Tamu Tengah Malam

Hariatni Novitasari


Malam Idul Fitri di Mansion Hill diguyur dengan hujan gerimis. Tidak ada suara takbir. Yang ada hanya bunyi rintik hujan. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 2 malam. Aku sudah bersiap-siap untuk tidur karena harus bangun pagi-pagi sekali untuk mencari tempat sholat Ied. Biasanya, aku baru pergi tidur jam 3 pagi. Ketika aku pergi ke toilet, terdengar pintu depan diketuk orang dengan sangat keras. Menggedor-gedor. Aku bertanya dalam hati, siapa yang menggedor pintu rumah orang tengah malam seperti ini? Aku ketuk kamar housemate-ku, Sherry. Aku pikir, yang mengetuk pintu adalah adiknya, Philip yang tinggal di Colombia, 1,5 jam naik mobil dari Saint Louis. Sherry juga belum tidur. Dia dan aku sama-sama kelelawarnya.

Lalu kita berdua ke depan, dan membuka pintu. Tampak di depan pintu adalah seorang perempuan kulit hitam setengah baya. Dia mengenakan jas hujan berwarna putih. Dia langsung bilang, “Apa aku bisa ketemu dengan Sherry?”. “Ya, aku Sherry. Ada apa?” Perempuan itu lalu bercerita, dia adalah nenek dari perempuan yang tidak di apartemen 4403 A. Cucunya baru saja kecelakaan dan terluka cukup parah. Sekarang ini, dia harus menjemput cucunya di rumah sakit. Sherry mengira, perempuan itu membutuhkan mobil untuk mengantar dia kesana. “Maaf, aku ada mobil, tapi mobilku sedang rusak”

Kata si Sherry. Perempuan itu lalu berkata, “Tidak, aku ada mobil juga. Tapi sekarang sekarang ini gasnya sedang kosong. Aku tidak punya cash. Aku ingin pinjam uang, $25 saja, 45 menit lagi aku kembalikan, karena uangnya sedang dibawa cucuku di rumah sakit”. Sherry lalu masuk ke kamar, untuk mengambil uang. Dia lalu kembali. “Maaf, aku tidak punya cukup uang dalam dompetku”. Si perempuan terkejut, “Lalu, kamu punya berapa?”. “Hanya $8 dalam dompetku” “Ya, sudah, $ 8 tidak apa. Meskipun tidak akan cukukp untuk membeli gas. Tapi aku bisa ke tempat orang lain untuk mencari bantuan.” Lalu, Sherry serahkan uang $8 nya. “Apakah kamu nanti akan kembali lagi dalam waktu 45 menit dan mengembalikan uangmu?” Ya, tentu saja, jawab perempuan itu. Sebelum pergi, Sherry minta perempuan itu menuliskan namanya. Gwen Jones. Dan dia menulis alamat yang dia bilang sebagai alamat “cucu”nya.

Selepas perempuan tadi pergi, Sherry dan aku meneruskan membahas kejadian barusan. Sebagai orang baru di St. Louis, hal semacam ini adalah hal baru bagiku. Karena itu, aku tanya Sherry yang sudah 4 tahun di Missouri (sebelum ini, dia sekolah dan tinggal di Colombia). Menurut dia, hal semacam itu beberapa kali terjadi, tetapi tidak pernah tepat tengah malam seperti itu tadi. Dia juga ragu dengan alasan yang perempuan itu berikan. Dia juga tidak begitu yakin, perempuan itu akan kembali ke apartemen kami, 45 menit lagi. Karena itu, dia hanya memberikan $8. Kita sudah sadar kalau ditipu mentah-mentah, tapi di satu sisi, kami juga berpikir, bagaimana kalau kejadian itu benar, dan perempuan itu benar-benar mengalami musibah dan benar-benar membutuhkan bantuan?

Lalu, kamu sok analisa dengan kejadian barusan. Kenapa harus apartemen kami? Dan mengapa harus Sherry yang dicari? Apa saja kejanggalan kejadian tadi?

Kenapa harus apartemen kami? Yah, jawabannya simple. Jam segitu, biasanya apartemen lainnya sudah gelap gulita. Sementara apartemen kami selalu saja masih terang benderang dengan lampu. Baik dari kamar Sherry ataupun kamarku. Kedua, kenapa dia bisa langsung mencari nama Sherry? Jawabannya gampang juga. Karena nama-nama kami ada di kotak surat. Dan, kelihatan kalau apartmen A dihuni oleh Sherry Ng dan Hariatni Novitasari. Nama Sherry lebih gampang diucapkan daripada HARIATNI. Di UMSL, hanya Prof. Kosnik yang mengucapkan namaku dengan benar. Profesor dan dosen lainnya mengalami banyak kesulitan mengucapkan namaku, hehe.

Lalu, kejanggalan apa saja yang kami temui? Apartemen kita ini hanya dihuni mahasiswa karena ini mereka on-campus housing. Tidak mungkin perempuan itu tinggal di apartemen sebelah. Selain itu, aku tidak pernah menjumpai perempuan kulit hitam tinggal disana. Setahuku, mereka adalah mahasiswa India. Tapi, kadang tidak yakin, apakah mereka di apartemen A atau lainnya. Satu nomor apartemen terdiri dari nomor A sampai F.

Apartemen kami hanya berlantai sampai tiga. Dan berjajar dua-dua. A dan B, C dan D, E dan F. Kedua, kalau perempuan itu mendengar cucunya kecelakaan, kenapa dia harus pergi ke apartemen cucunya dan tidak langsung pergi ke rumah sakit? Kalau dia memang tidak memiliki cash, orang pertama yang seharusnya pintunya dia ketuk adalah tetangganya. Bukan apartemen tetangga “cucu”nya. Ketiga, kalau dia benar-benar membutuhkan bantuan, dia sebenarnya bisa minta tolong ke kantor polisi terdekat.

Di dekat metro station North UMSL, ada kantor polisi UMSL. Keempat, tidak mungkin dia malam-malam menjemput cucunya dari rumah sakit. Semua urusan administrasi seperti mengeluarkan pasien harus dilakukan pada saat jam kantor. Dan, kalau benar cucunya berada dalam kondisi gawat dan kritis, si cucu harus berada di ruamh sakit untuk perawatan insentif.

Kami menunggu sekitar 45 menit untuk membuktikan sok analisis kami. Dan tiba pada satu kesimpulan, kalau perempuan itu bohong, dan Sherry harus merelakan uangnya. Mungkin saja dia tengah malam kehabisan duit untuk beli alkhohol dan satu-satunya cara adalah mengetuk rumah orang tengah malam buta. Akhirnya kami memutuskan untuk tidur. Keesokan harinya, aku mengecek apartemen sebelah. Tidak ada orang dengan nama marga Jones. Dan benar, apartemen itu dihuni oleh orang-orang dengan nama Korea, India, Thailand, dan satu nama bule. Jelas, perempuan itu sudah berbohong.

Berkaitan dengan kriminalitas di Saint Louis, aku coba cek di Mbah Wiki. Ada beberapa yang mengatakan, kalau kriminal di St. Louis termasuk tinggi. Pernah menduduki peringkat pertama di tahun 2002 dan 2005. Akan tetapi, dalam survey majalah Forbes 2009, St. Louis tidak masak dalam 15 besar kota metropolitan yang berbahaya. Akan tetapi, ada web menarik semacam.

Akan tetapi, ada situs semacam http://webcrime.com yang membuat listing area-area yang sering terjadi tren kejahatan di St. Louis, dan jenis kejahatan apa saja yang terjadi beserta lokasinya. Menurut officer dari kantor International Student Office (ISO), ada beberapa tren kejahatan kecil yang sering terjadi di St. Louis. Yaitu, orang-orang yang mencari sumbangan di jalan-jalan, bis, taman, ata beberapa public places dengan alasan untuk sumbangan kelompok ini dan itu.

Rekomendasi dari ISO, jangan pernah memberi mereka uang. Tetapi tidak jarang, aku menjumpai mereka yang sering minta uang atau rokok di stasiun-stasiun metro. Mereka pada umumnya yang melakukan itu adalah orang-orang kulit hitam. Dengan adanya secuil fakta ini, bukan berarti, kejahatan pasti dilakukan oleh orang kulit hitam. Ya, semoga tidak pernah lagi didatangi tamu tidak diundang tengah malam.. :D


Ilustrasi: http://www.jillbatespastels.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.