Bajo – Ruteng – Bajawa (5)

Abhisam DM


27 Agustus 2009

Siang hari, meninggalkan Bajawa menuju Ende, aku membayangkan jalan berkelok yang pendek-pendek –momok itu- mestinya tidak separah sebelumnya sejak dari Bajo, Ruteng, sampai Bajawa. Tapi ternyata aku salah, jalan dari Bajawa ke Ende tidak kalah kejamnya.

Aku mencoba untuk berlagak terbiasa dengan jalan berkelok yang pendek-pendek ini. Kata orang berpikir positif bisa mengurangi beban. Sayangnya, rumusan itu tidak berlaku bagiku. Setidaknya untuk kali ini. Tanjakan, turunan, kelokan pendek-pendek, jurang, bukit, hutan, kebun, mencipta pusing dan mual. Baru ketika sampai di pantai laut Sawu di kecamatan Nangaroro pusing dan mual berkurang. Barangkali karena pemandangannya yang indah.

Aku baru tahu, ternyata ini kabupaten yang berbeda. Bukan Ngada yang beribukota Bajawa, pun bukan Ende yang beribukota di Ende. Ini kabupaten baru, kabupaten Nagekeo, yang secara resmi dimekarkan dari Ngada tahun 2007. Jadi Ngada ke Ende melewati satu kabupaten. Tadinya kupikir hanya berpindah kabupaten saja.

Sama seperti perjalanan  dari Ruteng (kabupaten Manggarai) ke Bajawa (kabupaten Ngada). Sebelumnya kupikir hanya berpindah kabupaten saja, tapi ternyata melewati satu kabupaten, yaitu Manggarai Timur yang baru dimekarkan dari Manggarai secara resmi tahun 2007. Aku teringat blog seseorang yang mengeluhkan minimnya informasi tentang Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Flores. Benar juga, pikirku.

Dua kecamatan di kabupaten Nagekeo sudah kulewati, kecamatan Nangaroro, dan sebelumnya, kecamatan Boawae. Di Nangaroro mobil berjalan menyusuri pantai. Sore hari. Matahari terlihat tua, tapi belum senja. Lidah-lidah gelombang menjilati daratan. Sebagian membentur karang di pinggir-pinggir pantai. Pecah, berpencar, lalu menyatu lagi. Di kejauhan tampak pulau-pulau bersebaran di tengah laut Sawu. Aku melihat ke atas. Langit biru putih. Sepertinya langit lebih cerah di sini. “Mana bisa begitu?” Aku tertawa sendiri.

Aku tidak ingat kapan persisnya mobil mulai masuk kabupaten Ende. Tapi yang kuingat beberapa saat sebelum masuk kota, ada satu perkampungan di pesisir pantai dengan masjid yang lumayan besar. Perkampungan Bugis, tebakku. Biasanya begitu, perantauan-perantauan Bugis memenuhi tepi-tepi pulau Flores.

Kot Ende tidak terlalu rapi, tidak terlalu bersih juga. Dibanding Ruteng dan Bajawa jauh sekali. Aku sengaja memilih hotel terdekat dengan situs Bung Karno. Menurut informasi seorang teman, Hotel Dwi Putra yang terdekat. Dari Dwi Putra ke situs Bung Karno jalan kaki tidak sampai sepuluh menit.

Hampir pukul setengah enam sore. Setelah check-in dan bertanya kepada satpam hotel, segera aku menuju ke situs Bung Karno. Mumpung hari masih cukup terang. Benar saja, dekat sekali. Tidak sampai sepuluh menit, hanya lima menit barangkali, aku sudah sampai.

Bekas rumah pengasingan Bung Karno kecil saja. Rumah tua, bangunan Belanda. Jelas sekali. Di sebelahnya ada warung kecil, aku bertanya di situ.

“Wah, yang jaga tidak ada. Besok pagi saja,” kata orang di warung.

“Sudah tutup ya pak?”

“Mmm, tidak juga sih. Yang jaga itu tidak jelas, buka jam berapa tutup jam berapa tidak pernah jelas. Semaunya sendiri. Beda sekali dengan bapaknya dulu.”

