Bajo – Ruteng – Bajawa (2)

Abhisam DM


24 Agustus 2009

Ruteng dingin sekali. Jaket tebal plus selimut double adalah syarat mutlak agar aku bisa tidur. Itu pun dingin masih terasa menusuk-nusuk, apalagi kalau subuh, seperti disuntik, persis ketika jarum kena tulang.

Saat siang, dingin tak lantas lenyap. Sinar matahari boleh menyebar kemana-mana, tapi tidak panasnya. Mirip prinsip pemain bertahan dalam sepakbola Liga Italia, bola boleh lewat tapi tidak orangnya. Dingin sungguh tangguh. Atau bisa jadi kondisi fisikku yang sedang tidak terlalu bagus.

Ruteng cukup rapi dan bersih kotanya. Jauh lebih rapi dan bersih dibanding Labuan Bajo. Menyenangkan juga. Rumah, pertokoan, pasar, instansi pemerintah, tempat ibadah, hotel, bangunan-bangunan bersejarah, sepertinya ditata dengan perencanaan baik. Rapi. Tidak banyak sampah, bahkan di daerah pasar pun relatif bersih.

Rumah-rumah penduduk melebar dengan atap yang cukup rendah. Kebanyakan begitu, memberi kesan gemuk dan pendek. Tidak banyak traffic light di Ruteng, setahuku hanya dua, dua-duanya dengan pengukur detik digital di atasnya.

Tapi satu catatan buruk tentang SPBU. Semrawut. Jika aku tidak salah memperhatikan, hanya ada dua SPBU di Ruteng. Semuanya selalu dijejali kendaraan hingga antrian panjang sekali. Lalu di sekitarnya berjejalan pula pedagang bensin eceran. Laris juga. Mungkin karena banyak orang malas kalau harus mengantri panjang. Bensin eceran, premium, dijual Rp. 6000,- per liter.

Siang hari, sekitar jam setengah sepuluh. Matahari meninggi, pancarannya sampai kemana-mana. Dingin masih belum hilang benar. Kesempatan ke Liangbua akhirnya kudapatkan juga. Tidak sesuai rencana memang. Mobil hotel dipakai semua. Sebagai gantinya disiapkan sepeda motor, dan aku harus membawa sendiri. “Tenang saja, pasti sampai. Paling hanya 20 menit saja. Kalau ketemu jalan bercabang tanya orang saja, orang sini baik-baik kok,” jelas pemilik hotel.

Perjalanan mulai. Mula-mula terhampar sawah, cukup luas. Cukup hijau juga. Namun selebihnya hanya kebun, tanah tandus, dan batu-batu. Jika bukan dataran tinggi di sini pasti panas sekali. Jalanan bagus, hanya memang sempit dan naik turun. Tidak cukup jika mobil berpapasan. Rumah-rumah penduduk tidak jarang meski tidak juga padat. Kebanyakan berbahan kayu. Bentuknya sama dengan kebanyakan rumah di sini; gemuk dan pendek, begitu aku menyebutnya.

Setelah melewati jembatan, tampak gapura yang sudah dekat. Terakhir aku bertanya jalan ke Liangbua pada penduduk, katanya, “Usahakan ketemu jembatan, setelah itu ada gapura, nah guanya sekitar 50 meter dari situ di kiri jalan.” Sudah hampir sampai berarti. Di gapura tertulis Desa Liang Bua. Ah, Liang Bua ternyata, bukan Liangbua. Tidak jauh tampak gua, banyak orang berkerumun di mulutnya, penduduk setempat.

Sekitar 20 menit perjalanan dari Ruteng. Perkiraan si pemilik hotel tepat. Tepat juga ia berkata orang sini baik-baik. Sepanjang jalan tadi paling tidak ada lima kali aku bertanya, dan semua menjawab dengan ramah. Sangat ramah bahkan. Pun jika hanya bertemu orang di jalan, terasa sekali keramahan mereka. Senyum, menjadi sesuatu yang ringan terlepas. Sungguh jauh di luar gambaranku tentang orang Flores. Jangan pernah membandingkan keramahan mereka dengan orang Jakarta, bagai langit dan bumi. Orang Jakarta senyum saja susah, apalagi jika sudah jam pulang kerja.

Selesai memarkir motor aku masuk melalui gapura kecil dengan segitiga di atasnya bertuliskan “Selamat Datang”. Penduduk setempat di mulut gua langsung menyambut dengan senyum. Mereka banyak juga, kebanyakan perempuan, ibu-ibu. Aku membalas senyum mereka. Lalu muncul seorang lelaki, menghampiriku, memperkenalkan diri dari dinas pariwisata kabupaten Manggarai. Ia lalu mengajakku mendekat ke gua.

Seumur hidup aku baru sekali masuk gua, itu pun karena rangkaian diksar Mapala di kampus. Agak terpaksa memang. Aku selalu takut masuk gua, takut membayangkan bertemu ular. Sebelum ke Liang Bua aku juga sudah memastikan dulu ke pemilik hotel bahwa tidak ular atau binatang berbisa lain di situ.

Liang Bua memang mirip aula besar. Pintu guanya luas, lebarnya sekitar 40 meter dengan tinggi sekitar 20 meter. Apa yang ada di dalam gua langsung terlihat semua dari luar. “Kecuali dua jalan, yang satu menurun ke bawah dan dalam, yang satu lagi mendatar dan agak panjang,” kata orang dari dinas pariwisata.

“Yang di sebelah mana pak?”

“Itu yang di atas sana, harus pakai peralatan kalau mau masuk.”

Aku mengangguk-angguk saja. Aku lebih terpukau pada pemandangan di depanku. Puluhan orang di dalam gua. Kebanyakan sedang santai. Tapi ada satu meja di situ, meja kerja. Orang bule dengan beberapa orang Indonesia –bukan penduduk setempat- sedang bekerja dengan laptop dan kertas besar, mungkin gambar atau apa. Aku mengenali mereka, orang-orang yang satu hotel denganku. Selebihnya penduduk setempat sedang duduk-duduk.

Rasanya tidak mungkin aku banyak bertanya pada para antropolog itu, mereka tampak sibuk semua. Beruntung orang dari dinas pariwisata tahu banyak (memang mestinya begitu). Ia menjelaskan ini penelitian tahunan. Peniliti dari Perancis, Kanada, Australia dan Indonesia meneruskan meneliti Homo Floresiensis (bukan Homo Florensis, lagi-lagi aku salah), manusia purba pendek dengan tinggi hanya 1 meter dan 6 centi. Selain itu juga diteliti fosil binatang purba, gajah (stegodon), komodo dan artefak.

(indoarchaeology.com)

Khusus Homo Floresiensis, fosil pertama ditemukan di gua ini bulan September 2003 oleh arkeolog Australia dan Indonesia. Sejak itu rutin setiap tahun selalu ada peneliti ke Liang Bua. Kalau penelitian pertama sudah dilakukan sejak tahun 1965 oleh arkeolog Belanda, VerHoven.

Ia menjelaskan lebih lanjut, desa ini diambil dari nama guanya; Liang Bua. Liang artinya gua, Bua artinya dingin. Jadi gua dingin. Sama dengan penjelasan si pemilik hotel. Namun dijelaskan lebih lanjut, di desa ini sebenarnya ada dua gua. Satu lagi Liang Galang. Galang artinya tempat mandi. Gua tempat mandi. Jaraknya hanya 200 meter dari Liang Bua.

“Kenapa Liang Bua nama desa ini pak, kenapa bukan Liang Galang?” Tanyaku.

“Saya juga kurang tahu pasti. Tapi kira-kira begini. Dulu Liang Bua itu namanya Liang Boa. Boa artinya korban. Banyak korban dahulu di gua ini. Lama-kelamaan orang mulai menemukan air yang menetes dari atas-atas gua ini, mereka meminumnya, airnya dirasa segar dan dingin, jadi dinamakan Bua dan tidak dianggap menakutkan lagi.”

Aku terus memperhatikan pejelasan orang dari dinas pariwisata itu.

“Liang Bua dianggap sebagai tempat tinggal nenek moyang penduduk di sini. Itu mengapa desa ini dinamakan Liang Bua, bukan Liang Galang.”

“Jadi mereka percaya kalau mereka adalah keturunan dari Homo Floresiensis?”

“Ya, percaya sekali. Masih ada penduduk di sini dengan tinggi hanya 1,2 meter, beberapa wisatawan asing sempat mengambil gambarnya. Ada dua pendapat berbeda dari para antropolog dengan penduduk di sini memang. Pertama, penduduk percaya mereka adalah keturunan Homo Floresiensis, atau apapun istilahnya, tapi menurut antropolog manusia purba berbeda dengan manusia sekarang. Kedua, penduduk percaya gua ini dibuat oleh dayang-dayang, sementara antropolog mengatakan gua ini peninggalan batu karang laut.”

Aku berpikir sendiri. Teori Darwin sudah runtuh, tapi mengapa penduduk di sini malah percaya teori itu? Ah, bisa jadi mereka bahkan tidak tahu apa itu Teori Darwin. Sudahlah. Aku bukan pendukung Teori Darwin, tapi aku menghormati kepercayaan setempat, apapun itu.

Terdengar seseorang memberi aba-aba. Puluhan orang yang ada di dalam gua segera berdiri dan berpencar. Kerja dimulai lagi setelah istirahat. Luar biasa. Aku teringat film Indiana Jones. Para antropolog, meja kerja, kertas-kertas, peralatan, dokumentasi, dan para pekerja.

Orang dari dinas pariwisata mengajakku masuk gua. Melihat kerja para antropolog itu dari dekat, maksudnya mungkin begitu. Kerja difokuskan pada dua galian. Galian pertama berbentuk bujur sangkar, sekitar 4×4 meter dengan kedalaman 6 meter. Galian kedua, persegi panjang berukuran 4×3 meter dengan kedalaman sama, 6 meter. Tanah hasil galian lalu dikumpulkan di sebuah kotak berukuran sekitar 10×10 meter dengan tinggi 2 meter. Kotak itu besar memang, disusun dari dari karung –semacam karung beras- yang padat, entah apa isinya, mungkin tanah juga. Karung padat itu ditumpuk-tumpuk hingga membentuk kotak besar. Ada ratusan karung.

“Selanjutnya tanah diambil sedikit-sedikit dan dipisah-pisah, seperti itu,” petugas dari dinas pariwisata menunjuk ke arah sekumpulan orang yang sedang memisah-misah (atau mungkin memilih-milih) tanah. Jika ada fosil akan terlacak, tapi masih ada proses lagi, yaitu mengayak tanah dengan air jadi lebih kentara, jelasnya lebih lanjut.

“Wah, susah juga ya jadi antropolog,” aku tersenyum padanya.

“Iya, baru dua lubang yang digali saja sudah cukup memakan waktu. Padahal semua tanah di sini harus digali. Bergilir. Itu mengapa penilitian seperti ini bisa makan waktu sampai bertahun-tahun.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala, “Butuh kesabaran dan ketekunan ekstra, luar biasa kerja mereka ini.”

“Setelah beberapa fosil itu juga belum selesai lho. Masih akan dibawa lagi ke Jakarta untuk diteliti lebih lanjut. Wah, harus sabar dan tekun pokoknya. Setelah selesai diteliti akan dikembalikan ke Ruteng lagi, rencana akan dibuatkan museum.”

“Tapi belum ya, pak?”

“Setahu saya belum.”

Aku berkata dalam hati, “Dua kali si pemilik hotel benar, soal jarak tempuh Ruteng ke Liang Bua yang hanya 20 menit, dan soal penduduk di sini yang baik-baik, tapi kali ini ia salah, fosil tidak disimpan di kantor Bupati tapi dibawa ke Jakarta.” Ini bukan persoalan si pemilik hotel, tapi persoalan bahwa berita lisan dari satu orang ke orang lain seringkali berbelok. Itu mengapa tulisan menjadi salah satu parameter peradaban.

Selain Liang Bua banyak juga obyek wisata lain di Kabupaten Manggarai. Ada Poco Ranaka, gunung tertinggi di Flores, bahkan Nusa Tenggara Timur. Kurang lebih 2400 meter di atas permukaan laut. Di puncaknya terdapat danau yang biasa dijadikan tempat bermain burung Gagak hitam. Di puncaknya juga terdapat salib tertinggi di dunia, sekitar 50 meter, yang dijadikan tempat ziarah dan do’a bagi umat Katholik. Jaraknya 14 km dari Ruteng.

Ada juga Compang Cibal, kampong tua dengan compang dan like (batu pelataran yang tersusun rapi). Jaraknya sekitar 30 km dari Ruteng. Lalu Ruteng Pu’u, tempat tinggal (rumah) pertama nenek moyang orang Manggarai, setelah berpindah-pindah tinggal di gua dan di bawah pohon-pohon besar. Jaraknya 4 km dari Ruteng. Juga Rumah adat Kerajaan Manggarai (Todo) yang disebut Mbaru Wunut, tempat tinggal “Raja Baruk” (Raja Wunut). Terletak di pusat kota Ruteng.

“Banyak juga ya pak obyek wisata di Manggarai,” kataku.

“Itu belum apa-apa, masih banyak lagi. Ada Wae Rebo, Rana Mese, Cepi Watu, Cingcoleng-Werwitu, Rana Tonjong, Pantai Ketebe/ Robek, Cunca Rede, Rana Kulan, Compang Tuwit, Torong Besi, Niang Todo, Lingko Cara, Pong Dode, Pulau Mules, Ulumbu, dan Inembele,” katanya sambil memberikan brosur obyek wisata kabupaten Manggarai.

“Wow, banyak sekali, pak. Saya tidak sangka sebanyak ini,” aku perhatikan satu-satu apa yang disebut tadi. Menggoda juga. Tapi aku kemari bukan untuk wisata, itu masalahnya.

“Kita baru mulai membangun pariwisata, jadi memang informasi belum seperti di Bali sana.”

“Berhubung saya kemari karena ada tugas kantor, bukan untuk wisata, brosur ini saya bawa ya, pak. Siapa tahu lain waktu saya akan wisata ke Manggarai.”

“Silahkan, bawa saja. Sekalian bisa bantu informasikan ke teman-teman di Jawa kalau ada yang mau ke Manggarai,” ia tersenyum.

Aku mohon diri. Sebelum aku pulang, ia sempat menyarankan untuk mampir ke Lingko Cara. Satu jalan sekalian pulang ke Ruteng, katanya. Aku perhatikan lagi brosurnya, Lingko Cara, sebuah kampung strategis menyaksikan persawahan lodok yang menyerupai sarang laba-laba, jarak 18 km dari ibukota Kabupaten Manggarai. Aku perhatikan fotonya. Wow. Cantik. Melihat sawah itu dari ketinggian seperti melihat sarang laba-laba. Bentuknya mirip sekali.

Ia sempat menjelaskan sedikit ketika aku tanya apa filosofi dibalik sarang laba-laba. “Satu, lalu menyebar,” jelasnya. Hmm, memang di foto terlihat jelas titik pusat dari sawah sarang laba-laba. “Menyebar apanya, pak?” Aku masih belum puas. “Keturunannya, bisa juga warisannya.”

Filosofinya menarik juga. Juga bentuk sawah yang mirip sarang laba-laba itu rapi sekali. Benar-benar mirip sarang laba-laba. “Itu satu arah, pak? Jadi sekalian pulang ke Ruteng ya?”

Ia mengangguk. Aku mohon diri. Aku tidak tahu dimana persisnya Lingko Cara, tapi seperti tadi ke Liang Bua, tanya orang-orang saja di jalan nanti. Toh, mereka ramah-ramah. Tidak ada masalah.


To be continued…


Tulisan sebelumnya:

Bajo – Ruteng – Bajawa (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.