[Mengunjungi Tanah Leluhur] Bagian 1: Hong Kong & Kunming

Handoko Widagdo – Solo


Ada cerita yang aku pernah dengar dari keluarga papaku. Katanya leluhurnya berasal dari Tibet dan datang ke Jawa sebagai pendeta Budha. Namun si pendeta tersebut tak tahan goda dan akhirnya menikah dengan perempuan Jawa. Konon katanya lagi, generasi berikutnya menikah dengan gadis-gadis China dan saya adalah generasi ke tujuh dari sang pendeta tersebut.

Lain lagi cerita yang aku dengar dari nenek jalur ibuku. Dia pernah bercerita bahwa nenek moyangnya pergi ke Jawa karena kelaparan hebat yang melanda kampungnya. Namun dia tidak pernah ingat pada generasi kapan kejadian tersebut terjadi. Dia juga tidak ingat darimana kampung asalnya. Hanya saja nenek saya itu bisa berbahasa Hokian dan bermarga See.

Sebenarnya kunjunganku ke China kali ini bukanlah yang pertama. Setidaknya dari tahun 2002 sampai 2005 sudah 4 kali aku berkunjung ke Yunan. Namun catatan-catatan yang aku buat semuanya hilang saat laptopku dimakan virus. Lagi pula, empat kunjungan yang lalu saya tak sempat melihat banyak. Hanya sekitar Kunming dan ruang kelas tempat saya memberi konsultasi.

Kunjungan kali ini sangat berbeda. Saya diminta untuk terlibat dalam proyek Pengentasan Kemiskinan Masyarakat Tibet di Provinsi Yunan.Saya dilibatkan mulai dari sejak mendisain proyek. Sehingga kesempatan untuk menyaksikan kampung-kampung dan mengamati kehidupan warga Tibet sehari-hari menjadi lebih luas. Saya juga berkesempatan untuk berkunjung ke Shangri La, sebuah kota yang menjadi salah satu tujuan wisata yang bercerita tentang Tibet, selain Lhasa.

Dulu saya mengunjungi desa-desa didekat Sungai Mekong. Karena proyek kami saat itu adalah pengembangan sayuran di delta Mekong. Kini saya lebih banyak berkunjung di hulu Sungai Yangtze. Sebab perkampungan Tibet yang menjadi sasaran proyek  ada di sekitar Sungai Yangtze.

Akan kuawali ceritaku mulai dari terdampar 7 jam di Bandara Hongkong, penjelajahan di Kota Kunming, Shangri La, kunjungan ke Wu Jing, Suku Lissu, Suku Tibet dan akhirnya Dali. Perjalanan selama 10 hari ini sungguh membawa pengertian baru bagi diriku yang konon mengalir darah Tibet, darah China dan darah Jawa. Ada kepuasan bahwa aku, yang konon memiliki darah Tibet, bisa menyumbang sesuatu kepada leluhurku. Meski harus aku akui bahwa sesungguhnya lebih banyak hal baru yang aku belajar dari Tibet daripada apa yang bisa aku berikan kepada mereka.

Adalah suatu kesenangan bagi darah Chinaku untuk menyantap makanan China dengan menjepit sumpit setiap kali dan meminum air Sungai Mekong dan Sungai Yangtze. Aku senang melihat geliat Sang Naga. Namun aku tetap bangga dengan Garuda. Diriku adalah tetap orang Indonesia.


Terdampar Di Bandara Hongkong

Tepat tengah malam pesawat kami, Cathay Pacific membelah langit Jakarta. Ketika pesawat berangkat aku sudah keburu tidur. Sejak meletakkan pantatku di kursi pesawat, mata sudah tidak bisa bertahan lagi. Aku baru bangun ketika jatah makan malam (atau makan pagi?) diedarkan. Setelah menikmati fish and rice dan segelas orange juice, saya kembali tertidur.

Bahkan saya tidak tahu saat peralatan makan diangkut dari meja saya. Perjalanan 4 jam dari Jakarta ke Hongkong kulalui bersama mimpi. Boeing 777-300 yang menerbangkan kami memang berjalan mulus tanpa ada guncangan (atau karena saya tertidur?) Hanya saat akan mendarat, kami sempat diguncang hebat, hingga air dalam gelas yang aku pegang tumpah berantakan. Beberapa pramugara terjatuh. Namun setelahnya pendaratan kami lancar saja. Kami tiba di Hongkong 20 menit lebih awal dari jadwal.

