Pindah

Bagong Julianto – Sumatera Selatan


Sebuah Catatan Pribadi: Tentang Pindah, Bonsai dan Anjing Kampung

PINDAH, JANUARI 2010

Keputusan telah dibuat. Pindah. Berubah dan mengubah gaya hidup. Dari kebon ke kota. Dari mendapat gaji, sekarang menggaji. Untuk sekedar menyenangkan hati (sendiri): dari diatur (dan mengikuti peraturan), sekarang mengatur (dan mencoba membuat peraturan demi keteraturan). Senang? Puas? Mudah mempertanyakan namun sulit menjawab, ternyata! Persoalannya bukan senang tidak senang, puas tidak puas. Berubah adalah sesuatu yang wajar dan pasti. Peran, fungsi, irama hidup, apapun berubah namun toh hidup dan kehidupan ini pasti dan tentu sudah ada Sutradaranya. Tinggal menjalani saja. Tentu ada pakem, pola, aturan dan peraturan main. Main dan mainkan saja namun jangan main-main.

Bersama seorang kenalan yang akhirnya seperti jadi adik, Markus Wonowi (Wong Cino Betawi), kami membuka bengkel mobil di Sekayu. Semula ada ide untuk membuka toko asesori mobil dan sepeda motor. Pada tiga bulan pertama, akhirnya terbukti bahwa permintaan pelanggan lebih banyak pada jasa bengkel dan spare parts.

Persiapan kanopi sewa ruko untuk bengkel di Kayu Are-Sekayu-Muba


Team Awal, terjemahan ngawur membawa berkah (FAS=bengkel SJM)


Satu saat, ketika luas halaman kerja tidak dapat menampung pelanggan. Hallo, bisa bantu?


BONSAI

Saat pindah, adalah saat yang sepenuhnya mengaduk rasa, pikir, niat dan kemampuan. Pasti ada yang harus direlakan untuk ditinggalkan. Tidak semua mesti dibawa. Tidak sedikit yang tidak bisa diangkut. Kalau dipaksakan, pengalaman menunjukkan: akan jadi korban sia-sia. Peralatan rumah tangga. Buku dan majalah. Ternak. Tanaman. Calon bonsai dan bahkan bonsai adalah satu contoh yang mendilema. Seberapapun yang kami angkut, calon bonsai dan bonsai yang sudah ada pasti mengalami kerusakan bentuk dan penampilan. Tentu butuh waktu untuk perbaikan. Pasti bisa. Yang penting ada kemauan.

Jumlah bonsai dan bakalan bonsai yg hingga puluhan tentu butuh luasan lahan yang tidak sedikit.  Saat pindah dari Riau ke Sumsel, masih dapat  fasilitas rumah dinas perusahaan berhalaman luas. Namun begitu memutuskan untuk berhenti, maka satu hal realistis yang harus dilepaskan  adalah kebutuhan mendapatkan halaman luas untuk bakalan bonsai.

Bonggol dan bakalan (calon) bonsai di sela tanaman pisang rumah-kebun-sawah Heri Sekayu


Bonggol dan bakalan bonsai di seputar sumur gali tanah


Sebagian calon bonsai beringin


Bakalan bonsai dominan beringin


Heri siap menyiram bakalan bonsai


Bakalan bonsai beringin yang menonjolkan batang dan akar


Bakalan gaya bonsai raksasa beringin


ANJING KAMPUNG

Keputusan untuk meninggalkan hewan piaraan adalah satu hal sulit yang harus direlakan. Bruang dan Jacky, dua anjing kampung bapak-anak, setidaknya telah mendapat Bapak baru di kebun, sementara si Belang, isteri Bruang dan ibu si Jacky dilaporkan kembali ke habitat semula di kerimbunan sawit. Saya yakin dia selamat dan mampu bertahan. Sejauh ini saya tidak mendengar adanya komunitas penikmat daging anjing di seputar kebun. Mudah-mudahan saja.

Tidak sampai setengah tahun waktu berlalu, saya mendapat ganti Bruang, Jacky dan Belang. Ini adalah nasib dan rejeki yang tidak kuasa saya tolak. Saya mesti berelasi dengan anjing kampung! Namun bukan sebagai pemilik, cukup sebagai sekedar penyantun saja. Anjing kampung ini milik seorang tetangga di belakang ruko kontrakan kami, Heri, wong Sekayu asli. Heri pula yang kini merawat sebagian sisa bakalan bonsai saya. Sungguh, jumpa-perkenalan-pertetanggaan dan persaudaraan dengan Heri, yang usianya dua tahun di bawah saya, bukan sekedar satu kebetulan saja. Berkali-kali dan tak putus Sang Sutradara Kehidupan mengindahkan hidup kami. Saat saya butuh halaman untuk merawat bakalan bonsai, Heri menyediakan lahannya. Heri tinggal dan berkehidupan di rumah panggung di halaman tengah sawah-kebun milik keluarganya.


Rumah papan keluarga Heri: bersahaja dan (semoga) berbahagia, Jitu menjaga dan mengawasi


Perek digelayuti Pitung, Kusut, Jablai dan Inang. Potongan drum untuk bakalan bonsai

Sebulan dua bulan kenal Heri yang selalu dikawal Jitu, Perek isteri si Jitu pula melahirkan enam ekor anak. Kebahagiaan Heri, tentu juga kebahagiaan saya. Sekali lagi jadi Kakek. Hmmm, Kakek anjing.

Tentang si Jitu, anjing kampung ini benar-benar setia dan hanya menuruti Heri. Kali pertama jumpa, kiat liur dan keringat di tangan yang saya sodorkan ke muncungnya sebagai salam kenal dan penjinakan tidak langsung diterimanya. Justru seringai enggan dan marah diperlihatkannya. Dia tahu perasaan dan niat yang dulu juga saya berikan ke Bruang. Lebih empat tahun bersama siang malam, menjadikan Jitu bersetia hanya pada Heri. Saya harus tahu diri. Niat saya menjinakkannya saja dan tidak berhasrat memilikinya. Tidak mungkin! Pemilik ruko yang kami sewa sudah menyampaikan sikap: tidak boleh piara anjing!

Jitu sejenak rehat di atas rumah bersalin Perek. Jitu selalu siaga satu di depan rumah-pos jaganya

Satu bulan berlalu, dua ekor anak Jitu-Perek dihibahkan Heri ke familinya. Tetap sebagai anjing penjaga kebun. Tentang nama (Jitu, Perek, Inang, Jablai, Kusut dan Pitung), sungguh itu sebutan yang sesukanya saja. Tidak berakiran Y semacam Brondy, Pretty dan ataupun Jacky. Itu anjing kota besar.

Layaknya anak-anak: bermain-main terus dan mencium-endus semuanya


Jablai, bukan jarang dibelai tapi justru tidur dikeloni si Mila, anak tunggal Heri


Mila mengakrabi Jablai, si coklat satu-satunya (lainnya hitam) di antara  enam anak Perek

Heri rajin mengumpulkan sisa makanan dari warung tenda seafood di seputar Kayu Are setiap malam untuk ransum Perek dan Jitu. Dalam masa menyusui ini, Perek demikian rakus dan tetap berbadan kurus, demi  memanjakan anak-anaknya. Potongan tulang ayam, ikan lele dan seplastik nasi bekas dihabiskan malam hari. Sesekali di pagi hari, saya mengantar potongan tulang sop sapi, ikan, tulang ayam, sisa soto dan apapun jatah makan karyawan bengkel yang tidak dihabiskan.

Bagaimanapun juga berat nian tugas Perek menyusui empat ikok cucu kami. Sebagai kakek, kami bangga melihat cucu kami demikian montoknya. Perek belum membolehkan anak-anaknya merebut dan mengerubungi jatahnya. Siapapun yang mendekat langsung diusir angkat dengan muncungnya. Nyata sungguh, kaidah ASI (air susu ibu) eksklusif diikutinya dengan tertib. Alami dan alamiah. Instinktif. Yang jelas: sehat dan menyehatkan.

Pindah dan berubah, ternyata alamiah juga. Berani berkehidupan dan berpasrah diri karena yakin selalu dan akan tetap diperbaharui oleh Sang Sutradara Kehidupan. Mengakrabi lingkungan dan mendapat banyak hal, itu pula sesuatu yang pasti. Namun tentang bonsai dan anjing kampung?! Itu adalah bonus! Mesti disyukuri dan jadi sarana untuk berbagi…….

Sampunnnnnnnn. Suwunnnnnnnn. (BgJ, 092010)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.