Nil Undercover

Bisyri Ichwan


“Syarmutoh”. Kata ini adalah sebutan nama yang sangat tidak pantas di Mesir. Sebuah kata yang berarti “pelacur” atau orang Jawa menyebutnya “senok”. Setiap negara tentu memiliki masalah yang hampir sama tentang masalah prostitusi, termasuk Mesir. Di catatan kecilku ini, aku hendak berbagi pengalaman saja, bukan membahas tentang sesuatu yang berat-berat tentang masalah per”syarmutoh”an. Kejadian ini berawal dari Sungai Nil.

Nil malam hari yang menyimpan misteri (ilustrasi/foto : Bisyri)

“Markib..”, seorang bapak paruh baya menawariku perahu ketika aku berjalan di tepian Nil malam tadi, sekitar jam 10 malam. Aku jalan santai sambil menenteng aqua di tangan kiriku dan kwaci di tangan kananku sambil sesekali memegang hp dan membuka internet sebagai obat agar tidak ‘kecelek’ karena di depan, belakangku banyak sekali para muda mudi yang membawa gandengan masing-masing yang sedang santai menikmati panorama Nil.

“Bikam ya hag?”, aku bertanya pada bapak itu berapa harga sekali jalan. Dia memberi isyarat dengan beberapa jarinya dan menunjukkan angka tiga. “Likulli nafar?!”, “tiap orang?!”, “aiwah”, iya, katanya. Ternyata hanya tiga pound, bahkan bapak itu menjelaskan, bisa satu jam lho naik perahunya. Aku tertarik juga dengan tawarannya dan memutuskan untuk turun ke Sungai Nil dengan perahu yang sudah siap untuk berputar-putar.

Dasar orang Mesir, musik dari sound system dengan suara keras sekali dan suara pecah sangat memekakkan telingaku ketika aku memasuki perahu. Lumayan ramai juga ternyata, ada beberapa cewek dan banyak cowok yang sudah menunggu, aku duduk agak mendekat dengan seorang pemuda Mesir. Aduh, tepat di depanku duduk, ada tiga orang cewek dengan gayanya yang tidak seperti gaya layaknya cewek Mesir biasanya.

Satu cewek dengan gayanya yang terlentang dan memakai baju you-can-see dengan asyiknya menyedot rokok, aku kurang tahu rokok apa, yang pasti dia seksi sekali. Bagaimana aku tidak mengintipnya, dia berada tepat di depanku. Satunya lagi dia memakai kerudung, tapi jangan salah, dia duduk di atas kursi perahu dengan kaki seperti layaknya geng cowok dan terlihat gagah sekali.

Sementara teman cewek yang satunya seperti menggoda. Dia egal egol berjoget mengikuti irama musik sambil sesekali menghisap rokoknya. Dalam batin aku hanya mengingat seperti apa yang pernah dikatakan Omar sahabat Mesirku. Sesekali aku memandang tingkah laku mereka yang terasa berbeda, tetapi lebih sering aku mengalihkan perhatian dengan membaca berita terkini di Kompas.com dan mengupdate bacaan di Kompas cetak hari ini dan langganan bacaanku adalah “Aku Mata Hari”.

Dasar! Godaan itu bukan malah berkurang tapi malah bertambah, persis dekat tempat dudukku ada perahu lain dan di sana ada beberapa cewek Mesir juga dengan beberapa orang lelaki. Musik yang diputar di perahu adalah miliknya Saad Sugoyyar, penyanyi Mesir yang sangat khas dengan Mesir lokal dan memang asyik jika dibuat joget tari perut.

Lagi-lagi mereka memperlihatkan keahlian perut mereka untuk bergoyang. Ya, penasaran membuatku sedikit menikmati penampilan mereka dan melanjutkan membaca kisah “Aku Mata Hari” di Kompas kembali ketika Mata Hari menggandeng sang Jendral dan meninggalkan dua orang temannya yang satu dari Perancis dan satunya dari Jerman.

Ya, aku teringat dengan banyak cerita dari Omar yang mengatakan bahwa di kawasan Nil ini katanya memang banyak sekali “syarmutoh” jalanan. Himpitan ekonomi selalu menjadi alasan bagi mereka untuk menjajakan diri. Ciri-ciri mereka mudah ditebak dari sikap dan cara berpakaian. Mereka memang tidak seseronok senok-senok yang pernah aku temui di jalanan Siam, Thailand. Banyak dari mereka yang malah masih memakai kerudung. Aneh!.

Kebanyakan dari syarmutoh-syarmutoh itu berasal dari satu wilayah di Giza. Aku tidak akan menyebutkan nama wilayah itu di sini, cukup aku katakan bahwa wilayah itu terletak di Giza dan masih dekat piramid.  Di sana hampir satu kampung berprofesi sebagai “syarmutoh”, untuk mencari bookingan sangat mudah sekali. Tapi, melewati jalanan di sana pertama kali akan sangat heran, karena penduduknya juga hampir berkerudung semua.

INilah Mesir, semua bisa ditemui. Negara ini adalah negerinya para nabi yang dekat dengan agama, tetapi perlu diingat juga, negara ini juga pernah melahirkan sosok yang menentang agama yang dibawa nabi dan itu jumlahnya tidak sedikit. Bisa jadi, potret itu adalah salah satu fenomena keturunan mereka.

Sejenak, ketika penumpang perahu penuh. Perahu berjalan mengitari Sungai Nil dengan pemandangan malam minggu yang menakjubkan. Di atasnya, seakan negeri ini adalah negeri surga. Di pojok sana sini banyak lelaki berkhalwat dengan perempuan, di pojok restoran apung banyak para orang kaya yang sedang asyik ngobrol dengan keluarga dan koleganya. Ya, kawasan ini memang surga dunia.

Pernah aku sesekali mencoba berjalan bersama Omar dan setiap melewati kawasan Nil ini, selalu saja dia memberikan informasi kepadaku tentang fakta adanya “syarmutoh-syarmutoh” itu. Dia memperlihatkan kepadaku sambil menunjuk-nunjuk seseorang  yang sedang mangkal di pinggir jalan dan kebanyakan sambil dengan nikmatnya menghisap sebatang rokoknya.

Malam tadi, aku tidak tahu, apakah ketiga perempuan yang duduk tepat di depanku adalah seorang “syarmutoh”, aku tidak mau berburuk sangka. Yang jelas, sikap mereka berbeda dengan sikap yang selama ini aku mengerti dari cewek Mesir. Hedonis, setidaknya itu yang bisa aku tangkap dari cara mereka bertiga. Tetapi bagaimanapun juga, aku tidak bisa memvonisnya.

Entahlah, malam tadi aku memang sedang suntuk dan hendak seperti biasanya, ketika malam tiba aku pergi ke Nil untuk sedikit mengurangi kesuntukan itu dan ternyata aku kurang menikmatinya. Aku berlari dari kesuntukan dan menemukan sesuatu yang membuat hatiku berperang ketika melihatnya, ketiga perempuan di depanku menjadikanku berfikir akan fenomena yang terjadi di Nil ini yang sering diceritakan Omar padaku.

Pertunjukan telah usai dan aku turun dari perahu belum ada satu jam. Tidak ada keinginan lain selain langsung pulang ke rumah. Aku berjalan dari Nil dan menyeberang dari jalan raya menuju terminal di belakang museum tempat mumi Fir’aun Ramsis II bersemayam. Di dalam bus, aku berfikir, di bulan suci belum tentu orang yang menemuinya bisa mensucikan diri.

—————————————–

Hanya catatan kecil ketika bulan ramadhan sebagai bentuk refleksi diri.

Salam

Bisyri Ichwan


Ilustrasi: peridezgarden blogspot, photobucket

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.