Masyarakat Adat di Bangka

Aimee Bangka


Pulau Bangka, memiliki sebutan Bumi Sepintu Sedulang. Sama halnya dengan pulau maupun daerah lainnya di muka bumi ini. Pulau Bangka pun menyimpan misteri tentang suku asli pedalaman. Seperti halnya suku dayak di Kalimantan, suku Baduy di Banten, suku Anak Dalam di Jambi, Suku Asmat di Papua, Suku Innonuit di Amerika, dan berbagai macam suku-suku lagi. Mereka biasanya adalah sekumpulan masyarakat yang memegang teguh adat dan istiadat yang diwariskan leluhur.

Pulau Bangka pun demikian adanya, saya rasa jangan kan kalian. Sesama orang Bangka pun belum tentu tahu ada masyarakat adat di pulau kami tercinta ini. Coba tanyakan kepada sejawat anda yang mengaku orang Bangka, adakah dia tahu jika pulau kecil ini memiliki masyarakat adat. Kalau jawabannya tidak, anda yang sudah membaca ini lebih terasa Bangkanya daripada dia. Hahaha. Bukan tua bangka ya…

Saya dapat penjelasan detail tentang masyarakat adat di pulau Bangka juga dari hasil browsing di internet. Namun jauh sebelumnya saya tahu di Bangka masih ada masyarakat adat. Sebelum saya mencari tahu tentang masyarakat adat ini. Saya hanya tahu kalo lokasi mereka ada di Mapur.  Mistik terkental pengaruhnya ada di kampung Mapur. Saya pernah sekali ke kampung Mapur, jalan-jalan saja bersama tujuh orang teman. Kami berdelapan saat itu, mengendarai empat motor. Tujuan kami awalnya hanya ke PhaKakLiang- Belinyu, namun alamak panasnya ampun saat itu PhaKakLiangnya. Kami hanya sebentar di PhaKakLiang, habis itu kami menuju Mapur dan Boom Baru Belinyu untuk melihat sunset.

Sebelum pergi memang kami sudah saling mengingatkan, sepanjang perjalanan jangan takabur, jangan mengucapkan sesuatu yang mengundang amarah atau ketersinggungan, jangan mengebut, jangan sok. Intinya menghargai masyarakat Mapur. Saya tak ingat kala itu apakah saya sudah sampai, melewati atau tidak sampai sama sekali ke kampung masyarakat adat. Hanya yang saya ingat saya pegal rasanya pantatku yang sudah tepos ini  duduk di boncengan motor sepanjang perjalanan menuju Mapur. Kontur jalannya sangat jelek, berlobang dan berdebu.

Kala itu kami sempat makan di sebuah warung, karena bagi saya takjub juga dengan kampung ini.  Saya memang tinggal di kampung yang cukup banyak hutannya. Namun sepanjang perjalanan dan sampai ke kampung Mapur, benar-benar hutan. Ada kalanya saya kebelet pipis. Teman saya bilang sudah berhenti saja untuk buang air kecil di hutan.

Karena benar-benar tak tahan, kalau ditahan pun alamat bakal kencing di celana karena goncangan-goncangan sepanjang perjalanan. Saya masuk hutan untuk panggilan alam ini, tiba-tiba bunyi kresek kresek di depan saya, ilalangnya bergoyang goyang. Saya ambil langkah seribu. Walau dipastikan kaki saya cuman dua, saya bisa lari langkah seribu saking takutnya.

Kalo diingat-ingat, saya bisa tertawa mengkal mengingat kejadian itu, bagaimana tidak? Saya mengangkat celana dan mengancingkannya sambil berlari. FYI, saya belum benar-benar tuntas terhadap panggilan alam itu. Ckckckck….bayangkan saja muka saya saat itu. Padahal sambil kencing saya sudah komat kamit “kakek nenek, cucu numpang kencing jangan diganggu”.

Namun mengingat ini adalah kampung adat, siapa yang tidak lari terbirit-birit. Di sini mistik kental, dan di sini adalah kampung Mapur. Kadang kami memplesetkannya menjadi MAnusia PURba. Ahhh…kejamnya yang memplesetkan kepanjangan itu pertama kali. Wong belum tentu masyarakat kota tidak primitif dalam bertingkah laku. Tak kenal maka tak sayang.

Oleh karena itu, marilah kita lebih mengenal mereka, biar kita tidak menilai mereka dari sikap asing mereka terhadap dunia luar. Saya dapat detail mengenai masyarakat adat ini dari  salah satu blog. Mancung wordpress. Saya tidak kenal pemilik blog, namun saya sudah meninggalkan message minta ijin utuk bahan artikel ini. Soalnya saya lihat juga artikel dia di blog tersebut sumbernya dari AMSA. Yang saya tidak tahu AMSA itu apa.

Masyarakat adat di pulau bangka adalah Urang LOM atau Suku LOM. Suku ini merupakan suku yang tinggal di dusun Air Abik dan dusun Pejam, yang masih termasuk ke desa Gunung Muda, Kampung Mapur  kecamatan Belinyu (Hallo mawar, ini kampung halaman orang tua mu loh).  Masyarakat suku LOM disebut sebagai Urang LOM. Urang = Orang, Lom = Belum.

Hal ini dikarenakan suku LOM belum memeluk suatu agama. Menurut cerita turun temurun, sebutan ini muncul sejak jaman kolonial Belanda yang mengidentifikasikan penduduk pulau Bangka berdasarkan agama yang dianut. Suku LOM  dikenal sebagai suatu kelompok masyarakat yang masih memegang erat tradisi dan adat mereka di tengah gerusan kemajuan jaman. Mereka bisa disebut sebagai pemegang kemurnian adat di tengah hutan Mapur. Sedang bagi masyarakat Mapur yang sudah memeluk suatu agama mereka tidak lagi disebut sebagai Urang LOM.

Karena hal tidak punya agama ini lah, sering ditemukan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk mereka sering dibiarkan kosong, kadang mereka mengisi dengan agama Islam, namun hanya sekedar formalitas.  Namun mereka hidup baik-baik, tidak mengganggu orang lain, menjaga keselarasan dengan alam, menghargai orang lain yang beragama, bisa makan dan bekerja setiap hari di hutan adalah keseharian mereka walaupun mereka tidak pernah mempelajari  agama. Sekalipun ada di antara mereka yang beragama namun mereka tetap menjunjung hukum adat di dalam kesehariannya.

Kalau berdasarkan peta, letak geografis masyarakat adat suku LOM hanya berjarak tiga belas kilometer dari kecamatan Belinyu. Memang mobil dan motor bisa masuk, namun kontur jalan seperti yang saya bilang sangat jelek, berdebu di musim kemarau waktu kami datang. Kepulan debu yang ditinggalkan motor teman di depan, cukup membuat mata perih. Sedang musim hujan saya bisa pastikan bakal penuh dengan lumpur, seperti off road track. Karena di musim kemarau saat kami melintas saja jalannya sudah berlobang-lobang.

Menurut peta  menuju kesana harus melalui Gunung Muda dan Gunung Pelawan, namun saat saya pergi ke sana yang saya tidak  yakin sudahkah saya masuk ke kampung adat. Karena kami tak berani masuk terlalu jauh ke dalam tanpa guide orang dalam yang dikenal. Kami hanya modal nekat, hanya karena PhaKakLiang saat itu panas banget, maka kami memutar haluan menjadi ke desa Mapur. Jadi kami sama sekali tidak tahu, sudahkah kami masuk ke kawasan adat atau baru masuk pintu gerbangnya saja.