“Beda bagaimana, pak?”

“Kalau bapaknya dulu rajin sekali. Seperti ada greget menjadi juru kunci rumah ini. Anaknya sekarang, wah…”

Aku manggut-manggut.

“Kalau mau besok pagi saja, pak. Panggil pakai ojek. Paling bayar Rp. 20 ribu.”

“Kalau dipanggil pakai ojek sore ini tidak bisa ya, pak?”

“Sebenarnya bisa, tapi ini kan sudah mau buka puasa.”

Aku melirik ke jam tangan. Ya, sudah setengah enam lewat sepuluh menit.

“Kalau besok pagi enaknya jam berapa, pak?”

“Jam delapan, atau jam sembilan, bisa.”

Aku mengingat-ingat jadwal pesawatku ke Kupang besok pagi. Kalau tidak salah jam sepuluh. Berarti check-in jam sembilan, dan aku harus berangkat dari hotel paling tidak jam sembilan kurang lima belas menit. Mepet sekali waktunya. Sebenarnya bisa saja aku check-in jam setengah sepuluh, tapi terlalu riskan mengingat penerbangan keluar Pulau Flores sedang sulit. Jika sampai ada masalah dengan penerbangan besok pagi bisa-bisa aku tertahan di Flores sampai bulan September.

“Tidak bisa lebih pagi, pak?”

“Mau jam berapa?”

“Jam enam, atau jam tujuh mungkin?”

“Coba saja, pak. Orangnya kan memang begitu, angin-anginan.”

“Tidak bisa dipastikan ya?”

“Begitulah. Bapak sampai kapan di sini?”

“Besok pagi saya sudah harus ke Kupang.”

“Lho, saya pikir mau menginap di bekas rumah pengasingan Bung Karno?”

“Wah, tidak mungkin, pak. Saya hanya mau lihat-lihat saja.”

“Bapak dari Jawa kan?”

Aku mengangguk.

“Biasanya orang dari Jawa yang ke sini menginap sampai dua-tiga hari. Ritual di dalam rumah Bung Karno. Ada yang katanya dapat keris, batu akik, macam-macamlah.”

Aku tersenyum sambil berpikir sendiri. Ritual-ritual seperti itu memang lekat sekali dengan kultur Jawa dan tidak jarang menjadi kontroversi. Tapi sudahlah, aku tak ingin ikut larut dalam kontroversi. Aku teringat kata Gus Mus, “Saya tidak berani menilai keislaman dan keberagamaan orang lain; apalagi mengkafirkan dan menghalalkan darah orang. Jangan-jangan ketika saya menyalahkan orang, ternyata hakikatnya dalam pandangan Allah justru sayalah yang sesat. Karena kebenaran yang mutlak hanya milik Allah sendiri, saya sangat takut memutlakkan kebenaran pendapat saya.”

Memang awalnya aku sempat “tergoda” untuk menanggapi masalah ritual di dalam rumah Bung Karno. Beruntung aku ingat kata-kata Gus Mus itu. Beliau, yang keulamaannya diakui secara luas, saja bersikap begitu, masak iya aku yang bukan siapa-siapa berani menilai keislaman dan keberagamaan orang lain. Aku jadi malu sendiri.

“Memang banyak ya orang Jawa yang datang kemari?”

“Banyak sekali, seringkali.”

“Rutin ya, pak? Maksud saya, selalu ada saja yang datang kemari?”

“Iya, betul. Ada juga yang ke danau tempat Bung Karno biasa berendam, tapi tempatnya cukup jauh dari sini.”

“O, begitu.”

Adzan maghrib berkumandang. Di Kota Ende penduduk muslim lumayan banyak sepertinya. Sejak perjalanan tadi aku melihat cukup banyak masjid dan spanduk-spanduk yang membentang jalan berisi ucapan selamat menjalankan ibadah puasa. Aku lalu mohon pamit.

Kembali ke hotel. Badanku letih sekali. Sejak tanggal 19 Agustus mendarat di Labuan Bajo, sekarang ini berarti sudah hari ke sembilanku di Pulau Flores. Semua kabupaten di pulau ini sudah kupijak –Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende- kecuali dua; kabupaten Sikka (ibukota Maumere) dan kabupaten Flores Timur (ibukota Larantuka). Menurut informasi, pesawat besok pagi ke Kupang transit di Maumere. Kalau benar begitu, berarti hanya tinggal satu kabupaten saja di Pulau Flores yang tidak kupijak.


28 Agustus 2009

Hari kesepuluh di Pulau Flores. Sehabis subuh sebenarnya aku ingin menyempatkan waktu berkeliling kota Ende. Tapi kekuatanku seolah habis. Apalagi semalam aku tidur malam sekali, menulis dan merapikan pekerjaan dari kantor. Aku juga belum packing. Beginilah kalau hanya transit, waktu menjadi lebih sempit rasanya.

Sejak awal aku memang tidak bermimpi ke Danu Kelimutu, danau tiga warna yang kabarnya pertama kali ditemukan oleh orang Belanda bernama Van Such Telen tahun 1915. Lagi-lagi ini masalah transit dan waktu yang sempit. Danau Kelimutu terlalu jauh dari kota Ende, sekitar tiga atau empat jam. Itu baru sampai ke desa Kaonara. Dari desa itu ke puncak Kelimutu masih harus jalan kaki 2,5 km. Untuk pulang pergi kota Ende-Danau Kelimutu, termasuk menikmati pemandangan di sana, setidaknya aku harus punya waktu sepuluh jam. Tidak mungkin.

Itu mengapa aku mengincar situs bekas rumah pengasingan Bung Karno. Pertama, mencoba bersikap realistis. Kedua, dasarnya aku memiliki ketertarikan lebih pada sejarah. Dalam matematika pariwisata nilai Danau Kelimutu jelas lebih tinggi dibanding situs Bung Karno. Jauh bahkan. Tapi dalam matematika sejarah, setidaknya buatku, itu terbalik. Situs Bung Karno sejak dari Bajawa memang telah menggetarkan hatiku.

Dalam hal ini aku bersepakat dengan salah seorang politisi yang sempat datang kesini sebelum Pemilu kemarin; melakukan pendalaman sejarah, betapa menderitanya salah satu founding fathers bangsa ini dalam pengasingan. Lalu mencermati hal-hal kecil yang sering terlewat; bagaimana Bung Karno hidup, makan, minum, mandi, buang air, tidur, dan sebagainya.

Hidup dalam pengasingan jelas tidak mengenakkan. Padahal Ende hanyalah salah satu tempat dan masa pengasingan Bung Karno selain Bengkulu, Berastagi, Prapat, dan Bangka. Kata seorang teman, jangan dulu terlalu jauh membayangkan susahnya hidup dalam pengasingan. Bayangkanlah jika kantor menempatkan kita di sebuah tempat yang jauh dari keluarga, saudara, dan teman. Itu saja sudah memberatkan, apalagi hidup dalam pengasingan. Pendapat temanku masuk akal juga, menurutku. Lagipula hidup dalam pengasingan tidak jelas pekerjaan dan penghasilannya, tidak dapat “rumah dinas” yang layak pula tentunya. Jaman dulu pun belum semaju sekarang teknologinya dimana transportasi dan komunikasi sangat terbatas. Hidup dalam pengasingan betul-betul penuh penderitaan, tapi Bung Karno, Sang Proklamator, salah satu founding fathers bangsa ini, telah melewati semua ujian itu.

Bulan Januari 2008 melintas di ingatanku. Soeharto wafat dengan prosesi pemakaman yang sungguh spektakuler. Presiden memimpin upacara, bendera Merah Putih dibentang di atas peti mati yang ujungnya masing-masing dipegang oleh KSAL, KSAU, KSAD, dan Panglima TNI. Para pejabat dan mantan pejabat negara menyemut di Astana Giri Bangun. Para pengusaha ternama juga. Hebatnya lagi, mereka semua rela berjalan kaki, bahkan berjalan naik menapak tangga demi tangga sebelum bisa sampai ke kompleks pemakaman.

Media massa tersihir dan bersikap seperti tak punya berita lain, semuanya tentang kematian Sang Penguasa Orde Baru. Dokter-dokter papan atas sebelumnya sibuk dalam usaha memperpanjang hidup Soeharto dengan peralatan-peralatan medis muktakhir. Begitu juga tim pembela yang luar biasa gigih melakukan pembelaan atas berbagai tuduhan kejahatan yang dialamatkan pada Soeharto.

Bandingkan dengan Bung Karno. Tanpa pembela, tanpa dokter yang layak, dan nyaris tanpa penghormatan saat ajal menjemputnya. Kepada mas Iman Brotoseno, ijinkan saya mengutip utuh tulisan dalam blog Anda. Semoga Anda tidak keberatan.


Soekarno – Sejarah yang tak memihak

Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat-saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang Proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.

Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak (almarhum) sedang menangis sesenggukan, “Pak Karno seda“ (meninggal). Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir (dulu KKO). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono – Panglima KKO – pernah berkata, “Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO.“ Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas mahasiswa dan pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya Mayjend. Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah. The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor. Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya – Mayjend Amir Mahmud – disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. Buru-buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.

Het is niet meer mijn huis “ – sudahlah, ini bukan rumah saya lagi, demikian Bung Karno menenangkan istrinya. Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.

Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin – Gubernur Jakarta – yang juga berasal dari KKO Marinir.

Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak. Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin ber-AC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik-jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia!

Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah. Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.

Namun Pemerintah Orde Baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah Proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor. Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota. Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.

Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, “Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan.
(Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966)

dr. Kartono Mohamad, yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.
(Kompas, 11 Mei 2006)

Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, “Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad.
( Kompas 13 Januari 2008 )

Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden!

Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh-roh kebenaran? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir-tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah. Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.

Kesadaran adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Perjuangan adalah pelaksanaan kata kata
(* WS Rendra)

Perdebatan bisa dibentang panjang tentang kelebihan dan kekurangan Soekarno maupun Soeharto. Tapi persoalannya bukan itu. Bangsa ini sungguh timpang perlakuannya. Okelah jika perlakuan terhadap Soeharto didasarkan pada bangsa ini telah belajar dari sejarah, atau, atas dasar bangsa ini sudah lebih bisa memaafkan, tentu tidak masalah. Bagus bahkan. Tapi keyakinanku tipis sekali soal itu.

Entahlah. Sebelas hari lewat dari tujuh belas agustus. Di Ende, aku merasa Merah Putih tidak berkibar utuh, hanya setengah saja dari tiap-tiap tiangnya.

Aku dalam perjalanan menuju bandara H. Hasan Aroeboesman. Sempitnya waktu dan keterbatasan fisik setelah dalam sepuluh hari menyusur daratan pulau Flores, dari Labuan Bajo sampai Ende, membuatku tidak sempat menikmati kota Ende. Tidak juga di situs Bung Karno. Tapi setidaknya sudah cukup menyaksikan rumah kecil itu dari luar, sama seperti ketika aku ke rumah Bung Karno di Blitar yang hanya sempat mengobservasi dari luar saja. Mungkin lain waktu ada kesempatan ke Ende lagi dan masuk ke rumah tersebut.

Setelah check-in di bandara, aku ingin buang air kecil. Toilet hanya ada di ruang tunggu, dan untuk bisa masuk ke situ harus membayar airport tax lebih dulu.

“Dengan asuransi totalnya dua puluh ribu, pak,” petugas bandara berkata padaku.

“Dengan asuransi dua puluh ribu?”

“Iya pak, dengan asuransi totalnya dua puluh ribu.”

“Asuransinya tidak harus, bukan?”

“Saya kan hanya menawarkan pak, kalau dengan asuransi totalnya dua puluh ribu, kalau hanya airport tax saja sepuluh ribu.”

“Jadi airport tax sepuluh ribu, asuransi sepuluh ribu?”

“Betul, pak.”

“Saya bayar airport tax-nya saja.”

“Terserah bapak, saya hanya menawarkan asuransinya kok,” petugas bandara berkata dengan muka masam dan nada tidak enak.

Aneh, kenapa dia yang jengkel, pikirku. Apa tidak terbalik. Justru aku yang merasa “dijebak”. Kalimat, “Dengan asuransi totalnya dua puluh ribu, pak,” adalah pernyataan, bukan pertanyaan. Mereka yang jarang terbang bisa jadi tidak tahu. Tapi sudahlah. Beberapa bandara di Nusantara ini memang suka begitu. “Modus”nya sama; asuransi atau donasi dijadikan satu paket dengan airport tax. Di Makasar dan Palu seingatku juga begitu. Donasi Pemda dijadikan satu paket dengan airport tax, kesannya donasi jadi keharusan. Donasi kok harus, aneh. Jumlahnya memang tidak terlalu besar. Tapi ini bukan persoalan jumlah.

Setelah dari toilet, aku duduk di ruang tunggu sambil membayangkan Maumere, konon kota teramai di Flores. Menurut informasi tadi, penerbangan Ende ke Kupang akan transit di Maumere. Dan yang lebih menggelikan buatku adalah penerbangan Ende ke Maumere hanya 15 menit. Tak pernah terbayang olehku sebelumnya terbang secepat itu. Namun kegelian itu seketika berubah ketika aku teringat cerita tentang tsunami di Maumere tahun 1992. Gempa berkekuatan 6,8 SR yang menyebabkan tsunami setinggi 36 meter dan mengakibatkan 2000 orang lebih meninggal dunia. Aku terlempar pada tsunami di Aceh, dan terutama gempa di Jogja dimana aku mengalaminya sendiri. Ngeri. Aku segera memupus semua ingatan buruk itu.

Tak terasa sudah hampir jam sepuluh. Pesawat belum terlihat, padahal jadwal penerbangan jam sepuluh. Harusnya sekitar dua puluh menit sebelum jam sepuluh para penumpang sudah boarding. Ini sudah hampir jam sepuluh pesawat malah belum landing. Wajarlah. Di kota-kota besar saja penerbangan sering delay, apalagi di sini.

Tiba-tiba bandara menjadi ramai. Orang-orang berhamburan, berdesakan keluar dari dalam bandara. Aku bingung. Karena bingung aku hanya mengamati saja. Tidak ada teriakan memang, tapi orang-orang tampak bergegas. Aku terus mengamati.

Lama-lama tidak kuat juga aku menahan penasaran. Seorang penjaga kantin di bandara terlihat tenang. Ia adalah satu dari sedikit orang yang tersisa di dalam bandara. Aku menghampiri dan bertanya padanya, “Nona, ada apa?”

“Gempa, pak.”

“Hah, gempa?”

Nona itu mengangguk.

“Saya kok tidak merasa apa-apa ya?”

“Iya pak, saya juga.”

“Tapi betul gempa?”

“Iya, kata orang-orang begitu.”

Aku tidak merasakan getaran apa-apa. Sungguh. Setelah beberapa saat dan orang-orang mulai masuk lagi ke dalam bandara, aku bertanya pada security. “Tadi gempa ya, pak?”

“Iya, betul.”

“Kencang, pak?”

“Tidak juga, tapi terasa agak lama gempanya.”

“Oh… Seberapa lama?”

“Satu menit, mungkin lebih.”

Cukup lama juga, tapi aku sungguh tidak merasakan getaran apa-apa. Aku masih ingin bertanya banyak sebenarnya, tapi terdengar suara kencang…


to be continued


Artikel sebelumnya:

Bajo – Ruteng – Bajawa (1)

Bajo – Ruteng – Bajawa (2)

Bajo – Ruteng – Bajawa (3)

Bajo – Ruteng – Bajawa (4)

13 Comments to "Bajo – Ruteng – Bajawa (5)"

  1. uchix  9 July, 2012 at 23:21

    Miris kalau membaca hari-hari terakhir bung karno, kok bisa ya suharto sekejam itu T,T

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.