Gaul, Hati-Hati Jadi Mak atau Pak Comblang

Dian Nugraheni


Tersebutlah satu kisah, di negeri berjuluk Lokapala, dengan Rajanya, seorang yang sangat “linuwih” alias sangat pandai, sangat berilmu tinggi, bernama Begawan Wisrawa. Sang Begawan, mempunyai putra bernama Prabu Danareja, yang saat itu sedang gundah gulana. Dan setelah usut punya usut, ternyata, rasa gundah gulananya itu karena sang Prabu Danareja sedang merindukan seorang putri bernama, Dewi Sukesi.

Dewi Sukesi, seorang wanita yang berparas sangat cantik, dan agak disayangkan, sang Dewi ini merasa, kalau dirinya memang cantik. Maka, dirinya sendiri meminta, bahwa nantinya, lelaki yang berhak meminangnya adalah lelaki “unggulan”, sakti mandraguna, dan berilmu tinggi, dan untuk itu, sang calon peminang harus bersedia diuji, dengan cara mengalahkan sang Paman, Arya Jambumangli, yang juga, sakti mandraguna tak terkalahkan.

Pepatah orang Jawa, anak polah Bapa kepradah, ternyata berlaku di sini. Begawan Wisrawa, tak tega melihat anaknya, Prabu Danaraja bermuram durja berkepanjangan karena merindukan dewi Sukesi, maka, sang Bapak, Begawan Wisrawa ini bilang pada anaknya, sang Prabu Danareja, “Don’t worry, buddy…, Daddy akan berangkat ke Alengka, melamarkan Dewi Sukesi, dan akan Daddy bawa ke Lokapala bagi dirimu, my sweet little boy…! Bersiaplah untuk menyambutnya, Daddy berangkat, ya..”

Begawan Wisrawa berpamitan pada istrinya, Dewi Lokawati dan kepada anaknya Prabu Danaraja, kemudian berangkat ke Alengka untuk melamar Dewi Sukesi.

Ayah Dewi Sukesi, bernama Sumali, adalah sahabat sang Begawan Wisrawa, maka, setelah diadakan pembicaraan lebih lanjut, maka terbitlah MOU, bahwa demi menghindari pertumpahan darah, tidak dilakukan perang tanding antara Arya Jambumangli dengan Begawan Wisrawa. Dan sebagai gantinya, sesuai porsi Sang Begawan sebagai Ksatria yang linuwih berilmu tinggi, Dewi Sukesi minta diajarkan tentang makna Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Singkat cerita, Sang Begawan Wisrawa yang dalam hal ini adalah Pak Comblang, mengajaarkan tentang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Alias bagaikan Sang Guru mengajarkan ilmu kepada Sang Murid…

Tahukah apa yang terjadi selanjutnya, wahai kawan-kawanku semua…? Ternyata, yang namanya manusia, tempatnya khilaf, adalah tepat, tak terbantahkan. Di sini diceritakan bahwa Sang Guru dan Sang Murid malah terlibat Cilok, alias cinta lokasi, yang mengakibatkan dewi Sukesi hamil. Dan, diceritakan pula, karena kehamilan dewi Sukesi ini hanya berdasarkan nafsu doang, maka nantinya dewi Sukesi dan Begawan Wisrawa akan mempunyai anak yang sangat buruk kelakuannya, salah satu anaknya yang terkenal adalah Sang Rahwana alias Dasamuka…* Dalam kisah ini, upaya pencomblangan, tidak berhasil….

Itu hanya kisah yang aku petik dari sebuah kisah pewayangan. Mengenai apakah itu nyata atau nggak.., waduhh, sulit untuk membuktikannya.

Tapi aku juga pernah baca kisah, di jaman ketika Nabi Muhammad masih hidup, bahwa ada seorang sahabat Nabi yang pergi sebagai Duta, atau utusan, untuk melamarkan seorang wanita, yang nantinya akan diperuntukan bagi  seorang sahabatnya, tapi akhirnya si wanita bukannya jatuh cinta pada laki-laki yang berhasrat memperistrinya, tapi si wanita ini malah jatuh cinta pada sang Duta, sang Utusan, sang Pelamar. Dalam hal ini, upaya pencomlangan juga tidak berhasil…

Begitu juga dalam pergaulan kita sehari-hari, mungkin kawan-kawan juga punya pengalaman serupa, bahwa niat semula menjadi Comblang, malah akhirnya “dimakan” sendiri…hehe.. alias.., pencomblangan yang tidak berhasil pula…

Kenapa bisa jadi begitu yaa.., mungkin karena akhirnya yang dicomblangin sama si Comblang nih malah jadi dekat, komunikatif, saling terbuka, saling curhat, dan seterusnya…

Juga mungkin antara kedua pihak akhirnya saling melihat, kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan ini menimbulkan rasa “jatuh cinta”.. Walah.., nek kayak gitu wes, gak sah nyariin calon lain, lebih baik “embat sendiri’…hehehe…

Ya nggak apa-apa kalau si Comblang dan yang dicomblangin sama-sama single, sama-sama bebas, belum beristri dan belum bersuami…, payahnya, Comblang mencomblang ini kadang melibatkan orang-orang yang sudah saling berpasangan…

Apakah profesi Comblang ini mengandung ‘curse’ atau kutukan…hixixixi…ada-ada aja…

Wokey dokey, nggak banyak kata deh…

Pengen dengar share dari kawan-kawanku semua, baik pengalaman pribadi maupun apa yang pernah dilihat di sekitar kawan-kawan…

Salam Comblang menComblang…


Virginia, the virgin land

Dian Nugraheni

Minggu, tanggal 26 September 2010, jam 4.08


* aku petik dengan kata-kataku sendiri, dari buku ANAK BAJANG MENGGIRING ANGIN oleh SINDHUNATA, diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2003


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Dian Nugraheni. Make yourself at home, semoga kerasan ya. Terima kasih Dewi Aichi, satu lagi yang diperkenalkan ke Baltyra. Ditunggu sharing yang lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.