[Obrolan Ruang Guru] Dasar Laki-laki

Probo Harjanti


Bel istirahat pertama berdentang nyaring, siswa-siswa SMP Harapan Maju berhamburan keluar kelas, menuju tempat yang berbeda-beda. Yang paling banyak tentu menuju kantin, sebagian antri di depan kamar mandi. Lainnya lagi ke perpus, kopsis, juga UKS .

Di ruang guru kursi-kursi mulai terisi, obrolan mulai mengalir. Dimulai dengan yang rutin yaitu tingkah polah anak-anak di kelas yang baru saja dimasuki (diajar), sampai isu terhangat. Apa lagi kalau bukan perkara duit, hanya saja duit yang dimaksud adalah duit yang sudah dijanjikan tapi tidak jadi keluar. Uang makan! Semua angkat  suara menyuarakan kejengkelannya. Tetapi keriuhan itu segera terhenti dengan masuknya Bu Diyah, guru IPS yang sudah beberapa waktu absen mengajar karena sakit. Makanya, kedatangannya disambut dengan hangat.

“ Aduh Bu  Diyah ……. Syukur sudah sembuh, kangen banget nih!” Jerit Bu Arna sambil memeluk Bu Diyah. Yang lain bergantian menyalami dan memberi pelukan hangat.

“ Iya Bu, lama sekali ya tidak ketemu, hampir sebulan ya, eh…..malah lebih.” Bu Retno menimpali, sambil memijit-mijit tangan Bu Diyah yang sedang menikmati sambutan hangat rekan-rekannya.

“ Sudah sembuh bener nih Bu?” tanya Bu Arna setelah acara teletubbies (peluk-pelukan) selesai.

“ Jangan memaksa diri lho Bu, banyak-banyak istirahat biar cepat pulih” timpal Bu Hening, “Pekerjaan di rumah juga jangan ngaya, kan anak-anak udah gede”

“ Gede badannya aja Bu anak-anakku, untuk kerjaan nggak pernah gede”, jawab Bu Diyah

“ Kan masih ada suami”  Bu Rita menambahkan

“ Ya…….apa lagi suami, jadi anak kecil kalau urusan sakit”

“ Masa sih? Emang ceritanya gimana?” Bu Hera yag baru datang dari TU ikut nimbrung.

“ Gimana nggak kayak anak kecil coba, saya sudah nggak kuat bener, makanya saya minta diantar ke rumah sakit mana saja, saking nggak tahan. Eh….dia malah suruhan anak saya yang terkecil, anak saya pun tidak segera beranjak ambil motor, baru setelah saya teriak dia ambil motor. Coba masih kuat pasti saya berangkat sendiri”. Bu Diyah cerita sambil memberengut, rupanya ingat waktu sakit dan dirawat di rumah sakit. Memang sakitnya parah sampai-sampai koma dan membuat teman-temannya cemas bukan main.

“ Masa sih Bu?”, Bu Hera belum percaya.

“ Namanya laki-laki, kadang emang gitu, badannya gede kumisnya caplang, tapi begitu melihat darah, ciut deh nyalinya. Jangan kan darah istri melahirkan, anak kena pisau aja nggak berani nolong, malah teriak-teriak nggak karuan!” Bu Hening yang dari tadi diam ikut komentar.

“ Emang bener kok, laki-laki kadang kayak anak kecil, ra dhongan, masak suruh ambil baju anak saja nggak becus. Saat bungsuku sakit dan harus opname, suami saya minta ambil baju, eh…. anak saya diambilkan baju-baju yang sudah butut, kekecilan lagi. Makanya saya sampai telepon Bu Ari pinjam baju anaknya yang kebetulan seumuran, habis minta tolong suami malah bikin jengkel” Bu Rita menambahkan. Akhirnya obrolan semakin seru tapi beralih topik. Memang para suami sering tidak ‘ngeh’ kalau dimintai tolong istri. Maklum biasanya yang main perintah kan suami, nah saat istri sakit barulah cerita-cerita lucu dan menjengkelkan muncul. Jangankan mencari barang yang memang tersembunyi, yang ngegla alias  cetha welawela aja nggak bisa, malah menambah jengkel.istri. Kalau sudah begitu kegagahanya kan berkurang, atau malah hilang.

“ Iya…ya. Dulu waktu saya melahirkan, saya kan lupa tidak bawa rok dalam, padahal dasternya tipis, jadi saya minta tolong suami supaya diambilkan rok bawah. Eh…….yang dibawa bukan rok dalam, tapi bawahan, masa saya pakai daster dalamnya rok?” Bu Hera mengingat-ingat cerita lalu, saat melahirkan anak pertama.

“ Dulu, waktu saya jatuh dan nyaris gegar otak, suamiku juga mbawain bajunya nggak karuan” Bu Retno ikut berbagi cerita, “Lha wong bangun aja nggak boleh kok dibawain gamis, kan susah makainya, mana bahannya panas lagi. Belum lagi lingkar lengannya kecil, dan masih diinfus, jadi makin susah aja. Padahal saya sudah  wantiwanti supaya dibawain bawahan dan kaus, biar gampang dan enak dipakai!”.

“ Saya jadi ingat saat saya sakit kemarin. Saya kan belum sempat bawa baju ganti, saat minta tolong supaya dibawakan baju rumah yang panjang eh…. dibawakan atasan banyak tapi tanpa bawahan. Sudah gitu saya suruh anak sulung untuk beli daster saja di toko dekat rumah sakit, eeeee… dia beli daster kekecilan, sudah gitu model anak muda lagi, itu lho yang tanpa lengan. Addduh….. bener-bener deh, kalau perempuan sakit ibarat kapal tanpa nakhoda.” Bu Diyah geleng-geleng kepala.

“ Tapi kadang-kadang perempuan juga yang membuat seperti ini,” Bu Tatik yang masih single urun suara.

“ Yang belum pengalaman dilarang bicara!” ledek Bu Arna.

“ Lho siapa bilang belum pengalaman, saya kan melihat kakak saya. Dulu abang saya tuh biarpun cowok tapi rajin sekali. Nah setelah menikah jadi malas gara-gara dilarang istrinya. Mau cuci piring katanya kasihan masa laki-laki cuci piring, mau cuci baju juga nggak boleh. Mau bantu-bantu nyimpenin barang juga nggak boleh. Jadi waktu dimintai tolong melakukan sesuatu dia udah banyak yang lupa, karena terbiasa diladeni.” Bu Tatik menjawab dengan yakin.

“ Benar juga ya…….lantas enaknya gimana ya……?” Bu Arna mendesah perlahan.

“ Kalau menurut saya baiknya suami tetap diberi porsi pekerjaan rumah tangga. Biar ikut merasakan repotnya pekerjaan rumah tangga, dan lagi kita kan memang sangat terbantu. Karena kita kan juga harus kerja. Kalau kita perempuan rumahan mungkin nggak terlalu repot. Lagi pula pekerjaan kan tidak memiliki jenis kelamin, kita aja yang suka men-cap ini pekerjaan lelaki, ini pekerjaan perempuan, ya kan?” Bu Hening menyahut pelan.

Semua terdiam oleh kata-kata Bu Hening, diam tapi membenarkan apa yang dikatakan. Sebenarnya kaum lelaki bukannya tidak mau membantu, hanya banyak yang tidak tahu bantuan macam mana yang dibutuhkan istri. Kalau istri minta tolong pasti mau. Memang kaum lelaki harus diberitahu, atau diminta, jangan berharap tahu sendiri, nyaris nggak ada laki-laki yang ngerti dhewe. Coba saja diingat-ingat, saat suami pulang kantor, dia ingin istirahat, jadi tidak ngerti saat istri ternyata mengharapkan bantuan suami. Sementara istri yang minta bantuan tidak berterus terang karena berharap suami ngerti apa maunya istri, dari situ biasanya muncul konflik yang dimulai dari saling jengkel, bicara pedas, dan bisa merembet ke mana-mana.

“ Makanya jangan suruh saya segera menikah ya, nanti saja kalau sudah ketemu pria yang dapat ngerti dhewe aja, he….he…” Bu Tatik merasa menang untuk urusan yang satu itu, merasa punya alas an untuk menikmati kesendiriannya.

Saat bel masuk berdentang semua segera masuk kelas masing-masing, untuk kembali ke tugas utamanya. Mencerdaskan anak-anak bangsa, tak lagi ingat urusan suami yang ra dhongan tadi.

Nogotirto 2007

93 Comments to "[Obrolan Ruang Guru] Dasar Laki-laki"

  1. probo  8 February, 2011 at 23:41

    baca komen urut ternyata enak banget,
    jadi bukak2 tulisan eh komen tulisan lawas…..
    kemelen dw …..

    makasih ya admin….jadi lebih enak baca komennya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.