Etiket Tangga Jalan di Tokyo

Junanto Herdiawan


Bila kita mampir ke Tokyo, atau ke manapun, kita perlu memahami etika dan kebiasaan masyarakat lokal. Hal ini menjadi penting,  karena menghargai budaya lokal adalah tanda masyarakat beradab. Banyak hal sederhana, namun bila diikuti, akan membuat warga lokal merasa senang. Salah satu yang perlu kita perhatikan adalah etiket di tangga jalan atau escalator.

Kelihatannya memang sepele. Beberapa teman bahkan pernah berujar, “Aaah kan cuma tangga jalan, repot amat”. Pernyataannya mungkin benar. Hampir semua dari kita pasti pernah melewati tangga jalan dalam hidup ini.  Jadi wajar saja kalau mereka bertanya, apa repotnya naik tangga jalan. Di Jakarta, di New York, Hong Kong, atau di Tokyo, jenis tangga jalannya kan sama. Sama-sama naik dan turun.  Kenapa musti repot.

Secara umum mungkin pendapat itu benar adanya. Namun apabila masing-masing orang naik tangga jalan sesuka hati, pada saat-saat tertentu akan menimbulkan kekacauan. Bahkan bukan tak mungkin, terjadi kemacetan dan penumpukan orang di tangga jalan. Di jam-jam sibuk, ada yang ingin buru-buru, ada yang ingin santai. Kalau orang-orang ini berdiri sembarangan di tangga jalan, hampir dipastikan terjadi kekacauan. Di banyak negara maju, tangga jalan memiliki etiket yang mengatur efisiensi pergerakan orang.

Berbeda dengan di beberapa negara lain, yang kebiasaannya adalah berdiri di sebelah kanan tangga, etiket di Tokyo adalah kita harus berdiri di sebelah kiri (stand on the left).

Kalau kita berdiri di tengah atau di kanan tangga, dipastikan akan mengganggu orang di belakang kita yang ingin lebih cepat. Namun, berdiri di kiri juga tidak selalu berlaku. Pada jam-jam sibuk, ada kalanya kedua sisi bergerak bersamaan. Kalau sudah begini, jangan coba-coba tetap berhenti di sisi kiri. Ikutilah arus orang yang naik atau turun. Istilahnya, go with the flow. Hal ini akan mempermudah kita, dan mempermudah orang lain.

Berdiri di sebelah kiri tangga jalan ternyata tidak berlaku di seluruh Jepang. Di Osaka dan bagian selatan Jepang, etiketnya berbeda lagi. Kalau mampir Osaka, etiket berdiri di tangga jalan adalah di sebelah kanan. Entah bagaimana cerita dan asal muasalnya.

Satu hal lagi yang perlu diingat adalah jangan memotong antrian yang sedang naik tangga jalan. Istilahnya don’t cut the corner. Kadang kita ingin cepat berpindah atau naik tangga dan langsung masuk mengambil dari ujung pegangan tangga. Padahal di depan kita ada antrian. Jalanlah sedikit mengikuti belakang antrian. Perilaku memotong antrian itu dianggap tidak pantas di Tokyo.

Warga Tokyo terkenal sebagai warga yang terburu-buru. Mereka berjalan cepat dan kadang setengah berlari. Waktu sangat dihargai di kota ini. Oleh karenanya, tangga jalan bisa menjadi wahana yang merepotkan, apabila ada orang yang berdiri seenaknya. Mereka tentu tidak memprotes ataupun marah. Mereka  biasanya tetap berdiri di belakang kita. Namun tentu hal ini memalukan bagi kita.

Dalam kajian etika, ada yang dinamakan etika situasional. Kebiasaan kita di suatu tempat bisa berubah dan disesuaikan tergantung pada situasi di tempat kita berada. Mungkin kebiasaan kita berjalan di sebelah kanan, atau di tengah, atau sesukanya. Namun tak ada ruginya mengikuti kebiasaan lokal ini. Malahan kita jadi dianggap warga masyarakat yang beradab.

Selamat menaiki tangga jalan di tempat anda (tentu dengan aturan lokalnya masing-masing – kalau ada).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.