Pranata Mangsa Yang Salah Mangsa

Josh Chen – Global Citizen


Kilat menyambar-nyambar, hujan bagai bendungan dhadhal (Jawa, jebol) tercurah di Serpong dan sekitarnya. Luar biasa hujan ini. Sepanjang ingatanku, sejak bulan Juni sampai hari ini, lebih banyak hujan daripada panasnya. Enak sih, adem, sejuk, tidur lebih lelap, tapi jelas ini adalah anomali cuaca.

Hanya lebih capek cuci mobil dan mengelap mobil saja, sampai kemarin mata terpaku di salah satu berita Kompas:

Arus di Samudra Pasifik merupakan sumber informasi tentang tidak munculnya musim kemarau tahun ini. Pasifik menyuplai kondisi suhu air laut perairan Indonesia hingga naik ke atas normal. Akibatnya, sepanjang tahun ini suhu permukaan laut terus hangat. Ini menyebabkan banyak terbentuk awan hujan sepanjang tahun sehingga iklim tidak menentu yang ditandai dengan ”hilangnya” musim kemarau pada 2010 ini.


WOW! Musim kemarau hilang? Setelah dipikir dan ditelaah, memang benar juga ternyata, hitung punya hitung, ternyata memang nyaris tidak ada berhentinya hujan di Jakarta dan sekitarnya, dan hal yang sama terjadi juga di seluruh Pulau Jawa, tak ketinggalan seluruh Kepulauan Nusantara ini.

Masih tidak cukup dengan berita dari Kompas, saya ngubek lagi sana sini untuk mendapatkan keterangan lebih detail mengenai fenomena hilangnya musim kemarau 2010 ini. Dan didapat satu lagi bersumber dari BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), sbb:

“Seharusnya, ketika Matahari berada di belahan Bumi bagian utara pada Maret-Oktober, idealnya Indonesia mengalami musim kemarau, sementara ketika Matahari berada di belahan Bumi bagian selatan pada November-Februari, Indonesia mengalami musim hujan. Namun karena anomali, di bulan-bulan dimana seharusnya Indonesia mengalami kemarau, hujan tetap turun,” katanya.

Sri memastikan, karena kondisi ini, pada 2010 Indonesia tidak akan mengalami kemarau, atau dalam BMKG disebut kemarau basah. Sri bahkan memprediksi, tingginya curah hujan yang menyebabkan hilangnya kemarau, akan berlangsung hingga Maret 2011.


Hilangnya musim kemarau ini cukup memengaruhi pertanian kita. Musim tanam padi dan crop yang lain jadi tidak karuan. Harga cabe rawit merah sempat melesat menjadi Rp. 60.000/kg di saat menjelang Ramadhan dan Lebaran kemarin, walaupun memang sekarang sudah turun lagi menjadi Rp. 23.000/kg. Faktor hari raya juga berpengaruh terhadap harga komoditas pertanian tertentu.

Dari penyimpangan ini, kemudian saya teringat yang namanya Pranata Mangsa yang dulu sekali pernah saya pelajari. Pranata Mangsa (baca: Pranoto Mongso, bahasa Jawa) artinya Aturan Musim. Pranata Mangsa adalah salah satu pengetahuan kuno yang didasarkan pada penanggalan Jawa. Pranata Mangsa adalah penghitungan musim yang dipelopori oleh Pakoeboewono VII pada tahun 1856, tepatnya 22 Juni 1856.

Pranata Mangsa membagi satu tahun menjadi 12 bagian sesuai musim, dan banyak digunakan terutama untuk pertanian. Tidaklah mengherankan jika sejak dulu kala Pulau Jawa merupakan pusat kehidupan di Kepulauan Nusantara. Dengan rumit dan detailnya perhitungan untuk pertanian ini, membuat pertanian di Pulau Jawa maju pesat karena dengan tepat menyesuaikan penanaman komoditas pertanian tertentu dengan menerapkan prinsip Pranata Mangsa ini.

Penjelasan detailnya sbb:

Kasa, mulai 22 Juni, berusia 41 hari. Para petani membakar dami (sisa batang padi setelah panen) yang tertinggal di sawah dan di masa ini dimulai menanam palawija, sejenis belalang masuk ke tanah, daun-daunan berjatuhan. Penampakannya/ibaratnya: lir sotya (dedaunan) murca saka ngembanan (kayu-kayuan).

Karo, mulai 2 Agustus, berusia 23 hari. Palawija mulai tumbuh, pohon randu dan mangga, tanah mulai retak/berlubang. Penampakannya/ibaratnya: bantala (tanah) rengka (retak).

Katelu/Katiga, mulai 25 Agustus, berusia 24 hari. Musimnya/waktunya lahan tidak ditanami, sebab panas sekali, yang mana Palawija mulai di panen, berbagai jenis bambu tumbuh. Penampakannya/ibaratnya:  suta (anak) manut ing Bapa (lanjaran).

Kapat, mulai 19 September, berusia 25 hari. Sawah tidak ada (jarang) tanaman, sebab musim kemarau, para petani mulai menggarap sawah untuk ditanami padi gaga, pohon kapuk mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bertelur. Penampakannya/ibaratnya: waspa kumembeng jroning kalbu (sumber).

Kalima, mulai 14 Oktober, berusia 27 hari. Mulai ada hujan, selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga, pohon asem mulai tumbuh daun muda, ulat-ulat mulai keluar. Penampakannya/ibaratnya:  pancuran (hujan) emas sumawur (hujannya)ing jagad.

Kanem, mulai 10 Nopember, berusia 43 hari. Para petani mulai menyebar bibit tanaman padi di pembenihan, banyak buah-buahan (durian, rambutan, manggis dan lain-lainnya), burung blibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair. Penampakannya/ibaratnya:  rasa mulya kasucian (sedang banyak-banyaknya buah-buahan).

Kapitu, mulai 23 Desember, usianya 43 hari. Benih padi mulai ditanam di sawah, banyak hujan, banyak sungai yang banjir. Penampakannya/ibaratnya:  wisa kentar ing ing maruta (bisa larut dengan angin, itu masanya banyak penyakit).

Kawolu, mulai 4 Februari, usianya 26 hari, atau 4 tahun sekali 27 hari. Padi mulai hijau, uret mulai banyak. Penampakannya/ibaratnya:  anjrah jroning kayun (merata dalam keinginan, musimnya kucing kawin).

Kasanga, mulai 1 Maret, usianya 25 hari. Padi mulai berkembang dan sebagian sudah berbuah, jangkrik mulai muncul, kucing mulai kawin, cenggeret mulai bersuara. Penampakannya/ibaratnya:  wedaring wacara mulya ( binatang tanah dan pohon mulai bersuara).

Kasepuluh, mulai 27 Maret, usianya 24 hari. Padi mulai menguning, mulai panen, banyak hewan hamil, burung-burung kecil mulai menetas telurnya. Penampakannya/ibaratnya:  gedong minep jroning kalbu (masa hewan sedang hamil).

Desta, mulai 20 April, berusia 23 hari. Seluruhnya memane n padi. Penampakannya/ibaratnya: sotya (anak burung) sinara wedi (disuapi makanan).

Saddha, mulai 13 Mei, berusia 41 hari. Para petani mulai menjemur padi dan memasukkan ke lumbung. Di sawah hanya tersisa dami. Penampakannya/ibaratnya:  tirta (keringat) sah saking sasana (badan) (air pergi darisumbernya, masa ini musim dingin, jarang orang berkeringat, sebab sangat dingin).

(http://en.wikipedia.org/wiki/Solstice)

Tapi ternyata memang climate change sedang berlangsung! Climate change adalah istilah sekarang untuk perubahan iklim, tapi ternyata dalam Primbon Jawa, sejak dulu kala sudah ada yang disebut dengan salah mangsa. Salah mangsa yang dibaca salah mongso berarti salah musim, notabene sama artinya dengan climate change.

Dari artikel Kompas di atas dan keterangan dari BMKG, jelas sekali memang terjadi perubahan iklim yang cukup extreme. Perubahan iklim di Indonesia erat kaitannya dengan pertanian dan ketersediaan pangan yang mencukupi, yang ujungnya politis juga, yaitu issue ketahanan pangan (food security). Ketahanan pangan ini mendapat perhatian penuh dari para pemangku kepentingan, baik pemerintahan negara-negara dan organisasi dunia, baik yang profit oriented maupun non-profit oriented.

Mulai dari United Nations, World Bank, U.S. government agencies, dan masih banyak organisasi lokal yang berkepentingan dengan issue ketahanan pangan. FAO dan WFP (World Food Program) gencar berkampanye dan mengadakan banyak proyek untuk mengurangi kelaparan dunia, di mana juga merupakan salah satu dari MDGs (Millenium Development Goals). Salah satu tujuan MDGs adalah memerangi kemiskinan dan kelaparan di seluruh dunia, dan diharapkan bahwa 2015 jumlah orang miskin dan kelaparan berkurang lebih dari 50%.

Baru-baru ini wacana import beras dan gula mencuat lagi, menandakan keseimbangan dan ketersediaan stock 2 komoditas pertanian utama ini berada di level yang belum aman. Terlebih lagi, mendekati akhir tahun, berturut perayaan hari umat Nasrani – Natal, tahun baru dan di awal tahun – Imlek, akan membuat stock bahan pangan utama tadi menipis.

Permasalahan yang lebih besar bisa mengancam kelangsungan pertanian di Indonesia, apalagi dengan iklim yang susah ditebak seperti sekarang ini. Bagaimana kiranya langkah atau opsi solusi yang bisa dipikirkan untuk kondisi pertanian Indonesia – katakanlah 5-10 tahun ke depan?


Diversifikasi pangan

Ini adalah solusi yang paling mudah, namun membutuhkan usaha luar biasa! Kenapa kudu dan harus makan nasi? Kenapa kalau belum ‘kena nasi’ perut orang Indonesia serasa belum makan? Konsumsi per kapita masyarakat Indonesia adalah tertinggi di dunia, mencapai sekitar 140kg/tahun, dibandingkan dengan tingkat rata-rata dunia yang hanya 60kg/tahun. Angka yang fantastis dan mengkuatirkan. Berapa banyak lahan yang harus disiapkan untuk menanam padi demi memenuhi kebutuhan “perut nasi” orang Indonesia? Berapa banyak air yang dibutuhkan untuk itu?

Dalam skala global dari sekitar 3.600 km3 air yang dikonsumsi manusia per tahun, sekitar 69 persen di antaranya dipergunakan untuk sektor pertanian. Bahkan di Asia konsumsi air untuk sektor pertanian mencapai rata-rata sekitar 83 persen dari total air yang dikonsumsi manusia. Fantastis!

Sementara itu, dari data tahun 2008, di Pulau Jawa saja menenggak air 57 juta m3 untuk tanaman pangan, dan itu mencakup 47 persen dari konsumsi air seluruh Indonesia untuk tanaman pangan.

Kabar buruknya adalah, PADI adalah tanaman pangan yang paling boros air. Kabar lebih buruk lagi, konsumsi air untuk pengairan tanaman padi di Indonesia adalah salah satu terboros di dunia dengan yield yang biasa-biasa saja. Tabel di bawah ini lebih menjelaskan:

Singkatnya, dengan diversifikasi pangan, berarti mengurangi ketergantungan akan air (curah hujan dan irigasi), sehingga terjadinya perubahan iklim seperti sekarang atau nanti misalnya kemarau berkepanjangan atau paceklik, tidaklah begitu berpengaruh terhadap kehidupan keseharian rakyat.

Apakah mungkin? Jaman Orde Baru terjadi gerakan “nasinisasi nasional” yaitu menasikan masyarakat dan memasyarakatkan nasi, yang kemudian menjadi simbol kesejahteraan bila sudah makan nasi, berarti reverse-action untuk itu juga dimungkinkan. Walaupun mungkin memakan waktu yang lama, tapi jelas mungkin, sebab di masa Orde Baru itu, gerakan nasinisasi nasional juga berbilang tahun, bukan sekejap mata.

Selain itu, mengurangi konsumsi nasi (karbohidrat sederhana) juga lebih sehat untuk tubuh dan metabolisme kita. Nasi adalah salah satu bentuk karbohidrat paling jahat dibandingkan bentuk asupan karbohidrat lainnya.


Modernisasi pertanian

Negeri Kincir Angin, Belanda – luasnya ‘hanya’ seluas Jawa Barat (mungkin sekarang lebih sedikit karena reklamasi dan nguras segara lagi; nguras segara = mengeringkan laut), merupakan salah satu negara dengan produk pertanian yang disegani di dunia. Biarpun kecil, tapi produk-produk pertaniannya melintasi benua dan samudra di’export ke mana-mana. Di’export artinya surplus! Berlebih untuk memenuhi kebutuhan penduduk mereka sendiri.

Jelas! Penduduk Belanda ‘hanya’ sekitar 17juta (?) sekarang ini, dengan tingkat teknologi pertanian salah satu yang paling maju di dunia, Belanda sanggup menghasilkan produk-produk komoditas pertanian unggulan yang mendunia. Contohnya adalah kentang. Sekedar ilustrasi cepat saja, hasil panen di Indonesia sekarang ini sekitar 25 ton/hektar per musim tanam. Itupun sudah maksimal dan ideal, walaupun secara teori di Indonesia seharusnya bisa mencapai sekitar 35 ton/hektar per musim tanam.

Dengan 2 kali musim tanam, berarti yield kentang Indonesia sekitar 50 ton/hektar/tahun. Bagaimana Belanda? Hanya dengan sekali penanaman dalam setahun (karena kendala 4 musim), hasil panen kentang di Belanda berkisar antara 70-90 ton/hektar/tahun.

Dari ilustrasi contoh di atas saja, jelas sekali bahwa seharusnya Indonesia dapat lebih mengintensifikasi dan memodernisasi pertanian untuk mencapai tingkat economies of scale yang lebih menguntungkan yang berimbas ke pangan yang lebih murah ke rakyatnya.

Selain itu modernisasi pertanian bisa dilakukan dengan lebih banyak greenhouse yang anti-perubahan cuaca karena semuanya sudah diatur dan dikondisikan, mulai dari temperatur, kelembaban udara, pH tanah media tanam yang pas, pupuk yang terukur baik, pengairan yang efektif dengan drip irrigation (bisa manual bisa computerized) sampai dengan tingkat penyinaran untuk fotosintesis tanaman yang bisa diatur lamanya. Fotosintesis dengan penyinaran khusus akan memerpanjang fotosintesis sehingga berpengaruh ke hasil panen nantinya.

Tanaman pangan sekunder tapi berpengaruh besar seperti cabe, tomat, bawang merah, bawang putih, bawang bombay sebenarnya bisa dibudidayakan dengan sistem greenhouse terpadu. Memang kelihatan mahal pada awalnya, tapi jika bisa dicapai tingkat economies of scale yang tepat, production cost per unit bisa ditekan karena yield yang lebih tinggi, otomatis akan berimbas ke harga yang lebih terjangkau dibanding pertanian konvensional.

Jika terwujud, tidak akan ada lagi lonjakan harga cabe seperti di awal artikel ini, tidak akan ada lagi lonjakan harga seperti yoyo menjelang hari-hari raya besar umat beragama, tidak ada lagi kelangkaan karena cuaca yang tidak mendukung penanaman cabe. Dengan tingkat konsumsi cabe yang cukup tinggi di Indonesia, alternatif solusi seperti ini mungkin merupakan salah satu jalan keluar.

Bank-bank dapat digerakkan untuk memberikan pinjaman kepada para petani, kelompok tani atau lembaga-lembaga yang dapat membantu modernisasi pertanian Indonesia. Pembangunan greenhouse, pelatihan, dsb. Bisa juga lembaga donor asing mengalihkan alokasi pinjaman atau bantuan lebih ke bidang pertanian daripada alokasi untuk bidang lain terlebih dahulu.

Saat ini yang terpikir hanya 2 alternatif solusi itu: Diversifikasi pangan dan Modernisasi pertanian. Saya percaya jika 2 hal ini saja bisa dilakukan dengan konsisten dan terpadu secara nasional, dalam jangka menengah sampai jangka panjang akan memiliki dampak yang positif.

Entahlah. Ah, sepertinya mimpi di siang bolong…

Terima kasih sudah membaca.


Sumber dan referensi:

http://cetak.kompas.com/read/2010/09/20/02473089/pasifik.sumber.informasi.hilangnya.musim.kemarau

http://en.wikipedia.org/wiki/Solstice

http://en.wikipedia.org/wiki/Equinox

http://www.lenntech.com/water-food-agriculture.htm

http://air.telapak.org

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.