Antara Bintang dan Cacing

Alexa


Dua hari lalu akhirnya terjadi juga ledakan antara kamu dan aku saat kau mulai menyinggung lagi tempatku berdiri.

Tempat yang awal tahun ini  merupakan tempat yang tertinggi kau letakan diriku. “Di atas sana bagai bintang di langit,” demikian kau pernah bilang. Dan bukannya  bangga yang kurasa tapi kegamangan seperti rasanya orang yang takut dengan ketinggian. Tapi kau memaksa seraya bilang bahwa kau akan menjagaku dan aku tambah keheranan, “siapakah penjaga bintang kalau bukan sosok guardian angel, sosok malaikatkah dirimu?” Bulanan berjalan kau sudah membuktikan ucapanmu itu- tuk menjagaku. Hingga April lalu tiba-tiba kau bilang tak layak untuk mendamping sosok bintang dan kau memilih menggantinya dengan seekor cacing berbaju biru. Betul itu yang kau katakan Cacing Biru lebih baik dari Bintang.

Aku….aku sangat terkejut dan sedih. Bagaimana mungkin setelah begitu lama kita seiring sejalan dan tiada hari tanpa kebersamaan kita…kau mengucapkan kata itu. Tapi aku tak pernah ingin memperjuangkanmu karena bagiku ini adalah masalah hati -aku tak ingin memaksa apalagi kau tiba-tiba beraksi dengan pongah seperti anggota DPR – melakukan studi perbandingan. Biar aku tak berjuang mempertahankanmu baru di bulan April itu agenda kecilku yang biasanya sekedar berisi catatan  pengingat aktivitas menjadi catatan berlumur air mata.

Dan terjatuhlah sang bintang bukan dengan keindahan luncuran meteor ke bumi tapi lebih mirip luncuran sesosok tubuh hidup yang terikat dan dibuang ke dasar samudera dan tentunya harus berjuang agar tetap  hidup saat begitu dekat dengan cengkeraman dewa kematian. Untunglah sudah sering kutonton atraksi Harry Houdini sehingga bisa membebaskan diri. Aku bisa tampil ke permukaan menghirup udara segar.  Hidupku berjalan kembali, bertemu orang-orang baru yang membesarkan hati yang tak peduli dimana aku berdiri dan bahkan membebaskan aku melakukan kebiasaan-kebiasaan burukku misalnya menjadikan diri mereka sebagai bahan khayalan dalam fiksi-fiksiku. Bahkan tertawa keras membaca bagaimana angan liarku melambung.

Tak lama kemudian aku sakit…tentunya bukan karena kamu tapi semata karena aku tak menjaga kesehatan. Blessing in disguise sebab aku bisa jeda dari permukaan karena semua teman sekedar tahu aku perlu istirahat. Sampai tiba waktunya aku muncul kembali dan merasa lebih baik – baik dalam kesehatan fisik maupun kesehatan hati. Hatiku ternyata bisa seluas samudera dan kita bisa tetap berteman. Itu melegakan karena kita memiliki lingkungan yang sama.

Dan tiba-tiba kau memanggil-manggilku kembali setelah sadar bahwa si cacing biru itu memang sekedar cacing yang senang bermain dalam kotoran…”beda banget dengan si bintang,” demikian katamu. Apakah aku bangga? Tidak sama sekali karena aku tak pernah merasa jadi bintang dan karena aku bukan bahan studi banding. Kamu lupa – aku pernah bilang kalau aku bukan orang yang suka melihat ke belakang dan memunguti jejak-jejak nostalgia. Kamu minta yang dulu, aku cuman bisa beri yang sekarang….PERSAHABATAN.

Tapi kamu salah terima penerimaanku, kamu kira aku masih punya rasa yang sama dan kamu bahkan mulai mengajuk hatiku dengan mengingatkan kembali tempatku berdiri. Maka akhirnya meledaklah aku….. “maaf kuingatkan sekali lagi, aku tak pernah merasa di atas sana – aku hanya manusia biasa“. Kamu….berkali-kali minta maaf dan aku sebenarnya sudah memaafkan kamu tapi aku tak ingin kamu punya persepsi lain tentang hubungan kita selain PERTEMANAN. Carilah yang lain, entah itu bintang atau cacing…aku tak peduli

Note to Redaksi: Ini genre penulisan baru yang kucoba – flash fiction

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *