Jentera

Anastasia Yuliantari


Dua belas tiga dua malam. Ia membuka pintu kamarnya. Diletakkannya kunci mobil di atas meja sudut antara patung gadis petani dan kincir angin kayu buatan Belanda. Seperti beratus hari sebelumya mungkin ia akan lupa letak kunci itu esok pagi, tapi ia tak perduli.

Jarum jam terus berdetak. Ritual harian menjelang tidur dimulai. Melepaskan baju kerja dan menggantungkannya di belakang pintu. Meletakkan sepatu di rak kecil dekat jendela, serta tas kecil di atas meja serbaguna.

Gerakan yang sama setiap malam, langkah yang sama pula. Begitu teratur, dengan presisi yang nyaris sempurna, seperti hitungan langkah di lantai dansa.

Masih setengah telanjang dibukanya almari berpintu ganda. Diambilnya kaos dan celana pendek pada tumpukan teratas. Tak semilipun tumpukan itu bergeser. Ia tak pernah mengacaukan susunan dan jenis isinya. Tak ada pakaian dalam terselip atau stocking kehilangan pasangannya. Kekacauan bukan ritmenya.

Lalu langkahnya menuju meja rias. Dinyalakannya lampu kecil bergagang puteri raja a la Eropa abad pertengahan. Seketika wajahnya terpantul jelas di bidang kaca. Sebuah wajah dengan dandanan yang telah luntur, mata redup menahan kantuk, dan gurat-gurat kelelahan di pangkal hidung.

Tangannya meraih botol kaca. Menadahkan telapak untuk menampung cairan yang meleleh keluar dari bibir botol, menyentuh dengan ujung jari, lalu dioleskan perlahan pada kedua pipi, dahi, dan dagunya. Jari-jari itu terus menari seakan ada irama yang mengiringi gerakannya.

Krim pembersih menghapus semua sisa bedak yang ada. Matanya berjalan menurut pola yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Seakan ada sebuah rute yang harus selalu dijalani. Ia tahu akan menemukan sedikit kerut di kening dan sudut mata. Juga noda-noda hitam di pipi dan ujung hidungnya. Bibirnya masih lembut dan kenyal, namun garis-garis samar mulai muncul di ujungnya.

Sambil menghela napas diambilnya sisir tanduk dalam laci. Perlahan disisirnya rambut sebahu miliknya. Tangannya bergerak dari pangkal ke ujung dengan durasi dan kecepatan yang teratur. Bagian demi bagian, dari atas ke bawah. Lalu dibungkukkannya tubuh menunduk ke lantai, mulai disisirnya kembali bagian per bagian, dari atas ke bawah, dengan gerakan yang sama, ritme yang sama pula. Seperti ratusan malam lain, ia akan berhenti ketika helaian-helaian itu telah halus dan melayang jatuh terburai di bahunya.

Malam beranjak pagi, ia bangkit menuju tumpukan bantal beralaskan seprei biru putih. Kain halus itu terasa sejuk di punggung dan tengkuknya. Lalu matanya mengatup perlahan, seiring desah lirih dari bibirnya.

Dalam kesenyapan malam jantungnya berdetak teratur. Begitu juga aliran darahnya. Ia merasa mendengar alunannya ketika memasuki bilik jantung, dipompa keluar dengan tekanan yang berirama, lalu mengalir kembali di sekujur tubuhnya. Darah itu mengalir terus ke arah otaknya, melewati jutaan rongga-rongga, berliku dalam setiap lekukan dan kelokan syarafnya.

Ia merasakan paru-parunya mengembang dan mengempis seirama desah nafasnya. Oksigen yang terhirup dan karbon dioksida dikeluarkan secara bergantian melalui hidungnya. Mengalir teratur seiring gerakan kedua paru-parunya.

Semua teratur, tak pernah meninggalkan iramanya. Bahkan mimpinyapun selalu mempunyai pola yang sama. Ia tak pernah tahu membedakan mimpi satu dengan lainnya, bukankah ia selalu melayang dalam labirin yang sama?.

Waktu terus berjalan. Pagi mulai menyingkirkan malam. Seperti ratusan malam yang lain beberapa saat setelah bandul jam berdentang dua kali ia akan mendapat pesan. Satu baris yang sama, sampai dia tak harus membuka mata untuk membacanya. Bukan karena satu baris itu tanpa makna, namun justru dia menganggap lebih dari satu baris akan menghilangkan artinya.

Pesan itu masuk saat gema dentang jam hampir lenyap. Diraihnya benda kecil itu dan dipencetnya sebuah tombol untuk menghentikan bunyinya. Ia membuka matanya sesaat, menguak kaburnya pandangan karena kantuk yang memberati sekedar menatap benda di tangannya, lalu dengan jaya memasuki alam bawah sadar yang ia sadari akan sama setiap harinya.

Mendadak ia tahu sedang melangkah di jalan yang tak biasanya. Ia tidak mengenali warna, suara, bau, dan rasa di sekelilingnya. Semakin jauh melangkah, semakin terasing dia. Ini bukan mimpinya, ini bukan alam bawah sadarnya, ia tak mengenali setiap pola dan bentuknya.

Jantungnya tidak lagi teratur berdetak, darahnya deras mengalir terpompa oleh debaran yang kian cepat. Jutaan rongga di kepalanya tersentak oleh derasnya riak gelombang menumbuk dinding yang selalu jernih dan tenang.

Lentingan kejutan itu memacu dua paru-parunya mengembang dan mengempis semakin kerap, menggapai-gapai udara memasukkannya semakin cepat, membuangnya bahkan lebih cepat lagi. Membakar dadanya, mengeringkan kerongkongannya, dan memaksa tubuhnya mengeluarkan leleran keringat dari setiap liang pori-porinya.

Apa yang salah dengan tubuhnya? Mimpinya? Alam bawah sadarnya?. Mengapa semua memberontak melawan dirinya?. Ia merasa telah berjalan selaras dengan mereka selama ribuan hari, dan akan selalu melangkah seperti itu ribuan hari lainnya.

Tiba-tiba ia merasa semakin lemah, semua gerakan tak beraturan itu membuatnya jatuh, perlahan tapi pasti ia terhanyut arus deras. Terseret tak menentu. Menjerit dan merintih. Melolong dan memaki. Perlahan tapi pasti ia semakin kehilangan diri.

Dirabanya dadanya yang berhenti berdetak dan semakin dingin. Dibukanya dengan paksa sekat yang menutup hatinya. Ia terperanjat, yang ditemuinya hanya lorong sepi dan dingin. Tak ada gerakan dan denyut. Tak ada cahaya dan warna.

Disentuhnya hatinya dalam kegelapan. Telah membeku dan mengeras seperti balok-balok es abadi di kutub. Entah telah berapa ribu hari ia menjadi beku di balik dadanya. Entah kapan ia berhenti berdenyut menghangatkan jiwanya. Entah bagaimana ia padam untuk mencerahkan dan mewarnai hari-harinya. Untuk pertama kali ia menyadari telah membunuh dirinya sendiri. Ia membunuh jiwanya, cahaya hidupnya.

Sedu sedan meluncur dari mulutnya, terlarut bersama air yang mengalir deras dari kedua kelopak matanya.

Ia melihat dirinya yang tidur terlelap, begitu tenang mengarungi malam. Pesan tengah malam itu masih tergenggam erat di tangannya. Ia ingat tak harus membuka mata untuk membacanya. Namun sekarang ingin sekali dia membacanya sungguh-sungguh untuk pertama kalinya.

Ia tercekat. Pesan itu bukan sebaris pesan biasa. Ia melihat ribuan pelangi terjalin dalam setiap hurufnya. Ia merasakan kehangatan sinar mentari pagi menyelubunginya.

Lalu ditatapnya lorong-lorong di depannya. Betapa lengang dan mati. Bagaimana mungkin dia sanggup membalas keindahan pelangi dengan kegelapan ruang-ruang kosong ini?.

Ia duduk tersungkur mencoba memeluk dan menghangatkannya. Namun usaha itu sia-sia. Hatinya telah membatu, ia hanya tinggal raga mekanis yang berjalan mengarungi ratusan hari-hari. Ia kehilangan hakekat sebagai manusia.

Lengking penyesalan menggema di seluruh sanubarinya. Kini ia telah kehilangan dirinya, dan akan kehilangan belahan hatinya.

Digapainya seutas kehangatan yang tersisa dari sederet pesan yang digenggamnya. Dipeluknya erat sisa-sisa harapan diujung-ujung jemarinya. Ia tak ingin menjadi wadah kosong, ia ingin memiliki rasa hangat yang akan selalu menyinari deretan pesan-pesannya. Ia ingin kembali menjadi manusia.

Gelombang itu keras menghantamnya. Aliran darahnya semakin menggila, paru-parunya meledak berkeping-keping membelah tubuhnya. Meninggalkan aliran air dari kedua kelopak mata dan liang pori-pori di sekujur tubuhnya.

Kegelapan datang menjemput. Tangannya masih menggenggam sebaris pesan tengah malam. Itu memang bukan deretan pesan yang telah dibaca ratusan malam sebelumnya. Itu memang pesan yang dijalin dengan ribuan pelangi pada setiap hurufnya. Itu memang pesan yang melenyapkan rasa dingin di dada.

Pertama kalinya setelah ratusan hari keterikatan mereka, ia terbangun sebelum fajar merekah. Digenggamnya erat pesawat penerima pesannya, bukan mengirimkan balasan, melainkan menghubungi sebuah kota di belahan dunia yang berbeda.

Sebaris kata keluar dari bibirnya yang gemetar, “ Aku mencintaimu dengan segenap hatiku.”




Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.