Nil Malam Minggu

Bisyri Ichwan


Separo hidup di Cairo itu di jalanan. Pernah aku dikatakan seperti ini oleh kakak seniorku ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di bumi kinanah ini. Rasanya statemen itu sangat tepat dilekatkan padaku dengan aktifitas yang setiap hari harus keliling Cairo dan kota di sekitarnya. Tidak terasa saat ini adalah malam minggu, kebetulan Omar mengajakku untuk setor barang di hotel di kawasan Nil di Giza sekalian untuk menikmati suasana malam minggu di Mesir. Ikut bersama kami dua orang sahabat yang baru satu minggu di Cairo, kesempatan ini menjadi malam minggu pertama mereka melihat nil.

“Yallah bina”, kata ini yang sering aku katakan ketika mengajak mereka untuk masuk mobil sambil membawa barang-barang yang telah disiapkan. Ada beberapa kecap ABC yang di import dari Saudi, dua karung bebek yang sudah di freezer, satu karton bung atau bambu muda yang di import langsung dari Thailand dan masih banyak lagi barang dagangan lainnya yang akan kami setorkan di restoran Jepang Fussion yang ada di nil di kawasan Giza, dekat dengan hotel Sheraton Cairo. Malam ini kebetulan mobil toyota yang biasa dibawa Omar sedang dipakai untuk urusan lain, sehingga aku dan sahabatku harus mengantarkannya mensuplai di restoran terlebih dahulu sebelum bekerja mengambil karton kontainer.

Mumpung ada dua orang sahabat yang baru datang dari Cairo, Omar senang menggoda mereka dengan bahasa Indonesia. Omar yang orang Mesir sudah lumayan fasih berbahasa Indonesia, dia satu rumah dengan kami sejak hampir empat tahun lalu. Ketika ada orang dengan wajah melayu dan Indonesia lewat, dia selalu menyapanya dengan “apa kabar mas?”, terang saja, orang yang disapa senyum-senyum sendiri ketika disapa omar yang orang Mesir. Kedua sahabatku yang masih baru juga ketawa ketika omar menyapa cewek Indonesia yang lewat dengan sebutan, “apa kabar mbak”, dengan logat Mesirnya yang kesulitan menggabungkan antara m dan b, terdengar sedikit kagok untuk istilah orang jawa.

Kami melewati jalur di hayyu tsamin dekat madrasah manhal yang juga dekat dengan tempat dimana aku pernah kursus bahasa inggris di lembaga milik orang China dengan guru Amerika walaupun cuma sebulan. Seusai maghrib menjelang isya’ selalu saja di jalan Tsamin ini lumayan padat merayap, kami harus sabar dalam membawa dan menyetir mobil agar tidak tersenggol mobil lain yang disetir orang Mesir yang cara menyetirnya suka ngawur dan suka memepet kendaraan lain hingga hampir menempel. Suara bel ketika macet dikit sudah menjadi lagu irama tersendiri di kawasan ini.

Di wilayah awwal abbas bagian dalam, Omar mengajak berhenti untuk belanja madu murni dengan produk yang bernama Imtinan. Asal tahu saja, produk madu Mesir murni yang dikeluarkan oleh Imtinan ini sudah menjadi produk eksport. Banyak teman-teman yang terkadang juga mengirim produk ini lewat perusahaan kontainer tempatku bekerja. Omar membeli satu karton panjang madu murni. “Oke sudah mas”, katanya seusai memasukkan madu imtinan ke dalam mobil, Omar memang suka sekali berbahasa Indonesia denganku dan teman-teman dan aku menjawabnya dengan bahasa arab, biar sama-sama belajar dan lagi-lagi kedua sahabatku yang masih satu minggu di Cairo itu hanya bisa tertawa-tawa melihat tingkah Omar yang terkadang memang menggelikan.

“Ihna ‘ala thul ila Ramsis”, “kita langsung menuju Ramsis”, Omar memberi aba-aba untuk berjalan terus melintasi kemacetan menuju pusat kota yang terkenal ramai di Cairo. Kami melewati jalan di awwal abbas yang menembus abbas aqqod yang orang Mesir ngomongnya dengan abbas a’ad, melewati masjid rab’ah adawea hingga ke Abbasea. Ketika sampai di damardash, aku menunjuk sebuah masjid besar dan memperkenalkannya kepada kedua sahabatku yang baru datang, “itu lho masjid abbasea”, “wah..megah ya”, kata mereka, mulailah keduanya sibuk menghidupkan kamera handponnya dan mengabadikan masjid itu dalam bentuk foto.

Dari arah kanan aku juga menjelaskan kepada mereka bahwa itu adalah stasiun kereta listrik bawah tanah Cairo dan diseberangnya adalah universitas ‘ain syam. “Wah kapan ya kita naik kereta bawah tanah itu?”, salah seorang sahabat yang duduk tepat dibelakangku bertanya keinginannya. “Katanya besok kita mau ke KBRI Cairo dan nanti naik metro bawah tanah ini”, satunya mengomentari. Rupanya kereta bawah tanah yang ada di samping kanan kami memang menjadi transportasi yang pantas untuk dibuat penasaran karena di Indonesia memang belum ada, apalagi di setiap stasiun ada pemandangannya yang khas, banyak gambar-gambar yang terpajang dengan khas masa Mesir kuno seperti gambar fir’aun, spinx dan lukisan lain tentang kejayaan Mesir zaman dulu.

