Bandung 200 Tahun: Bandung Air Show 2010

Linda Cheang – Bandung


Pembaca semua,

Kota Bandung merayakan hari jadinya ke-200 pada 25 September 2010 ini. Pemerintah Kota Bandung bekerja sama dengan beberapa pihak membuat gelaran khusus untuk merayakan hari jadinya, dan salah satunya adalah Bandung Air Show 2010. Di  pameran ini juga ada pameran dari beberapa Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Jadi bisa sekalian beli souvenir dan makanan di situ.

Mengapa harus Bandung Air Show? Sebab di kota ini ada industri khusus yang membuat pesawat terbang yaitu PT Dirgantara Indonesia (Indonesia Aerospace).  Sebelumnya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara.  Nama PT DI diberikan ketika Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4.  Produk PT DI yang sudah terbang adalah Tetuko atau CN-235, sementara Gatotkoco alias N-250, meski sudah pernah terbang perdana setelah produksi  pada 1995, tetapi masih banyak kendala untuk membuat pesawat ini diproduksi secara komersial. Salah satunya tentu karena krisis 1998 lalu.

PT DI juga memproduksi komponen sub assy, ada satu bagian dari rangka sayap Airbus A-380, yang sekarang sudah diterbangkan oleh Singapore Airlines untuk rute Singapore-London dan Singapore-Sydney. Sebentar lagi menyusul Emirates yang akan terbangkan pesawat double decker tsb. Menurut berita yang dilansir Pikiran Rakyat, bahwa sub assy rangka sayap A-380 yang dibuat PT DI termasuk yang berkualitas sangat baik,  termasuk yang tanpa reject bila dibandingkan dengan produksi serupa made in China.

Bandung juga adalah pusat rujukan perawatan semua pesawat terbang milik TNI-AU dari seluruh Indonesia. Di sini ada markas Komando Pemeliharaan Material Angkatan Udara (Koharmatau) yang bertanggung jawab untuk perawatan tingkat berat semua pesawat terbang dan peralatannya. Salah satu fasilitas perawatannya bahkan sudah digunakan untuk merawat pesawat terbang Boeing 737-ER milik Lion Air.

Pelaksanaan Bandung Air Show 2010 (selanjutnya akan disebut BAS 2010) termasuk meriah meski untuk pameran statis, pendapat dari saya sebagai ahli perawatan pesawat terbang, termasuk kurang seru. Masyarakat awam yang senang bergerombol di dekat pesawat itu amat mengganggu. Namun, ya, belajar memaklumi rasa antusiasnya masyarakat. Memang tidak dapat dibandingkan dengan pameran seperti di Le Bourget, Paris atau di Changi, Singapura, tetapi dengan kondisi Bandara Internasional Husein Sastranegara yang kelas C (kode internasionalnya BDO), pameran kali ini lumayan membuat masyarakat awam ingin mengenal lebih baik lagi tentang  kedirgantaraan.  Bandara ini juga termasuk Lanuma (Lapangan udara utama) TNI-AU, sehingga tidak heran banyak pesawat terbang milik TNI-AU, pesawat olah raga milik FASI Jabar juga ikut meramaikan pameran kali in karena pesawat-pesawat terbang tsb memang disimpan di kawasan Lanuma ini.

Pelaksanaan BAS 2010 untuk pameran dinamik, di hari pembukaan  diisi dengan demo terbang pesawat tempur Hawk 100/200 buatan British Aerospace System (BAe System) – Inggris. Pesawat  diterbangkan langsung dari Skadron Udara (Skadud), 1 Pontianak. Demo terbang meliputi terbang aerobatik, touch and go, yaitu pesawat Hawk tsb mendarat sejenak di runway bandara dan segera take off lagi.

Selain pesawat Hawk, ada juga demo terbang aerobatik pesawat Super Decathlon oleh Kapten Ir. Alexander (Alex) Supelli dan Cessna oleh Kapten Esther Gayatri Saleh, (Kapten Esther adalah satu-satunya licensed pilot test perempuan di Indonesia dan Asia)  serta pesawat trike oleh Kapten Saleh.

Saya datang ke pameran pada hari kedua, hari terjadinya insiden jatuhnya Super Decathlon PK-NZP yang dipiloti Kapten Alex. Dilihat dari rekaman saat jatuhnya pesawat tsb, diketahui pesawat tsb ketika melakukan maneuver aerobatic terbalik, ternyata terbang terlalu rendah sehingga pesawat tidak memiliki cukup ketinggian untuk recovery karena stall (kehilangan gaya angkat), sehingga satu sayapnya keburu menyentuh lapangan rumput, jadlah pesawat jaruh dan terbakar. Beruntung seluruh petugas penyelamat Bandara Husein Sastranegara amat sigap sehingga evakuasi hanya perlu 7 menit, nyawa Kapten Alex bisa diselamatkan meski menderita luka bakar 100% di kulitnya. Sampai tulisan ini dibuat, Kapten Alex masih dalam kondisi kritis, dan masih dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung

Pada saat saya datang ke pameran, sudah terlalu banyak pengunjung datang, ditambah cuaca juga mendung dan akhirnya hujan. Sehingga saya sendiri kurang nyaman ketika ingin mengambil gambar pesawat-pesawat terbang yang dipamerkan statis. Saya tidak berhasil mengambil gambar pesawat angkut C-130 Hercules “Herky”, Fokker F-27 dan CN-235 milik TNI-AU karena semua pesawat tsb sedang bertugas. Padahal Si Herky  gendut itu termasuk pesawat terbang favorit saya.

Berikut pesawat terbang yang berhasil saya ambil gambarnya. Mulai dari pesawat terbang kecil Cessna  milik Susi Air, pesawat terbang untuk disewa (saya tidak tahu tipenya) , Helikopter Bell B-47 Soloy dan Collibri dari Skadud 7, Kalijati, Subang, pesawat Latih Mula, Bravo,  Fokker F-28 turbojet milik Sultra Air berdampingan dengan N-250 Gatotkoco dari PT DI. Ealah, ketika mengambil gambar papan spesifikasi pesawat terbang N-250, saya malah jadi kecewa membaca tulisan dalam English yang tertera di sana. Pembaca tahu kenapa?

Sebagai penutup, ini saya sertakan pesawat ATR 72-500 buatan BAe System milik Wings Air yang baru mendarat dari Jogjakarta dan Boeing 737-300 milik Malaysia Airlines yang baru datang dari Kuala Lumpur.  Eh, pilot Wings Air ketika turun dari kokpit, ternyata bule, cakep lagi! Pilot-pilotnya Susi Air juga bule, lho!

Buat Oom Dj, kalau pulkam ke Indonesia pakai MAS lagi, tidak perlu  ke Jakarta dulu,  langsung saja dari KUL – BDO. Nanti pulang ke Jerman juga  dari BDO saja. Dijamin meskipun perlu antri saat  proses keimigrasian, tetapi enggak akan bikin jengkel seperti imigrasi di CGK, hehehe. Untuk para WN pemegang paspor negara-negara Schengen, UK,  USA,  proses VoAnya juga tak seribet di CGK, hanya perlu sedia uang tunai USD 35 utk satu bulan entry visa.

Kabar terakhir, sedianya Silk Air juga akan membuka rute penerbangan langsung dari SIN – BDO pp. Semoga segera terealisasi pada 2011 mendatang.

Wilujeng milangkala kanggo Kota Bandung ka 200.

Salam

Linda Cheang

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.