Rindu 7 Purnama

Lala Purwono


Pernahkah kau merindukan seseorang, sampai-sampai seluruh sel dalam tubuhmu menjerit sakit karena menginginkan ia ada?

Saking merindunya, sampai sekujur tubuhmu ngilu dan hanya kehadiran seseorang itu yg mampu menjadi penawarnya?

Rindu yg sampai menerbitkan air mata, rindu yg membuatmu berhalusinasi akan wajah dan suaranya di setiap pejaman matamu?

Sedang kurasakan rindu itu. Rindu yg membelenggu. Rindu yg tak habis digigit geligi waktu. Rindu, pada lelaki itu.

Sudah tujuh Purnama berlalu, dan rindu itu kian menggebu. Sudah tujuh Purnama, ia berlalu. Dan rindu itu merobek hatiku.

Aku kangen wajahnya. Kerut merut di sudut mata dan bibirnya. Aroma after shave-nya. Ah,bau keringatnya! Semua yg ada padanya.

Tujuh Purnama yg lalu, Lelaki itu masih di sini. Berbagi tawa. Memecah hening dg petikan gitar dan suara bas-nya yang merdu.

Tujuh Purnama yg lalu, lembut tangannya masih mengelus anak2 rambutku yg bermain ditingkahi embusan angin pantai.

Tujuh Purnama yg lalu, Lelaki itu bilang, “Aku mencintaimu. Kamu adl hidupku. Energiku. Udaraku.” Lalu dikecupnya keningku.

Dan tujuh Purnama yg lalu, kami bercinta. Menyemai benih kasih terlarang tapi aku tahu, dosa ini tak akan kusesali.

“Aku tak sanggup kehilanganmu,”kataku. Lelaki itu menatapku. Katanya, “Kau tdk akan kehilangan aku. Aku tdk akan kemana2.”

Tapi, Lelaki itu bohong. Dia pergi. Meninggalkan aku yg menangis tanpa henti.

“Katanya aku udaramu. Energimu. Hidupmu? Bullshit! Tai! Kamu bohong!” Teriakku. Di sela tangis yg sembabkan kedua mataku.

Teriakanku merobek udara di sekitarku, lalu kemudian lenyap terbawa angin. Lelaki itu tetap pergi. Aku tetap sendiri.

Purnama pertama berlalu. Tapi Lelaki itu masih tak menghampiriku. Anak-anak Rindu mulai jejali kepalaku.

Purnama kedua, masih tak datang. Kepalaku mulai sesak. Oleh rindu yg membelenggu langkah-langkahku.

Purnama ketiga, keempat, dan kelima, hatiku makin tak menentu. Rindu membuatku gila! Setiap sudut pandangan mata, ia ada…

Dan Purnama keenam, rindu sudah membuatku tak bisa melakukan apa-apa. Sudah tak terasa indah, tp sakit yg meraja.

“Aku harus mencarinya, sebelum aku gila!” Kataku pd seorang Sahabat yg diam, tpi jemarinya sibuk membelai belakang kepalaku.

“Dia harus ketemu. Aku musti ketemu dia. Harus!” Sahabatku diam, memandang mataku. Mencari sesuatu, aku tak tahu.

“Mungkin kamu memang harus merelakan sakit hati ini, Sayang.” Suara Sahabatku yg lembut terdengar bak guntur di telingaku.

“Rela? Bagaimana bs aku merelakan lelaki itu pergi? Ia m’jamah tubuhku lalu esoknya ia pergi. Aku tak bs rela!” Aku meradang.

“Lantas maumu apa?” Sahabatku lelah. Kami memang sudah bertengkar sejak Purnama pertama.

Aku tak tahu bagaimana caranya. Tapi kerinduanku, keinginanku u/ menemuinya, spt berubah menjadi energi buat setiap lelahku.

“Biar waktu yg memberitahu,” tukasku di Purnama itu. Pertengkaran kami selesai, yg tersisa adl rindu yg makin mencekam.

Hari-hari menuju Purnama ketujuh, rindu makin menggila. Denyut jantung makin sibuk, tiap menit aku dihadang rindu.

Rindu ini.. Membunuhku! Mengurai kebahagiaanku! Hatiku terserak, tertiup angin, berharap rindu membawanya pulang padaku.

Aku merindunya. Sangat. Tapi Lelaki itu tak pernah datang lagi, bisikkan kata2 mesra dan kecupan hangat lagi.

Ia tak terjamah. Lelaki itu, tak mau dijamah. Ia tak lagi peduli. Ia biarkan aku merindu seorang diri, sampai 7 Purnama.

Aku tak sanggup lagi. Malam ini, rindu sudah mencengkeram nadi. Menyerupai jemari yg mencekikku sampai mati.

Tujuh Purnama, sudah cukup aku merindunya. Aku musti bergegas melakukan satu cara ini sebelum terlalu sakit dicekam rindu.

“Kalau memang ini caranya untuk menuntaskan rindu, biarlah kulakukan ini…” Kupejamkan mataku, kuhela nafasku.

Sebotol Aspirin, tiga teguk air putih, dan perlahan rindu itu terkikis sampai habis. “Kita ketemu di sana. Jemput aku!”

Rindu itu usai sudah. Habis, krn kini aku sdh bersamanya skrg. Di alam kematian, tempatnya berada, 7 Purnama yg lalu..

***

Kamar, 3 September 2010
Ditulis via Twitter, 34 Twits, hashtag: #fiksiLala
Ngoceh mulai pukul 22.56 – 23.48


Ilustrasi: kemoning.info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.