Monday, 20 September 2010
Kornelya
Para pembaca setia Baltyra di komputer manapun anda berada. Kali ini saya akan menulis sedikit tentang gonjang-ganjing gejolak toleransi yang sedang melanda Amerika, dari perspective awam, saya sebagai warga Negara Indonesia yang kebetulan hidup beramfibi antara Indonesia dan Amerika.
Sebelum media massa meniupkan ke publik berita mengenai akan dibangunnya Islamic Center dekat Ground Zero, kehidupan beragama community interfaith di Amerika, setidaknya pada tempat –tempat di mana saya berinteraksi social keadaannya selalu aman dan damai. Adalah Mayor Bloomberg seorang Jews dan City Board of Development mendukung pembangunan Gedung Islamic center ini, dan kemudian diperkokoh oleh dukungan Presiden Obama pada acara buka puasa bersama tokoh Muslim di Washington DC.
Setelah media mengusungkan berita legitimasi rencana pembangunan Islamic center dengan gaya bahasa yang menurut saya provokasi dan agitasi, pro dan kontrapun terjadi di masyarakat. Intensitas protes dilakukan secara verbal dan tertulis. Dengan sisipan satu kekerasan fisik yang dilakukan seorang tetangga idiot sekampungku dari Brewster, yang menusuk sopir taxi, hanya karena beliau mengaku agamanya Islam.
Bagai menuangkan bensin dalam api, seorang Pastor Fundamentalist Christian Church Terry Jones memposting di FBnya agar orang-orang di seluruh dunia pada tanggal 9/11 adakan aksi membakar Qur’an. Sekilas, gereja (sekte) yang dipimpin Terry Jones, hanya memiliki anggota 50 keluarga. Menurut ABC News, ia juga author untuk buku “Islam is of the Devil”. Buku yang hanya beredar di kalangan pengikutnya. Hasutan gilanya ini mengundang reaksi dari warga Negara Amerika dan dunia, termasuk presiden Indonesia, mengadakan jumpa pers serta menyampaikan nota protes.
Uniknya tidak semua yang pro adalah Muslim, demikian pula yang kontra ada juga yang beragama Islam. Tergantung, interest dan persepsi. Selain masalah hukum, pride of religious, dan kenangan September 11, character Manhattan New York, sebagai pusat perputaran uang dunia menunjukkan kepentingan bisnis melekat erat dalam proses pembangunan fasilitas ini.
Untuk membatalkan pembangunan facilitas ini, pemilik property bersedia menjual ke pihak ketiga, Donald Trump dengan keangkuhan duitnya siap membeli. Sementara di sisi lain, aksi kontra yang cenderung melecehkan agama Islam secara keseluruhan terkait peristiwa 9/11, membuat tokoh Muslim dipimpin Mr. Rauf dan panitia pembangunan Islamic center, “ standing tall, for the pride of their religious”.
Intensitas pro dan kontra mempersempit ruang untuk salah satu pihak “legowo” mengalah untuk menang.
Akan halnya aksi protes terhadap “pastor” Terry Jones yang mengancam membakar Qur’an, saya berharap para ekstrimist di Indonesia bisa mengambil hikmah dan dapat merasakan, bagaimana pedihnya perasaan penganut agama Kristen/Katholik di Indonesia, yang beratus-ratus bahkan ribuan Injil kitab sucinya ikut terbakar saat kalian membakar tempat ibadah kami. Iman manusia terletak dalam hati, menghancurkan tempat ibadah dengan harapan iman pengikut akan menjadi debu, adalah pikiran picik.
Seandainya pemerintah Indonesia, berani berdiri tegak di depan hukum demi kebebasan beribadah, dan tak memberi ruang seincipun pada perusuh seperti yang dilakukan Obama dan Michael Blomberg, kebhinekaan Indonesia akan menjadi indah. Mereka bukan pemimpin ideal, tetapi ketegasan melawan intimidasi massa patut dicontohi. Salam Damai Indonesiaku.
September 24th, 2010 at 10:30
Aduh..aduh….. Kaciannya, Kornelya. I lup yu pul, say
Dikirim doa aja biar selalu sukses ya ?
Semoga selalu sukses, amiiiiin……. : )
September 24th, 2010 at 09:23
Hik-hik, tak ada cinta buatku, sini kirimin dodol durian, nanti aku maafin. Hahahaaa. Salam.
September 24th, 2010 at 09:20
Sorryyyyyyy…… Harusnya aku njawab buat Kornelya ! Bukan SU ! Sorryyyyyyyy……..
Mohon maap ya, Sylvia. Kok jadi salah alamat : ( Maapi…, maapin…… Gw dijewer juga mau deh : (
September 24th, 2010 at 09:07
SU, tidak mungkin ada Quran dalam Injil. Karena Injil ada 600 tahun lebih dulu dari munculnya Islam. 600 tahun bukan waktu yang pendek. Dalam kurun waktu itu, amat sangat mungkin Injil mengalami perubahan, karena tidak diaturnya cara penyampaian yang sama (dalam Islam, Quran selalu berbahasa Arab kuno – bukan yang masa kini, jadi tahun berapapun dicetak, bunyinya tetap sama – bukan terjemahan). Tidak akan mungkin disebutkan ada Quran dalam Injil, seperti bagaimana Injil disebutkan secara nyata dalam Quran. Inilah sebab mengapa Muhammad disebut pembawa pesan terakhir. Lebih baru. Meski demikian, (katanya) kalau menilik sebuah Injil yang dituliskan oleh Barnabas, disebutkan akan muncul seorang pembawa pesan/utusan Allah yang baru setelah Isa A.S.
Aku sendiri tidak pernah melihat Injil Barnabas ini, hanya melalui kisah yang disebutkan para ulama. Apakah Injil Barnabas diakui oleh kaum Kristen dan Katholik yang ada sekarang ? I doubt it. Karena yang kami pahami, kaum Nasrani (seperti yang disebut oleh Quran saat itu) sebenarnya tidak sama dengan Kristen dan Katholik yang ada sekarang. Konon, Injil Barnabas mengungkap bila Isa bukan Allah, karena Isa hanyalah messenger, seorang pembawa pesan seperti Muhammad yang bagi muslim bukanlah Tuhan. Tapi entahlah, wallahu ‘alam bissawab, hanya Allah yang tahu jawabnya. Bagimu sendiri, mungkin punya pandangan yang berbeda tentang hal ini. Itu sangat aku hargai.
Ada sebuah cerita pribadi tentang betapa kuatnya hubungan umat Katholik di kampung halaman kami. Suatu ketika mobil kami sedang melaju dengan kecepatan 60 km/jam di suatu daerah. Lalu terasa ada benturan di bemper belakang, cuma sedikit. Tahu-tahu seorang polisi menyetop mobil kami. Ada sepasang muda-mudi remaja dengan sepeda motor yang menyeberang jalan tanpa memperhitungkan kecepatan mobil, langsung berbelok dari sisi kiri mobil. Cuma kesrempet bemper belakang, tapi mereka menikung dengan kecepatan lumayan, jadi langsung oleng dan jatuh. OK, kami berusaha bertanggung-jawab dengan bekerja-sama memeriksakan dara yang dibonceng (karena sempat pingsan) ke rumah sakit di Semarang (tempat kejadian perkara 20 km dari sana). Itupun atas permintaan keluarga sang gadis yang notabene orang Katholik. Tidak ada masalah. Sampai suatu kali tiba-tiba kami dapati kenalan-kenalan kami yang Katholik berubah sikap saat bertemu. Mereka menuduh kami tidak bertanggung-jawab, mau lari dari masalah, lalu mengancam kalau macam-macam akan dilaporkan pada seorang jendral apaaa gitu. Lha ya mlongo dong. Masalahnya apa ? Belok-belok sendiri, nabrak-nabrak sendiri, minta-minta sendiri ke rumah sakit mahal, masih bagus dibiayai lho. Kok kami tiba-tiba dimusuhi banyak orang ? Ternyata ada sebuah buletin dari gereja mereka yang menyebutkan bila si dara ini tertabrak mobil kami yang muslim dan disebutkan kalau kami mau lari dari tanggung-jawab (apa karena kami tidak sadar ada yang nubruk pojok bemper belakang sisi kiri mobil sampai distop polisi kali ye ?, keliatan dari spion aja enggak wong jalannya menikung. Parah to ? Mau nyebrang dari kiri ke kanan dengan kecepatan tinggi tanpa berhitung kecepatan kendaraan lain di jalan menikung…. Wooo…
. Betapa cepat kabar tersiar antara mereka. Ternyata lewat gereja. Hal yang tidak pernah kami dapati di masjid-masjid di kampung halamanku yang bolak-balik membahas soal sholat, puasa, zakat, dll. melulu. Wong masalah sholat aja masih jauh dari sempurna kok, gimana ustadznya mau ngajak musuhin agama lain yang sudah nabrak jemaahnya yang tempat kejadiannya berpuluh kilometer dari masjid ? Cari makan aja susah kok mikir mau musuhan sama yang nabrak jemaahnya. Urusono dewe…, gitu kali pikir ustadz.
Lha buletin kayak gini di gereja ini yang harus diwaspadai, kayak kalau ada orang ngaku kyai tapi ngasih ajaran gak bener sama pengikutnya (biasanya di pondok pesantren yang fanatik dan berpaham tertentu, yang orangnya tidak banyak wawasan) . Kalau aku sih, selama kita ketemu sama pemuka agama yang maunya ngajak merusak atau bermusuhan dengan pihak lain ya itu pemuka agama gak bener. Mau Kristen, Islam, Katholik, Buddha, atau Hindu, kalau ngajaknya musuhan dan ngrusak hingga merugikan orang lain ya artinya gak bener, gak perlu diikuti.
Untuk yang Sylvia sebut orang Islam membakar Injil itu, jangan terpengaruh dan termakan isu yang membuat mereka disebutkan sebagai satu-satunya wakil wajah Islam disini. Dengan rakyat yang jumlahnya 230 juta orang di Indonesia, terlalu kecil bila kita cuma memandang orang muslim dari kacamata mereka. Betul kalau disebut ekstrimis, silakan saja. Aku juga gak suka sama aksi main hakim dan mau menang sendiri kayak mereka. Itu tidak benar. Tapi masih banyak kok yang masih mengamalkan Quran dengan baik, jauh lebih banyak malah. Masih banyak yang memahami pesan Allah untuk menghormati agama lain (lakum dinukum waliyadin = untukmu agamamu, untukku agamaku). Disini mengemukakan pendapat juga dibolehkan, tapi memang ada aturannya. Yang jelas, para pembakar Injil itu memang seharusnya diberi sanksi karena sudah melecehkan agama lain dan menyakiti hati jemaahnya. Sayangnya, hukum Indonesia ini mandul, dan rakyat Indonesia ini masih banyak yang bodoh.
Tulisan soal bakar-bakaran ini cuma akan memancing orang lain untuk saling serang, saling tuduh, saling marah. Karena pasti ada yang pro dan kontra. Sudah saatnya kita semua membawa sesuatu yang akan membuat kedamaian bagi semua orang. Bumi ini cuma satu. Mari kita bersama-sama membuat bumi ini makin damai.
Salam teramat sayang bagi semua saudaraku sesama manusia yang ada di dunia : ) Peace !
September 24th, 2010 at 08:57
Nev : aku suka sama kata-kata dalam kalimatmu yang berbunyi : marilah kembali ke fitrah… jadikan kasih itu raja dalam hati kita
September 24th, 2010 at 08:16
Mba Cinde, seperti slogan foto kedua Sensitive goes both ways. Apakah dalam Qur’an ada Kitab Injil, ataupun dalam Kitab Injil ada Qur’an atau tidak. Membakar, merusak kitab suci agama lain, atau merusak symbol agama dengan tujuan menyakiti hati penganutnya bahkan sampai kekerasan fisik itu laknat dan biadab. Manusia-manusia seperti ini harus dihukum secara hukum negara. Beda dengan di Indonesia, disini kita boleh protes sebagai oposisi, tetapi tidak boleh ada kekerasan fisik. Menurut hukum Amerika, melecehkan, membakar, meludah symbol-symbol agama, negara & culture merupakan bagian dari free of speech. Bottom line, tolerance must be a two way street. Salam!!
September 24th, 2010 at 07:09
Halah ! Yang kayak gini mah yang senang wartawannya. Hoo, asyiiiik, ada berita ! Ayo berantem ! Gw dapat duitnya ! Dimana-mana, yang mancing di air keruh itu yang akan dapat untungnya. Kasian deh yang sampai terprovokasi. Kasian juga yang gak paham sama ajaran agamanya sendiri. Itu yang terjadi kalau orang cuma memahami ayat kitab sepotong-sepotong. Padahal esensi kitab harus diambil secara menyeluruh. Dan aku yakin tak ada kitab agama apapun di dunia yang mengajak penganutnya untuk merusak dan membunuh. Quran adalah sebuah kitab yang juga sebagai rangkuman dari semua kitab samawi (agama langit) yang pernah turun sebelumnya. Di dalamnya juga ada kitab Zabur, kitab Taurat, kitab Injil, dan isi pesan Allah lewat Muhammad sendiri. Bagian yang diterima oleh Muhammad cuma sepersekian dari keseluruhan Quran (hanya 10 juz), termasuk di dalamnya adalah hukum perkawinan, hukum waris, hukum dagang, dan bagaimana seseorang memerintah sebagai pemimpin. Selebihnya (20 juz) adalah pesan yang diterima oleh rasul-rasul sebelumnya (Dalam Islam : nabi cuma menerima pesan, tapi tidak menyampaikan ke umat, hanya untuk diri sendiri. Sedangkan rasul menerima pesan Allah, untuk juga disampaikan kepada umatnya).
Menggelikan bila ada pendeta yang ingin membakar Quran, karena di dalamnya juga ada Injil yang disampaikan rasul Isa ‘Alaihi Salam (‘Alaihi = atasnya, salam = keselamatan. Berisi pujian yang artinya = semoga Allah memberikan keselamatan atasnya), kitab pegangan kaum Nasrani.
September 24th, 2010 at 07:03
Halah ! Yang kayak gini mah yang senang wartawannya. Hoo, asyiiiik, ada berita ! Ayo berantem ! Gw dapat duitnya ! Dimana-mana, yang mancing di air keruh itu yang akan dapat untungnya. Kasian deh yang sampai terprovokasi. Kasian juga yang gak paham sama ajaran agamanya sendiri. Itu yang terjadi kalau orang cuma memahami ayat kitab sepotong-sepotong. Padahal esensi kitab harus diambil secara menyeluruh. Dan aku yakin tak ada kitab agama apapun di dunia yang mengajak penganutnya untuk merusak dan membunuh. Quran adalah sebuah kitab yang juga sebagai rangkuman dari semua kitab samawi (agama langit) yang pernah turun sebelumnya. Di dalamnya juga ada kitab Zabur, kitab Taurat, kitab Injil, dan isi pesan Allah lewat Muhammad sendiri. Bagian yang diterima oleh Muhammad cuma sepersekian dari keseluruhan Quran (hanya 10 juz), termasuk di dalamnya adalah hukum perkawinan, hukum waris, dan bagaimana seseorang memerintah sebagai pemimpin. Selebihnya (20 juz) adalah pesan yang diterima oleh rasul-rasul sebelumnya (Dalam Islam : nabi cuma menerima pesan, tapi tidak menyampaikan ke umat, hanya untuk diri sendiri. Sedangkan rasul menerima pesan Allah, untuk juga disampaikan kepada umatnya).
Menggelikan bila ada pendeta yang ingin membakar Quran, karena di dalamnya juga ada Injil, kitab pegangan kaum Nasrani.