Kami tidak kenal penduduk kampung di sana satu pun. Kami hanya segerombolan anak muda sok banyak waktu bermain-main. Soal gunung Pelawan dan Gunung Muda, saya sih lihat jalannya waktu itu berkelok-kelok dan memang ada gunung, namun satu mana Pelawan satu mana gunung Muda, saya tak tahu. Wong saat itu masuk wilayah asing, gak ada tujuan sebenarnya ke sana, gak ada teman yang dikunjungi pula. Hanya muter haluan saja.

Saking mereka menjaga kemurnian adat, keberadaan komunitas suku ini sering dikaitkan dengan kemampuan mistik mereka yang mumpuni. Waktu ayah mertua sobat saya sakit, dengar dengar karena “kiriman”. Nah, katanya nih tuh kiriman didapat dari kampung Mapur. Pokoknya keberadaan mistik Bangka pasti dikaitkan dengan kampung Mapur. Mungkin karena keberadaan masyarakat adat yang menjaga diri dari kemurnian adat ini penyebabnya. Hal ini membuat mereka agak terasing dari masyarakat umum pulau Bangka. Biasanya masyarakat enggan untuk menyinggahi kawasan Mapur.

Sebenarnya mistik yang ada di suku LOM adalah mistik untuk pertahanan diri sendiri dan lingkungannya. Hanya saja namanya mistik tetap saja menyisakan keengganan masyarakat luar untuk mengenal mereka. Biasanya mantra yang mereka punyai adalah mantra Jirat, mantra yang dipergunakan untuk menjaga ladang dari pecurian. Ada pula mantra untuk menghipnotis orang untuk mengakui perbuatan jahat yang telah dilakukannya. Pun tak luput adalah mantra Gendam, yang dipergunakan untuk menarik minat lawan jenis untuk jatuh cinta, tak jarang mantra Gendam dipergunakan untuk menjaga kelanggengan rumah tangga . Mantra-mantra biasanya hanya dikuasai oleh dukun adat.

Masyarakat adat suku LOM mempercayai dan meyakini bahwa mereka terlahir dari dan untuk alam. Maka dari itu mereka sangat menghargai alam beserta isinya. Mereka mempercayai gunung, hutan, sungai, bumi, langit dan hewan merupakan bagian dari alam semesta yang menyatu dengan nenek moyang dan leluhur mereka sehingga harus dihargai. Seperti halnya menghargai leluhur dan nenek moyang, begitu pula mereka menghargai dan berusaha memperlakukan alam berserta isinya. Mereka mempercayai jika setiap bagian dari alam semesta ini mempunyai roh atau kekuatan, yang mana roh-roh tersebut mengawasi manusia dan perbuatannya. Bencana akan menimpa manusia apabila manusia melanggar kekuatan dan keselarasan alam.

Selain mantra-mantra yang yang dikuasai oleh masyarakat adat suku LOM, mereka mempunyai adat dan pantangan tersendiri yang cukup unik. Keunikan tersebut membuat masyarakat adat suku LOM semakin menarik. Misalnya jika ada salah satu anggota suku LOM meninggal dunia, tidak boleh diantar ke pemakaman melalui pintu depan karena bagi mereka yang meninggal pergi untuk selamanya dan tidak kembali lagi. Jenazah akan dihantar lewat pintu belakang, jika tak punya pintu belakang tak jarang mereka harus menjebol dinding samping. Selain itu wanita hamil juga dilarang untuk duduk di tangga rumah, mereka mempercayai tangga adalah tempat lalu lalangnya roh-roh. Roh-roh bisa saja baik dan jahat, mereka menghindarinya karena takut roh itu masuk ke dalam kandungan dan mengganggu janin pada proses kelahiran nanti. Bersiul di ladang juga dihindari oleh masyarakat suku LOM, karena akan mengusir roh kehidupan yang akan memasuki tanaman yang sedang tumbuh, sehingga bisa mengakibatkan gagal panen.

Masyarakat adat suku LOM memberikan kebebasan  kepada anak anak mereka untuk bersekolah. Hanya saja kesadaran untuk sekolah sangat rendah. Banyak di antara mereka tidak bersekolah, kalaupun ada yang sekolah hanya sampai tingkat empat, jarang sekali ada yang menamatkan Sekolah Dasar. Biasanya mereka putus sekolah karena membantu orang tua mereka di hutan, namun tak jarang ada yang tidak masuk begitu saja. Muntaber = Mundur teratur tanpa berita.

Banyak di antara masyarakat adat suku LOM menanggap pendidikan hanya mengajarkan anak-anak mereka tentang dunia luar yang penuh dengan kebohongan dan nafsu mengejar materi. Hal ini bisa dipahami karena mereka hidup damai, terasing dari dunia luar dan menganggap alam adalah teman. Dapat makan untuk hari ini dan hidup baik-baik adalah keseharian mereka.

Suku LOM cenderung menutup diri terhadap budaya asing yang bertentangan dengan tradisi. Dahulu adat mereka melarang anggota suku untuk menggunakan sandal, jas, jaket atau payung. Karena dianggap menyamai gaya dan perilaku para penjajah. Namun sekarang mereka sedikit lebih terbuka terhadap perkembangan jaman, walaupun sikap kritis terhadap dunia luar tetap dipelihara. Sepanjang sejarah suku LOM, belum ada anggota suku yang terlibat tindakan kriminal. Suku LOM asli sangat menjunjung hukum adat dengan tidak mengganggu orang lain dan alam semesta.

Menurut kepala dusun Aik Abik, Tagtui, ada 139 keluarga yang tercatat. Sebanyak  62 orang beragama Islam, 13 Kristen, dan 2 Buddha. Sedangkan sisanya adalah masyarakat adat Suku LOM. Namun sekalipun mereka ada yang mencatatkan diri beragama tertentu, namun mereka masih menjunjung tinggi kemurnian adat suku LOM dalam berkehidupan keseharian mereka.

Jadi, jangan katakan mereka tidak beragama, sikap keseharian mereka beragama walau mereka tidak punya agama. Hidup baik-baik, menjaga kemurnian alam, dapat makan dan berladang sudah membuat mereka puas. Tak kenal maka tak sayang, mereka yang  tampak terasing  justru lebih murni dari warga perkotaan. Hargailah alam, maka ia akan memberi kelimpahan buat kehidupan.

Salam dari Bumi Sepintu Sedulang-Pulau Bangka.

46 Comments to "Masyarakat Adat di Bangka"

  1. Bang-Is  4 November, 2012 at 16:45

    Salam kenal,

    Memang benar banyak orang bangka sendiri kurang mengerti tentang suku Lom, justru kebanyakan literatur ada di internet. Masalahnya ya itu, tidak banyak juga masyarakat yang tahu betul mengenai suku lom. Bahkan menurut cerita beberapa orang tua di tempat saya (Koba), tidak ada yang kesana dan tahu banyak mengenai suku Lom. Jadi kebanyakan literatur berasal dari mulut ke mulut saja.

    Ulasan nya detail juga nih, jadi nambah wawasan. Thanks share informasinya..

    Salam – Bang-Is (blogger Koba)

  2. umbu njarabara  25 September, 2011 at 16:32

    mereka adalah orang-orang yang hebat, walau katanya “terbelakang” tapi punya kepribadian kuat,….biarkanlah mereka apa adanya, dengan tradisi, adat istiadat dan agamanya sendiri….mereka lebih berbudaya dan manusiawi daripada orang-orang yang mengaku dirinya “beragama”..!!

  3. fanny  29 June, 2011 at 21:45

    aku lagi cari tugas kuliaah nc tentang pulau bangka,,,,aku asli orang bangka,tapi baru tau kalo ada yang namanya suku LOM……..makasih yaa atas info na….sangat bermanfaat banget.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.