Bajo – Ruteng – Bajawa (3)

Abhisam DM


Siang mestinya menyengat. Matahari menyetubuhi pepohonan, mencumbunya habis dari batang yang paling bawah hingga pucuk-pucuk dedaunan. Lahir bayangan yang berbaris di sepanjang jalan. Angin berhembus, dedaunan bergemerisik, pucuk bayangan menari-nari.

Lepas dari Liang Bua hanya ada pepohonan dan kelokan jalan aspal naik turun. Setiap ada cabang jalan aku mencari penduduk, bertanya jalan ke kampung Cara. Orang-orang di sini benar-benar ramah. Bahkan anak sekolah pun –aku sempat bertanya pada anak SD, juga anak SMP, yang sepertinya habis pulang sekolah- sangat ramah.

Jauh juga ternyata. Hingga aku sampai di perempatan Carcas. Hampir setengah jam. Aku mengenali perempatan ini. Benar. Tampak sebuah papan nama “Jl. Ruteng-Bajo”. Wah, kalau begini jauh juga. Ini memang jalan sekalian pulang ke Ruteng, tapi ini memutar jauh. Lalu aku teringat kalimat temanku yang sudah pernah kemari, “Dekat menurut ukuran orang sana itu beda dengan ukuran kita.”

Paling tidak si petugas dinas pariwisata tidak bermaksud bohong. Itu sungguh melegakan. Aku bertanya kesana-sini. Tidak banyak yang tahu sawah laba-laba ternyata. Tapi semua tahu kampung Cara. Aku bergegas ke arah yang ditunjukkan.

Tak ada sepuluh menit aku sempat melihat sawah terhampar luas. “Jangan-jangan ini,” gumanku. Tapi kurang jelas bentuk sarang laba-labanya. Jalan berkelok naik terus. Kupikir lebih baik aku jalan terus, siapa tahu dapat tempat yang lebih jelas. Makin lama sawah yang dimaksud makin tak terlihat, sudut pandangnya juga semakin kacau. Aku bingung. Ada orang tua sedang duduk di depan rumah. Aku berhenti. Bertanya.

Ternyata kampung Cara sudah lewat. Berarti yang tadi aku lihat itu sawah sarang laba-laba. Segera aku putar arah. Setelah yakin pada sawah yang dimaksud aku mencari sudut pandang yang pas. Pindah dari satu tempat ke tempat lain. Ah, semua berbeda dengan foto di brosur. Jauh sekali. Beberapa orang yang kebetulan lewat kutanya soal sawah sarang laba-laba. Ada anak kecil beberapa. Mereka tidak tahu, wajar. Ada pemuda lewat, juga tidak tahu. Pemuda lewat lagi, juga tak tahu. Akhirnya aku menuju ke beberapa orang tua yang sedang duduk-duduk di depan rumah. Mereka juga tak tahu.

Aku semakin bingung. Jika mereka saja tidak ada yang tahu sawah sarang laba-laba, bagaimana aku bisa bertanya lebih dalam tentang filosofinya. Kuputuskan mencari sudut pandang terbaik. Dapat. Kuamat-amati. Memang bentuknya mirip sarang laba-laba. Agak jauh terlihat titik pusatnya, lalu menyebar ke segala arah. Tapi ini berbeda jauh dengan foto di brosur. Jujur aku kecewa. Ekspektasiku jatuh dari ketinggian, menyakitkan. Bukan hanya soal penampakan, tapi aku juga gagal menggali filosofinya lebih dalam. Bisa jadi karena aku tak punya banyak waktu, begitu caraku menghibur diri atas “kegagalan” ini. Lagipula foto di brosur bisa jadi adalah “bahasa iklan”, maksudnya, bisa jadi ia diambil dari helikopter. Ah, pikiranku, ada-ada saja.

Sudah jam tiga. Aku harus kembali ke hotel. Semua pekerjaanku sudah selesai sebenarnya, hanya saja aku harus memastikan tiket ke Kupang. Informasi terakhir, semua penerbangan ke Kupang dan Denpasar penuh sampai September, baik dari Labuan Bajo, Ruteng maupun Bajawa. Ada kemungkinan kosong, tapi harus dari Ende atau Maumere. Kupikir, kalau Ende masih tak masalah. Tapi Maumere, jauhnya itu, belum lagi membayangkan jalan berkelok yang pendek-pendek.

Perkiraan awalku semua penerbangan penuh semata karena summer, liburannya orang-orang bule. Ternyata ada dua faktor lain. Pertama, pesawat Merpati berhenti beroperasi, entah mengapa dan entah sementara atau seterusnya. Kedua, Pelita Air di minggu ini sedang ada pemeriksaan. Pemeriksaan atau apa istilahnya, aku lupa.

Aku kembali ke Ruteng. Hampir setengah jam baru sampai. Ini memang benar-benar memutar. Segera aku cek tiket. Ada dua opsi ternyata, Bajawa-Kupang tanggal 29 Agustus, atau Ende-Kupang tanggal 28 Agustus. Awalnya kupilih Bajawa-Kupang. Jadi aku tidak harus jalan darat lagi, pikirku. Tapi petugas menyarankan tanggal 28 saja, Ende-Kupang. “Penerbangan dari Bajawa riskan dicancel,” begitu katanya.

“Kalau dicancel tidak bisa dipindah ke penerbangan berikutnya?”

“Tergantung, kalau masih ada kosong bisa saja. Tapi sepertinya sudah penuh semua sampai September.”

“Jadi kalau cancel, kemungkinan saya akan tertahan di Bajawa sampai September?”

Si petugas tiket mengangguk.

“Kalau setelah cancel saya segera cari tiket ke Ende, bisa?”

“Bisa saja, tapi saya sarankan lebih baik dari Ende, kalau ada apa-apa lebih mudah.”

“Oke, Ende-Kupang saja,” aku memastikan pilihan.

“Memang lebih baik begitu, Ende-Kupang lebih kecil kemungkinan cancel, kalaupun terjadi masih banyak pilihan penerbangan di sana.”

Selesai urusan tiket aku kembali ke hotel. Jam lima sore. Masih terang. Masih banyak waktu sebenarnya, baru besok pagi aku ke Bajawa. Aku tanya pemilik hotel, apa masih mungkin mengunjungi dua tempat yang dekat-dekat; Mbaru Wunut dan Ruteng Pu’u.

“Mungkin sekali, Mbaru Wunut letaknya memang di tengah kota Ruteng. Ruteng Pu’u paling hanya 10-15 menit saja,” jawab pemilik hotel.

Kali ini kupilih sewa ojek. Supaya lebih cepat dan praktis. Letak Mbaru Wunut hanya sekitar 100 meter dibelakang kantor Bupati Manggarai. Ada tiga bangunan di sana, dua bangunan utama dan satu dibelakangnya. Ketiganya berbentuk seperti toga tapi bertutup kerucut yang agak tinggi. Bentuk yang seperti toga berbahan kayu, dicat warna coklat terang, dan terdapat banyak jendela kaca. Sementara bentuk kerucut agak tinggi berbahan alang-alang.

Dua bangunan utamanya panggung dan dempet seperti bayi kembar. Satu bangunan lagi tidak panggung, agak terpisah di belakang, tapi tetap tersambung oleh semacam jalan kecil beratap. Ada satu bangunan lagi sebenarnya, tapi hanya seperti gazebo kecil saja, terpisah beberapa meter dari ketiga bangunan yang lain.

Tidak ada siapa-siapa di sana, aku hanya memotret sebentar.

Tidak sampai 15 menit, aku sudah sampai di Ruteng Pu’u. Ada dua rumah adat yang dipercaya sebagai rumah pertama-tama nenek moyang orang Manggarai. Kedua rumah itu berjarak sekitar 5 meter saja. Bentuknya hampir sama dengan Mbaru Wunut. Bedanya, Ruteng Pu’u lebih natural. Kayunya jelas sekali kayu lama, tanpa cat sama sekali, dan tidak ada unsur kaca.

Di depan kedua rumah tersebut ada susunan batu-batu membentuk huruf “U” setinggi setengah meter. Di dalam huruf “U” terdapat semacam altar, dari susunan batu-batu juga. Konon digunakan untuk tempat berdoa atau upacara adat (misalnya menyembelih kerbau untuk persembahan leluhur). Di altar itu tumbuh pohon Koka (kalau aku tidak salah ingat, koka, atau kako) yang cukup besar tapi nyaris tidak ada daunnya sama sekali. Orang sana mengatakan pohon Koka tiba-tiba bisa berdaun lebat, tapi sebaliknya bisa kering seperti yang nampak sekarang. Dan memang hanya Koka yang boleh tumbuh, atau ditanam, di altar.

Kembali ke hotel, sudah agak gelap. Besok pagi aku harus ke Bajawa, perjalanan darat sekitar 4 jam dari Ruteng. Lagi-lagi jalan berkelok yang pendek-pendek.


***

25 Agustus 2009

Setengah sembilan lepas Ruteng. Gapura Selamat Jalan di Ruteng ditulis dalam dua bahasa, satunya bahasa Inggris, Goodbye. Nampaknya pariwisata memang akan jadi sektor andalan.

Jalanan berkelok, pendek-pendek, lagi-lagi. Beginilah jalan di daratan Flores. Di kanan-kiri pepohonan, mestinya hutan bukan perkebunan. Hijau rimbun, jauh dari gambaran NTT yang gersang. Sampai 20 km lepas Ruteng ada danau Ranamese. Beberapa bule dipandu guide berhenti di situ, tapi kami hanya lewat saja.

Masuk 35 km lepas Ruteng jalan rusak. Ada perbaikan jalan nampaknya. Setelah aku amat-amati, bukan jalan rusak dan perbaikan jalan ternyata, tapi bekas longsor menutupi jalan dan sedang dibersihkan. Aku baru sadar, di kanan-kiri tebing dan jurang.

Memang rawan longsong pikirku. Lalu sopir bercerita, sekitar setahun lalu, kira-kira September 2008, terjadi kecelakaan besar. Besar maksudnya banyak menelan korban. Ceritanya tebing tiba-tiba longsong. Kendaraan yang melintas di situ, mobil dan motor, tertimbun. Sampai sini korban belum terlalu banyak sebenarnya. Tapi orang-orang lalu berkerumun, sebagian mungkin menolong, sebagian menonton, lalu longsor susulan menghantam mereka. Puluhan jadi korban. Banyak juga yang tidak ditemukan sampai sekarang, barangkali hilang di jurang.

Aku bergidik mendengarnya. Semoga tidak amnesia lagi, pikirku. Bangsa ini, lebih tepatnya pemerintah bangsa ini, sungguh menderita amnesia sejarah yang akut; sejarah miskin hikmah.

Masuk 51 km lepas Ruteng potret sudah berubah. Hutan, jurang, dan tebing lenyap, berganti dengan perkebunan dan rumah penduduk yang jarang-jarang. Sebentar lagi masuk Borong, ibukota kabupaten Manggarai Timur. Kabupaten ini baru setahun dimekarkan dari induknya, kabupaten Manggarai. Aku membayangkan tujuh tahun lalu, berarti kabupaten Manggarai luas sekali sebab Manggarai Barat (ibukota: Labuan Bajo) dan Manggarai Timur (ibukota: Borong) belum mekar jadi kabupaten sendiri.

Sampai di Borong, setengah perjalanan Ruteng ke Bajawa, keramian hanya pendek saja di sepanjang jalan. Menariknya, warung Padang banyak berdempetan di kanan-kiri jalan. Siang bolong, bulan puasa, tapi warung Padang ramai. “Hahaha,” aku tertawa dalam hati. Tidak akan ada fenomena begini di Jawa.

Tidak ada lima belas menit kami sudah lepas dari Borong. Potret jalanan berubah lagi. Pepohonan, tanaman, dan rumah, hanya jarang-jarang. Gersang. Tanah tandus mencolok. Sudah masuk daerah pantai ternyata. Dari Ruteng tadi jalan memang terus menurun.

Aku sempat tertidur sebentar, tapi sampai Aimere terbangun lagi. Aimere – Bajawa adalah rute paling menantang. Ia menjadi momok. Jalan menanjak sepanjang 30 km yang bukan hanya penuh kelokan dan pendek-pendek, tapi nyaris tak ada lurusnya. Ada yang bilang 700 kelokan di sepanjang jalan itu, entah, mungkin hiperbola. Tapi andaikan benar, dibagi saja, 700 kelokan dibagi 30 km. Berarti terdapat setidaknya 23 kelokan dalam 1 km. Jika dibagi lagi, 1 km dibagi 23 kelokan, berarti setiap 43 meter jalan berkelok. Luar biasa.

Masuk ke jalan yang menjadi momok itu aku menarik nafas panjang, “Ini dia…”

Jalanan mulus sekali. Rumah penduduk sedikit. Anak-anak berseragam SD bergerombol, mungkin pulang sekolah, entah pulang kemana. Aku teringat film Laskar Pelangi. Anak-anak itu. Seragam lusuh –warna putih pudar, merah yang juga pudar. Sandal jepit –sebagaian malah tanpa alas kaki, tanpa tas sekolah juga. Canda dan tawa mereka. Mereka masa depan bangsa ini.

Sepanjang jalan aku malah memikirkan mereka. Anak-anak SD itu. Padahal sepanjang perjalanan Liang Bua ke Lingko Cara aku juga bertemu anak-anak SD dan SMP , tapi kali ini pikiranku melayang-layang. Bagaimana keadaan sekolah mereka. Bagaimana keadaan rumah mereka. Bagaimana keadaan orang tua mereka. Bagaimana guru-guru mereka. Dan, bagaimana mereka memaknai Indonesia Raya ini.

Jika mereka kelak “sukses”, kuliah keluar, ke universitas ternama, maukah mereka kembali untuk membangun daerahnya? Apakah mereka tidak terkontaminasi “peradaban kota”, lalu mereka akan menjadi seperti kebanyakan orang kota yang enggan hidup di desa?

Jika aku adalah mereka, bagaimanakah aku? Apa yang akan terjadi?

Takdir itu apa? Sekadar keputusan Tuhan yang tidak bisa diganggu-gugat? Lalu bagaimana jika mereka, anak-anak SD itu, bertukar takdir denganku? Jalan cerita pasti banyak berubah, tapi berubah bagaimana? Apakah mereka berbalik akan melihatku berjalan pulang sekolah dengan seragam lusuh dan sandal jepit, lalu berkata, “Duh nak, nasibmu…”?

Aku teringat ucapan seseorang, “Kehidupan penuh misteri. Bahkan jika kita hidup sampai seribu tahun, kita hanya bisa tahu banyak hal, bukan memecah semua misteri itu.”

Terus saja aku melayang-layang bersama angin, langit, dan matahari di Flores.

Angin lebih sering tak terbaca, kecuali oleh rasa.

Langit memang tinggi, tapi tanah dekat saja, dan aku berpijak di situ. Tuhan lebih dekat lagi. “Aku lebih dekat dari urat lehermu,” kataNya.

Matahari memang sumber kehidupan, tapi air juga, dan air tak harus berjarak. Tuhan lebih tak berjarak lagi. KataNya, “Aku bersemayam di dada (hati) manusia yang lapang.”

Menerbangkan angan, terdampar di kenangan, memetik pelajaran, dan, semoga, secercah pencerahan.

Aku terbawa ke penggalan puisi:

Bisakah engkau andalkan dirimu sendiri

yang engkau bangga-banggakan itu,

sedangkan begitu engkau tertidur di malam hari,

kau tak tahu apa-apa lagi dan tak sanggup menguasai diri

(Persemayaman Mimpi, Emha Ainun Najib, Buku Ketiga: Kenduri Cinta)

Di depan tampak pertigaan. Ada papan penunjuk arah. Bajawa ke kiri, Ende ke kanan. Tujuh ratus kelokan berujung di pertigaan itu. Sampai juga akhirnya. Tidak terasa. Jalan yang menjadi momok kulewati dengan cepat. Relativitas waktu barangkali, aku tersenyum sendiri dalam hati.

Sampai di Hotel Korina, Bajawa, pukul setengah satu. Panas lebih terasa di sini. Aneh, mestinya Bajawa lebih dingin dari Ruteng, setidaknya itu yang banyak kudengar. Sudahlah. Lebih baik aku istirahat dulu. Meskipun bertahan dari mual dan muntah, kepalaku berat sekali, badanku juga letih.

***

Siang sudah menua, sore menangis seperti bayi kemerah-merahan yang baru lahir. Sore terlihat lucu dan menggemaskan dari lantai tiga hotel ini. Di kejauhan bukit melingkar naik turun tak rata. Awan menggumpal di beberapa titik. Matahari tak nampak, tapi sebagian gumpalan awan tampak terang. Matahari pasti di situ, dan di situ pula berarti arah barat.

Dingin mulai terasa dalam. Memang tak sedalam di Ruteng. “Memang Ruteng lebih dingin, di sana kan lebih tinggi,” kata seseorang di hotel ini.

“Ah, tidak, dingin Bajawa, mungkin musimnya saja,” kata seorang yang lain.

“Dingin Ruteng, saya 16 tahun hidup di sana,” seorang yang lain lagi tak mau kalah.

“Tapi hujan es hanya terjadi di Bajawa,” lagi-lagi seorang yang lain.

Aku bingung yang benar yang mana. Kalau yang aku sendiri jauh lebih dingin di Ruteng. Bulan Maret lalu di Bajawa aku juga merasa dingin, tapi masih kalah dibanding kemarin ketika aku di Ruteng. Ah, biarlah dulu, biar kuhabiskan dua-tiga hariku di Bajawa dulu.

Ada ajakan berendam di air panas datang. Untuk mengusir dingin, kata yang mengajak. Menarik juga. Mengeruda nama tempat pemandian air panas itu, terletak di kecamatan Soa, dekat bandara Turelelo, bandara kabupaten Ngada.

Aku sudah membayangkan lebih dulu, jalannya pasti berkelok dan pendek-pendek. Ah, tapi demi berendam tak masalah. Setelah berkemas secukupnya kami berangkat. Menjelang gelap. Jalanan bagus dan cukup mulus. Hanya di dua tempat penambangan pasir jalanan agak rusak. Banyak truk di situ. Jalanan berlubang dan pasir tumpah di mana-mana.

Informasi yang aku dapatkan Mengeruda terbentuk dari magma gunung Inelika. Dulunya, Mengeruda biasa digunakan para petani setempat untuk berendam, melepas lelah setelah bekerja di ladang.

Setelah sekitar 30 menit perjalanan kami sampai. Ada tempat tiket. Wisatawan lokal dikenakan seribu rupiah, manca dua ribu lima ratus. Hari sudah gelap. Penerangan kurang sekali di sini. Lewat dari loket tiket kami harus menggunakan telepon genggam sebagai penerangan. Tempat pemandian masih di bawah lagi. Kami harus lebih dulu menyusuri sebuah tempat yang, barangkali taman, gelap ini. Gelap dilawan penerangan telepon genggam, tidak sebanding. Beberapa kali aku tersandung pipa yang melintang di jalan. Agak repot juga melalui jalan ini. Baru setelah menuruni beberapa anak tangga akhirnya kami sampai di tempat pemandian yang dimaksud.

Tempat pemandian berbentuk kolam. Aku lebih suka menyebutnya kolam. Dua pohon beringin tumbuh di sebelah kanan dan kirinya, tumbuh berbelok, lalu keduanya menjadi atap kolam. Penerangan hanya lampu bohlam, mungkin 25 watt, yang dipasang di atasnya. Bohlam itu menggelantung di pohon beringin, menghadirkan penerangan seadanya.

Aku masuk ke kolam air panas belum lama ketika ada tawaran lebih menarik lagi. “Mau pijat gak? Enak lho,” kata yang mengantarku. Aku bingung, di tempat begini mana ada tukang pijat. “Ada tukang pijat ya?”

“Ada, agak kebalakang, dipijat air terjun.”

“Dipijat air terjun?”

“Iya, duduk saja di pancurannya, rasanya seperti dipijat.”

Aku jelas tertarik dan segera menuju arah yang dimaksud. Dekat saja, tidak sampai 50 meter dari kolam. Jalannya menyusuri bebatuan di mana air panas mengalir di sela-selanya. Cahaya bulan tidak terhalang pepohonan, cukup untuk menerangi jalanku.

Air terjun turun deras dari ketinggian 1 meter. Lebarnya paling hanya sekitar 2 meter. Air terjun kecil. Aku mendekat. Kusentuh dulu airnya. Hangat. Kuraba batu-batu di tempat air terjun turun, tidak licin. Ini tempat sempurna untuk pijat.

Aku duduk sambil meluruskan kaki di bawah air terjun. Ini pijatan paling enak dibanding pijatan manapun. Deras kucuran air sungguh menghasilkan pijatan-pijatan hangat. Jika dalam epos Arjuna Wiwaha tujuh bidadari menggoda pertapaan Arjuna, malam ini tujuh bidadari sepertinya menemani dan memijat-mijat kepala hingga pinggangku. Arjuna pasti cemburu.

Di langit bintang-bintang bertaburan. Bulan sabit tersenyum padaku. Ia sepertinya merestui setitik kesempurnaan malam ini. Aku mencari bintang jatuh, kata orang bagus untuk mengajukan permohonan. Air terjun masih terus memijit-mijit kepala hingga pingganggu. Aku tersadar, daripada menunggu bintang jatuh untuk memohon, lebih baik aku menerbangkan rasa syukur atas segala nikmat malam ini.

Puas di Mengeruda, ganti pakaian, lalu kami kembali ke hotel. Lemas sekali rasanya. Tapi puas. Dalam perjalan pulang aku sempat diceritakan tentang kampung megalitikum Bena. Pusat kampung adat di Ngada yang masih sangat natural. Semua bangunannya terbuat dari kayu dan alang-alang, tanpa unsur paku sama sekali. Batu-batu di sana disusun seperti candi, hanya ditumpuk-tumpuk saja tapi awet sampai ratusan tahun.

“Di Ngada banyak kampung adat, tapi tinggal sedikit yang masih benar-benar natural, ada yang atapnya sudah diganti seng, ada yang sudah tercampur dengan perkampungan baru, dan sebagainya. Di Bena, semua masih orisinil, kita benar-benar seperti terlempar ke peradaban ratusan tahun silam,” yang mengantarku bercerita.

“Jauh dari kota Bajawa?”

“Dekat, hanya 15 menit saja. Bena terletak di kaki gunung Ineria.”

“Gunung yang magmanya jadi sumber air panas tadi itu ya?”

“Bukan, tadi itu gunung Inelika.”

“Ow, beda sedikit.”

“Ine dalam bahasa sini artinya ibu. Lika artinya semacam tungku. Kalau Rie itu diambil dari nama anak.”

“Sebentar pak, Inelika jadi artinya tungku ibu, atau bagaimana?”

“Wah itu saya kurang tahu persis. Tapi kalau Inerie, itu diambil dari cerita bahwa dulu di gunung pernah tinggal seorang ibu dan anaknya yang bernama Rie.”

Aku masih kurang paham. Inelika dan Inerie. Dua-duanya berbicara tentang ibu. Apakah ini berarti masyarakat sini sangat memuliakan seorang ibu, hingga nama ibu diabdikan sebagai nama gunung, tempat tertinggi? Apakah tuduhan patriarkhis pada kebanyakan masyarakat tradisional tidak sepenuhnya benar? Bisa jadi. Entah. Aku kembali teringat puisi Emha Ainun Najib. Mungkin karena dalam perjalanan ini kubawa buku trilogi kumpulan puisi: Doa Mencabut Kutukan, Tarian Rembulan, dan Kenduri Cinta.


Ibunda Airmata

Kalau engkau menangis

Ibundamu yang meneteskan airmata

Dan Tuhan yang akan mengusapnya

Kalau engkau bersedih

Ibundamu yang kesakitan

Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan.

Menangislah banyak-banyak untuk ibundamu

Dan jangan satu kalipun ibumu menangis karenamu

Kecuali engkau punya keberanian untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu

Kalau ibundamu menangis, para Malaikat menjelma butiran-butiran air matanya

Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda membuat para malaikat silau dan marah kepadamu

Dan kemarahan para Malaikat adalah kemarahan suci

Sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala menutup pinta sorga bagimu


Jimat Ibunda

Bukan sekedar asal usul: ibumu

Adalah masa depanmu

Ibu adalah darah dagingmu

Maka ilmu tertinggi ialah

Menundukkan muka kepadanya

Membungkukkan badan

Kau raih punggung tangan beliau

Kau cium dalam-dalam

Kau hirup wewangian cintanya

Merasuk ke dalam kalbu

Tuhan menitipkan di telapak kakinya

Jimat bagi rizki dan kebahagiaanmu


Ibunda Tanah Subur Nasibmu

Ibunda adalah busur bagi anak panah keberhasilan hidupmu

Ibunda adalah tanah subur sekaligus air suci penyiram

bagi bertumbuhnya benih-benih kesejahteraan di muka bumi

Ibunda menyimpan sorga di telapak kakinya

namun itu tak dijadikannya kebanggaan dan kekuasaan atasmu

melaikan dijelmakan menjadi kasih sayang tak terhingga,

diolahnya menjadi kelapangan hati dan persediaan maaf

yang tak kan pernah habis

Ibunda tidak mengepalai rumahtangga dan masyarakat

karena ibunda adalah hatinya, nuraninya, jantung pemacu kehidupannya

Aku jadi ingat ibuku. Tanpa sadar air mata mengalir…

Tidak mungkin kubayar semua pengorbanan ibu padaku. Sembilan bulan sepuluh hari dan sakitnya melahirkan. Masa-masa kecil dan ibu yang harus bangun malam jika aku menangis. Masa ketika aku belum bisa apa-apa, dan ibu yang menyuapi, memandikan, bahkan mencebokkanku. Ah, sungguh tak terhitung.

Tidak mungkin kutebus semua kesalahanku kepada ibu. Bagaimana sering aku menyakiti hatinya dan membuatnya menangis. Mengacuhkannya, mencibir, membantah, membentak, membuatnya merasa begitu hancur. Betapa banyak.

Berapapun bayaran dan tebusan yang kusiapkan tidak akan pernah cukup. Tapi kelapangan hati dan persediaan maaf seorang ibu adalah samudera luas di mana aku bisa berenang-renang tanpa takut tenggelam.


To be continued…


Artikel sebelumnya:

Bajo – Ruteng – Bajawa (1)

Bajo – Ruteng – Bajawa (2)

18 Comments to "Bajo – Ruteng – Bajawa (3)"

  1. soraya dediaktri  7 April, 2014 at 21:34

    Nice story and great adventure….so curious things…wonderful

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.