Bukan Katy Perry, Tidak Juga Dora

Ijah – Adelaide, Australia


Hari ini saya mencoba memotong rambut sendiri. Jangan dibayangkan dengan memberikan layer, ngebob atau lainnya. Bagi saya memotong poni saja sudah merupakan prestasi besar dan perlu pemikiran berhari-hari. Lagipula jika saya bisa melakukan layer, ngebob atau stylish lainnya mungkin saya akan buka jasa potong rambut saja door to door di kalangan mahasiswa. Lumayan bisa sedikit membantu kepulnya asap dapur di rumah.

Kembali ke acara potong poni saya tadi pagi. Poni saya nanggung panjangnya dan ini mulai menggangu disaat-saat saya sibuk berjibaku dengan banyak tugas kuliah. Menurut saya akan lebih ringkas jika poni ini dipotong sedikit diatas mata. Sepertinya bukan pekerjaan susah tapi tetep aja beresiko. Memotong poni sendiri sebenarnya pilihannya ada dua. Jadi keren seperti Katy Perry atau menjadi culun seperti Dora.

Saya sadar hal tersebut, tapi untuk memotongnya ke salon saya masih pikir-pikir. Pertama, pergi ke salon memakan waktu karena saya harus ke kota untuk menuju salon yang murah. Perjalannya sendiri dari rumah saya ke kota kalau naik bus dengan rute south road memakan waktu 45 menit, sedangkan dengan bus yang melalui Goodwood road akan memakan waktu 1 jam. Setidaknya akan memakan waktu 3 jam untuk urusan potong rambut. Walah lama apalagi di tengah-tengah due date seperti ini.

Alasan kedua tentu saja harganya yang mahal. Rata-rata di Adelaide, jasa potong rambut antara $10-$40. Harga $10 untuk potong rambut dengan teman mahasiswa yang dilakukan di unit dia. Di sini ada seorang mahasiswa Iran yang membuka jasa tersebut. Tentu saja bukan usaha yang legal, cukup dikenal dari mulut ke mulut diantara mahasiswa saja. Untuk potong rambut kita perlu membuat janji terlebih dahulu melalui telpon dan datang ke rumah dia.

Harga $15 ada di sekolah-sekolah salon macam Clip Joint dan Shermans Academy di kota. Mirip lah dengan sekolah-sekolah salon di indo, hasilnya juga sekelas student alias only God knows kata seorang teman. Di pasar agak sedikit mahal, sekitar  $20. Salon professional tapi hasilnya tidak seberapa bagus, ya namanya juga salon pasar. Sedangkan harga $40 ini adalah harga rata-rata salon di mall seperti di Marion Shopping Centre.  Bagi mahasiswa beasiswa seperti saya, jelas ini mahal. Sekali potong rambut sama dengan jatah makan saya selama seminggu. Atau kalau mau dibandingkan, $20 sama dengan harga 6 kilo paha ayam, 8 kilo telur, 10 kilo apel atau 50 kilo kentang putih.

Alasan ketiga, ini cuma potong poni gitu deh. Pikir saya apa susahnya memotong poni. Kalau berhati-hati juga akan keren. Alhasil saya nekat memotongnya sendiri, cepat dan hemat. Berbekal petunjuk dari seorang teman, saya ambil sisir dan gunting. Di bawah cermin saya juga siapkan kertas junk mail (kertas iklan katalog barang toko-toko disini) biar saya tidak perlu menyedot karpet setelahnya. Dengan rambut setengah basah saya sisir rapi untuk melihat seberapa panjang poni yang ingin saya potong.  Walah saya tidak punya gunting kecil pula, yang ada gunting kertas besar. Tanggung, biarin lah. Kres…kres…kres…beres.

Bagaimana hasilnya? Unbelieveable. Ternyata saya kebanyakan memotongnya. Alhasil jadi sedikit tebal  poni tersebut plus antara kanan dan kiri tidak sama panjangnya karena gunting yang terlalu besar. Tidak cukup disitu, saya lupa memprediksikan kalau ternyata rambut kering akan sedikit memendek. Bagooooossss…buru-buru Katy Perry, sepertinya Dora saja masih lebih imut dibanding hasil potongan saya tadi pagi.


Note Redaksi:

Ijah, selamat datang dan selamat bergabung. Make yourself at home while you are away from home. Ditunggu sharingnya yang lain. Terima kasih Emon sudah memperkenalkan Ijah di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.