Dirga Pengin Mudik

Cinde Laras


Alkisah…. Hiduplah seorang anak, putra seorang relasi yang sangat akrab bahkan bisa dibilang sahabat karib. Dengan kulit kuning terang dan mata sipit, cukuplah kiranya menggambarkan dari mana asal nenek moyang si bocah bernama Dirga (sebut saja begitu) yang berusia 13 tahun itu. Dirga anak yang kritis, satu-satunya anak biologis keluarga sang relasi, seorang pria mapan berumur di atas kepala 5, yang untuk kelahiran anak biologisnya ini harus menunggu dengan penuh kesabaran dan penantian selama berpuluh tahun sejak menikah dengan teman kuliahnya yang dikenalnya di FEUI.

“Dirga pengen mudik, Pa !”, katanya suatu hari selepas melihat berita di TV. Si papa melongo, tumben ! Tapi dia langsung menimpali.

“Boleh aja. Nanti kita ke Bangka…”, jawab si papa santai. Tanah kelahiran si papa memang pulau Bangka.

“Kalau ke Bangka itu namanya gak mudik !”, kata Dirga. Si papa melongo lagi.

“Kok gak mudik ?”, tanyanya.

“Itu kan naik pesawat, bukan naik mobil atau kereta. Dirga pengen mudik yang naik kereta aja !”, kata anaknya. Si papa lagi-lagi melongo, gak ngerti.

“Mana ada kereta api nyampe Bangka ?”, tanyanya lagi.

“Makanya kita jangan ke Bangka…. Ke Jogja dong, Pa !”, jawab si anak.

“Mudik ke rumah siapa di Jogja ? Emang Papa punya orangtua di Jogja ?”, tanya si papa.

“Ya gak usah ke rumah siapa-siapa dong…. Kita kan bisa nginep di hotel…”, kilah si anak.

“Hari gini cari hotel kan semua penuh. Lagian mau pergi nggak pake rencana. Kalau kamu bilang dari kemarin-kemarin kan Papa bisa nyiapin booking hotel bagus. Gimana sih ?”, gerutu si papa. Sekedar info saudara-saudara, Dirga tidak pernah tidak terpenuhi keinginannya selama hidupnya. Dengan kakek kaya yang sudah memberikan atap bernaung lengkap dengan segala fasilitasnya untuk hidup seluruh keluarganya dan orangtua yang berpenghasilan hingga ratusan juta per bulan, rasanya tak ada yang mustahil dalam kehidupannya sebagai ABG. Jangankan kota wisata seluruh Indonesia, liburan ke luar negeri pun sering.

“Pokoknya Dirga mau ikut macet-macetan di jalan kayak orang-orang itu. Gak peduli nanti kita tinggal di hotel gak pake bintang. Yang penting Dirga mau tau rasanya mudik !”, ujarnya kekeuh. Tentu saja apa yang diinginkannya itu bukan hal yang biasa. Karena pasti tidak akan pernah kita jumpai kosa kata mudik lebaran dalam kamus budaya nenek moyang Dirga. Dan dia begitu ingin merasakannya. Merasakan hal baru yang sesungguhnya hanya dimiliki masyarakat muslim Indonesia.

Si papa menelan ludah, dilihatnya layar TV yang sedang menayangkan berita mulai bergeraknya arus mudik dari Ibukota ke kota-kota lain di Jawa. Cerita tentang perjalanan mudik yang bisa ditempuh hingga sehari-semalam, belum-belum sudah membuat semua sendi di kakinya tiba-tiba terasa pegal. Kopling, gas, rem…. Kopling, gas, rem….. Kalau dari kantor ke rumah yang cuma berjarak 10 km saja macetnya seperti itu, apalagi Jogja yang jaraknya ratusan kilometer dari Jakarta dengan kondisi jalan sesak penuh kendaraan roda 4 dan 2.

Maka setelah mengadakan perundingan dengan sang istri, direncanakanlah acara “MUDIK” pada tanggal yang ditentukan. Lewat telpon, si papa lalu meminta seorang relasi bisnisnya di Jogja untuk menyiapkan sebuah kamar di hotel melati di Malioboro. Dan segala perlengkapan termasuk semua bekal makanan dan minuman pun disediakan. Dan seperti biasanya saat bepergian sekeluarga, Dirga selalu meminta si papa untuk menyetir sendiri mobilnya ! Maka dengan meringis, si papa pun harus rela melupakan jasa supir yang jumlahnya lima orang di rumah mertuanya yang kaya itu.

Ketika notes ini ditulis, kabar Dirga dan keluarganya belum lagi terdengar karena mereka belum kembali dari Jogja. Menarik mengetahui keinginan si bocah yang dengan ngotot ingin merasakan seperti apa keindahan mudik. Sebuah keinginan yang mengharukan untuk anak serba tercukupi seperti dirinya. Semoga perjalanan itu akan menjadikannya manusia yang tahu bagaimana cara menghargai sesama.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *