Bandung, a city of Amelia Earhart’s world flight

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


BAGI bangsa Amerika Serikat (AS), nama Amelia Earhart sangat harum untuk didengar. Tulisan ini bukan untuk menceritakan riwayat hidup pahlawan penerbangan kebanggaan orang Amerika itu. Ini adalah sekedar goresan kecil yang saya tahu tentang Amelia Earhart yang pernah singgah di Bandung dan beberapa kota di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) lainnya, dalam perjalanan keliling dunianya yang kedua, yang berakhir pada kematiannya di laut lepas di Samudera Teduh (Pacific Ocean).

Bagi orang banyak Indonesia, nama Amelia Earhart tidak terlalu dikenal. Mungkin agak “lebih beruntung” Charles Lindbergh, orang yang pertama kali terbang melintas Samudra Atlantik dari New York ke Paris tahun 1927 dengan nama pesawatnya ‘The Spirit of St. Louis’. Amelia dijuluki “Lady Lindy”, karena banyak mendapat inspirasi dari Charles Lindbergh yang punya juluki “Lucky Lindy”. Kata Lindy adalah kependekan dari Lindbergh.

Mereka berdua sangat dihormati dan mendapat tempat di hati bangsa Amerika, juga di beberapa belahan dunia lainnya yang sangat menghargai prestasi seseorang. Sedangkan di Indonesia, saya ragu mereka punya tempat untuk diketahui karena memang tidak perlu, apalagi dikenang untuk bangsa pelupa ini.


PERNAH KE INDONESIA

Mungkin banyak yang belum tahu, bahwa Amelia atau Charles, dua tokoh penerbangan dunia, keduanya pernah singgah dan berkunjung ke Indonesia. Setelah 40 tahun menyeberangi Atlantik, Charles Lindbergh menyeberangi Pasifik untuk datang ke Jakarta dan melihat Gunung Krakatau dari dekat pada Desember 1967. Sedangkan Amelia datang ke Indonesia (dulu namanya Hindia Belanda), 30 tahun sebelum Charles, yaitu tahun 1937.


Nama Charles mungkin kurang dikenal untuk ukuran orang Indonesia, yang kisah anak balitanya diculik menjadi ilham penulis Agatha Christie dengan novel terkenalnya ‘The Murder of the Orient Express’. Tetapi setidaknya sosok Amelia pernah dinikmati oleh penikmat film-film Hollywod tahun 2009, ketika film ”Night at the Museum 2′, menampilkan hampir separuh durasi film tersebut sosok Amelia Earhart yang diperankan dengan baik oleh aktris Amy Adams.

Sosok Amelia dalam film tersebut dihargai karena prestasinya yang heroik mengelilingi dunia sesuai garis khatulistiwa pada tahun 1937, di saat dunia penerbangan saat itu belum begitu banyak menyentuh umat manusia. Bisa dibayangkan betapa terkagumnya orang melihat seorang wanita dengan berani mengeliling dunia dengan pesawat kecil. Apalagi kota-kota yang disinggahinya, kebanyakan bukanlah kota besar atau kota yang menjadi tujuan lalu lintas penerbangan.


MENGAPA BANDUNG?

Untuk mengenang hari ulang tahun Bandung yang ke 200, tulisan ini hanya bagian kecil dari ribuan artikel yang ditulis untuk mengenang kota yang pernah dijuluki kota paling romantis di bagian timur Asia.

Ada keinginan saya untuk menjadikan Bandung lebih populer dan lebih dikenal lagi di dunia di belahan barat (kecuali bagi bangsa Belanda), daripada sekedar sebagai kota internasional yang pernah menjadi tuan rumah konferensi Asia Afrika 1955 yang sangat fenomenal itu. Perannya sebagai “ibukota Asia Afrika”, masih setengah hati dikenang atau diingat oleh generasi sekarang di Afrika maupun di Asia.

Mungkin saja bila ada kemauan, Bandung bisa lebih populer lagi andaikan cerdik memanfaatkan momen yang dikaitkan dengan sosok Amelia Earhart, tokoh yang dicintai orang Amerika dan dunia. Mengapa?

Bisa kita bayangkan bila Bandung membuat sebuah karya monumental tentang Amelia di kotanya, akan mengundang simpati dan rasa ingin tahu bangsa nomor satu di dunia ini. Pastinya, mereka akan datang dan sekedar menengok ke kota Bandung, untuk melihat jejak pahlawan mereka yang letak jauh di belahan bumi mereka. Kita tahu sifat orang Amerika yang sangat romantis bila mengenang sejarah mereka. Mengapa negeri Islam seperti Maroko begitu dicintai dan dihormati oleh Amerika, meski bangsa kulit putih ini sangat tidak suka dengan Islam atau pura-pura suka sebenarnya benci, atau pura-pura benci tetapi suka?

Maroko yang dipimpin raja-raja keturunan langsung Nabi Muhammad itu, adalah negara pertama di dunia yang mengakui negara AS dan di Maroko ada wilayah yang menjadi aset sejarah bangsa Amerika. Makanya, segalak apapun bangsa Amerika pada dunia Islam, mereka tak berani dan akan tunduk kepalanya kalau berhadapan dengan Maroko.

Begitupun dengan Bandung, andaikan ada sebuah jejak setitik sejarah bangsa Amerika di ibukota Jawa Barat itu, pasti akan mengundang perhatian mereka. Dan Bandung bisa menjadi bagian inventaris sejarah Amerika, sama halnya Bandung selama ini menjadi bagian sejarah bangsa Afrika. Bedanya, Amerika negara adidaya yang punya segalanya. Dan bisa dibayangkan efeknya.

Begitu banyak jejak dan kenangan tentang Amelia yang diabadikan dengan indah oleh orang Amerika. Sampai sebuah lagu pernah diciptakan untuknya oleh pianis jazz ternama Herbie Hancock, yang judulnya “Amelia”.


BANDUNG ‘PUNYA’ AMELIA

Amelia mulai perjalanan keliling dunia bersama navigatornya Fred Noonan dari kota Oakland, California pada 21 Mei 1937. Setelah itu dia mampir ke beberapa kota di negaranya (Burbank di California, Tucson di Arizona, New Orleans, Louisiana, Miami di Floria), lalu melalang dunia menikmati indahnya alam dari ketinggian di udara.

“Lebih indah melihat dunia di atas sana daripada yang yang pernah saya tahu”, kata Amelia.

Setelah itu Amelia dan Fred terbang keluar Amerika, negeri kelahirannya yang pernah dijelajahi tahun 1928 dengan pesawat dari California ke New York dengan rute pulang pergi yang berlainan kota.

Kota di luar Amerika yang pertama disinggahi adalah San Jose (Puerto Rico), Caripito (Venezuela), Paramaribo (sekarang Suriname), Fortaleza dan Natal (Brasil), Saint Louis dan Dakar (sekarang Senegal), Gao (sekarang Mali), Fort Lamy (sekarang N’djamena, ibukota Chad), Khartoum dan El Fasher (sekarang Sudan), Massawa dan Assab (sekarang Erithrea), Karachi (sekarang Pakistan), Calcutta (sekarang Kolkata, India), Rangoon (sekarang Yangon, ibukota Myanmar), Bangkok (Thailand), Singapura, BANDUNG, Surabaya dan Kupang (sekakrang Indonesia), Darwin (Australia), Lae (sekarang Papua Niugini) dan Pulau Howland di Pasifik. Namun dalam lepas landas setelah dari Lae pada 2 Juli 1937, Amelia hilang dan sampai kini tidak ditemukan jenazahnya. Amelia telah menempuh jarak 35 ribu km saat hilang dan masih harus mengarungi udara sejauh 11 ribu km lagi agar menjadi orang pertama kali di dunia terbang mengelilingi garis khatulistiwa bumi.

Dalam persinggahannya di Bandung, antara 21-23 Juni 1937, Amelia terlihat kelelahan dan melakukan cek pesawat Lockheed 10E Electra di bandara udara yang sekarang bernama Hussein Sastranegara yang kini sedang mengadakan Bandung Air Show 2010. Selama di Bandung Amelia menginap di Hotel Grand Preanger.

Tidak banyak bahkan sangat sulit menemukan dokumentasi kedatangan Amelia selama di Bandung. Hanya pihak dari Universitas Purdue di Indiana banyak menyiman dokumentasi Amelia di Bandung untuk didapatkan. Namun pilihan Amelia kepada Bandung sebagai tempat persinggahannya dalam keliling dunia yang kedua kalinya tahun 1937 itu, bisa membawa kepopuleran kota itu di mata orang Amerika dan juga dunia internasional.

Cukup lama Amelia bersama Fred sang navigatornya tinggal di Bandung untuk beberapa hari. Mereka menikmati romantisnya dan indahnya kota Bandung yang saat itu sedang indah-indahnya dan layak disebut Parisnya Jawa. Bandingkan dengan kota-kota yang disinggahi Amelia sebelum mendarat di Bandung. Bisa dibayangkan betapa jorok dan kumuhnya dibanding Bandung saat itu. Sebagai contoh Singapura tahun 1937, bukanlah tempat menarik untuk didatangi. Bagaimana dengan Karachi, Yangon, atau kota Gao di tengah gurun pasir Sahara, yang juga disinggahi pesawat Amelia? Tak terbayang seperti apa.

Mungkin ada baiknya, Bandung membuat sebuah monumen kecil untuk mengenang kedatangan Amelia Earhart di sana. Entah sebuah museum kecil atau sebuah column (tugu kecil) yang mengingat orang bahwa seorang terkenal di dunia bernama Amelia Earhart pernah ke kota ini. Mungkin sangat tidak penting buat sebagian orang, tetapi menjadi sangat berarti bagi sejarah dunia penerbangan dan juga bagi bangsa Amerika, negara yang punya segalanya.

Bagaimana bangganya kita bila tahu bahwa memang ada nama jalan Soekarno di kota Rabat, ibukota Maroko. Ada nama jalan Sutan Sjahrir dan Jalan Hatta di Belanda. Ada Soekarno Memorial di pusat kota Larkana, kota asal PM Benazir Bhutto di Pakistan. Atau ada sebuah ruangan dinamakan “Hayono Suyono Room”, di kantor pusat kependudukan PBB, karena jasanya yang besar dalam meredam laju ledakan penduduk dunia. Atau ada banyak lagi tempat monumental di luar Indonesia yang menghargai orang-orang Indonesia.

Lebih setengah penduduk dunia sudah menghargai Bandung sebagai kota bersejarah bagi mereka. Mungkin giliran Bandung menghargai orang asing yang banyak jasanya bagi umat manusia, yang pernah ke kota itu. Seperti Amelia Earhart. (*)




Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.