[Family Corner] Game Online

SAW – Bandung


Family Corner: Game Online


Hallo sahabat semua …

Sedikit berkisah tentang permainan di dunia maya yang banyak menghipnotis penggemarnya, GAME ONLINE. Saya tertarik menuliskannya karena banyaknya korban telah berjatuhan di lingkungan saya. Saya menyebutnya KORBAN, karena sampai saat ini saya hanya bisa melihat sisi negative game online, bukan sisi positifnya.

Andai  ada di antara para sahabat Baltyra ada yang bisa melihat sisi positifnya, silahkan berbagi. Mungkin kita lebih bisa melihat segala permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas.

Adalah Kukuh, seorang siswa tingkat akhir SMA.  Awalnya dia berangkat sekolah seperti biasa, pulang juga biasa. Kemudian, berangkat sekolah seperti biasa, dan pulang tak seperti biasa, kadang larut malam baru tiba. Ada saja alasannya. Hingga sampai tak pulang sekian hari berikutnya.  Jika pun pulang, emosinya meledak-ledak, minta uang sembari mengancam ibunya. Ibunya tak berdaya. Dan dia juga piawai memilih waktu, hanya ketika ayahnya tidak ada di rumah, dia berani pulang. Itu juga hanya sekejab, hanya meminta uang, dengan baju acak-acakkan dan wajah kusut masai. Persis orang kalah judi.

Akhirnya, ijazah SMA dia kantongi dengan bermandikan airmata darah dari sang ibunda. Selepas SMA, kuliah pun tak mau, kerja juga tak mau. Tiap hari merongrong orangtua, untuk bisa mendapatkan kepuasan bermain game online.

Juga seorang Rudi, siswa kelas satu SMP yang sudah tak berayah. Tak pulang 2 hari karena menginap di warnet. Ibunya sebagai   satu-satunya orangtua yang harus mengurus adik-adiknya, pontang-panting mencarinya. Sekali dua kali. Akhirnya sang ibu mengambil jalan terbaik. Setiap pulang, tak dibukakan pintu, meski itu tengah malam sekalipun. Dibiarkan anaknya di tidur di teras depan dalam kedinginan malam dan hembusan angin yang sangat tajam. Ada kala sang anak beranjak pergi lagi, mencari kehangatan di masjid yang tak jauh dari rumahnya. Alhamdulillah, dengan cara ini kini Rudi bisa diselamatkan. Kini dia menjelma menjadi pemuda yang bertanggungjawab.

Tak perlu jauh-jauh, sulungku kemarin pun terkena dampak negative game online ini. Sebulan sebelum ujian nasional SMP, baru ketahuan setelah 2 bulan dia main kucing-kucingan dengan bapak dan emaknya. Demi game inilah dia bisa berbohong, bolos ikut bimbel. Masih untung tidak bolos dari sekolah. Setiap pulang menjelang maghrib, grudak gruduk sholat ‘ashar berpacu dengan terbenamnya matahari. Ada apa ini anak? Jawabannya selalu mengerjakan tugas. Dan yang bikin keki luar biasa, setiap bapaknya jemput dia di bimbel pada waktu pulangnya, dia selalu menunggu dengan manisnya di gerbang gedung bimbelnya. Hahaha…

Yang jelas, .. setiap pulang dia selalu lusuh, mata terlihat cape.

Terakhir yang membuat mata saya terbuka adalah, hingga malam dia belum pulang. Ini bukan kebiasaannya, karena sebandel  apapun, tak sampailah dia pulang malam. Bapaknya sudah langsung mikir : ini anak kena game online. Saya masih belum percaya. Hingga saya hubungi semua teman-temannya, katanya sejak siang juga sudah keluar sekolah. SAya hubungi bimbelnya, ternyata anak tersebut juga tidak masuk hari itu.

Berdua sama bapaknya, saya keliling warnet yang ada di sekeliling perumahan. Hasilnya nihil. Akhirnya dengan kekhawatiran yang luar biasa, kami memutuskan melihat UGD setiap rumah sakit di Cimahi. (padahal emaknya sudah berurai airmata). Pikiran terburuk sudah menghinggapi kami.

Di tengah jalan dalam keremangan lampu jalanan, saya melihat selintas anak berseragam SMP dibonceng ojek. Saya ajak bapaknya balik, dan Alhamdulillah, rupanya benarlah si sulung pulang dengan selamat. Malam itu tak banyak yang kami lakukan, karena melihat anak pulang selamat saja sudah bersyukur. Namun, saya tetap gerilya menanyakan kebenaran alasan dia pulang terlambat. Dia bilang menengok temannya yang sakit. Rumahnya jauh. Dia menyebut suatu tempat yang saya tahu, anak yang sakit tersebut rumahnya bukanlah di situ.

Pendek kata, saya menemukan kebohongan demi kebohongan yang dilakukannya demi menutupi kecanduannya pada game online. Saya cek lockernya, tak sepeserpun uang sisa jatah harian tertabung. Ludes.

Akhirnya saya mengambil tindakan tegas, ini berkaitan dengan masa Ujian Nasional yang tinggal sebulan lagi. Orang lain sudah dalam kondisi siap tempur, lha ini anak malah sibuk sama pertempurannya di dunia antah berantah.

Saya marah. Sebenar-benarnya marah. Seumur-umur baru kali itu saya berteriak lantang, memarahi anak dengan sepenuh hati. Tapi, sembari begitu, hati tetap istighfar. Kalau bukan kebohongan yang dilakukannya sudah kebangeten, rasanya tak akan saya marah seperti itu. Dan tentu saja, kekhawatiran saya yang luar biasa terhadap dampak game online itu yang memicu tindakan keras saya padanya.

Saya pun mendatangi pihak sekolah, menceritakan kasus yang menimpa si sulung. Luar biasa,… ternyata kasus ini juga banyak menimpa siswa yang lain. Termasuk seorang siswi kelas 2 di SMP tersebut pernah seminggu tidak datang ke sekolah dan tidak pulang ke rumah. Orangtuanya pontang panting mencarinya hingga ke mana-mana. Namun, tidak terpikir kalau ternyata anaknya masih ada di kawasan dekat rumahnya, berdiam di  warnet asyik dengan dunia mayanya.

Saya tawarkan pada anak, hukuman apa yang akan dia pilih terhadap segala yang telah dia lakukan. Dan tentu saja hukuman tersebut harus berakibat terputusnya dia dari game online dan persiapan maksimalnya menghadapi ujian. Dia memilih tidak mendapatkan uang jatah hingga sebulan sampai ke Ujian Nasional. Sepakat!!!  Dengan demikian tak ada peluang dia bisa mampir ke warnet.

Rupanya ini anak benar-benar kapok. Setiap hari dia jalan kaki dari sekolah sampai rumah, yang biasanya jarak tersebut dia tempuh dengan dua kali naik angkot. Pulang dengan kusut masai, peluh bercucuran. Tapi, ini sebuah konsewensi yang telah disepakati bersama, maka saya pun harus menguatkan hati untuk tetap tega.

Alhamdulillah, kesepakatan berjalan dengan baik. Hingga akhirnya sulung saya bisa terlepas dari pengaruh kecanduan pada game online dan hasil ujiannya juga tidak mengecewakan.  Saya bersyukur bahwa saya mengetahuinya lebih dini, mengingat teman-temannya yang gila game ini rata-rata nilainya ‘nyungsep’, dan ikut tes masuk SMA pun tertolak. Padahal mereka adalah siswa-siswa berprestasi. Hanya saja, kebijakan masing-masing orangtua terhadap anaknya memang berbeda. Ada beberapa yang justru memberinya fasilitas di rumahnya dengan alasan agar terpantau,  tapi ada juga yang sama sekali tidak mengetahui aktifitas anaknya yang bertualang dari warnet ke warnet.

Namun, terbukti bahwa mereka yang kecanduan game online berantakan prestasi sekolahnya. Masuk akal sih, karena pikiran mereka sudah dikendalikan oleh permainan yang memiliki efek kecanduan ini. Sehingga konsentrasi terhadap hal lain pun akan berkurang sama sekali.

Wallahu a’lam. Hingga saat ini saya belum bisa melihat sisi baik game online. Mungkin sahabat sekalian bisa berbagi?


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.