Dari arah sebelum Ramsis, kami melewati jalan kecil, aku suka menyebutnya dengan jalan tikus, karena hanya cukup dilewati dua kendaraan dengan sangat mepet sekali, bahkan di salah satu ruas malah hanya cukup satu kendaraan karena banyak mobil parkir sembarangan, sehingga ketika crass ada kendaraan lewat, kami harus mundur untuk mengalah terlebih dahulu. Anehnya, ketika kami berhenti sedikit saja untuk mengambil jalan ketika ada mobil lain di depan, mobil yang mengikuti di belakang kami sudah mengebel klaksonnya pertanda tidak sabar, memang tega sekali sikap orang Mesir yang kadang menyebalkan.

Dekat masjid yang sedang ada adzan isya’ kami berhenti dan ternyata disitulah beberapa barang bawaan harus kami turunkan, Omar mengambil beberapa barang dagangan dan memberikannya kepada kawannya orang Mesir yang ada di toko yang dimilikinya, aku mengira temannya itu yang nanti akan memasarkannya di hotel-hotel di Cairo dekat sini. Posisi tempat kami parkir sangat padat sekali, sehingga kami tidak lama berhentinya, kami langsung cabut menuju Giza dan melewati jalan layang yang menghubungkan antara Cairo ke Zamalek lalu ke Giza dan tentunya berjalan di dua jembatan dari sungai nil yang terletak antara Zamalek yang sering mendapatkan julukan pulau di tengah sungai nil.

“Shuf..shuf”, “lihat..lihat!”, Omar menunjuk nunjuk sungai yang luas yang berada di kanan kiri kami kepada kedua sahabatku yang duduk di belakangku. Maklum karena mereka sangat penasaran dengan nil yang katanya selama ini hanya dalam buku sejarah, seketika camera handpone yang mereka bawa langsung dihidupkan untuk mengabadikan moment perdana ini. Bahkan salah satu dari mereka langsung merekamnya dengan video hp dan memberikannya kepada Omar yang ngoceh sendiri dengan bahasa Indonesia. Kami tertawa terbahak-bahak di tengah kemacetan di jembatan nil. Entah apa yang difikirkan orang Mesir di mobil-mobil samping kami yang melihat adegan yang kami lakukan ini. Ahh, aku tidak peduli, ini mumpung malam minggu dan kedua sahabatku sedang menikmatinya, ini adalah pertemuan perdana mereka dengan sungai nil.

Menembus padatnya lalu lintas malam minggu, melewati Cairo tower yang menjadi simbol kemegahan Cairo. Melewati kedutaan Perancis di sebelah kiri ketika sampai di Zamalek, melewati kebun binatang yang ada di Giza yang juga dekat nil dan berputar ke kanan untuk mensuplai di restoran Fhussion yang menjadi salah satu restoran nil yang berada di kapal pesiar. Aku membantu Omar untuk membawa barang-barang dagangan yang hendak disetorkan ke restoran, Omar berbincang-bincang dengan penjaga pintu restoran yang mengenakan seragam dan mempersilahkan kami masuk.

Sementara kedua sahabatku langsung sibuk berfoto ria narsis persis di pinggir sungai nil dengan latar restoran apung dan hotel-hotel berbintang yang ada di sisi sungai. Malahan, ketika keluar dari restoran seusai menyetorkan barang, keduanya berpose bersama dengan orang Mesir, padahal mereka belum kenal. Itulah orang Mesir, suka mengakrabi orang yang belum dia kenal, apalagi orang yang berwajah asing. Sampai-sampai mereka akan mengambil foto di lokasi dekat sekali dengan sungai, namun penjaga restoran melarangnya, karena itu adalah kawasan restoran dan untuk memasukinya harus membayar dan membeli makanan mereka, bukan hanya mengambil foto saja.

“Gimana udah puas?”, aku bertanya pada keduanya. Mereka tersenyum dan katanya rasa penasarannya selama ini ketika di Indonesia sudah sedikit terobati ketika ikut berjalan-jalan malam minggu bersama kami. Bagiku ini sudah biasa, hampir setiap hari aku keliling Cairo dan melihat panorama nil, mulai pagi, siang, sore hingga malam hari, aku sudah pernah menikmatinya. Saat ini yang menjadi perhatianku malah harus bisa menyelesaikan pekerjaan bukan hanya sibuk dengan keindahan nil saja.

Kami mampir di asir asob terlebih dahulu sebelum akhirnya melanjutkan untuk bekerja mengambil barang-barang kargo kontainer yang akan dikirimkan ke Indonesia. Asir asob adalah minuman segar dari peresan tebu murni dan ini adalah salah satu minuman andalan di Mesir ketika musim panas seperti ini. Kedua sahabatku heran ketika melihat Omar habis dua gelas dengan begitu cepatnya. Kata mereka maklumlah kalo orang Mesir itu besar-besar dengan fakta yang mereka lihat saat ini. Usai minum, Omar tidak ikut bersama kami karena sudah memiliki janji bersama tunangannya untuk menemaninya malam minggu. Sementara aku dan sahabatku melanjutkan perjalanan untuk meneruskan kerja.

—————————————————–

Catatah harian biasa ketika menjenguk di kawasan nil kembali.

Salam

Bisyri Ichwan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.