She’s The One

Josh Chen – Global Citizen


On this very day, 10 years ago, we both said: “I do”…


You by my side, that’s how I see us

I close my eyes, and I can see us

We’re on our way to say “I do”

My secret dreams have all come true…

– The Wedding –


Europe, January 2000

Hawa dingin menggigit tulang sudah menjadi keseharian di negeri yang terletak di bawah permukaan laut ini, bukan, ini bukan Atlantis benua yang hilang, tapi satu negeri di Eropa sana. Malam yang dingin itu tidak menghalangiku untuk mengayuh sepeda ke tempat perayaan wisuda yang terletak di pinggir sungai di kota kecil nan asri itu. Berbalut jaket tebal, sepatu winter dan sarung tangan aku menembus malam.

Tak terlalu lama, aku sampai ke gedung itu. Malam itu adalah acara wisuda angkatan setahun di atasku dan aku datang atas undangan dari beberapa teman yang akan wisuda hari itu. Bedanya suasana wisuda di sana dan di Indonesia adalah formalitasnya serta pakaian yang dikenakan para wisudawan dan wisudawati. Di Indonesia merupakan satu (hampir menjadi) kewajiban untuk wisudawati mengenakan kebaya dengan segala make up dan tata rambutnya, sedangkan untuk wisudawan sepertinya sudah jamak memakai jas lengkap dengan dasi, walaupun kadang harus meminjam atau sewa. Berbeda dengan di sana, memang ada beberapa wisudawan/wati yang mengenakan pakaian khas negeri masing-masing, bahkan ada yang mengenakan pakaian kebesaran dari suku tertentu karena ybs adalah salah satu kelompok warga terhormat di negerinya. Seperti misalnya yang dari Afrika, mereka kebanyakan mengenakan pakaian khas negeri mereka, dengan ciri khas bahan pakaian yang generous, penuh warna warni yang kontras dengan warna gelap kulit mereka.

Sementara yang dari Indonesia, Jepang, China, Korea, juga mengenakan pakaian yang jadi ciri nasional mereka. Kimono dari Jepang untuk para wanitanya, qipao dari China dan hanbok dari Korea, dan Indonesia lebih beragam lagi, ada yang batik, ada yang pakaian daerah dan ada yang kebaya.

Sepeda aku parkir dan kaki melangkah memasuki gedung itu. Ini kali kedua aku menghadiri acara wisuda di negeri asing ini. Sesampainya di dalam, tak seorangpun yang kukenal, hanya sekitar 5 teman yang hari itu diwisuda. Acara segera dimulai, acara demi acara mengalir lancar. Dan tibalah acara refreshment yang dimeriahkan dengan segala macam jenis musik, ada musik dansa khas negeri tertentu, dan kebanyakan didominasi dentum disco dan house music silih berganti, tapi bukan seperti pesta dugem dengan music trance yang susah dimengerti itu. Suasana santai, snacks dan minuman mengalir terus. Bir, tentu saja mendominasi, dengan ciri khas botol-botol kecil yang nyaman dipegang menjadi pemandangan umum ditingkahi denting botol beradu untuk memberi selamat satu sama lain.

Aku duduk di luar ruangan berbincang dengan teman dari negeri jauh yang lain. Kebetulan posisi dudukku tepat di pintu keluar-masuk aula yang digunakan pesta malam itu. Sekonyong-konyong, entah dari mana, sesosok gadis mungil berdiri tepat di tengah pintu itu. Wajah yang tidak terlalu jelas, tapi pancaran kecantikan alami yang kuat sekali terasa. Mengenakan kaos lengan panjang warna orange dengan paduan vest jeans dan padanan yang pas jeans warna biru gelap, membingkai tubuh itu, rambut panjang tergerai melampaui pundak sungguh menarik perhatianku.

Entah dari mana, suara dari mana aku juga tidak tahu dan tidak pernah ingin mencari tahu, dari dalam relung hati terdengar: “She’s The One”. Aku terperanjat! Dalam pikiranku: “Apa ini ‘she’s the one’?” Sekali lagi suara itu terdengar jelas: “She’s The One”. Dan tanpa ragu serasa otomatis semua, aku bergerak mendekatinya dan menyodorkan tangan untuk bersalaman dan berkenalan. Dia sedikit kaget dan menyambut jabat tanganku. Basa-basi mengalir lancar, kemudian kami duduk di meja tadi, berbincang dan disambut beberapa teman. Ternyata dia juga memiliki teman-teman yang sama dengan aku. Malam semakin larut, dan tiba saatnya untuk bubar. Tak sanggup aku membuka mulut menanyakan alamatnya, hanya nomer telepon yang berani kutanyakan dan berjanji akan meneleponnya. Dengan sedikit keberanian akhirnya aku tahu di apartment mana dia tinggal tanpa tahu detailnya.

Seminggu lewat dari malam wisuda itu. Tugas-tugas, paper, assignment dan kuliah yang cukup intens membuatku cukup sibuk. Satu hari, aku janjian dengan teman sekelas untuk main tennis dan aku akan menjemputnya di apartment’nya. Biasa aku dan teman sekelas ini bermain tennis beberapa kali seminggu di tennis court dekat apartment dia. Masih tidak terpikir bahwa gedung apartment teman sekelasku merupakan alamat yang sama dengan dia. Tak terlalu lama sampailah aku ke situ dan memarkirkan sepedaku.

Sewaktu sedang mengunci sepeda, tiba-tiba hatiku terlompat karena melihat dia sedang berjalan keluar dari salah satu sayap apartment. Baru aku sadar kalau teman sekelasku tinggal di lokasi apartment yang sama dan hanya berbeda sayap gedungnya.

Langkah gesit dan lincah makin mendekat. Dibalut jaket tebal putih bersih, ransel di punggung dan paduan apik topi winter makin membuat jantungku berdegup kencang. Bertemulah kami untuk kedua kalinya. Di halaman parkir kami bertukar kata dan berbincang sejenak. Di situlah aku tahu alamat persis dia. Dengan janji malamnya aku akan datang berkunjung. Malam itu juga aku berkunjung dan bertukar cerita lebih intens lagi. Aku pulang dengan hati riang gembira. Getar-getar yang makin kuat aku rasakan di hati dan aku cukup yakin bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Terlihat dari sedikit nervous dan sikapnya yang cukup jelas terbaca.

Hari-hari berikutnya kami lalui bersama. Dunia serasa makin indah. Winter tidak lagi dingin menggigit tulang, terasa hangat dan indah dengan salju dan pepohonan yang meranggas tanpa daun. Ke pasar bersama, memasak bersama, ngopi bersama di kantin kampus di sela-sela break kami lalui hari demi hari. Akhirnya kesempatan untuk nge-date pertama pun tiba. Aku ajak dia untuk nonton Anna and The King yang dibintangi oleh Chow Yun Fat, Jodie Foster dan Bai Ling, film lama yang di’remake. Film yang cukup romantis ini rasanya merupakan pilihan yang cukup tepat. Mulai malam itulah kami resmi berpacaran!

Belanja bersama menjadi kegiatan favorit kami. Hari pasaran Rabu dan Jumat menjadi hari yang paling kami nantikan. Karena kecilnya kota kami, di hari pasaranlah, dengan segala kemeriahan pasar menjadi sarana rekreasi mingguan kami. Dari penjual lumpia di ujung jalan sampai dengan toko barang bekas di ujung yang lain, dari tempat sampah di apartment’nya sampai ke Chinese resto di ujung lain kota kami jelajahi bersama. Tempat sampah menjadi tempat yang menarik untuk diamati, jangan dibayangkan tempat sampah jorok, kotor dan bau, tapi tempat sampah yang bersih sekali. Kami sempat “gosek” (memulung) lemari es kecil single-door, sofa yang masih bagus, sepeda, microwave bekas, dan beberapa barang lain….semua kami ambil, sebagian kami pakai, sebagian kami bersihkan dan jual lagi….hehehe….

Tempat-tempat apik di seluruh penjuru kota kami jelajahi, kami foto-foto sana sini.


Europe, Spring 2000

Entah keberanian dari mana yang membuat aku nekad melontarkan lamaran ke dia di salah satu tempat paling apik dan romantis (setidaknya menurut aku) di negeri itu yaitu Keukenhof. Cerita ini pernah dimuat di salah satu website yang sekarang sudah tidak ada lagi.

Sedikit mengutip tulisan ketika itu:

Kami berdua menyusuri jalan-jalan kecil di situ dengan kanan kiri bunga tulip beraneka jenis dan warna. Tak lupa tangan selalu jeprat jepret jadi tukang foto amatir mencoba mengabadikan keindahan ini. Mata mencari-cari tempat yang indah serta enak buat duduk berdua. Setelah ketemu di bawah pohon besar sekali, kami duduk di rerumputan sambil berbincang ke sana kemari. Dengan hati berdebar, aku maju mundur, maju mundur dalam ati, ngomong tidak, ngomong tidak. Akhirnya dengan ditegar-tegarkan, keluarlah kalimat yang udah aku rencanakan: “will you marry me?”


Pertama kali dengar, dia malah ketawa, walaupun aku bisa liat ketawanya untuk menutupi kekagetannya. Aku ulangi sekali lagi: “will you marry me, and spend life together for the rest of our life?”.

Nah, di situlah, dia gak bisa kontrol lagi, keliatan sekali gugup, kaget, tersipu, mukanya memerah, dan menunduk, berusaha melihat ke arah laen dan mengalihkan pembicaraan. Terus aku lanjutkan n tegaskan bahwa aku serius. Barulah dia tertunduk dan gak bisa ngomong lagi. Dari sikapnya, aku bisa tau, bahwa jawabannya adalah IYA, walaupun hari itu gak pernah terucap, tapi aku bisa merasakan sikapnya terhadap aku berubah, ke arah yang lebih positif tentunya, lebih hangat, lebih mesra, lebih serius.

Kata iya gak pernah terucap, tapi dari sikap, yang melebihi kata-kata, di situlah tergambar gimana dia terhadap aku….

Semenjak itu, kami bagai tak terpisahkan, ke mana saja bersama….kisah perjalanan kami ke mana-mana berkeliling. Ada yang ke Paris bersama dan ada juga yang ke Indonesia memperkenalkannya ke orang tua’ku, demikian juga perjalanan ke negerinya untuk diperkenalkan ke orang tuanya. Paris, Prambanan, Borobudur, Gunung Bromo, Shanghai, Taihu, Singapore kami langkahi bersama.


Europe, Autumn 2000

Dengan restu orang tua kami, kesepakatan dan upacara yang sudah diselenggarakan di tempat kami masing-masing, kami menetapkan pernikahan kami di tempat di mana kami bertemu. Persiapan dari mencari wedding ring, sampai pengurusan ke Town Hall kami lakukan sendiri semua. Persyaratan demi persyaratan yang sudah kami siapkan saat berlibur, kami lengkapi, semua administrasi dan proses kami jalani semua.

Akhirnya hari keramat itu tibalah…..di salah satu hari di bulan September kami mengucapkan janji suci seumur hidup, dengan kalimat “I do” dan saling menyematkan wedding ring di jari manis satu sama lain, disatukanlah kami dalam ikatan suci pernikahan. Tanpa didampingi orang tua kedua belah pihak, tapi dengan ijin dan restu dari seluruh anggota keluarga, pernikahan kami dikelilingi oleh para teman baik, orang tua angkat istri, oom dan tante dari pihakku, adikku juga hadir di sana meramaikan pesta kecil kami.

Seminggu setelah pernikahan itu, aku harus lebih dulu balik ke Indonesia, karena sudah lulus dan harus segera bergabung di perusahaan tempat aku bakal bekerja di Indonesia. Perpisahan itu tak terelakkan, tanpa hujan tangis, aku meninggalkan negeri yang sudah sekitar 2 tahun aku tinggali itu. Penerbangan selama 15 jam terasa begitu lama.

Tidak menunggu terlalu lama, setelah sampai di Indonesia, besoknya aku segera bekerja di perusahaan itu. Berbagai meeting aku lalui, malam-malam sepi aku jalani. E-mail dengan istri tercinta menjadi keseharian yang wajib dan dinantikan. Telepon dari istri di akhir pekan adalah saat paling aku tunggu.


Europe, Winter 2000 – Pergantian Tahun 2001

Sekali lagi keberuntungan dan kebetulan yang manis berpihak ke kami. Di akhir tahun 2000 itu, aku mendapat tugas untuk melakukan inspeksi di negeri yang sama tempat aku dan istri menuntut ilmu. Inspeksi peralatan yang akan dikirim untuk keperluan proyek kemitraan antara mitra asing dengan perusahaan tempatku bekerja membuatku terbang kembali melintasi benua untuk kembali ke Eropa. Kali ini penerbangan terasa begitu singkat, di penghujung minggu kedua bulan Desember 2001, aku sudah menginjakkan kaki lagi ke negeri itu.

Pekerjaan sudah menanti. Aku tuntaskan tugas dalam beberapa hari, inspeksi ke pabrik, ke gudang dan ke pelabuhan membuatku berkeliling dari satu kota ke kota lain. Dalam seminggu selesailah pekerjaan. Minggu keempat alias Natal sudah dekat. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa tugas pertamaku justru kembali ke tempat di mana istri masih berada. White Christmas kami lewatkan bersama. Christmas dinner di keluarga orang tua angkat istri berlangsung dengan hangat dan penuh tawa.

Sungguh merupakan bonus akhir tahun dan hadiah tahun baru yang luar biasa untuk kami berdua yang baru saja menikah dan kemudian harus terpisah beberapa bulan. Cuti yang aku ajukan tanpa ba-bi-bu diiyakan oleh boss. Di penghujung tahun kami merencanakan berkeliling sedikit, Benelux plus Germany kami tapaki bersama, merupakan honeymoon dan perjalanan indah melewati akhir tahun. Sungguh tak terlupakan. Luxembourg yang rupawan, berbukit, berundak, naik turun penuh sinar lampu sungguh luar biasa. Dusseldorf yang apik juga menanti kami.

Akhirnya minggu pertama January 2001 aku harus balik lagi ke Tanah Air. Kembali ke kehidupan nyata yang siap kami rajut bersama ke depannya. Aku terbang ke Tanah Air, sekali lagi harus berpisah dengan istri. Tapi tak apa itu, kata kami waktu itu, karena dalam waktu sebulan, kami akan berkumpul lagi di Indonesia. Tidak terlalu lama, di antara kesibukan masing-masing, di sela pekerjaan, di sela sidang skripsi istri, waktu terasa cepat berlalu. Dan di bulan February 2001 kami akhirnya berkumpul kembali tak terpisahkan, sampai hari ini 10 tahun sudah kami menempuh kehidupan bersama.


Penutup

Love at the first sight? Yi jian zhong qing (一见钟情)? Siapa bilang tidak ada dan hanya khayalan, it’s just a fairy tale? Rasanya tidak….aku sendiri pernah sempat berpikir, adakah? Tapi ternyata aku sendiri mengalaminya, dan setelah aku jadian berpacaran, istri bercerita bahwa dia juga merasakan hal yang sama ketika pertama kali pandangan kami bertemu malam itu. Aku percaya suara hati, aku percaya jodoh itu suatu misteri….dengarkanlah kata hati kita……


September 2010


About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *