Anak Lelaki

Endah Sulwesi


Saya mendapat sebuah SMS dari seorang teman lama, teman sebangku waktu di SMA. “Alhamdulillah, telah lahir dengan selamat putri kelima kami, Siti Zahra Saskia, pada tgl. 12 Desember 2009. Berat 2,8 kg, panjang 47 cm”. Reaksi pertama saya adalah terkejut. Bukan apa-apa, tetapi hari gini masih ada yang punya anak sampai 5? Dan itu adalah sahabat saya, Sari, si mungil yang lincah dan lembut hati.

Seminggu berikutnya saya sempatkan menengok mereka sekeluarga. Rumah mereka cukup jauh dari rumah saya. Memerlukan waktu dua jam untuk sampai di sana. Suami istri ini, Sari dan Alan, adalah teman-teman saya. Mereka sudah pacaran sejak di SMP dan menikah tak lama setelah tamat kuliah. Saya hadir di pernikahan mereka. Sebelum menikah, Sari yang sarjana psikologi itu sempat bekerja sebagai konsultan di sebuah sekolah Islam terpadu. Tetapi tak lama kemudian berhenti karena hamil. Dan sampai sekarang tidak pernah bekerja kembali. Sementara, Alan adalah staf marketing di sebuah pabrik perlengkapan bayi.

“Repot, Fel. Nggak sempat kerja deh. Ngurus suami dan anak-anak aja sudah cape,” katanya pada sebuah kesempatan saya bertandang ke rumahnya beberapa tahun yang lalu. Waktu itu anaknya baru tiga orang. Perempuan semua. Cantik-cantik seperti ibu mereka.

Sekarang anak mereka lima orang. Yang sulung berumur 12 tahun dan yang bungsu masih merah jambu. Saat menemui saya, Sari kelihatan lemah sekali. Tidak seperti lazimnya perempuan yang habis melahirkan, ia tampak kurus dan pucat. Rumahnya berantakan. Mainan anak-anak berserakan di setiap penjuru rumah. Bau pesing ompol dan susu memenuhi udara di ruang tengah di mana terhampar selembar kasur di depan sebuah pesawat televisi 21 inci. Pakaian kotor menggunung di salah satu pojoknya. Jemuran pakaian bayi dan handuk-handuk bergelantungan di kamar belakang yang bersatu dengan dapur yang tak kalah berantakan.

Piring dan gelas kotor membukit di bak cuci piring, meruapkan aroma makanan basi. Lantai dapurnya terasa lengket di kaki saya. Barangkali sudah berhari-hari tidak tersentuh kain pel. Terpaksa saya mesti bermanuver, melompat-lompat menghindari bagian-bagian yang basah. Singkatnya, rumah itu kacau-balau seperti kapal pecah.

“Sorry berantakan, Fel. Pembantuku lagi pulang kampung, ibunya sakit,” kata Sari, penuh permintaan maaf atas ketidaknyamanan rumahnya. Saya cuma tersenyum maklum. Ya, pasti repot sekali mengurus rumah tangga dengan lima orang anak kecil.

“Sari, memang kamu tidak KB, ya?” akhirnya tercetus juga pertanyaan yang memang sudah saya siapkan dari rumah. Kami mengobrol di ruang tengah sambil Sari menyusui bayinya.

“Nggak. Nggak boleh sama Alan,” sahutnya pelan.

“Atau Alan yang pakai ..hm…kondom mungkin?” tanya saya lagi penasaran sembari menghirup teh hangat yang saya siapkan sendiri tadi.

“Nggak juga. Mana mau dia pakai kondom,” jawab Sari dengan wajah sedikit memerah.

“Lah, berarti kamu masih mungkin melahirkan lagi dong!” Tanpa sadar saya berseru dengan nada yang meninggi. Cangkir teh telah saya letakkan di meja kecil di sudut.

Sari cuma bisa nyengir kuda. “Ya, gimana lagi? Aku kan mesti nurut suami.”

Saya hanya bisa manggut-manggut dan menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Saya kasihan melihat kondisi Sari yang tampak kuyu dan jauh lebih tua dari usianya. Tak ada lagi Sari yang lincah. Masih segar dalam kenangan saya tawanya yang mengikik. Sari memang jarang terbahak-bahak kalau tertawa. Ia juga pandai berdandan. Rambutnya yang panjang itu selalu berubah tatanannya setiap hari. Kadang dijepit, pakai bando, diekor kuda, atau dibiarkan lepas. Tetapi kini Sari yang ada di hadapan saya adalah seorang perempuan kurus, layu, dan acak-acakan dengan daster batik kusam. Sari seperti telah lupa caranya berdandan.

“Sebaiknya setelah ini kamu tidak melahirkan lagi, Sar.” Saya mulai usil menggurui. Tahu apa saya soal anak dan melahirkan? Menikah saja tidak.

“Alan sih janji, kalau sudah dapat anak lelaki baru berhenti,” kata Sari sambil menepuk-nepuk pantat bayinya.

“Laki perempuan kan sama saja, Sar.” Lagi-lagi saya kembali sok tahu.

“Kamu kan tahu gimana orang Batak terhadap anak lelaki,” sahut Sari.

Mendengar jawaban Sari saya jadi merenung. Apakah Sari benar-benar tak kuasa menolak keinginan suaminya untuk terus melahirkan dan baru berhenti jika sudah dapat anak lelaki? Saya tidak tahu apakah Sari terpaksa atau tidak menuruti semua kehendak suaminya itu. Padahal sebagai pemilik rahim, Sari sangat berhak untuk menentukan kehamilannya terutama demi pertimbangan kesehatannya. Sekarang saja dia tampak begitu menderita. Dan, tidak tahukah Sari, bahwa sebagai perempuan ia memiliki hak untuk memilih alat kontrasepsi?

“Apakah Alan sungguh-sungguh dengan ucapannya, Sar?” Saya mengintili Sari ke kamarnya, hendak menidurkan si bayi. Seketika bau khas kamar bayi menyergap rongga hidung saya yang tak mancung ini. Campur aduk antara aroma pipis, bedak bayi, dan minyak telon, atau kayu putih. Salah satunyalah. Udara di dalam agak sedikit lembap dan dingin. Mungkin karena jendela yang tidak dibuka ditambah cahaya lampu yang kurang terang. Saya bantu Sari merapikan tempat tidur untuk si kecil.

“Terima kasih.” Pelan-pelan, dengan penuh kelembutan, Sari meletakkan putri bungsunya di atas tilam. Lalu diselimutinya. Terakhir, ditaruhnya dua buah bantal guling kecil di kiri kanan sang putri.

“Alan tidak sungguh-sungguh kan dengan perkataannya?” Saya mengulangi pertanyaan yang tadi belum dijawab. Penasaran. Kami beriringan keluar kamar. Sambil jalan menuju kursi tamu, Sari memunguti setiap keping mainan yang berserak ditinggalkan para pemiliknya bermain di halaman. Ia memasukkannya ke dalam sebuah keranjang plastik besar. Di sana, benda-benda itu bergabung kembali dengan teman-temannya.

“Maksudmu, soal anak lelaki itu?” Tak jadi duduk, Sari memilih dapur sebagai sasaran berikutnya. Saya dengan setia mengekor.

“Iya,” saya menyahut. Sari mulai menyerbu piring-piring kotor.

“Rasanya sih dia serius.” Diberikannya sebuah piring yang penuh busa sabun untuk saya bilas.

“Terus, andai ternyata kau tak juga melahirkan anak cowok, bagaimana?”

“Doakan saja supaya aku segera punya anak lelaki.”

“Doa sih gampang, Sar, tapi jika tak bisa juga, gimana? Mau sampai berapa kali kamu beranak?”

Sari terkikik sambil mengangkat bahu. “Ya nggak tahu. Kita lihat saja nanti.”

Obrolan kami terputus karena rombongan “perusuh” cilik datang menyerang. Suara mereka ribut memenuhi dapur. Dengan sabar, Sari melayani setiap permintaan anak-anaknya: mengambilkan minum, membantu mencucikan tangan-tangan mungil itu, membuatkan susu. Saya menolong sebisanya. Meski mempunyai tiga orang keponakan kecil-kecil, saya nyaris tidak pernah terlibat mengurusi mereka. Bagian saya cuma menciumi, mengganggu, atau mengajak mereka ke toko buku dan beli es krim. Perkara bikin susu dan bersih-bersih, itu jatah para ibu.

Setelah semua makhluk mungil itu diam dengan susu mereka, kami melanjutkan obrolan di ruang tamu.

“Kenapa Alan tidak mengizinkanmu pakai KB?”

“Katanya itu haram. Lagian aku juga malas, banyak efek sampingnya. Mulai dari flek-flek di kulit, jadi gemuk, dan ada temanku yang kesakitan setiap berhubungan seks setelah pasang spiral. Jadi
ngeri.” Sari bergidik. Tiba-tiba saya ingat, Alan memang tergolong fanatik menjalankan agamanya. Sejak menikah, Sari pun disuruhnya berkerudung.

“Masa sih? Dengan bantuan dokter atau bidan, kamu kan bisa memilih yang sesuai untukmu. Atau mengapa tidak Alan saja yang pakai kondom?”

“Tadi kan sudah kubilang, Alan tidak suka. Dia pernah coba kok. Tidak enak, katanya.” Sari menatapku dengan pandangan menyelidik. “Pacarmu pakai kondom, ya?”

Saya pukul bahu Sari dengan bantal kursi. “Enak aja. Aku belum pernah ML, tahu.” Sari terkikik geli. Pundaknya sedikit berguncang. Dari wajahnya tampak pancaran rasa tidak percaya. Ya biar saja. Saya toh tidak perlu bersumpah pocong untuk meyakinkannya. Lagi pula, maksud saya dengan menyarankan kondom bagi suaminya adalah demi kebaikan Sari juga. Dia kan sudah kebagian peran hamil, melahirkan, dan menyusui. Itu tentu tidak ringan. Apalagi hingga lima kali. Masa harus pula ditambah “derita”-nya dengan memakai alat kontrasepsi yang tidak nyaman? Harusnya, si suami menyadari itu. Toh, kondom sesuatu yang digunakan di luar tubuh, tidak seperti spiral atau suntik yang harus disusupkan ke dalam. Menurut saya, “sarung” karet itu jauh lebih aman daripada pil antihamil. Para suami jangan egois dengan berdalih “tidak enak”.

Saat Sari sibuk menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya, saya pamit pulang. Saya peluk Sari tanpa kata-kata. Saya cium kedua belah pipinya yang layu sambil berdoa dalam hati agar dia segera diberi anak lelaki. Agak tidak enak juga menolak ajakan makan siangnya. Tetapi, saya sudah ditunggu pacar untuk makan siang di apartemennya. Mudah-mudahan bukan makan siang terakhir, andai dia sanggup membatasi diri. Andai… saya tak sampai hanyut pada bujukannya. ***

Klender, Januari 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.