Yunani Mesir di Edfu

Bisyri Ichwan


Edfu adalah salah satu kota di Mesir yang terletak di tepi barat sungai nil di wilayah Aswan. Edfu terkenal dengan kuil yang berdiri megah sebagai peninggalan dari masa pemerintahan keturunan Ptolemeus dari Yunani. Temple of Horus didirikan pada masa Cleopatra VII pada tahun 237 SM. Horus adalah nama dewa kebaikan dan kebalikan dari dewa Sobek untuk dewa keburukan.

Gerbang Kuil Horus (doc. pribadi)

Perjalanan dari Luxor ke Temple of Horus dan lebih dikenal dengan Edfu Temple sekitar 3 jam perjalanan dan sudah memasuki Aswan yang hampir dekat dengan perbatasan negara Sudan dengan suhu cuaca yang lumayan panas. Saat kami tiba di Edfu tepat dengan terik matahari yang semakin menyengat dan bertepatan dengan hari Jum’at jam 12 siang. Shalat jama’ dan qasar menjadi pilihan dengan alasan sebagai musafir.

Gabungan antara peradaban Mesir kuno dan Yunani sangat terasa di bangunan kuil Edfu. Yunani memimpin Mesir sejak penaklukan Alexandria oleh Alexander the Great dengan 7 jendral perangnya yang salah satunya bernama Ptolemeus. Setelah kematian Alexander, pada tahun 305 SM Ptolemeus menyatakan diri sebagai raja yang menguasai Mesir.

Orang Mesir menerima dinasti Ptolemaic sebagai penerus kepemimpinan Firaun dan kepemimpinan ini berlanjut hingga tahun 30 SM pada saat penaklukan Romawi atas Mesir dan nantinya Romawi memimpin Mesir hingga 650 tahun. Dinasti Ptolemaic dari Yunani memerintah Mesir sekitar 275 tahun, dimulai dari tahun 305 SM hingga 30 SM dan sering dikenal dengan periode helenistik.

Semua penguasa dinasti laki-laki mengambil nama Ptolemy. Ratu Ptolemeus biasanya disebut Cleopatra, Arsinoe atau Berenis. Anggota paling terkenal dari garis itu adalah ratu terakhir bernama Cleopatra VII, yang dikenal untuk perannya dalam pertempuran politik melawan Romawi antara Julius Caesar dan Pompey dan kemudian antara Oktavianus dan Mark Anthony.

Gerbang pintu saat memasuki temple of Horus hampir sama dengan dengan gerbang di kuil Karnak yang menjadi tempat sejarah terbuka terbesar dunia saat ini. Perbedaannya terletak di ukiran gambarnya yang khas Yunani.

Di dalam kuil juga terdapat patung burung yang terbuat dari batu hitam yang dikirim langsung dari Yunani. Sebagaimana khas bangunan peninggalan kerajaan Mesir kuno, disepanjang dinding-dinding kuil tertulis dan tergambar dengan rapi tulisan hierogliph yang menceritakan tentang kisah kehidupan para dewa.

Uniknya, semua peninggalan masa pemerintahan Firaun berada di sepanjang sungai nil yang dimulai dari Abu Simbel yang berada sangat dekat dengan perbatasan negara Sudan. Termasuk juga Edfu temple, kuil Karnak, kuil Luxor, kuil Komombo, dua patung besar Memphis dan beberapa kuil lain yang semuanya berada di dua kawasan Luxor dan Aswan. Di wilayah Giza juga berdiri megah piramida-piramida yang pada waktu dulu juga dekat dengan sungai Nil sebelum dibangun bendungan besar nil Saddul ‘Ali.

Saat guide kami menerangkan tentang sejarah Edfu temple, ada beberapa turis asing dan turis lokal yang merasa keheranan, pasalnya walaupun kami dari beberapa negara, sang guide menerangkan dengan santai memakai bahasa amiyah Mesir dengan logatnya yang cepat, padahal semua guide yang ada selalu memakai bahasa Inggris atau bahasa orang yang diguide.

Inilah sedikit catatan wisata saat aku dan teman-teman dari universitas Cairo dan universitas Al-Azhar berada di sana. Sedikit tahu sejarah kuno kerajaan Mesir malah semakin menggelitik untuk banyak tahu setelah melihat secara langsung peninggalannya. Kisah perjalanan mulai dari Ramsis II hingga berakhir dengan pemerintahan Cleopatra VII menarik untuk dipelajari lagi.

Halaman kuil (doc. pribadi)



Sedang mendengarkan penjelasan guide (doc. pribadi)



Terlihat patung burung dari batu hitam (doc. pribadi)

Oleh-oleh yang tersisa dari Luxor Aswan.


Salam

Bisyri Ichwan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.