Bajo – Ruteng – Bajawa (4)

Abhisam DM


26 Agustus 2009

Siang di Bajawa. Matahari meninggi dari sebelah timur tanpa mengusik burung-burung yang berkicau sejak pagi. Sesekali angin berhembus agak kencang, menerpa dedaunan, mencipta gemerisik, dan menyempurnakan nada burung-burung. Bayangan muncul dari setiap bentuk yang tertimpa matahari, menari-nari di bawah permadani biru putih yang terhampar di langit. Tak tersisa ruang untuk mendung, juga kabut; cerah.

Aku berangkat dengan ojek. Ke Bena, kata tukang ojek, hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Tidak jauh. Kami mengambil jalan ke arah Ende. Melalui sebuah SPBU kami berhenti untuk mengisi bahan bakar. SPBU di sini bagus dan besar, ‘pasti pas’ pula. Jauh sekali dengan potret SPBU di Ruteng yang semrawut.

Cerita tukang ojek, di belakang SPBU ini ada pacuan kuda. Tidak terlalu besar memang, namun cukup untuk menggelar lomba setiap tahunnya. Cukup diluar dugaanku dan mengundang rasa penasaran. Sayang aku tak punya banyak waktu.

Kami meneruskan perjalanan hingga sampai di sebuah pertigaan. Arah ke Ende terus, kami belok ke kanan masuk ke daerah perkebunan kopi. di mana-mana pohon kopi. Banyak sekali. Sebagai penggemar kopi aku cepat sekali merasa intim dengan pohon-pohon kopi di sepanjang jalan ini. Keintiman yang, entah. Sulit kujelaskan.

Memoriku terlempar ke tahun 2002. Waktu itu aku bersama seorang penyair Jerman berada di satu mobil dalam perjalanan di sekitar daerah Karanganyar, Surakarta. Sampai di kebun teh yang luas, ia bertanya (dalam bahasa Inggris tentu), “Ini kebun teh, bukan?”

“Betul, ini kebun teh,” jawabku.

“Kalau begitu bisa kita berhenti sebentar?” Mimiknya berubah, kelihatan surprise sekali.

Sopir menginjak rem. Mobil baru saja berhenti, ia langsung membuka pintu dan berlari ke tengah kebun sambil berteriak kegirangan. Daun-daun teh ia ciumi dalam-dalam seperti hendak menghirup habis baunya. Ia tertawa, teriak, menciumi daun teh, tertawa, teriak, mencium, tertawa, teriak, mencium, berulang-ulang terus begitu. Aku berpandangan dengan si sopir. Kami sama-sama tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Si penyair kembali lagi ke mobil. Aku pikir ia sudah selesai, ternyata ia menyodorkan kamera padaku. Aku paham maksudnya. Beberapa foto kuambil. Ada pose ia sedang merentangkan kedua tangannya di tengah kebun teh sambil tertawa. Ada pose ia seolah-olah ingin menggenggam pohon teh, dan wajahnya girang menatap kamera. Ada juga pose ia sedang mencium daun teh dengan sangat khidmat, pandangannya menatap ke langit.

Si penyair lalu bercerita betapa ia sangat menggemari teh sejak kecil. “Puluhan tahun aku minum teh, tapi baru kali ini kulihat langsung kebunnya, apalagi sampai mencium daunnya. Di Jerman tidak ada kebun teh,” katanya. Aku paham kini mengapa ia bertingkah seperti tadi.

Keintimanku dengan pohon-pohon kopi di sepanjang jalan menuju Bena memang tidak seheboh si penyair Jerman ketika melihat kebun teh. Tapi sebagai penggemar kopi yang baru pertama kali melihat kebun kopi, ada perasaan yang begitu intim, yang itu muncul begitu saja. Entah, aku sulit menuliskannya. Di Jawa bukannya tidak ada kebun kopi memang, di pulau-pulau lain di Nusantara ini juga banyak kebun kopi, tapi menjumpainya secara tidak sengaja di Ngada, NTT, menjadi benar-benar spesial.

Aku lalu teringat Starbucks dan absurditas bangunan pencitraannya. Mestinya bangsa yang disebut Indonesia ini jauh lebih pantas bicara kopi daripada bangsa asalnya Starbucks yang tidak punya tradisi panjang akan kopi. Tapi, ya begitulah dunia image. Produk lokal seringkali dianggap “mati gaya”, beda dengan produk-produk impor.

Jalanan naik turun dan berliku. Selain kopi ada juga cengkeh, vanili dan jagung. Mungkin ada lagi tanaman lain yang aku tidak tahu. Di beberapa desa yang kami lewati banyak makam di depan rumah-rumah penduduk. Pasti bukan karena tanah yang makin sempit, pikirku. Lalu si tukang ojek menjelaskan, makam-makam itu sengaja dibangun di depan rumah agar keluarga bisa selalu merasa dekat dengan orang yang sudah meninggal. Begitu kepercayaan orang sini, jelasnya.

Kami sempat berhenti sebentar di sebuah tempat yang fungsinya seperti gardu pandang. Dari ketinggiannya yang strategis itu aku bisa memandang kemana-mana. Si tukang ojek menunjukkan beberapa kampung adat yang tampak dari sini, termasuk Bena tentu. “Yang terlihat besar itulah Gunung Inerie, di kakinya itulah kampung Bena,” tunjuknya.

Kampung Bena tampak kecil dari ketinggian ini. Tapi menurut tukang ojek sudah dekat, hanya melalui beberapa lika-liku menurun lalu sampai. Kami pun segera meneruskan perjalanan. Aku makin tak sabar, rasanya ingin segera kutuntaskan saja penasaran yang dari tadi meluap-luap.

Sampai di sebuah turunan tajam, turunan terakhir menuju Bena, aku tersihir oleh eksotisme peradaban ratusan tahun silam. Kampung Bena sudah di depan mataku! Rumah-rumah dari kayu, bambu dan alang-alang berbaris dua saf, berhadapan, dan meninggi. Barisan rumah-rumah itu dipisahkan oleh susunan batu-batu yang membentuk tanah lapang di atasnya, meninggi, membentuk tanah lapang, meninggi, membentuk tanah lapang, dan begitu seterusnya hingga sekitar enam tingkatan.

Tanah lapang menjadi seperti anak tangga, kecuali satu tingkatan yang terpisah menyamping. Yang terbentuk pertama-tama berukuran lebih besar dibanding berikutnya. Di tanah-tanah lapang itu ada beberapa bangunan, ada rumah kecil (kecil sekali, jauh lebih kecil dari rumah untuk tinggal), bangunan mirip payung, dan bangunan dari batu-batuan seperti tempat untuk duduk. Ukuran ketiganya proporsional.

Aku mengambil beberapa foto dari seberang jalan kampung Bena. Ada beberapa rumah dan warung kelontong di seberang sini, dari kayu, bambu dan alang-alang juga. Udara lumayan dingin di kaki Gunung Inerie, lebih dingin dari Bajawa yang pasti.

Setelah cukup, aku menyeberang jalan aspal masuk ke perkampungan. Di rumah terdepan sebelah kanan aku mengisi buku tamu dulu. Di samping tempat buku tamu, masih di rumah yang sama, seorang ibu tua sedang menenun kain. Beberapa yang sudah jadi digantung di depannya.

Ternyata tukang ojek yang mengantarku masih ada hubungan keluarga dengan penghuni rumah tempat mengisi buku tamu. Beruntung juga aku. Ia lalu menunjuk pada bangunan mirip payung di atas tanah lapang. “Itu namanya ngadhu, lambang laki-laki. Kalau rumah kecil itu namanya bhaga, lambang perempuan,” jelasnya. Aku mengajaknya naik, supaya lebih jelas.

“Ada beberapa ngadhu dan bhaga di sini,” kataku setelah sampai di atas tanah lapang.

“Tepatnya ada sembilan pasang. Itu adalah lambang sembilan suku yang tinggal di sini.”

“Kalau bangunan dari batu-batuan ini, sepertinya tempat untuk duduk?”

“Itu namanya ture, tempat nenek moyang duduk membicarakan masalah-masalah di sini. Ada bangunan seperti ini juga di atas, tapi bentuknya berbeda, lebih besar,” ia menunjuk ke bangunan yang dimaksud, “Itu namanya la’e wela kaba, tempat pemotongan kerbau.”

“Bisa kita ke atas sana?”

Kami bergerak lagi ke atas. Dalam hati aku bersyukur. Tukang ojek yang mengantarku tahu banyak tentang Bena, berfungsi sebagai guide juga dia. Dan lagi dia antusias menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Aku sempat memperhatikan tanduk-tanduk kerbau dipajang di depan rumah-rumah. Ternyata itu tanda berapa kali sebuah rumah pernah mengadakan pesta ka sa’o. Pesta ka sa’o adalah pesta rumah, satu kali pesta satu ekor kerbau dipotong. Jika di sebuah rumah ada lima tanduk kerbau dipajang, berarti rumah itu sudah pernah mengadakan ka sa’o lima kali.

Di beberapa rumah, ada patung kecil di atas atapnya. Patung orang. Namanya ana ye, tanda keberanian. Artinya ada orang yang diakui sebagai pemberani di rumah itu. Pemberani, misalnya ketika melawan Belanda. Kampung Bena juga punya catatan perjuangan melawan Belanda. Dan memang di Bajawa pernah muncul seorang tokoh yang dikenal sebagai pahlawan, yaitu Nipa Do.

Aku tidak begitu jelas soal ini, referensiku kurang bahkan nyaris tidak ada. Tapi yang kutahu bangsa ini memang penuh masalah dengan sejarah. Cerita kepahlawan, harus diakui, terlalu didominasi oleh Jawa. Contoh kecil saja, nama-nama jalan di luar Jawa dipenuhi oleh nama-nama pahlawan Jawa. Banyak tokoh-tokoh setempat yang tidak tergali kepahlawanannya.

La’e wela kaba, tempat pemotongan kerbau, tersusun dari batu-batu, lebih besar dari ture, tempat nenek moyang membicarakan masalah-masalah. Tukang ojek merangkap guideku lalu bercerita betapa pesta di sini selalu identik dengan pemotongan kerbau.

“Kalau sempat datanglah bulan Desember, kalau tidak salah tanggal 27. Ada pesta besar. Pesta adat o uwi. Biasanya dikenal dengan reba, pesta panen setahun sekali.”

“Ramai ya pasti?”

“Ya, kami memotong kerbau, minum moke, pokoknya makan dan minum. Pesta besar selama tiga hari.”

“Moke yang disuling itu, bukan?”

“Secara umum ada dua jenis moke, putih dan jernih. Moke putih itu yang disadap langsung dari pohon enau. Moke jernih itulah yang dimasak lalu disuling. Kalau untuk pesta tahunan reba biasanya moke putih.”

“Orang luar boleh datang ke pesta itu?”

“Justru itu yang diharapkan. Kepercayaan di sini adalah jika semakin banyak tamu datang berarti rejeki semakin banyak. Dan tamu-tamu biasanya banyak, di sini penuh sesak, banyak bule-bule juga. Di turunan terakhir tempat kita tadi penuh mobil, bahkan ada yang harus parkir agak jauh karena tidak ada tempat parkir lagi.”

“Wah, seru juga sepertinya.”

“Tahun lalu saya mengantar bule dari Perancis. Ia sampai tidak kuat makan lagi, sebab di setiap rumah kita dijamu makan. Ada sekitar empat puluhan rumah di sini, persisnya saya agak lupa, nanti kita tanya di rumah tempat mengisi buku tamu tadi.

Saya padahal sudah bilang kalau makan beberapa sendok saja, sebab di setiap rumah kita pasti diminta makan, tapi dia makan agak banyak. Baru keliling beberapa rumah saja sudah tidak kuat bangun lagi bule itu,” tukang ojek merangkap guideku tertawa.

“Kita tidak bisa menolak makan ya, atau mereka akan merasa tersinggung jika kita tolak?”

“Kalau sudah kenal muka, atau sudah beberapa kali kemari, ditolak tidak apa-apa. Tapi kalau baru pertama kali kita ini dianggap tamu agung. Mereka tidak tersinggung, hanya saja akan merasa kecewa sekali.”

“Tapi repot juga kalau harus makan keliling di empat puluhan rumah.”

“Karena itu makan beberapa sendok saja, kalau tidak pastilah kita tidak akan kuat.”

“Tanggal 27 Desember besok ini ya?”

“Datanglah kalau ada waktu. Seluruh Ngada berpesta, semua kampung adat. Karena Bena adalah induk maka pesta dimulai dari sini, baru disusul oleh kampung-kampung adat yang lain.”

Aku bersama guide dadakan berkeliling lagi. Tampak ada beberapa makam di tanah-tanah lapang. Tapi peninggalan dulu, kalau sekarang berdasarkan keputusan adat sudah tidak boleh ada makam lagi di sini. Mungkin dikhawatirkan tanah lapang akan habis terpakai untuk makam, pikirku.

Setelah berkeliling cukup lama, berfoto juga tentu, kami kembali ke rumah tempat tadi mengisi buku tamu. Kata tukang ojek kopi di sini enak dan khas, langsung diramu dari kebun-kebun kopi oleh masyarakat Bena.

“Kalau mau beli segelasnya tiga ribu, pak.”

“Wah, tidak bisa dibawa pulang?”

“Iya, itu dibawa pulang. Segelas maksudnya segelas kopi bubuk, tepung kopi istilah di sini. Gelasnya seperti ini,” tukang ojek menunjuk gelas kecil di teras rumah adat. Ukurannya sama seperti gelas kecil di warung kopi atau warung burjo di Jawa. Murah juga. Aku pesan lima gelas, kebetulan stok sedang tidak banyak waktu itu.

“Pak, mau masuk ke dalam rumah tidak?”

Aku agak terkejut, seolah disadarkan sesuatu. Sejak tadi aku berkeliling tanpa terlintas pikiran sedikitpun untuk masuk ke rumah adat. “Boleh ya?”

“Boleh kok, mau?”

Betapa bodoh aku jika sampai menolak ajakan itu. Sebelumnya aku teringat untuk menanyakan jumlah tepatnya rumah di Bena. Tadi aku memang sudah coba menghitung-hitung sendiri, tapi masih agak ragu. Di rumah adat ini, selain ada ibu tua yang sedang menenun, juga ada seorang bapak, sudah tua, mungkin suaminya ibu penenun, yang menunggu buku tamu. Aku bertanya padanya, “Jumlah rumah di sini ada berapa, pak?”

“Semua ada empat puluh tiga rumah,” jawab bapak tua yang menunggu buku tamu. “Semua rumah punya namanya masing-masing,” lanjutnya.

“Termasuk rumah ini?”

“Ya, rumah ini namanya Rajangebu. Kalau rumah di sebelah itu namanya Lamiwali,” katanya sambil menunjuk rumah di sampingnya. Rumah ini adalah rumah pertama di sebelah kanan jika masuk ke kampung Bena. Lamiwali, sebelahnya, berarti rumah kedua di deretan sebelah kanan.

“Boleh saya masuk ke dalam rumah ini, pak?”

“Silahkan, boleh-boleh saja.”

Aku melirik ke tukang ojek merangkap guideku. Ia tersenyum, tanggap pada keinginanku untuk mengantar masuk. Kami tadinya hanya duduk di luar rumah yang disebut Rajangebu ini, semacam teras dari bambu yang lebarnya tidak ada dua meter. Menurut bapak tua tadi, semua rumah di sini modelnya sama. Jadi jika aku masuk ke rumah Rajangebu sama dengan masuk ke semua rumah di kampung Bena.

Agak berdebar juga aku ketika masuk pintu rumah Rajangebu. Di dalam gelap. Gelap sekali. Di Bena memang tidak ada listrik. Dan karena gelap aku tidak bisa mengambil foto. Terkesan sesak di dalam. Kesan itu muncul sebab ternyata ada rumah dalam rumah. Jadi setelah masuk rumah aku segera bertemu rumah lagi. Pintunya agak naik tangga kecil. Aku naik pelan-pelan. Rumah dalam rumah ini digunakan juga untuk dapur. Penerangan hanya dari api yang menyala dari sumbu, seperti sumbu lampu petromaks, namun tak bertutup sehingga cahaya tidak menyebar. Saat siang saja gelap sekali, apalagi malam, gumanku.

“Rumah dalam rumah ini untuk tidur ya?”

“Lebih tepatnya di mana saja,” jawab tukang ojek.

“Maksudnya?”

“Bisa di rumah, bisa di rumah dalam rumah, bebas saja kok.”

“Lalu sebenarnya rumah dalam rumah ini untuk apa?”

“Ini ruang keluarga. Secara adat, menerima tamu itu di luar, tempat kita duduk tadi. Di sini adalah tempat keluarga, atau saat mereka menyelenggarakan pesta rumah, ka sa’o, tamu-tamu masuk ke sini.”

“Kamar mandinya di mana?”

“Waduh, jangan membayangkan seperti rumah modern,” ia lalu tertawa. Pertanyaan konyol, batinku. Aku ikut tertawa.

Rumah adat Bena memang jauh berbeda dengan rumah modern. Hanya rumah, rumah dalam rumah, dan semacam teras di luar, itu saja. Tidak ada sekat, kamar, kamar mandi, atau ruang-ruang lain. Dapur pun tidak ada tempat khusus, hanya mengambil salah satu sudut di rumah dalam rumah. Untuk tidur, karena tidak ada tempat tidur, mereka bisa tidur di mana saja. Beberapa bantal dan selimut tampak di beberapa sudut, mestinya tinggal dipindah-pindah saja dan mereka bebas memilih tempat untuk tidur.

“Kalau orang dalam keluarga semakin banyak apa rumah ini cukup untuk menampung semua orang?”

“Tidak mungkin, pak. Orang-orang Bena, seperti juga saya, sudah banyak yang hidup di luar. Mekar, istilahnya.”

“Begitu ya.”

“Kampung-kampung di atas, termasuk yang kita lewati dalam perjalanan kemari, ada banyak kampung, bukan?”

Aku mengangguk.

“Itu dari sini juga, mereka sudah mekar. Tapi di manapun mereka berada, rumah di sini adalah pemersatu. Pada acara-acara tertentu mereka akan hadir di sini. Entah mereka ada di kota Bajawa, di Kupang, di Jawa, bahkan di luar negeri sekalipun, rumah ini tidak akan dilupakan. Contohnya adik saya, dia sekarang di Jawa. Akhir Desember nanti dia pasti pulang kemari.”

Aku takjub. Ini mestinya jadi kekuatan. Kemudian aku teringat beberapa temanku yang kuliah ke luar negeri, ke negeri Barat sana. Cerita mereka menyedihkan. Banyak mahasiswa kita seperti lupa akar budayanya sendiri. Lebih tragis lagi, ada kesan mereka malu akan “keIndonesiaannya”, lalu berusaha menutupi itu dengan bergaya kebarat-baratan dalam sebanyak mungkin hal. Aku juga teringat sebuah opini di Republika yang mempertanyakan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di luar negeri itu sebenarnya aset siapa. Ah, semoga semuanya salah.

Mahasiswa. Kekuatan yang luar biasa dahsyat. Hari ini 26 Agustus. Sembilan hari lalu peringatan kemerdekaan…

Bung Hatta, Sutan Syahrir, Ali Sastroamidjojo, Amir Sjarifoeddin, Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo, Hamengkubuwono IX, Dr. Soetomo, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh di seputar kemerdekaan dulunya adalah mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah ke luar, ke negeri Belanda tepatnya.

Ingatanku kini menghampiri fenomena Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging), ajang pertemuan pelajar asal tanah air di Belanda. Perhimpunan yang awalnya hanya bertujuan untuk mengadakan pesta dansa-dansa dan pidato-pidato itu memiliki terbitan majalah Hindia Poetra, berisi informasi seputar perkembangan Nusantara.

Tahun 1922, Perhimpunan Hindia berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereeniging).  Di tahun 1924, giliran majalah Hindia Poetra berubah nama menjadi Indonesia Merdeka.

Dalam pengantar edisi pertama majalah Indonesia Merdeka, disebutkan bahwa pendudukan Indonesia oleh Belanda adalah sama dengan pendudukan Belanda oleh Spanyol. Jika orang Belanda tidak bersedia menyebut negeri mereka dengan Nederland-Spanyol, maka orang Indonesia sekarang tidak mau menyebut negerinya dengan Hindia-Belanda.

Pelajaran dari guru-guru Belanda, tentang sejarah Belanda dan heroisme orang Belanda melawan Spanyol, telah menginspirasi mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda.

Kemudian dikenal manifesto 1925:

1.       Rakyat Indonesia sewajarnya diperintah oleh pemerintah yang dipilih mereka sendiri;

2.       Dalam memperjuangkan pemerintahan sendiri itu tidak diperlukan bantuan dari pihak mana pun dan;

3.       Tanpa persatuan kukuh dari pelbagai unsur rakyat tujuan perjuangan itu sulit dicapai.

Ah, betapa gagah mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda waktu itu. Aku lalu teringat pesan Habib Luthfi Bin Yahya, ulama besar asal Pekalongan, Jawa Tengah, saat peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, “Jika hormat kepada bendera Merah Putih, berdesirlah dadamu! Bendera itu berkibar atas pengorbanan darah dan nyawa jutaan orang yang mendahului kita.”

Kampung Bena telah memberiku pelajaran. Sebuah pohon boleh tumbuh hingga bercabang kemana-mana, berdaun rimbun, bahkan berbuah ranum. Tapi ia tidak boleh melupakan akar sebagai kenyataan sejarahnya.

“Sudah cukup?” Suara tukang ojek mengagetkanku.

“Oh.. Ya, ya, sudah cukup,”

“Kita kembali ke kota sekarang?”

“Baiklah.”

Setelah mohon diri, kami kembali ke kota Bajawa sekitar pukul dua siang. Kabut mulai turun. Dingin makin terasa. Semoga ada kesempatan kembali ke Bena, kali ini waktuku agak sempit, besok pagi sudah harus ke Ende. “Ende?” Aku tersadar sesuatu. Di situ ada rumah tempat Bung Karno diasingkan oleh Belanda selama empat tahun, dari 1934-1938.

Tanggal dua puluh enam masih di bulan Agustus. Angin kemerdekaan biasanya bertiup lebih kencang di bulan ini.


To be continued…


Artikel sebelumnya:

Bajo – Ruteng – Bajawa (1)

Bajo – Ruteng – Bajawa (2)

Bajo – Ruteng – Bajawa (3)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.