Kantuk belum hilang. Saya segera saja menuju ruang tunggu dengan kursi-kursi yang nyaman. Beberapa penumpang yang datang lebih awal sudah mendengkur di kursi-kursi tersebut. Akupun segera menyusul. Satu jam aku tertidur di kursi ruang tunggu. Aku terbangun ketika rombongan dari Nepal ribut-ribut berceloteh. Karena tak lagi bisa tidur, aku menyalakan laptop.

Wow…free wifinya sungguh kencang. Jadilah aku ditemani oleh JC, Anoew, Nuchan yang menonton sumo-nya Mas Jun dan asyik membahas peribahasa cobeknya Mas Fire. Kami juga meloncat ke atas Sungai Nil yang dihantar Mas Bisri, ke pantai di Ambon bersama Nev dan mengunjungi gua hobbit di Flores bersama Abhisam. Teman-teman lain segera saja ninbrung (Lani dan Alexa menyusul meramaikan pagi). Jadilah aku tak kesepian meski terdampar di Airport Hongkong selama 7 jam.

Jam di airport menunjukkan pukul 10 pagi. Segera saja aku mencari departure gate untuk penerbangan lanjutanku ke Kunming. Bandara ini sungguh besar. Lebih besar dari Changi, meski tak seramai Changi. Meski besar, bandara ini terorganisir dengan baik. Semua peralatan elektronik berfungsi membantu kami para penumpang. Petunjuk-petunjukpun tidak kurang dan sangat mudah untuk dipahami. Ini jelas beda dengan Suwarnabhumi yang besar tapi membingungkan. Hubungan antar terminalpun sangat rapi. Ada trem yang memindahkan penumpang dari satu terminal ke terminal lainnya.


Indahnya Kunming

Aku tiba di Kunming menjelang sore. Perjalanan dari Hong Kong ke Kunming ditempuh kira-kira dua setengah jam. Pulau-pulau kecil melambaikan tangan dan menyampaikan selamat datang.

Dari atas pesawat aku saksikan bagaimana China menaklukkan sungai-sungai. Banyak dam/bendungan yang kusaksikan. Di beberapa tempat, dam tersebut begitu besar sehingga hanya menyisakan ujung-ujung bukit yang kakinya tenggelam.

Ren Jien menjemput saya dan mengantarkan langsung ke hotel. Saya menginap di Gui Hua hotel. Hotel ini cukup besar. Kamar saya terletak di lantai 19. Saya hanya sempat check in saja. Sebab teman yang sudah lebih dulu tiba, sudah menunggu untuk berkunjung ke kantor FAO. Di Kantor FAO saya bertemu dengan teman lama yang dulu bekerja bersama di proyek pengembangan sayuran untuk delta Mekong. Tentu saja kami gembira dan saling berbagi khabar. Saya berharap bahwa dia bisa mendukung apa yang akan kami kerjakan.

Kunming tak berubah banyak. Kalaupun ada yang berubah itu adalah banyaknya sepeda motor elektrik dibanding 2005 yang lalu. Kalau 2005 yang lalu jalanan dikuasai oleh sepeda di sore hari, kini sepeda motor elektrik merajai jalanan. Memang sepeda motor berbahan bakar bensin dilarang di kota ini. Mass transportation-nya juga berkembang.

Saya dan teman saya sempat berkunjung ke taman kota. Taman ini berupa danau kecil yang ditumbuhi teratai. Kami mulai petualangan ke danau dari depan Musium Militer. Sayang aku tak punya cukup waktu untuk menyaksikan isi museum. Di tepi danau aku saksikan pohon maple, liu dan bambu.

Banyak warga Kunming yang bersantai di danau. Terutama adalah kaum manula. Mereka berjoget bersama diiringi lagu dari tape recorder atau dari laptop yang disambungkan ke pengeras suara. Beberapa dari mereka juga menyanyi diiringi alat-alat musik tradisional. Ramai dan bahagia.

Jalanan di Kota Kunming tidak semuanya lebar. Seperti kota di pengunungan pada umumnya, banyak jalanan di Kota Kunming yang sempit dan berkelok. Namun meski padat jalanan tidak menyesakkan. Di kiri kanan jalan dimanfaatkan untuk usaha. Ada yang buka rumah makan, ada yang buka usaha potong rambut, toko kelontong dan sebagainya. Di salah satu jalan, satu sisi digunakan untuk pasar sayur dan buah-buahan.


About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *