Hal Tulis Menulis

Nunuk Pulandari – Belanda


Membaca tulisan Bung Nur Mursidi dengan artikelnya “Tugas penulis …..” dan tulisan Mbak Galuh Chrysanti yang berjudul “Penulis Hebat …”, saya jadi tergerak untuk menulis sedikit tentang pengalaman tulis menulis.

Bukan saya mau menggurui atau yang semacamnya, tetapi saya hanya mau menambahkan dan melengkapi tulisan yang ada. Boleh khaaaaan? Saya ingin menulis tentang hal tulis menulis dengan harapan agar kita  semua tidak perlu ragu dan enggan atau sungkan lagi untuk mulai menulis.

Dan seperti yang pernah dipesankan oleh eyang saya: “Nuliso sing akeh yo nduk. Kepinteranmu ora mbok gowo nang liang kubur. Tinggalno sing akeh ning dhonyo iki”. (Nulislah yang banyak ya. Kepintaranmu tidak kau bawa ke liang kubur. Tinggalkanlah sebanyak mungkin di dunia ini).

Karena itu, meskipun hobby tulis menulis pernah berhenti sesaat  (2 of 3 tahun ya dimas Josh???) karena diiming-imingi tulisan diadjeng Probo (yang dikirimkan oleh dimas Josh) saya jadi ingin berbagi kembali tentang pengalaman dalam tulis menulis.

Teman-teman semua, fenomena yang mengatakan bahwa menulis adalah sukar, rebet of moeilijk, menurut pengalaman saya tidaklah selalu benar. Hal ini berani saya tuliskan berdasarkan pengalaman saya dalam hal tulis menulis. Yang perlu juga kita harus miliki dalam hal tulis menulis adalah berani menerima tanggapan dari pembacanya dengan hati yang tenang. Tentu sejauh tanggapan itu masuk akal dan diberikan dengan cara yang sopan dan tidak emosional. Dan kalau kita tidak setuju dan merasa tidak enak membacanya ya di skipp saja.

Sebetulnya menurut pengalaman yang ada, menulis (entah itu sebuah artikel, ceritera atau buku dll), tidaklah terlalu berlika-liku. Yang jelas kita harus dapat menceriterakan apa yang ada dalam otak kita secara rinci. Dari awal mula sampai akhir. Tentu kita harus dapat menyajikannya dalam bahasa baku yang berlaku sesuai dengan masyarakat pembaca yang kita tuju. Maksud saya dalam menulis kita tidak perlu menggunakan bahasa yang ruwet dan berbelit. Kita harus bisa menyampaikan pikiran kita melalui bahasa tulisan sehari-hari sehingga mudah untuk membaca dan mengertinya.

Hal tulis menulis ini kita lakukan seperti kalau kita sedang berceritera pada teman atau pada orang lain. Hanya jumlahnya tidak lagi dalam hitungan satuan atau puluhan pembaca tetapi mungkin sudah ribuan.

Jadi pada waktu menulis kita seperti berada di dalam suatu kelompok tetapi dalam waktu yang sama kita  juga ada di luar kelompok yang ada.  Maksud saya sementara kita sibuk menulis, kita juga harus mencoba untuk sekaligus bisa menjadi pembacanya.Artinya pada waktu menulis secara bersamaan kita berada di  2 “tempat”. Kalau “tempat” ini kita samakan dengan situasi di dalam kelas, maka kita adalah gurunya.

Guru yang tempatnya ada di atas/ depan  para muridnya. Karena dalam hal ini kita harus punya kelebihan untuk diceritakan, sebagai “sumber”gitu lhoooo. Dan kita, sebagai pembacanya ada di tempat yang “hampir” sama dengan muridnya. Saya katakan “hampir” sama karena pembaca yang lainnya belum tahu alur cerita yang ada, sedang kita sebagai penulisnya sudah mengetahui jalur cerita sejak awal mula.

Sebagai penulis, dalam hal ini kita sekaligus juga harus bisa membaca dengan nyaman dan mengerti alur tulisan yang ada. Kalau bisa sebagai penulis kita harus mampu menulis sesuatu yang dengan membacanya dapat  membangkitkan rasa ikut hanyut dan merasa terpacu untuk membaca lebih lanjuuuuuuuut..……Kalau sudah sampai tahap ini, kita pasti sudah jadi penulis yang baik…..Betuuul khan????

Menulis, menurut saya tidak harus sekali tulis selesai. Dari pengalaman yang ada hasil  tulisan pertama sebaiknya disimpan dulu semalam atau kalau perlu lebih lama lagi. Kalau waktu kita baca ulang tulisan itu enak dibacanya dan anda sebagai penulisnya bisa mengerti isi tulisan itu, berarti tulisan anda bisa dikatakan “sudah ok”. Nanti kalau semua cerita sudah tertulis kita mintakan pada seseorang (redaksi) untuk membaca ulang dan memperbaiki dengan menambah/ mengurangi dan mungkin membuangnya ….

Ini hal yang sudah terbiasa dalam tulis menulis dan tidak pandang bulu. Siapapun penulisnya entah itu seorang pemula maupun seorang yang sudah terkenal, kalau sudah pada tahap akhir tulisan baik dalam wujud artikel maupun dalam wujud buku yang akan diterbitkan, pasti harus ada redaksi yang membacanya…. Betuuul khan dimas Josh (Sorry,  karena janji dan terburu-buru jadi ada dua kata sama yang harus anda buang). Setelah dibaca dan mungkin diperbaiki oleh redaksi, baru tulisan anda bisa diterbitkan.

Menerbitkan buku yang paling mudah adalah kalau anda diminta untuk menulis oleh sebuah penerbit. Semacam pesanan gitu lhooo…. Ini menurut pengalaman saya sendiri lhooo, ha, ha, haaa. Dalam hal ini kita  tidak perlu repot-repot cari topic yang menarik untuk dibaca. Kita tidak perlu memeras otak untuk cari nama-nama penerbit atau sponsor yang kira-kira mau mengoalkan buku kita. Dan yang lebih penting lagi tidak perlu bayar redaksi untuk membaca ulang dan menyempurnakan tulisan kita. Lagi pula kita tidak perlu keliling-keliling cari konsumen yang mau baca buku kita.

Pada tahap akhir ini yang kita harus lakukan adalah mengisi acara “jual tampang” dan duduk manis di balik setumpukan buku kita,  menunggu munculnya konsumen. “Jual tampang”, soalnya pakai dandan dan sambil senyam-senyum kita harus mencoretkan secuil pesan dan menorehkan tandatangan kita di atas halaman pertama buku yang kita tulis sendiri….

Wouuuuw… Kalau pembaca bertanya bagaimana rasanya ketika saya ada di posisi seperti itu….Setiap kali selalu ada rasa bangga dan berterima kasih pada orang tua yang sudah membekali saya dengan pendidikan yang cukup tinggi. Karena dengan bekal yang mereka berikan saya bisa menjadi saya seperti saat ini…Dan bisa survive hidup di negeri orang …Daaaan  punya salah satu hobby menulis yang diterbitkan. Mungkin kalau saya sudah pensiun nanti (supaya nggak kena pajak, ha, ha, haaaa), saya akan terjemahkan buku-buku dan tulisan saya dalam bahasa Indonesia. Mudah-mudahan masih diberikan kesempatan olehNya dan mendapatkan ridhoNya. Amien.

Seperti yang kita tahu setiap penerbit secara tidak langsung sudah punya “pembaca” tetapnya. Jadi kalau kita sudah sampai tahap ini,  saya tinggal mengucapkan “Selamat menikmati royalti yang ada”. Jangan lupa bagi-bagi saya yang jauh di sana ya…ha, ha, haaaaa. Mudah-mudahan tulisan saya ini enak dibacanya dan mudah dimengerti isinya.

Sebagai contoh awal, kita bisa menulis artikel pendek dan kirimkan pada sebuah koran, majalah atau terbitkan lewat media komputer yang anda geluti, seperti Baltyra…..Betuul khan dimas Josh. Wie weet, suatu hari nama anda akan terpampang indah di kaca etalage toko buku terkenal di kota kesayangan anda. Amien.

Bunga mawar di atas saya kirimkan untuk para pembaca dan anda semua yang hobbynya menanam bunga mawar. Seperti kangmas Djoko dan saya sendiri. Lain kali saya rangkaikan cerita mawar jenis baru.


“Werkt ze en succes met het schrijven van jullie boeken”: wens ik jullie toe.

Met vriendelijke groeten,

Nu2k


Note Redaksi:

Welkom terug di dunia tulis menulis, Bu Nunuk. Welkom ook in hier, Baltyra. Voel je thuis, semoga kerasan ya. Yang ini ditayang dulu, karena topik yang masih hangat dan berhubungan dengan topik yang baru lewat. Yang satu lagi akan menyusul segera. Matur nuwun. Ditunggu juga tulisan-tulisan asik yang lainnnya.

Untuk pembaca yang belum mengenal beliau. Beliau ini adalah salah satu penulis senior dan kawakan, sekaligus duta budaya Indonesia yang tak kenal lelah di Eropa.

Eh, lha kok ndilalah, Panjenengan tepat menjadi Penulis ke 200 di Baltyra!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.