Anggrekku, oooohhh Anggrekku…

Nunuk Pulandari – Belanda


Als de orchideeën bloeien, Dan denk ik terug aan jou ..

Sebuah lagu lama yang mengingatkan saya pada bunga-bunga Anggrek yang sedang bermekaran di ruang bawah. Menanam Anggrek adalah salah satu hobby berat saya. Seperti teman-temin lihat, untuk menyalurkan hobby ini saya memakai  plus minus 40% dari ruang yang ada.  Bahkan meja makanpun dikorbankan untuk tempat pot-pot  Anggrek… “Lhoo, teruuusss, makannya di mana” : Anda bertanya…

Tidak menjadi masalah. Biasanya kami mengundang tamu hanya weekend  saja dan itupun ke rumah di dekat Den Haag. Untuk sehari-hari, kalau kami di utara , makan nya di meja bundar ala Jepang  yang ada di depan t.v… Ingat kalau sedang  camping. ..Ha, ha, ha..  Atau duduk di kursi sofa yang ada…. Kami relax sekali kok.

Untuk mendapatkan  bunga yang indah sebetulnya tidaklah terlalu sukar. Yang saya lakukan hanya memberinya “minum” setiap awal Weekend. Sebulan sekali “minumannya”  ditambah dengan pupuk . “Hal penting” yang selalu saya lakukan di pagi hari hanya mengucapkan: “Goedemorgen”. ..

Rupanya bunga-bunga bisa merasakan betapa besarnya perhatian yang ada… Kadang , karena saya terlalu lama ngutak-utik Anggrek terdengar juga komentar di belakang saya: “Ja, ja, je moeder houdt niet meer van mij” (Ibu kamu tidak lagi cinta saya). Itu komentar kontjo ngadjeng sambil guyon karena saya lupa buat teh..Ha ha, haa (Foto bawah: Catleya)


Dengan asumsi bahwa teman-temin sudah tahu jenis-jenis ini, sengaja saya tidak sertakan nama-namanya. “Kok mbingungaké toch nduk,  jenengé angel-angel tenan” (kok bikin bingung saja, namanya banyak benar) : Kata eyang dulu di Jakarta..

Teman-teman, memandangi bunga Anggrek memberikan keasyikan tersendiri. Selintas kadang hanya terlihat warna ungu saja. Tetapi kalau diperhatikan lebih lanjut akan terlihat bedanya. Misalnya titik-titiknya yang lebih halus, lebih banyak. Atau garis-garisnya lebih panjang dan berwarna putih atau merah. (lihat 2 bunga  kuning di meja)

Teman-temin beberapa minggu yang  lalu saya membaca di salah satu koran  tentang sulitnya untuk mendapatkan kembali beberapa jenis Anggrek Bulan besar, warna putih di tempat habitat asalnya. Rupanya semua sudah dipindahkan dan dikembangbiakan di Belanda dan di negeri barat lainnya ya? Memang sih akhir-akhir ini terutama di Belanda boleh dikatakan bahwa menanam Anggrek sudah tidak asing lagi. Misalnya dari 5 rumah di deretan depan dan 5 lainnya di sebelah rumah saya, yang menanam  Anggrek di belakang  “vensterbank”nya )   ada 7 rumah..

Menggelembungnya minat masyarakat untuk menanam bunga Anggrek bisa dilihat dari semakin mudahnya kita bisa membeli. Untuk memperolehnya, untuk yang jenis bunga Anggrek Bulan biasa, kita bahkan bisa membelinya di toko-toko swalayan. Tidak perlu lagi pergi ke “tuincentrum” pusat penjualan keperluan berkebun. Harganya sangat bergantung pada jenis dan jumlah tangkai bunganya. Misalnya jenisnya Anggrek Bulan yang berwarna kuning dengan lidahnya yang berwarna merah dan dalam satu pot ada dua tangkai harga per potnya bisa mencapai 17.50 euro. Kalau yang berwarna putih (tanpa ciri-ciri khusus) bisa lebih murah. Plus minus 7.50 – 12.50 E

Untuk bunga Anggrek Catleya (lihat tiga foto di atas) masih jarang yang memilikinya. Selain harganya yang menurut saya masih cukup mahal, juga untuk mendapatkannya, kita biasanya harus pergi sendiri ke tempat pengembang biakan Anggrek yang lokasinya cukup jauh dari daerah perkotaan. Untuk sekedar gambaran saja. Satu Anggrek Catleya biasanya dijual paling murah plus minus 30 euro.

Kalau saya berceritera tentang Anggrek saya jadi ingat waktu masih punya Anggrek di sekeliling kebun di Jakarta duluuuuu. Untuk ukuran saat itu tanaman Anggrek saya sudah cukup banyak. Karena saya punya 3 balai-balai bertingkat yang  cukup besar untuk menempatkan pot-pot. Pusingnya muncul waktu saya dan anak mau berangkat ke Hawaii.. Harus di kemanakan? Setelah dipikir dengan masak-masak, akhirnya semua bunga berikut balai-balainya dijual… Na, uangnya bisa dipakai  beli ticket Jakarta-Honolulu vice versa, untuk dua orang…. Tapi itu duluuuuuu lhooooo… Kalau sekarang ya saya belum tahu….

Teman-temin banyak orang masih percaya bahwa untuk berhasilnya tanam-menanam bunga Anggrek dan bunga Mawar, diperlukan dua “groene handen” tangan hijau. …. Kalau anda melihat tangan saya, warnanya ya normal-normal saja… Tidak hijau.. Yang hijau hanya matanya saja. Ha, ha, haaa.  Terutama  kalau melihat uang nganggur… Ha, ha, haaaa… Soalnya pengin beli Anggrek teruuuusssss….

Teman-temin beberapa hobby saya, seperti  baca, masak, menanam Anggrek,  menari sudah menular pada kedua anak saya, Birrutte dan Lei. Sore ini saya baru melihat Birrutte demo tari Salsa dan Bachatan di Bursa Perlengkapan Pernikahan. Pot- pot bunga Anggrek pun sudah mulai berjejer di  appartemennya.  Lei  juga idem dito.  Kalau hobby membaca memang sudah sejak kecil. Jadi pepatah yang mengata kan bahwa: “De appel valt niet ver van de boom” (Buah apel jatuh tidak akan jauh dari pohonnya) maksudnya : sifat, kebiasaan sang anak tidak akan jauh berbeda dengan orang tuanya, memang sering kita jumpai. Untuk itu mari kita bimbing anak-anak kita dengan cara bermain bersama.  Sehingga secara tidak langsung mereka akan memperhatikan dan belajar dengan senang hati. Tanpa merasa dipaksakan.

Semoga di kemudian hari  hobby-hobby anda bisa ditularkan pada putera dan puteri anda.

Untuk teman-temin  yang hobby menanam Anggrek ada satu tips kecil agar Anggrek anda selalu segar.  Letakkan dalam “emmer” ember atau “waskom”  tempat cuci besar, dengan air yang cukup banyak , di dekat tanaman Anggrek anda, agar kelembaban udara di sekitarnya selalu terjaga.  Mari kita lestarikan Anggrek milik Indonesia…..Semoga tidak diserobot oleh negara tetangga kita.

Selamat menanam Anggrek en de groeten.  Nu2k

28 Comments to "Anggrekku, oooohhh Anggrekku…"

  1. nunuk wijayanti  4 May, 2013 at 16:08

    mbak nunuk, anggreknya cantik2 sekali, saya tertarik banget, belinya di mana ya?
    saya juga hobi menanam anggrek tapi tidak selengkap yang mbak punya,
    kebetulan juga nama kita sama ya.

  2. budiraharjo  29 May, 2011 at 10:37

    maturnuwun mbak, saya sdh baca pebgalaman Anda tentang tanaman anggrek.
    banyak manfaat yang saya peroleh dari pengalaman Anda. Saya juga pingin menanam anggrek di kawasan lereng Gunung Merapi yang berhawa sejuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.