Yang Nyaris Terlupakan

Probo Harjanti


Pasang dhingklik oglak-aglik

Yen keceklik adang gogik

Yu-yu..mbakyu mangga

Dhateng pasar blanja

Leh-olehe napa

Jenang jagung thog -enthog

Jenang jagung thog –enthog

Jenang jagung

Itu adalah lagu dolanan anak yang berjudul Pasang Dhingklik salah satu permainan tradisional untuk anak-anak perempuan (biasanya). Cara memainkannya beberapa anak melingkar menghadap ke dalam, tangan saling berpegangan, lalu salah satu ke depan menyusup di antara du teman, ke luar lingkaran. Semua mengikuti, jadilah lingkarannya berbalik hadap ke luar. Kaki salah satu pemain dikaitkan ke tangan yang berpegangan,  (cari yang mudah dijangkau), kaki-kaki yang lain ditautkan di lipatan lutut (bagian belakang).

Jadilah kaki-kaki saling bertautan (kalau kaki kanan, kanan semua, kiri, kiri semua). Kalau sudah rapi dan kuat kaitan kakinya, loncat-loncat sambil terus menyanyi. Permainan ini mengajarkan kerja sama, kalau tidak saling ‘ngemong’ pasti mudah jatuh. Saat dilombakan di lustrum sekolah (sebelum lomba saya ajari lagunya di kelas saat mengajar bahasa Jawa), yang bertahan paling lama di formasi adalah pemenangnya.

Anak-anak terlihat enjoy memainkan permainan yang tak pernah mereka kenal ini, mereka pun berkostum ala ja-dul, meski dalamnya pakai pakaian  olah raga, biar saja…yang penting hepi!

Gasing disedikan untuk siswa putra, di lapangan basket dibuat lingkaran, gasing tidak boleh keluar  lingkaran, juga gerak putaran gasing yang stabil yang bakal menang. Tidak mudah lo mengendalikan gasing, nggak percaya? Coba saja!

Yang tak kalah menarik adalah permainan egrang bambu, mereka balapan naik egrang. Tadinya mau disediakan egrang batok kelapa, untuk anak perempuan, tapi waktunya tidak keburu, jadi hanya egrang bambu yang tersedia. Toh anak perempuan pun bisa naik egrang bambu.

Naik egrang bukan hal yang mudah, salah-salah kaki lecet, terutama di antara ibu jari dan sebelahnya (kaki punya  jari telunjuk nggak sih?). Bagi yang mahir, naik egrang pun bisa sambil lari dan loncat, atau minimal tepuk egrang, caranya dua tangan disentakkan dan disatukan, agar egrangnya berbunyi. Di daerah lain apa ya namanya?

Dua gambar terakhir adalah gejog lesung. Tentunya dari kostum yang dikenakan dalam gambar tersebut bisa dikira-kira, bahwa itu adalah peristiwa adat, ya…adat keraton Yogyakarta,  saat menjelang upacara numplak wajik sebelum upacara garebeg/ grebeg. Dulu di desa-desa kalau akan ada yang punya hajat, cukup mukul lesung dengan alu/ antan orang –orang pun berdatangan. Gejog untuk mendatangkan orang saat ada yang melahirkan, masih saya ingat betul, tetangga di depan rumah melahirkan, lalu lesung pun dipukul, orang-orang datang, membuat brokohan, beras dan uba rampe yang lain disiapkan, untuk dibagi ke tetangga, sekaligus ‘pemberitahuan’ bahwa si X baru saja melahirkan.

Gejog sekarang nyaris tak pernah lagi dibunyikan, lesung tempat  saya, sudah berpuluh tahun tak berbunyi, penabuhnya rata-rata sudah berusia 80tahun lebih. Nampaknya sulit untuk mencari penerus. Saya pun hanya bisa memainkan pola pukulan yang paling mudah. Menurut simbok (ibu), pukulan gejog ada beberapa pola pukulan/ pola ritmik: arang, kerep,   dhundhung, dan oblong. Ada beberapa gending (komposisi lagu) baku yang saya kenal, seperti NENUN, WAYANGAN,  PITIK PELEK dan lain-lain. Ada juga kothekan lesung, yang ini tidak punya pakem pukulan, hanya sekedar memukul lesung  secara ritmis, itu biasa dilakukan saat menumbuk padi, biar tak lekas capek.

Saat bulan purnama, orang biasa main gejog lesung, mengingat jaman-jaman itu tak ada hiburan, penerangan pun masih lampu senthir dan teplok. Saat terang bulan itulah, perempuan dewasa main gejog, yang anak-anak main jamuran, jeg-jegan, semutan, jethungan, gobag sodor, dan lain-lain. Dewasa ini, permainan itu hampir punah, kalau pun ada sudah dikemas menjadi pertunjukan, yang tentu saja sudah beda ruh-nya.

Padahal, permainan macam itu mengajarkan banyak hal, selain kerja sama, ketahanan fisik, juga keterampilan dan kecerdasan.  Ada beberapa yang coba dilestarikan, seperti gobag sodor, diajarkan di beberapa SD. Sebenarnya kalau di SD dihidupkan lagi permainan yang mengasah motorik kasar (lari, lompat) mau pun halus (sumbar-suru/ serokan , bekelan/ bola bekel, juga kempyeng), mungkin anak tidak akan terpaku hanya pada mainan elektronik, yang anti social. Nah, selamat bernostalgia dengan gambar hasil jepretan suami saya, Effy WP.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.