[Family Corner] Membangun Karakter Anak Dengan Pertanyaan Ayah Bunda

Galuh Chrysanti


FAMILY CORNER: Membangun Karakter Anak

Setiap hari tak terhitung berapa pertanyaan kita lontarkan pada ananda kita. Namun sadarkah kita bahwa pertanyaan-pertanyaan kita pada mereka adalah salah satu elemen penting yang menyusun karakter mereka?

Kita meyakini bahwa orangtua yang sukses adalah orangtua yang berhasil mengantarkan ananda tercintanya ke pintu gerbang syurga kelak, sebagaimana orangtua tersukses sepanjang jaman : Rasulullah SAW, mengantarkan Fatimah RA. Namun, hal utama apakah yang bisa mengantarkan buah hati kita menuju syurgaNya?

Apakah anak kita bisa masuk syurga hanya dengan modal nilai raport yang sempurna, nilai akademis yang tinggi, atau PR yang selalu terkerjakan? Jika jawabannya adalah tidak, mengapa pusat perhatian kebanyakan orangtua selalu lebih pada hal-hal di atas?

Ini buktinya…

Ini sajakah yang kita tanyakan pada mereka : “Belajar apa tadi di sekolah?”, “Bagaimana ulanganmu tadi?”, atau “Ada PR tidak?”.

Maka anak-anak kita pun akan menangkap bahwa PR dan nilai-nilai akademis adalah hal yang paling utama yang kita harapkan dari mereka.

Atau inikah model pertanyaan kita ? : “Kenapa bajumu kotor?”, “Kemana topimu?”, “Rambutmu kenapa berantakan sekali?”, dan aneka pertanyaaan sejenis lainnya ;)

Jelas bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan jenis pertanyaan ini akan tergiring  menjadi  manusia  yang  sangat mementingkan hal-hal fisik semata.

Pola pikir anak adalah refleksi pola pikir orangtuanya. Tapi, mana yang kita pilih sesungguhnya? Anak yang nilainya 100 semua atau anak yang gemar belajar? Anak yang nilai PPKN-nya 9 atau anak yang suka menolong teman-temannya? Anak yang nilai pelajaran agamanya tinggi atau anak yang selalu santun kepada ayah dan bundanya? Anak yang cantik atau anak yang ramah tamah?

Kompetensi akademis hanyalah sebagian kecil dari kunci sukses seorang anak baik dunia maupun akhirat. Syurga juga tidak diperuntukkan bagi mereka yang hanya bermodalkan penampilan fisik belaka. Kunci masuk syurga adalah karakter dan akhlak. Dengan inilah Rasul SAW dan para sahabat memasuki syurgaNya, Insya Allah.

Rasul kita SAW kerap kali menggiring cara berpikir anak-anak atau para sahabat dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Apa yang ditanyakan Rasul menunjukkan pada kita hal-hal apa yang memang sangat dipentingkan oleh beliau.

Rasul SAW bertanya, “Adakah kamu suka pulang ke rumahmu membawa tiga ekor unta yang besar dan gemuk?”. Sahabat menjawab, “Kami semua suka.”. Beliau lalu melanjutkan, “Tiga ayat yang dibaca salah seorang dari kamu di dalam shalat jauh lebih baik daripada tiga ekor unta yang besar dan gemuk”.

Rasul SAW bertanya, “Maukah kamu kuberitahukan tentang pangkal dan puncak dari segala perkara?”. Sahabat menjawab, “Baiklah ya Rasulullah.” Kemudian beliau bersabda,”Pangkal segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”

Segala hal yang ditanyakan Rasul jelas mengindikasikan hal-hal yang memang sangat dipentingkan beliau. Membuat para sahabat memahami, yang prioritas bagi Rasulullah adalah karakter dan aktivitas ahli syurga.

Siapa yang tidak kenal keluarga Kennedy di Amerika? Dua dari sembilan anak dari keluarga Kennedy menjadi orang nomor satu di negara tersebut. Tujuh sisanya berprestasi di bidang pelayanan publik. Hal ini tentu tidak terjadi dalam sekejap. Siapa yang telah mengajarkan anak-anak keluarga Kennedy sejak kecil untuk menjadi pemimpin? Siapa yang menstimulasi pikiran mereka untuk menjadi pribadi yang dermawan? Siapa yang menanamkan dalam benak anak-anak Kennedy bahwa melayani publik adalah tradisi mulia? Hal ini ternyata tidak lepas dari arahan ibunda mereka Rose Kennedy.

Dalam sebuah episode Oprah Winfrey Show, salah satu putri keluarga Kennedy memaparkan bahwa sejak kecil ibunda mereka selalu menanyakan hal-hal yang sangat berbeda dibandingkan dengan pertanyaan para ibu dari teman-teman mereka.

Inilah yang ditanyakan Rose Kennedy ketika berjumpa dengan putra-putrinya baik ketika mereka pulang sekolah atau ketika mereka berkumpul di ruang makan : “Adakah hari ini kau menolong seseorang?”, “Siapa yang hari ini kau damaikan?”, “Pada siapa bekalmu hari ini kau bagi?”, “Pengorbanan apa yang hari ini kau lakukan untuk orang lain?”, “Sudahkah hari ini kau berderma?”

LUAR BIASA!

Sudah waktunya kita menyambut anak kita hari ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggiring pola pikir dan mengembangkan karakter mereka ke arah kebaikan hakiki. Biarlah anak kita menangkap dalam benak mereka bahwa yang terpenting bagi kita orangtuanya bukan sekedar prestasi akademis atau penampilan fisik belaka. Yang terpenting bagi kita adalah bahwa mereka tumbuh menjadi muslim yang berkarakter baik dan kuat sebagai bekal utama mereka memasuki gerbang syurga pada kehidupan abadi kelak, amin.

Terimakasih telah membaca tulisan ini :)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.