56 Etnis Suku di China: Etnis Uyghur

JC – Global Citizen

 

Etnis Uyghur ئۇيغۇر, 维吾尔, pinyin: Weiwuer adalah kelompok etnis Turki yang tinggal di daerah Asia Tengah dan Timur. Etnis Uyghur banyak tinggal di Xinjiang Uyghur Autonomous Region – China. Diperkirakan sekitar 80%-nya tinggal di daerah yang bernama Tarim Basin.

Etnis Uyghur yang tersebar di Asia Tengah banyak tinggal di Kazakhstan, Kyrgyzstan dan Uzbekistan. Sebagian kecil dapat ditemukan di Mongolia, Pakistan Afghanistan, Turkey, Russia dan Taoyuan County di Hunan Province. Jika ada yang namanya China Town, Uyghur Town juga banyak ditemui di Beijing, Shanghai, Sydney, Washington D.C., Munich, Tokyo, Toronto dan Istanbul.

 

Geografis

Xinjiang Uyghur Autonomous Region membentang di wilayah seluas 1.709.400 km2, yang berarti mencapai sekitar seperenam luas total daratan China. Daerah ini dibatasi oleh Pegunungan Altay di utara, Pamirs di barat, Pegunungan Karakoram, Altun dan Kunlun di selatan. Pegunungan Tianshan membelah wilayah ini menjadi utara dan selatan yang masing-masing memiliki iklim dan landscape yang berbeda. Dua gurun pasir terbesar di China, Tarim Basin dan Taklimakan Desert terletak di bagian selatan Xinjiang. Sementara Junggar Basin, Karamay Oilfields dan lembah Sungai Ili yang subur terletak di bagian utara Xinjiang.

Turpan Basin, tempat terpanas dan titik terendah di China terletak di ujung timur Pegunungan Tianshan. Sungai-sungai Tarim, Yarkant, Yurunkax, dan Qarran mengairi tanah pertanian sekitarnya melalui Tarim Basin. Sementara sungai-sungai Ili, Irtish, Ulungur dan Manas mengaliri arable land dan daerah berpadang rumput di utara Xinjiang.

 

Sejarah

Di masa lalu Xinjiang disebut dengan An Xi literally diterjemahkan sebagai “Western Region”. Sudah berabad-abad daerah ini menjadi bagian China. Dimulai dengan dinasti Wei, Jin dan berbagai Dinasti Utara dan Selatan (220-581), Liang (317-376), Earlier Qin (352-394) terbentuklah Gao Chang Prefecture di daerah ini.

Pertengahan abad 7, Dinasti Tang membentuk Anxi Governor Office di Xizhou (sekarang bernama Turpan) yang kemudian pindah ke Guizi (sekarang Kuqa). Setelah itu, silih berganti, Genghis Khan (1162-1227), Dinasti Yuan (1271-1368) sampai dengan Ming (1368-1644) dan terakhir Qing (1644-1911), daerah ini menjadi bagian tak terpisahkan.

Barulah pada pemerintahan Kaisar Kang Xi yang mengutus Jenderal Zuo Zongtang tahun 1876 untuk memadamkan pemberontakan anti-Qing yang ingin mengembalikan kejayaan Ming. Orang-orang Manchu dianggap sebagai penjajah orang Han ketika itu. Pemberontakan ini dikenal dengan nama Hong Hua Hui (红花会, Kelompok Bunga Merah). Kisah ini dikisahkan dengan apik oleh dedengkot cerita silat dunia, Chin Yung dengan judul Shu Jian En Chou Lu (书剑恩仇录) yang di Indonesia dikenal dengan judul “Kisah Pedang dan Kitab Suci” yang beberapa tahun silam pernah ditayangkan di TV Indonesia juga.

Sejak itulah oleh Kang Xi kawasan Anxi dinamakan menjadi Xinjiang yang berarti New Dominion atau New Territory tepat di tanggal 18 November 1884 setelah bertahun-tahun pertempuran antara tentara Qing dengan para pendekar Hong Hua Hui.

 

Budaya dan Kebiasaan

Tepung gandum, nasi dan jagung adalah makanan pokok mereka. Orang Uyghur di beberapa tempat menyukai milk-tea dengan jagung yang dioven atau cakes yang terbuat dari gandum. Beberapa daerah lain teknik baking yang lebih maju dengan tepung, gula, telur, butter atau bahkan mencampurkan daging di dalam olahan itu. Paluo – sweet rice khas Uyghur – biasa dimasak dengan daging kambing, lemak kambing, wortel, kismis, onion dan nasi. Makanan ini merupakan salah satu kuliner utama dan kebanggaan mereka yang sering dimasak dan disajikan di hari-hari besar dan kepada para tamu sebagai bentuk penghormatan mereka.

Industri pemintalan dan penenunan orang Uyghur memiliki sejarah yang panjang. Pakaian mereka kebanyakan terbuat dari katun. Para pria mengenakan pakaian panjang yang disebut dengan qiapan, bukaan sebelah kanan, berkerah, tak berkancing. Pakaian ditutup dengan mengikatkan ikat pinggang panjang berbentuk kotak. Para wanitanya mengenakan pakaian dengan lengan lebar dengan ikat pinggang berwarna hitam dan kancing yang dijahit di bagian depan pakaian.

Orang Uyghur, baik tua dan muda, laki-laki dan perempuan, suka memakai topi kecil dengan empat sudut lancip, disulam dengan benang sutra hitam dan putih atau berwarna. Hiasan dan asesoris favorit para wanita Uyghur adalah anting-anting, gelang dan kalung, kadang mereka mewarnai alis dan kuku pada acara-acara pesta besar. Gadis-gadisnya mengepang rambut mereka, kepangannya berjumlah banyak, rambut panjang dianggap simbol kecantikan wanita. Setelah menikah, mereka biasanya kepangnya dibuat lebih longgar, dihiasi dengan sisir yang melengkung bak bulan sabit. Beberapa di antaranya menjalin kepang-kepang mereka menjadi setumpuk kepang di atas kepala.

 

Selama berabad-abad, banyak masjid, mazas (makam bangsawan Uyghur), sekolah-sekolah agama didirikan di wilayah Uyghur. Agama sangat memengaruhi perekonomian dan sudah berlangsung ratusan tahun. Sendi-sendi agama sangat terasa dalam keseharian mereka, pendidikan, peradilan dan juga perkawinan. Beberapa orang kaya memanfaatkan aturan agama untuk menikah lebih dari satu istri, dan memiliki hak untuk menceraikan mereka setiap saat. Pernikahan kaum Uyghurs biasa diatur oleh orangtua. Kekuasaan kaum pria mutlak dalam keluarga, jika terjadi kekerasan atau istri yang diperlakukan semena-mena, biasanya mereka pasrah dan hanya lari ke dalam doa mereka sendiri.

Setelah 1949, hak istimewa agama dihapuskan dari sistem masyarakat dan digantikan dengan sistem terpusat dan terkontrol partai komunis. Lama kelamaan kebiasaan lama menghilang dan luntur, sekarang masyarakat Uyghur lebih ke sistem masyarakat yang bukan berlandaskan agama.

Namun demikian, sistem masyarakat modern ini tidaklah memengaruhi keyakinan agama, malah sebaliknya, mereka dapat menjalankan agama mereka dengan lebih tulus. Keluarga, pernikahan dan properti ada di bawah perlindungan hukum. Kaum wanita Uyghur menikmati kesetaraan dengan kaum lelaki, terutama dalam pekerjaan dan industri modern.

Lebih dari 8 juta penduduk Xinjiang beragama Islam, mencapai lebih dari setengah total seluruh China. Daerah Xinjiang sekarang memiliki sekitar 15.500 mesjid atau kurang lebih satu mesjid di setiap desa di daerah itu.

 

Pertengahan Abad 20 – Kini

Seni dan budaya Uyghur memiliki sejarah yang panjang dan kaya, dan juga telah berkembang pesat. Kesusasteraan juga berkembang di dalam masyarakat Uyghur. Sebagian besar literatur Uyghur diwariskan dari abad ke-11, seperti wiracarita “Kutadolu Biliq” (Berkah dan Kebijaksanaan) dengan Yusuf Hass Hajib, dan karya-karya penting bagi kaum Uyghur lainnya. Karya modern lain meliputi Perang Maulabilalibin Maulayusuf di China, sebuah epik sejarah yang menggambarkan perjuangan di tahun 1864 dari Uyghurs di ILI terhadap pemerintah Qing. Mutalifu, penyair patriotik dan revolusioner, menciptakan puisi-puisi heroik selama Perang Anti-Jepang.

Kaum Uyghurs sangat piawai dalam menari. The “12 Mukams” (opera) adalah sebuah epik yang terdiri lebih dari 340 lagu-lagu klasik dan tarian rakyat. The “Daolang Mukams,” populer di Korla, Bachu (Maralwexi), Markit dan Ruoqiang (Qarkilik), merupakan salah satu karya sastra dengan mazhab yang sedikit berbeda.

 

Medical
Kaum Uyghurs memiliki pengetahuan luas tentang obat-obatan dan praktek medis. Catatan dari Dinasti Song (906-960) menunjukkan bahwa seorang dokter bernama Nanto Uyghur pergi ke Daratan China dan membawa berbagai jenis obat yang tidak diketahui oleh China. Ada 103 tumbuh-tumbuhan yang berbeda digunakan dalam pengobatan Uyghur dan tercatat dalam jurnal medis oleh Li Shizhen (1518-1593). Banyak juga literatur kuno dari Uyghur yang mencatat tingginya ilmu pengobatan mereka termasuk beberapa referensi tentang akupunktur, sehingga ilmuwan Barat mencurigai bahwa akupunktur bisa jadi aslinya berasal dari Uyghur.

 

Seni


Lukisan dinding di gua-gua Bezeklik di Gunung Flaming, Turpan Depression.

Ada 77 gua di situs ini. Sebagian besar ruangan berbentuk persegi panjang dengan langit-langit lengkung dan sering dibagi menjadi empat bagian, masing-masing dengan mural Buddha. Beberapa langit-langit yang dicat dengan Buddha besar dikelilingi oleh tokoh-tokoh lainnya, termasuk India, Persia dan Eropa. Kualitas mural ini bervariasi antara satu dengan lainnya.

 

Musik


Dolan Rawabi (Rawab of Dolan, sebuah alat musik lokal)

Selain musik klasik yang bernama Muqam yang rumit dan memiliki sejarah panjang, kaum Uyghur juga memiliki musik modern yang berkembang.

 

Bahasa

Bahasa Uyghur, sebelumnya dikenal sebagai Turki Timur, masih rumpun bahasa Turki digunakan di sebagian besar Xinjiang Uyghur Autonomous Region. Bahasa ini juga digunakan oleh sekitar 300.000 orang di Kazakhstan pada 1993, sekitar 90.000 di Kyrgyzstan dan Uzbekistan pada 1998, 3.000 di Afghanistan dan 1.000 di Mongolia. Sebagian kecil juga ada para penutur bahasa ini di Albania, Australia, Belgia , Kanada, Jerman, Indonesia, Pakistan, Arab Saudi, Swedia, Taiwan, Tajikistan, Turki, Inggris dan Amerika Serikat.

Berdampingan dengan bahasa resmi nasional, bahasa Mandarin, saat ini bahasa Uyghur juga digunakan sebagai lingua franca di kalangan non-Uyghurs, seperti Xibes., Wakhis, Tajik Xinjiang dan Daurs, dan bahkan beberapa daerah di Rusia. Sejumlah etnis minoritas di Cina bahkan menggunakan Uighur sebagai bahasa pertama; ini termasuk Tatar, Uzbek dan Kyrgyz.

Bahasa ini dapat didengar luas dalam berbagai kehidupan sosial, dan juga di sekolah-sekolah, pemerintahan dan pengadilan. Ada sekitar 80 surat kabar dan majalah yang tersedia di Uyghur, 5 saluran TV dan sepuluh penerbit menggunakan bahasa Uyghur. Di luar China, Radio Free Asia dan TRT menyediakan berita dalam bahasa Uyghur.

Dalam bahasa Uyghur, kata “uyghur” sendiri berarti “unity” atau “alliance”.

Referensi dan Foto-foto:

chinatravel.com
china.org.cn
chinadaily.com
chinaculture.org

wikipedia
Catatan pribadi, buku, risalah, majalah
Chen Hai Wen

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

54 Comments to "56 Etnis Suku di China: Etnis Uyghur"

  1. diday tea  5 March, 2011 at 17:14

    Lengkap abis dan sangat membuka wawasan..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *