Sahabatku Mayjen Moersjid, ‘calon’ pahlawan revolusi ke 8

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


MENGENANG 30 SEPTEMBER 1965

Sahabatku Mayjen Moersjid, ‘calon’ pahlawan revolusi ke 8

SAYA pernah bingung ketika membaca nama jalan yang aneh saya dengar. Namanya mirip nama pahlawan dari Rusia. Setahu saya jarang ada nama pahlawan dari Tirai Besi yang diabadikan di sini. Kecuali kalau kita ke komplek perumahan keluarga Angkatan Udara RI. Pasti ada nama jalan-jalan yang diambil dari jenis nama pesawat tempur, yang kebanyakan memakai nama pembuatnya. Nah, kebanyakan nama-nama itu berasal dari Rusia.

Nah, yang saya pernah tahu ada nama jalan bernama Jalan Tuparev. Tuparev? Kalau Tupolev memang ada. Nama pembuat pesawat supersonik versi Rusia Tu-144 (Tupolev 144) yang jauh lebih panjang, lebih besar dan lebih keren dibanding saingannya, Concorde, yang sudah dimakamkan di hangar-hangar Eropa.

Tuparev? Ternyata nama itu bukan nama pahlawan dari Rusia. Tetapi akronim (hobi orang Indonesia menciptakan akronim) dari kata TUjuh PAhlawan REVolusi. Jadi dipendekan menjadi Tuparev.

Wuah..tertipu saya… Ternyata memang ada Jalan Tuparev di daerah Pondok Bambu, tak jauh dari rumah saya ketika saya menetap di Kali Malang, Jakarta Timur. Artinya nama jalan itu adalah nama borongan dari tujuh nama pahlawan… Halaah….

Siapa saja Tujuh Pahlawan Revolusi itu? Saya juga bingung mengapa dinamakan pahlawan revolusi. Apanya yang revolusi? Kalau pahlawan buat mengenang revolusi bulan Agustus 1945, ya pantas. Nah, ketujuh pahlawan itu adalah:

1. Ahmad Yani, Jend. Anumerta

2. Donald Ifak Panjaitan, Mayjen. Anumerta

3. M.T. Haryono, Letjen. Anumerta

4. Sutoyo Siswomiharjo, Letjen Anumerta

5. Siswono Parman, Letjen. Anumerta

6. Suprapto, Letjen. Anumerta

7. Piere Tendean, Kapten CZI Anumerta

Saya tidak akan ceritakan siapa mereka dalam tulisan ini. Apalagi membahas latar belakang peristiwa paling kelam yang pernah ada dalam sejarah manusia di nusantara. Sudah banyak ditulis tentang peristiwa tersebut dengan berbagai versi dan sudut pandang yang semuanya ingin memancarkan kebenaran.


DELAPAN PAHLAWAN REVOLUSI?

Tujuh pahlawan revolusi adalah sebutan sangat ekslusif. Tidak bisa dan tidak mungkin ada pahlawan ke 8 atau ke 9 yang bisa masuk ke dalam lingkaran 7 pahlawan revolusi.

Sama halnya dengan kelompok musik terkenal asal Inggris, the Beatles yang dikenal dengan nama  julukan ‘The Fab Four’. Tetapi dalam perkembangannya ternyata ada orang ke 5 yang “masuk” dalam kelompok asal kota Liverpool itu. Namanya Billy Preston. Dia dijuluki “The Beatles Ke 5”, karena diajak bermain dan rekaman dalam kelompok musik sangat eksklusif itu.

Nah, sebenarnya untuk 7 pahlawan revolusi ada yang ke 8. Tetapi namanya tidak dikenal dan memang tidak diketahui oleh masyarakat. Namanya Mayor Jenderal Moersjid. Sewaktu terjadi penculikan terhadap beberapa perwira di hari 30 September 1965 malam, Moersjid luput diciduk dan dimatikan oleh penculiknya.

Bila berandai-andai… dan bila Moersjid tewas ikut diculik, kita punya 8 pahlawan revolusi. Bukan 7! Lalu mengapa dia tidak diculik? Wuah…jawabannya sangat rumit dan bisa sangat mudah.

Kalau rumitnya, ya mungkin saja ada persaingan dan perselisihan antara perwira waktu terjadi peristiwa itu. Mengapa jenderal A diculik? Kok jenderal B tidak? Mengapa jenderal C diculik? Bukannya jenderal D? Kalau itu jawabannya, saya tak bisa bercerita banyak dan akan mengundang pemahaman dan pembahasan panjang yang tak pantas saya sajikan dalam tulisan ini.


PENGGANTI YANI

Sewaktu terjadi peristiwa malapetaka 1965 itu, kedudukan Mayor Jenderal Moersjid adalah Deputy I (Operasi) Panglima AD di Markas Besar AD. Artinya, secara hirarkis Moersjid secara urutan harus menggantikan Achmad Yani, sang panglima, kalau sedang berhalangan. Teorinya, ketika Pak Yani dinyatakan tewas karena menjadi korban penculikan, maka Moesjid yang menggantikannya. Ternyata tidak!

“Dia tukang gelut”, kata Presiden Soekarno yang pusing tujuh keliling menghadapi peristiwa 1965 itu. Gelut itu artinya tukang berantem. Ada dua orang lagi yang mungkin, yaitu Soeharto dan Pranoto Resksosamudra. Kita tahu siapa yang menggantikan Yani dan akhirnya melesat ke atas kekuasaan selama 32 tahun.

Bagaimana Pranoto? Perwira kalem kurang ambisius dan kejawen ini, digeser juga tak disukai Soeharto dan nasibnya seperti biasa: ditahan tanpa salah. Pranoto sempat menjabat Panglima ABRI sementara antara Oktober 1965 sampai Februari 1966.

Lalu nasib Moersjid bagaimana? Dia disingkirkan pelan-pelan setelah peristiwa 1965. Dan seperti biasa: ditahan tanpa salah. Perwira penggemar rokok ini ditahan antara 1968-1974. Sempat diberi jabatan sebagai duta besar di Manila sebelum dibenamkan dari dunia militer, dunia yang dicintainya.


NO CIGARETTE NO WAR!

Mayor Jenderal Moersjid adalah sahabat ayah saya sejak pertengahan 1950an, ketika ayah saya mengenalnya dengan baik saat Moersjid berpangkat letnan kolonel ketika menumpas pemberontakan Permesta di Minahasa pada 1958. Selama meliput perang di sana, ayah menjalin  persahabatan dengannya, juga dengan Ali Sadikin, yang punya tugas sama dengan Pak Moersjid.

Waktu pun berjalan dan banyak terjadi perubahan dalam kehidupan masyarakat. Persahabatan ayah saya dengan Pak Moersjid agak terganggu dengan peristiwa 1965. Mereka berdua menjadi korban tak bersalah. Hanya saja dengan kapasitas dan masalah yang berlainan, namun intinya sama: ditahan tanpa salah.

Ketika saya baru masuk kuliah di UI Rawamangun tahun 1986, saya mencoba menghubungi teman-teman lama ayah saya, berdasarkan catatan dan dokumen ayah saya yang iseng-iseng saya baca saat senggang. Nah, saya tertarik dengan nama Pak Moersjid. Saya cari namanya di buku telepon. Dan namanya ada dengan alamat tinggal di daerah Menteng. Saya yakin ini pasti Pak Moersjid, sahabat ayah saya.

Saya layangkan surat ke alamatnya sesuai buku telepon dan dibalas. Wow! Ternyata beliau bersedia menerima saya untuk ngobrol di rumahnya. Mengapa beliau mau menerima saya yang masih ingusan? Karena mengingat persahabatan dengan ayah saya, yang menurutnya sangat baik dan dilandasi persaudaraan.

“Saya kenal baik ayah kamu”, katanya kepada saya di ruang tamunya. Saya datang seorang diri dan Pak Moersjid hanya mengenakan pakaian T-shirt lengan pendek dan celana pendek. Kami mengobrol lama dan panjang tentang masa-masa beliau masih aktif dan masih jadi tukang gelut dalam dunia militer Indonesia.

Kata ayah saya dalam catatannya, Pak Moersjid itu pendiam dan tak suka ngomong sama wartawan. “Moersjid doyannya bertempur”, tulis ayah saya. Moersjid-lah orang yang menjadi saksi tewasnya Yos Soedarso di Laut Aru saat merebut Irian Barat tahun 1962. Mungkin kasarnya, Pak Moersjid seperti merasa mendapat extacy kalau mengalami pertempuran. Makanya, Soekarno menyebutnya tukang brantem.

Begitu keras wataknya, sempat dia melayangkan kawat ke Jakarta ketika sedang bergempur habis-habisan melawan pemberontakan Permesta (pemberontakan yang ingin Jakarta membagi rejeki yang adil bagi daerah). Isi kawat cukup singkat, “No cigarette, no war!”. Mungkin kehabisan rokok dan mulut asem, dia kirim kawat seperti itu. “Saya tegas minta yang saya perlukan untuk perang, yaitu rokok”, katanya kepada saya.

Banyak hal yang diceritakan kepada saya tentang hal-hal yang saya tidak tahu pada masa-masa huru-hara 1965 dan sebelumnya. Sampai dia ditahan oleh Presiden Soeharto pun dia ceritakan. “Rambut saya sampai sebetis dan saya tidak potong dengan kumis yang panjang”, mengenang saat beliau ditahan 4 tahun oleh Orde Baru.

Setelah pertemuan tahun 1986, saya tidak aktif menghubungi Pak Moersjid, karena merasa sungkan dan menghormatinya. Pernah dalam sebuah acara kebatinan di sebuah hotel di Kebayoran Baru tahun 2002, saya bertemu kembali dengan Pak Moersjid. Juga bertemu dengan banyak teman-teman ayah saya yang dulu. Di antaranya Ibu SK Trimurti, Pak Roeslan Abdulgani dan Om Janto (Sujanto, teman baik keluarga saya, juga mertua sahabat kita di Baltyra, Anoew).

Anehnya  ketika tahun 2008, beberapa bulan setelah Pak Moersjid wafat, saya bertemu dengan rekan kerja untuk pembuatan sebuah iklan TV. Ternyata dia putri bungsu Pak Moersjid. Sejak itu saya makin akrab dengannya dan sering melontarkan joke-joke khas Pak Moersjid yang saya tahu kepadanya.

Nah, saya coba tanya ke putrinya mengapa ayahnya tidak diculik sewaktu peristiwa 1965.  Ya, seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, memang Moersjid nyaris diculik dengan alasan sangat politis. Namun ada jawaban sederhana untuk itu, sehingga bisa menjelaskan mengapa tidak ada pahlawan revolusi ke 8?

Seperti kita tahu, penculik yang menculik jenderal-jenderal malang itu, adalah prajurit-prajurit dari Jawa Tengah. Mereka tidak tahu medan Jakarta dan tidak tahu mengenal siapa yang akan mereka culik. Mereka hanya bertindak berdasarkan komandannya yang juga dari Jawa serta modal foto calon yang akan diculik. Buktinya, mereka keliru menembak Jenderal Nasution. Yang ditembak justru ajudanya, Kapten Tendean yang kebetulan mirip atasannya. “Saya Nasution”, kata Tendean dengan gagah beraninya membela Nasution. Dor!

Lalu mengapa Moersjid yang pendiam dan humoris itu luput diculik PKI?  Saya iseng tanyakan langsung ke putri kesayangannya yang juga teman baik saya. “Mengapa bapakmu tidak diculik?”, tanya saya.

“Yang nyulik nggak jadi, karena kesiangan datangnya”, jawabnya menirukan kata ayahnya. (*)



21 Comments to "Sahabatku Mayjen Moersjid, ‘calon’ pahlawan revolusi ke 8"

  1. gunawan yusuf  19 May, 2017 at 10:49

    salah satu anak beliau pa Rasyid adalah manajer ayah(alm) saya di Dairyville, salam buat beliau dari kel besar ayah saya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *