Mencintai “Hasil Karya Sendiri”

Fire – Yogyakarta


Warning: Jangan dibaca sembari makan, beri jeda minimal 3 jam dengan waktu makan. Muleg tidak ditanggung, muntah tidak ditanggung, mecucu tidak ditanggung …. Apapun yang terbayang di benak panjenengan adalah resiko masing-masing.

Misal ada seorang pasien yang mengalami masalah pencernaan dan BAB, lalu oleh dokternya ditanya, “Bagaimana kondisi faeces-nya?” Wah kalo si pasien termasuk orang yang jijikan termasuk dengan hasil “produksi dalam negeri” sendiri terus apa akalnya? Masak dokternya mau diseret langsung ke “TKP”. Apa panggil orang lain untuk meng-apresiasi “karya seninya”, siapa tahu memiliki citarasa yang tinggi, lho apa bedanya output hasil “pengolahan” semur jengkol ama pizza pepperoni? Tapi ada cara yang jitu, bawa saja kamera digital atau ponsel berkamera, arahkan ke lubang kloset, lalu klik …. Nah, tinggal dibawa “barang bukti” untuk dihaturkan dengan hormat kepada dokter, “Silahkan dilihat sendiri, Dok. Begini kan lebih jelas dan analisanya lebih akurat”.

Tapi bener lho ada orang yang kayak gitu. Mungkin kalo pun kepaksa lihatnya sambil ngintip-ngintip tak lebih dari sepersekian detik. Atau malah lewat cermin saja karena tak “tega” melihat langsung akibat perbuatannya. Lha biasanya begitu “plung” langsung flush, nggak pake lama …. Harusnya kan ditunggu dulu sampe tumpukannya memenuhi kuota, baru di-flush, jadi lebih ngirit air.

Pernah dengar cerita seleb top yang begitu paranoid menjaga kebersihannya. Jangan-jangan sang seleb punya kloset khusus dilengkapi sensor yang cermat, begitu mendeteksi ada yang “mintip-mintip” belum sampe “disconnect”, langsung tuh pantat kena semprot sampe licin dan selalu terjamin sanitasinya. Boleh jadi tersedia fungsi otomatis juga untuk cebok berpresisi tinggi dengan sejumlah pilihan: air dingin, air hangat, tissue, atau ….. godhong gedhang …. wakakak …..

Tapi banyak juga cerita, mereka yang tadinya paranoid seperti itu, setelah punya anak, jadi pemberani. Ingat kan, kalo waktu kecil kita diare, terus Ibu tanpa jijik akan membersihkannya. Jadi ingat cerita saudara waktu kecil. Ditinggal di atas tempat tidur, rupanya ia pup. Begitu ibunya balik, ternyata pup itu sudah dijadikan mainan ditempel-tempel ke tembok bagaikan adonan semen saja. Mungkin dipikirnya kayak sedang bermain lilin mainan (istilahnya saya dulu mainan “was-wasan”) yang bisa dibentuk-bentuk itu. Kalo dengar ceritanya sih sekarang ketawa-ketawa, coba mbayangin gimana dulu ortunya mbersihkan …. bukan hanya tempat tidur, tapi tembok rumah dipenuhi lukisan “natural”.

Ternyata “siklus hidup” pup ini bisa berputar terus bagai “lingkaran setan”, bagi yang membuat WC yang berfungsi ganda sebagai “supplier” bagi kolam ikan di bawahnya. Jadi pup ini malah jadi “bereinkarnasi” lagi dalam wujud ikan lele. Ntar lelenya dimakan sendiri, terus pup nya jadi makanan lele lagi, begitu terus …. Nah, ini baru benar-benar mandiri dengan ikan lele yang betulan “produksi dalam negeri”, terlebih komposisi “local content-nya” cukup dominan.

Tapi ada yang serius dikit lho, saya pernah lihat berita rumah penduduk yang penerangannya tidak bergantung pada listrik PLN tetapi dari hasil WC rumahnya. Jadi istilahnya “energi listrik” diperoleh dari “energi ngeden”. Jadi bisa dibilang berapa banyak lampu yang menyala berbanding lurus dengan berapa jumlah “plung”. Seperti sebuah pepatah, “Habis plung terbitlah terang”. Satu-satunya kendala hanyalah bila para penghuni rumah sedang menderita bebelen …. wah ternyata bebelen ada kaitannya dengan listrik njeglek …. Jadi kalo dalam dunia komputer ada istilah “plug and play” maka untuk teknologi energi ini istilahnya adalah “plung and play”.

Agak berbeda dengan pup, kalo urine rata-rata orang lebih tabah menghadapinya. Lagian kan sering ada tes berbasis urine. Repot kan kalo jijik dengan urine nya sendiri. Pernah baca malah ada suatu jenis terapi dengan cara meminum urine nya sendiri, wah heboh juga. Beda nggak ya rasa urine nya kalo habis minum teh nasgitel sama habis minum sekoteng? Boleh nggak ya dicampur dengan madu atau creamer gitu, atau mau diblender dulu … hihii….

Nah, sekarang kita beranjak ke “komoditas unggulan” lainnya, yaitu dari hidung. Formulasinya bisa bermacam-macam dari yang padat, semacam upil, kental sampai cair seperti ingus yang meler. Perasaan sih belum pernah dengar orang phobia dengan upilnya sendiri, padahal kalo dengan upilnya orang lain kok begitu jijiknya. Itulah kenapa kebanyakan orang punya hobi ngupil, terutama kalo sedang sendiri (coba kamera security CCTV itu diputerin mungkin banyak rekaman orang lagi ngupil, apalagi kalo kameranya tersembunyi).

Ingat waktu kecil ada teman yang suka usil mengejar-ngejar teman lainnya mau dileletkan upilnya. Ada yang lebih jorok lagi, habis bersin atau ngelap ingus pake tangan terus ngejak salaman. Ehm, sebenarnya masih ada yang lebih horor lagi, tangannya dimasukin ketiak atau celana, habis itu salaman. Makanya dulu waktu kecil, jika ada teman yang ngajak salaman sambil cengengesan, kita dah curiga duluan, pasti mau ngerjain. Ada juga yang gemar meleletkan upil dan ingus di meja dan kursi, sampe dia suatu kali lupa kalo itu adalah upilnya sendiri. “Lho itu kan upil kamu sendiri?”, dikasih tahu temannya.

Tapi bener kok, ada yang tadinya jijik lihat tissue dengan bergelimang ingus tergeletak di meja, terus jadi tenang setelah sadar kalo itu umbele dhewe ….. Lho kan padahal “komposisi nutrisi” nya kan mirip-mirip. Saya teringat dulu buku tulis dan pelajaran halamannya suka pada lengket, karena kena “lem alam” itu, hihi … kalo dah kering kan kuat juga melekatnya … Makanya kalo kita dengar cerita orang yang kerjanya nempel perangko pake ludah, jangan-jangan bukan cuma cairan di lidah yang dipergunakan, tapi juga yang di hidung, karena daya rekatnya jauh lebih dahsyat.

Berikutnya adalah giliran ludah. Mengapa ada peribahasa, bagai menjilat ludah sendiri? Wah padahal dulu waktu kecil itu sering kami lakukan. Kalo ada yang ngincer makanan, terus dia ludahin biar nggak dimakan yang lainnya. Eh, yang lainnya juga ikut ngludahin juga, he he …. Terus akhirnya siapa yang makan? Tentu saja yang nggak tahu kalo itu dah diludahin … he he ……

Dulu saya sering lihat pedagang menghitung lembaran uang sambil jarinya mengambil ludah di lidah. Waktu di rumah saya coba ikut-ikutan meniru cara itu, eh malah dimarahi ibu. Setelah saya pikir-pikir apa betul itu caranya pedagang mengatasi lengketnya uang waktu dihitung, meski saya curiga bahwa itu sebenarnya taktiknya men-japani duitnya biar nggak dicolong tuyul …. wakakak ……. siapa tahu tuyulnya jadi jijik karena duitnya dah diludahin. Jadi benarlah, orang kesurupan sembuh bukan karena mantra mbah dukun, tapi karena dhemitnya jijik dengan ludahnya mbah dukun.

Pernah sih baca cerita yang lebih ekstrim, setelah tidak mempan dengan diludahi, maka sang dhemit baru kabur, setelah hidung yang kesurupan diolesi dengan (maaf) tahi ….. Sayang tidak diceritakan selanjutnya, apakah setelah lepas dari kesurupan si pasien malah langsung jatuh pingsan.

Baiklah teman-teman, kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang akan mencintai “produksi dalam negeri”.

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *