti dengan Chek Lap Kok International Airport yang jauh lebih besar dan cantik. Kaitak beroperasi untuk international flight sampai dengan 5 Juli 1998.

(mcnees.org)

Selain ke Hong Kong, aku juga menyeberang ke Shenzhen. Masa ini kalau hendak ke China, pembuatan visa dilakukan di tempat dan dibuat di lembar kertas terpisah mengingat masih “sensitif”nya pemerintahan Orde Baru ketika itu, salah-salah yang ke China bisa kena ciduk atau sedikitnya diinterogasi. Di imigrasi China pun passport tidak dicap apapun, hanya dicap di lembaran kertas visa tadi. Kami menyeberang dengan ferry.

Limabelas tahun kemudian, aku ke Hong Kong lagi. Kali ini bersama keluarga. Luar biasa perkembangan dan kemajuan Hong Kong dalam kurun waktu 15 tahun. Bukan hanya airport saja, tapi juga seluruhnya. Pangling aku dibuatnya. Demikian juga Shenzhen yang perkembangannya luar biasa.

Di Hong Kong kali ini tentu tak melewatkan untuk bertemu dengan Wenny si “penunggu” Hong Kong. Malam itu juga di hari pertama janjian untuk ketemu untuk hunting foto Hong Kong di malam hari, menyerahkan titipan dari Lida untuk Wenny dan juga sedikit oleh-oleh. Janjian di Star Ferry Harbour malam itu dan menghasilkan beberapa jepretan di tengah mendung yang mengintip seharian itu. Setelah jeprat-jepret kami sekeluarga makan malam bersama Wenny di salah satu foodcourt di dekat Star Ferry Harbour.

Sungguh beruntung aku bisa dapat beberapa jepretan suasana Hong Kong malam hari di posisi terbaik dari arah Kowloon, karena hari-hari berikutnya Hong Kong dihajar hujan berkelanjutan selama 3 hari berturut-turut yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan foto outdoor. Bahkan waktu kami sekeluarga ke The Peak, tangan sendiri tidak nampak karena saking tebalnya kabut di sana, apalagi gedung-gedung cantik di Hong Kong.

Sedikit beruntung, malam-malam berikutnya sambil jalan-jalan masih dapat beberapa jepretan di beberapa lokasi di sana.

Shenzhen di mana dulunya adalah kota nelayan, kota kecil di Delta Sungai Mutiara, sungguh tidak mengira bisa jadi salah satu kota metropolitan dahsyat dan merupakan salah satu kota penting kunci perekonomian China. Di Shenzhen waktu itu dikenal ungkapan: “kota satu lantai satu hari”. Maksudnya adalah pembangunan gedung bertingkat yang begitu cepat, dalam arti sebenarnya, pembangunan satu lantai satu gedung berlangsung hanya 1 hari. Jika dalam waktu sebulan tidak berkunjung di salah satu kawasan, bulan berikutnya jika lewat, pasti akan “bertumbuhan” banyak gedung baru.

Sekarang Shenzhen dan sekitarnya dikenal sebagai “Silicon Valley of the East”

Untuk Shenzhen, tidaklah begitu banyak jepretan yang didapat, hanya beberapa gedung apartment bertingkat apik, beberapa gedung tinggi dan ornamen di dinding lift hotel di mana kami tinggal.

Karena tidak berhasil mendapatkan jepretan Hong Kong dalam siraman sinar lampu dari The Peak, sekedar menikmati, foto dari Wikipedia ini adalah jepretan dari The Peak. Dan yang satu lagi adalah coba-coba stitching 2 foto jepretan sendiri untuk dijadikan foto panorama…

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

55 Comments to "Hong Kong & Shenzhen Dalam Lensa: Buildings"

  1. Swan Liong Be  3 November, 2013 at 17:59

    apakah harus pake toestel spesial untuk ambil foto dari peak? Dulu saya foto dengan kamera biasa ya juga bisa koq. Atau yang dimaksud foto pada malam hari?

  2. J C  3 November, 2013 at 10:53

    JessLuk: jelas bisa banget dan sangat compatible dengan Nikon dan lensa 55-300mm, good luck…

  3. JessLuk  2 November, 2013 at 20:40

    Halo Pak. Mau nanya, kalau mau foto dari The Peak pakai Nikon lens 55-300mm kira – kira kompetible ngga ya? Thank you.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.