Mutiara Sarmi

Nevergiveupyo


Ah SARMI… engkau begitu murni. Begitu cantik. Jernihnya airmu, segarnya udaramu, polosnya penghunimu. Semuanya menjelma, berkolaborasi dan bersinergi menjadi suatu eksotika Nusantara…

Sobat Baltyra..sudahkah anda pernah mendengar kata SARMI? (bagi yang tinggal di daerah Jawa Tengah & Timur..tentu sering ketemu Ibu/mbak Sarmi). Bagaimana dengan Eduard Fonataba?? Familier kah? Bagi penggemar sepakbola dan mengikuti Liga Indonesia pasti familier dengan Eduard yang satu ini : Eduard Ivakdalam. Nah…saya tidak akan membahas tentang sepakbola apalagi nama-nama di suku Jawa ya.. ini tentang SARMI dan Eduard Fonataba-nya (atau lebih tepatnya Eduard Fonataba dan SARMI-nya??)

SARMI adalah nama sebuah kabupaten baru di wilayah Provinsi Papua. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran Kabupaten Jayapura.

Resmi menjadi kabupaten sendiri di tahun 2003. Ihwal penamaan menjadi kabupaten SARMI (dan bukan Kabupaten Jayapura Barat misalnya) merupakan bentuk penghargaan dan pengakuan terhadap 5 suku utama yang mendiami wilayah tersebut, yaitu suku : Sobe, Airmati, Rumbuway, Manirem, dan Isirawa.

Situs Wikipedia memberikan informasi bahwa Kabupaten Sarmi memiliki luas wilayah 17.740 km² terdapat perbedaan dengan informasi di situs BPK Papua yang menyebutkan luas wilayah Kab. Sarmi mencapai 35.587 km². Wilayah ini berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah utara, kabupaten Tolikara di sebelah Selatan, Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Waropen di sebelah Barat, dan kabupaten Jayapura di sebelah Timur. Terbagi menjadi 10 kecamatan/distrik dan 58 kampung awal yang saat ini telah berkembang menjadi 86 kampung. Wilayah ini menjadikan kota Sarmi sebagai ibukota kabupaten. Patut diduga bahwa kota Sarmi sediri adalah kota baru yang terbentuk seiring dengan pembentukan kabupaten ini.

Penduduk Kab. Sarmi, laiknya penduduk di kawasan timur, mempunyai sagu sebagai makanan pokoknya. Pengembangan komoditas pertanian budidaya seperti padi, palawija, dan sayuran mulai dilakukan walaupun masih dalam skala kecil. Komoditas pertanian utama Kab. Sarmi adalah kakao dan kopra. Karakteristik wilayah Kabupaten ini berupa dataran rendah dan bergaris pantai yang sangat panjang, sehingga Kab. Sarmi menjadi satu satunya kabupaten di Papua yang memiliki potensi kopra yang sangat besar setelah Kabupaten Biak Numfor.

Potensi lahan garapan masih sangat terbuka, di mana luas hutan produksi diperkirakan mencapai 54.000 hektar. Pun halnya dengan potensi kelautan yang juga masih belum dikelola dalam skala ekonomis, mengingat baru dibangun satu pelabuhan pendaratan ikan di Kabupaten ini. Di wilayah ini juga ditemukan potensi kandungan mineral dan minyak bumi.

Eduard Fonataba adalah Bupati pertama Kabupaten Sarmi. Beliau adalah pejabat sementara Bupati Sarmi pasca pemekaran yang kemudian terpilih sebagai Bupati pada Pilkada tahun 2005. Pria kelahiran 6 Oktober tahun 1951 ini merupakan bapak dari empat anak. Tidak seperti laiknya Pejabat di negeri kaya raya ini, beliau betul-betul memahami dan menghidupi apa itu semangat Pejabat Pemerintah sebagai Pelayan Masyarakat. Sebagai hasilnya, dia mendapatkan tiga penghargaan MURI sebagai Pejabat yang paling banyak membangun rumah untuk rakyat. Pejabat yang paling banyak membeli truk untuk rakyat dan terakhir sebagai pejabat yang paling sedikit melakukan kunjungan dinas ke luar daerah. Wahhh…

* ket : yg berbaju garis-garis itu istri Bupati Eduard

Hal yang patut digarisbawahi dari kiprah pejabat yang satu ini adalah bahwa dia benar-benar “merusak” hutan. Beliau membuka hutan, baik untuk lahan pertanian (kebun warga) maupun untuk pembangunan jalan. Pada saat kabupaten ini terbentuk, satu-satunya akses menuju kota Sarmi adalah melalui jalur laut. Betapa tidak efisiennya! Bayangkan, akses jalan ke ibukota kabupaten dari ibukota Provinsi saja belum ada!! Jangan tanyakan bagaimana akses ke pelosok kabupaten. Jadi bersyukurlah apabila daerah anda sudah memiliki “jalan kubangan lumpur” ataupun “jalan bekas” (jalan yang aspalnya sudah mengelupas dan tinggal batu-batunya saja). Paling tidak sudah tidak perlu repot membuat jalan raya.

Bupati Eduard adalah type pejabat mobile. Tidak jarang dengan mengendarai sepeda motor trail (pilihan yang tepat, mengingat lokasi yang sungguh berupa “awal peradaban”). Kunjungan ini juga bukan seperti kunjungan pejabat yang normal –seperti di ibukota ataupun daerah lain- yang “dilengkapi” pengawalan polisi dan sirine meraung-raung. Pak Bupati kita ini justru sering menafikan aturan protokoler, seperti berhenti sembarangan, di mana pun dia mau. Contohnya ketika melihat warganya yang berjalan kaki ke puskesmas, Bupati akan mengeluarkan rupiah dari sakunya untuk ongkos naik ojek sambil memberikan beberapa nasihat yang umumnya tentang pentingnya menjaga kesehatan. Jika Pejabat (dan calon pejabat) tertentu bagi-bagi sembako menjelang pemilihan kepala daerah, Bupati Eduard selalu membagi-bagikan sabun dan handuk dalam setiap perjalanannya. Hal ini menjadi masuk akal mengingat higienitas adalah suatu konsep yang masih jauh dari masyarakat. Upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat membutuhkan dukungan kondisi masyarakat yang sehat jiwa dan raganya.

Kunjungan beliau juga hampir selalu ditemani istri tercinta. Diakui oleh Bupati support dan peran penting istri dalam pengambilan keputusannya. Sebagai contoh : Pembangunan rumah untuk rakyat yang dilakukan dengan tidak meninggalkan kearifan budaya local. Hal ini dilatarbelakangi kejadian ketika dalam suatu kunjungan, hari telah malam dan menemukan warga yang baru pulang dari kebun yang berjarak 7km dengan berjalan kaki. Istri Bupati-lah yang mengusulkan untuk dibangun rumah bagi warga di dekat lokasi kebun. Dalam hal ini Bupati seperti ingin menegaskan ungkapan bahwa di belakang seorang pria hebat pasti berdiri seorang wanita hebat menyertainya.

Dalam proyek pembangunan rumah untuk rakyat, penentuan lokasi yang akan dibuka untuk menjadi perkampungan melibatkan ondoafi (tetua adat) dan kepala kampung, guna meniadakan masalah sengketa lahan di kemudian hari. Hal ini adalah hal yang utama dan pertama harus dijamin. Karena karakter budaya dan adat di papua yang sangat unik dan khas. Masalah tanah adat adalah suatu hal yang sulit dicarikan jalan keluarnya. Rumah sederhana tapi memenuhi standar kesehatan tersebut di bangun di pinggir jalan yang juga baru dibuka. Dengan demikian akses masyarakat akan mudah.

Sejak tahun 2006 hingga tahun 2010 telah dibangun sebanyak 2.499 rumah. Dengan jumlah penduduk sesuai data sensus tahun 2000 yang tercatat 30.438 jiwa, dengan asumsi satu keluarga terdiri dari 4 orang jiwa, maka jumlah rumah yang dibangun tersebut mendekati 1/3 dari total kepala keluarga yang ada di wilayahnya. Angka yang tidak bisa dibilang jelek dalam satu periode kepemimpinan.

Sobat Baltyra bisa membandingkan dengan capaian kepala daerah masing-masing ya..Rumah-rumah tersebut dilengkapi dengan sumur air bersih dan juga solar cell sehingga aktifitas belajar anak-anak di malam hari dapat terakomodasi. Sebagai daerah yang jalan raya saja tidak ada, tentu saja aliran listrik adalah suatu kemewahan. Pengadaan solar cell tersebut merupakan pilihan cerdas karena selain ramah lingkungan juga akan membantu masyarakat untuk tidak tergantung pada minyak tanah sebagai sumber pelita mereka di waktu malam. Satu pilihan yang baik walaupun harus diakui bahwa lebih murah dan lebih mudah menyediakan depot minyak tanah.

Seorang pemimpin yang baik tidak lari dari tanggung jawab, beliau terjemahkan dengan pengadaan truk mulai tahun 2007. Mengapa koq truk? Bukan bus ber-AC atau pun jaringan kereta api? Tentu saja karena kebun-kebun warga telah menghasilkan sesuatu yang harus dipasarkan. Jadi warga membutuhkan system transportasi yang mampu memasarkan hasil produksinya tersebut. Secara bertahap seluruh kampung induk mendapatkan satu truk. Sampai di tahun ketiga, pemerintah kabupaten masih memberikan bantuan dan pendampingan dalam penggunaan dan pengelolaan truk tersebut. Setelahnya, masyarakat dirasa telah cukup mampu mengelola dan merawat truk-truk tersebut. Hasilnya? Saat ini beberapa kampung telah berhasil menambah jumlah armada truk secara swadaya. Pengaturan penggunaan truk itu adalah 3 hari dalam seminggu digunakan untuk mengangkut hasil bumi ke Kota Sarmi dan Jayapura (yang akhirnya dapat juga ditempuh dengan perjalanan darat, yang membutuhkan waktu antara 6-7 jam).

Penyediaan moda angkutan tersebut selain akan mempercepat peningkatan taraf hidup masyarakat, juga akan mencegah petani menjadi korban pedagang. Di daerah dengan akses transportasi yang ala kadarnya, terkadang dijadikan senjata bagi para pedagang untuk membeli komoditas masyarakat dengan harga rendah karena biaya transportasi yang ditanggung besar. Dengan adanya moda transportasi milik mereka sendiri, maka harga di tingkat petani bisa berada pada level menguntungkan namun demikian harga ketika sampai di tangan pembeli masih sesuai daya beli.

Sementara itu, pemasukan bagi kampung didapat dari penggunaan truk di 4 hari sisanya. Satu point penting disini yang seringkali dilupakan oleh oknum pejabat lain yaitu kegiatan pasca bantuan atau pasca program. Seringkali ditemui program hanya berhasil dalam tahap pencanangan saja. Sequence dalam berpikir dan merancang suatu program adalah pondasi utama keberhasilan. Lingkaran kesejahteraan dibentuk dengan pemberdayaan ekonomi (membuat perut kenyang). Ketika masyarakat sudah kenyang dan mempunyai penghasilan, tentunya anak-anak akan dapat mengenyam pendidikan.

Tenaga terdidik diperlukan untuk membawa Sarmi ke level kemajuan ekonomi yang lebih baik. Dan seterusnya. Alih-alih mengundang investor untuk melakukan eksplorasi bahan tambang dan mineral-yang di beberapa daerah justru terbukti hanya memperkaya golongan tertentu saja dan masyarakat disekitar lokasi penambangan tetap miskin, bupati justru menggunakan pendekatan pemberdayaan ekonomi dari level keluarga. Padahal, kalau mau mudah tinggal memberikan izin pengelolaan (atau lebih tepatnya perusakan??) hutan, maka indicator pembangunan seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) akan dengan cepat digenjot sehingga dengan mudah bisa “dijual” sebagai keberhasilannya. Disinilah, keberanian memilih pendekatan ekonomi mikro dibanding pendekatan ekonomi makro merupakan suatu hal yang perlu diacungi jempol.

Akan halnya kunjungan kerja ke luar daerah yang merupakan trend bagi oknum pejabat lain, Bupati Eduard justru berkesan anti trend. Jika pejabat-pejabat di banyak daerah lain di Papua hilir mudik Papua-Jakarta untuk melakukan lobby kepada Pemerintah Pusat, Bupati ini lebih suka hilir-mudik ke kampung-kampung di wilayah kerjanya. Dalam satu tahun beliau maksimal 4 kali pergi ke Jakarta, dan bahkan pernah sama sekali tidak meninggalkan Sarmi, yaitu di tahun 2008 dan tahun 2010. Alih-alih menjual program kepada Pemerintah Pusat, beliau mengerjakan program dengan mengoptimalkan Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang untuk Pemda di Papua jumlahnya cukup besar. Beliau meyakini bahwa pertanggung jawaban penggunaan dana secara benar dan tepat waktu-lah yang akan meningkatkan alokasi dana-dana bagi daerahnya di tahun berikutnya, bukan intensitas lobi kepada Jakarta.

Bukan suatu pemandangan aneh ketika kendaraan dinas beliau melintas, tak sedikit warga yang akan berteriak dan menyapa dengan antusias : tete Bupati..tete Bupati (tete dlm bhs Papua berarti kakek) yang akan dibalas dengan senyuman hangat dan tak jarang akan berhenti untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar. Citra seorang pemimpin yang sangat positif didapatkan pejabat ini tanpa harus bersusah payah membentuk tim khusus pencitraan bupati, rajin membuat konferensi pers dan statement-statement “positif”, gencar ber-iklan di media massa, ataupun dengan mengotori kota dengan puluhan baliho besar-besar dengan senyuman menggoda dan pose sok humanis-nya. Ya..karena masyarakat melihat sendiri kiprah dan merasakan buah dari tangan dinginnya.

Jika kita perhatikan, apa yang dilakukan Bupati Eduard itu sebenarnya adalah hal-hal yang sederhana, mudah dan bukan sesuatu yang spektakuler. Pejabat manapun bisa melakukan mengingat program-program kerjanya tidaklah membutuhkan formulasi ataupun kalkulasi yang rumit. Masyarakat kenyang, punya uang (ada sesuatu yang dihasilkan untuk dijual), bisa hidup sehat dan anak-anak akan ada waktu untuk sekolah. Namun hal yang demikian tidak banyak pejabat yang mau melakukannya. Seringnya malah terjebak dengan sesuatu yang sifatnya monumental dan justru tidak mengatasi masalah pada sumbernya.

Bupati Eduard Fonataba akan selalu dikenang warga Sarmi untuk prestasinya yang luar biasa, namun luput dari kilatan blits publisitas instan ala Indonesia. Sungguh, beliau bak Mutiara Hitam yang cemerlang. Beliau adalah Mutiara Sarmi itu sendiri, yang berkilau dari dalam, dan bukan hasil polesan.

Ah SARMI… engkau begitu murni. Begitu cantik. Jernihnya airmu, segarnya udaramu, polosnya penghunimu. Semuanya menjelma, berkolaborasi dan bersinergi menjadi suatu eksotika Nusantara…

Terimakasih Oom Admin. Terimakasih Sobat Baltyra yang berkenan mampir. silahkan tinggalkan komentar anda jika berkenan.

Sumber :

http://www.jpnn.com/read/2010/08/31/71354/Eduard-Fonataba,-Bupati-di-Papua-yang-Dapat-Tiga-Penghargaan-Muri

http://jayapura.bpk.go.id/web/?page_id=953

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sarmi

http://www.gambargratis.com/gambar-gratis/gambar-mutiara-hitam.html


101 Comments to "Mutiara Sarmi"

  1. ferdinand  30 August, 2012 at 15:44

    saya putra sarmi, dan saya bangga dengan kepemimpinan bapak fonataba, beliau memimpin dengan kasih dan bijaksana serta takut akan Tuhan, seandainya bapak kembali ikut pencalonan pasti terpilih 90%, titik demi titik bapak sudah ajarkan tinggal kirangkai menjadi indah, makasih bapak dan mama fonataba, semua bhaktimu Tuhan Berkati, by ferdi mehara.

  2. Sirpa  15 June, 2011 at 22:34

    @ JC : seperti halnya Nuchan # 72 sayajuga ngalamin sampai berkali2 ngetiknya … ( nggak sempat di save) terus komeng yg diketik tiba2 hilang …..

  3. Sirpa  15 June, 2011 at 22:29

    Sarmi … selalu teringat dikala pas gerhana matahari total 14 Juni 1983 ( 28 tahun yg lalu) sempat bagi sapi bali buat peternak setempat … salam anget Neo !
    Maju terus ……. Edu Fonataba memang TOP!

  4. nevergiveupyo  14 June, 2011 at 10:03

    # Daisy hahahahaha… lucu sekali…. tapi emang benar lho… artis lebih tenar daripada presiden… (walopun presidennya berjiwa seni -terbukti dengna adanya lagu ciptaan beliau)
    makasih ya sudah mampir…

  5. Daisy  14 June, 2011 at 10:00

    Btw, omong-omong soal Papua, beberapa hari lalu nonton semacam acara jelajah/ petualangan di salah satu teve swasta.
    Liputannya di salah satu daerah di Papua.
    Waktu presenternya bertanya ke anak-anak yang ada di sana, “Presiden kita sekarang siapa?”
    Anak-anak kompak menjawab, “Tidak tahuuuuu!”
    Eh, pas ditanya, “Artis Indonesia siapa?”
    Banyak yang langsung menjawab, “Agnes Monicaaa!”
    Weleh…

    *)Pssstt, eh nama Presiden kita siapa ya? hehe

  6. Daisy  14 June, 2011 at 09:57

    Baru baca. Iya, yang namanya mutiara, ibarat dia ditaruh di comberan sekalipun dia akan tetap berkilau. TFS, jadi tahu Sarmi (kayak nama orang hehe )

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.