Menyambut Hari Kemenangan di Jinan

Meazza- China


“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallahu Allahu akbar. Allahu akbar walillah ilham.”Takbir menggema bertalu-talu lewat pengeras suara di menara, saat kami memasuki areal masjid khusus wanita pagi ini. Masjid yang terletak di kompleks pemukiman muslim kota Jinan, Shandong ini terlihat ramai oleh perempuan berwajah oriental namun memakai jilbab. Mereka berkumpul di masjid ini untuk melaksanakan sholat berjamaah menyambut hari kemenangan umat Islam: Idul Fitri.

Tepat jam enam pagi alarm di HP berbunyi. Aku secepat kilat melompat dari tempat tidur dan langsung mandi, kemudian berpakaian rapi. Kupilih baju batik coklat dan jilbab hitam sebagai pasangannya. Setelah menyeruput segelas susu kedelai dan tiga buah kurma, aku siap meninggalkan kamarku. Teman-teman sudah menunggu di lantai satu untuk bersama-sama melaksanakan sholat Id.

Udara pagi ini sangat nyaman, setelah semalam kota Jinan diguyur hujan deras. Mentari perlahan mengintip dari balik langit Jinan yang berkabut, sama kabutnya dengan mataku yang masih sembab, akibat menangis semalaman. Menangis, karena ini adalah tahun ketiga aku berlebaran tanpa ketupat, tanpa patlau, tanpa lontong.

Taxi yang kami tumpangi merayap lambat di antara kemacetan pagi. Setelah lima belas menit, akhirnya kami tiba di lokasi yang kami tuju.

Meski ini adalah tahun ketiga aku berlebaran di China, namun baru tahun inilah aku bisa melaksanakan sholat Id berjamaah di masjid. Jadi kalau boleh jujur, aku benar-benar bersemangat untuk menyaksikan pelaksanaan sholat Id di sini.

Di kota Jinan, laki-laki dan perempuan sholat di masjid terpisah. Perempuan sholat di masjid khusus perempuan, dan begitu sebaliknya yang laki-laki. Aku tak tahu pasti alasannya, namun bagiku itu bukan masalah. Jadi aku dan seorang teman dari Kanada masuk ke masjid perempuan, sementara empat teman laki-laki berjalan menuju masjid pria.

Sesampainya di masjid, kami disambut oleh beberapa remaja putri yang cantik-cantik dengan jilbabnya. Mereka mencoba berkomunikasi dengan bahasa Arab. Meski aku hanya bisa menjawab dengan grammar yang asal, tapi aku tetap bisa menilai bahwa bahasa Arab mereka cukup bagus. Temanku malah sudah puas memuji-muji kehebatan bahasa Arab mereka! Aku tampilkan foto temanku dari Kanada bernama Zeina, dengan seorang remaja putri suku Hui yang cantik dan ramah, bernama Ling. Kami pun diajak Ling berkeliling mengitari masjid, seperti turis yang berkunjung ke tempat wisata. Aku sibuk memotret, karena masjidnya memang unik.

Lantern alias lampion menghiasi bagian depannya. Di bagian dalam terhampar kain panjang untuk sajadah, di bagian belakang ada bangku kayu panjang yang disusun berjajar untuk para lansia yang melakukan sholat dengan posisi duduk.

Di bagian pojok teras terlihat sebuah meja yang di atasnya terdapat nampan berisi tumpukan kue, yang kabarnya akan dimakan bersama setelah sholat usai. Ada juga tempat untuk membakar hio di sana. Tempat itu adalah tungku berkaki tiga khas China, namun dihiasi oleh kaligrafi Arab.

Kulihat beberapa perempuan yang berjilbab namun telinganya masih kelihatan, membakar hio dan menancapkannya di sana. Ini jelas-jelas pengaruh dari ajaran Budha dan Konfusius. Tapi aku sungguh menikmati pemandangan ini.

Kami ternyata datang kepagian. Khutbah Id akan dimulai pukul sembilan, sedangkan saat ini belum sampai jam delapan. Jadi daripada bengong menunggu, lebih baik jalan-jalan ke masjid pria. Siapa tahu bisa memotret di sana.

Masjid pria ini hanya berjarak beberapa meter dari masjid wanita, dan kelihatannya lebih ramai. Di bagian luar terdapat pedagang yang menjual berbagai macam peci. Lalu suasana juga meriah dengan adanya pertunjukan tari-tarian dari suku Han, yang sengaja didatangkan oleh pemerintah daerah untuk memeriahkan Idul Fitri.

Dari luar, bangunan masjid kelihatannya biasa saja. Namun setelah memasuki gerbang, aku kaget karena masjidnya besar dan megah sekali! Bangunan masjid terdiri dari gerbang, lalu lorong panjang dan halaman masjid, barulah masjid itu sendiri.

Gaya arsitektur China kental menghiasi bangunan masjid ini. Mulai dari kesimetrisan gedung, plang nama bertuliskan “masjid” dalam bahasa Mandarin sama seperti plang nama di bangunan-bangunan China. Lalu ditandai juga dengan adanya bandul atau palang di bagian bawah pintu, lampion yang menghiasi bagian dalam masjid, dan pilar-pilar masjid yang semuanya berwarna merah, warna kebanggaan masyarakat China.

Kami disambut oleh Imam di sana, dan dia senang sekali begitu mendengar aku berasal dari Indonesia, karena katanya Imam ini pernah belajar Al Qur’an di Indonesia. Lalu dengan hebatnya dia berbahasa Arab kepadaku dan Zeina, sementara kami berusaha keras menerjemahkan apa yang dia ucapkan, sambil berpikir bagaimana cara menjawabnya, hahaha.

Beberapa remaja pria di sana mencoba mengobrol dengan kami. Dan aku takjub mendengar mereka berceloteh menggunakan bahasa Inggris yang fasih saat berbicara dengan Zeina. Dan tentunya sesekali mereka menggunakan bahasa Arab. Jadi hari itu kami bicara dalam tiga bahasa: Inggris, Arab, dan sedikit Mandarin. Hal ini tentu berbeda jauh dengan kesan yang aku tahu dari beberapa teman-teman dari suku Han, bahwa suku Hui atau masyarakat muslim itu umumnya kurang berbudaya dan berpendidikan rendah.

Seperti haus akan berita dari orang-orang muslim di luar negeri, kami pun dikerubungi. Mereka antusias bertanya tentang apa saja, misalnya tentang masjid di Indonesia, tentang bagaimana suasana puasa dan lebaran di Indonesia, sampai tentang kontroversi pendirian masjid di New York dan hari pembakaran Al Qur’an sedunia milik Terry. Aku kelabakan menjawab satu persatu karena kepalaku puyeng mendengar mereka berceloteh dalam tiga bahasa. Begitu juga Zeina yang akhirnya menjawab semua pertanyaan dengan bahasa Inggris. Dan setelah berhasil melepaskan diri, aku pun kembali berkutat dengan kameraku.

Puas memotret di masjid pria, kami pun kembali ke masjid wanita untuk mendengarkan khutbah Id yang akan dimulai. Saat memasuki pintu masjid, aku dan Zeina dibuat kaget oleh seorang perempuan separuh baya yang menyemprotkan parfum ke baju kami. Katanya parfum itu non-alkohol dan memang dipakai untuk sholat. Ah… bikin kaget saja.

Seorang imam wanita yang merangkap pengkhutbah memulai pidatonya dengan kata pembuka berbahasa Arab dengan lafal yang agak terdengar aneh di telingaku. Namun jujur saja aku terpesona dengan semangatnya membawakan khutbah Id, membangkitkan gairah ummat dengan isi khutbah berupa cerita para rasul. Empat puluh menit berlalu, dan imam pun mengakhiri pidatonya.

Dan satu keajaiban terjadi lagi, para sesepuh masjid berkumpul berdiri di depan pintu, mengucapkan takbir sambil memegang hio. Setelah itu, hio ditancapkan ke tempatnya, barulah imam berjalan ke muka, untuk memimpin sholat berjamaah. Hal ini terbalik dengan kebiasaan sholat Id di negara-negara Islam, yang mana sholat Id dilakukan di awal, baru kemudian diakhiri dengan khutbah.

Aku merentangkan sajadah dan mengenakan mukena biruku. Orang-orang sekitar memandangiku dengan heran. Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas aku sama herannya dengan mereka karena ketika perintah untuk berdiri dan merapikan barisan tiba, mereka masih tak mengenakan mukena. Jadi mereka sholat menggunakan penutup kepala seadanya saja! Hatiku sungguh tidak enak. Maka aku pun menanggalkan mukenaku, lalu melebarkan jilbab yang tadi aku gelung ke belakang. Nah, sekarang tidak ada mata yang memandangku dengan risih, sekarang semua yang ada di masjid ini sama.

Sholat Id di sini ada sedikit perbedaan, terutama di saat mengangkat takbir berurutan selama 7 kali di rakaat pertama. Imam sama sekali tidak memberikan jeda untuk mengucapkan doa. Lanjut saja, lalu membaca Al Fatihah dengan lafal yang juga tidak tepat. Duduk di antara dua sujud juga tak ada jedanya. Tak sempat membaca apa-apa, langsung sujud dua kali berurutan.

Sholat sunnat Idul Fitri selesai. Namun terdengar imam memberi komando untuk berdiri lagi. Nah, kali ini aku bingung, sholat apakah ini. Namun karena aku ini jamaah, maka sudah sepatutnya mengikuti instruksi sang imam selaku pemimpin, meski aku tak tahu mesti berniat apa, karena tak jelas ini sholat apa.

Aku pikir ini hanya sholat sunnat biasa saja. Makanya setelah rakaat kedua dan duduk tahyat, aku langsung melakukan duduk tahyat akhir, lengkap dengan salawat nabi untuk tahyat akhir. Eh, taunya imam mengucapkan takbir panjang, pertanda instruksi untuk berdiri. Walhasil, sholat ini berakhir di rakaat keempat, dan aku sungguh tak mengerti, sholat sunnat apa yang jumlah rakaatnya empat.

Seluruh rangkaian sholat ini ditutup dengan pembacaan doa oleh sang imam. Setelah itu, jamaah menghambur keluar, ramai-ramai menikmati kue yang ada di dalam nampan, sambil menyeruput bubur kurma yang dibagikan permangkok. Aku jelas tak kebagian, selain badanku yang mungil ini sulit untuk berkompetisi, aku juga sibuk jepret sana-sini.

Setelah bersalaman dengan imam dan kawan-kawan yang tadi telah mau menjadi guide gratis, aku dan Zeina ke masjid pria untuk menjumpai 4 kawan kami, beserta ratusan teman foreigner lain dari berbagai universitas. Salam-salaman, lalu saling berjanji untuk makan siang bersama setelah sholat Jum’at usai.

Aku tak bisa ikut, sore hari masih ada kelas. Jadi Idul Fitri untukku berakhir di sini. Aku kembali ke habitat kampus yang siap untuk kembali berkutat dengan modul-modul tebal.

Katakanlah perayaan Idul Fitri ini sangat singkat. Sebutlah upacara menyambut hari kemenangan ini terlalu sederhana. Namun bagiku makna kesucian Idul Fitri bukan dilihat dari baju baru yang dikenakan untuk sholat. Bukan pula dinilai dari berapa banyak dana yang dikeluarkan untuk memeriahkan lebaran. Idul Fitri bukan pesta rakyat yang harus disambut dengan haru biru. Idul Fitri adalah beban bagi setiap ummat Islam. Mampukah kita tetap menjaga kesucian hati agar menjadi insan yang lebih baik, setelah berpuasa sebulan di bulan Ramadhan, dan setelah merayakan kemenangan di hari nan fitri ini?


Raihlah Kesucian dan Kemenangan, Jinan, 11 September 2010

Meazza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.