Jogja…ya…ya…ya…

Djoko Paisan – Mainz, Jerman


Hallo Sobat semua di dunia BalTyRa…

Salam jumpa dengan oret-oretan Dj. yang apa adanya ini….

Jogja…???  Ja..ja…ja…!!! (Yogyo…??? Yo…yo…yo…!!!) Hahahahahahaha…..!!!

Ingat, saat kami sampai di Jogja, kami teriak… Malioboro….!!! Wir kommen….!!! Ya…akhirnya kamipun sampai di Jogja yang penuh kenangan, baik buruk maupun senang. Setiap mudik, belum pernah kami lewatkan, kami selalu berkunjung ke Jogja.

Entah dari Semarang, kemudian Jogja, baru ke Surabaya, atau sebaliknya, namun Jogja selalu menjadi tujuan kami. Entah apa yang menarik untuk kami kunjungi, yang jelas banyak sekali kenangan di Jogja. Dari makan gudegnya, tidur di Sheraton Hotel yang mewah dan aneh (karena Hotelnya bukan ke atas, tapi ke bawah), juga pernah kena serangan jantung dan nginap di rumah sakit Bethesda. Tapi yang jelas  JL. MALIOBORO sangat berkesan untuk keluarga Dj. , jelas Candi Prambanan dan Borobudurnya.

Olehnya kali ini kami memilih tidur di Ibis Hotel Malioboro, yang mana sangat dekat dengan Jl. Malioboro. Dan Ibis Hotel juga dihubungkan dengan Mal Malioboro, jadi untuk anak-anak sangatlah strategis.

Keesokan harinya, matahari sudah bersinar terang, saat kami buka gorden, jendela yang mengarah ke jalan Malioboro. Sambil ngulet di belakang jendela (bu Gucan….apa itu ngulet dalam bhs. Indonesianya???), Dj. sambut pagi yang indah dengan ucapam syukur dan teriak…..SELAMAT  PAGI  JOGJA….!!!

Setelah sarapan, kamipun segera menuju ke jalan Malioboro dan kami menikmati uyel-uyelan di Malioboro, yang benar-benar fenomenal…. Unik….!!! Tidak ada di tempat yang lain, adanya hanya di Jogja…!!! Aroma kota Jogja dan kadang bau pesing dan dengan pemandangan yang aneh dan lucu untuk kami. Setiap penjual menawarkan dagangannya dan ingin agar orang yang slweran di depan mata, mau membeli. Susipun tidak cape-capenya mengarahkan Video Cam’nya dari sejak kami keluar hotel sampai ujung jalan.

Setelah ikutan desak-desakan di Malioboro, maka tujuan kami hari itu, adalah Candi Prambanan, atau Candi Sewu atau Candi Rorojonggrang…maaf kalau salah. Kebetulan anak asuh Dj. yang di Jogja dan ayahnya datang ke hotel, olehnya kami ajak sekalian.

Kami sedikit kaget saat distop, karena pintu masuk Candi ini hanya untuk turist asing saja. Haaach….????!!! Gubraaaaaak….!!!! Hampir saja terjadi diskusi yang cukup keras, namun Dj. bertanya, mengapa dibedakan…??? Mereka bengong, mungkin takut salah jawab.

Dj. mulai mendongeng….Di Afrika Selatan, mereka berjuang agar hak pribumi disama ratakan dengan kulit putih. Lha ini kok malah bangsa sendiri, yang menghendaki adanya perbedaan…..??? Apakah kita ini masih dalan jaman penjajahan orang asing, katanya sudah 65 tahun merdeka, lha kok malah mempersulit bangsa sendiri….???

Dan Dj. berkata, hal ini akan Dj. tulis di koran…!!! Maka keluarlah seorang laki yang mungkin pimpinannya atau apa dan meminta maaf, dan berkata…Kami ini hanya pekerja saja pak, biarlah kami belikan ticket bapak dan yang turist Indonesia, ke loket yang di sana. Begitu Dj. bayar ticket untuk Susi dan Daniel dan datang ticket untuk Dj. adik Dj. dan anak asuh Dj. serta ayahnya. Maka kami boleh masuk lewat pintu untuk tourist asing dan benar prasangka Dj. didalam rumah tersebut, ada banyak fasilitas yang mana di loket untuk turist pribumi pasti tidak ada apa-apanya.

Saat masuk kedalam ruang tunggu, ada Kulkas dan boleh minum air Aqua sepuasnya, ada teh, kopi dan ya…bahkan kue. Dan Susi bilang WC nya bersih dan modern…..Dj. hanya bisa ngelus dada saja….ooooh…Indonesia, kapankah kita benar-benar merdeka…???

Ini photo, Dj. ambil saat sudah keluar, karena saat mau masuk, belum tau kalau pintu masuk untuk tourist asing. Menurut Dj. (Maaf kalau salah) seharusnya, malah turis asing harus mau sama dengan kita. Kan ini di negara sendiri dan Candi ini milik rakyat Indonesia, bukan milik Malaysia….!!! Aneh kan…???

Saat masuk dihalaman Candi Prambanan, ternyata dalamnya sama saja dengan yang bayar murah…Hahahahahaha….!!!

Ini saat adik Dj. (topi merah) cerita di mana Jogja ditimpa gempa dan banyak batu candi yang berjatuhan. Sambil menjatuhkan diri, olehnya Susi langsung pegang itu batu. Adik Dj. bertanya, kok batunya yang dipegangin, kok bukan aku…?? Susi jawab, takut kalau batunya menimpa kamu…..hahahahahaha….!!!!

Daniel yang sedikit lelah dan minta 5 menit istirahat di bawah pohon.

Daniel beli blangkon dan lihat-lihat parang, tapi takut beli, karena pemeriksaan di Frankfurt sangat ketat.

Setelah cape di Prambanan, maka kamipun pulang ke hotel dan makan sore di Mal Malioboro. Coba Pizza Hut ala Indonesia…Pesan 4 loyang dimakan berenam….

Kalau di Mainz, kami makan pizza, satu orang satu loyang….Tapi ya….orang bilang, lain ladang lain belalang, lain kota lain pula pizzanya…hahahahaha….!!!

Di sini Daniel (di Super Market di Mal) sangat gembira, menemukan kembali Cake OREO. Terlihat dari wajahnya yang berseri dan keheranan menunjuk ke kaleng cake. Dia selalu memuji, bahwa di Indonesia lebih bagus daripada di Mainz….. hahahahaha…!!!

Sore harinya, kami mengantar Daniel ke Malioboro lagi, karena dia bilang lihat topi dari kulit dan sangat murah. Dan dia beli sekalian dengan sarung tangan yang dari kulit yang mana ujung jari-jarinya terbuka (kelihatan).

Kami sangat menikmati musik jalanan yang sangat menarik di Jalan Malioboro.

Walau suara itu sudah kami dengar saat di Hotel…Hampir 30 menit lebih kami tertegun menyaksikan ketrampilan dan suara yang langka kami dengar.

Malamnya, kami diundang makan oleh teman yang sudah seperti saudara, (seorang dosen di UGM) di salah satu rumah makan yang sangat antik, tapi juga sekaligus romantis, sedikit remang-remang. Makanan Jawa asli.

Pagi harinya, setelah sarapan di Hotel, maka kami segera menuju ke Mal. karena hanya melangkahkan kaki beberapa langkah saja, maka kami sudah di dalam Mal. Puji TUHAN…!!! Ada baju batik keris yang mana bisa kembaran dengan Daniel.

Kami menyewa andong, dokar atau delman, karena Daniel ingin mencoba mengendarainya. Dan yang aneh, jarang delman yang berkuda dua, kebanyakan hanya satu kuda. Dan sang kusir sangat baik, sehingga Daniel diperbolehkan mengendarainya.

Kami menuju ke Kantor post pusat, untuk mencari tempat menukar uang. Dan kami melalui monument penutup ban becak, yang menjadi ciri khas Jogja.

Sebelum ke Kali Kuning, maka kami sempatkan untuk makan gudeg. Tidak disangka, untuk makan gudeg Mbarek di Bu Hj. Amad, harus menunggu, karena semua meja penuh. Untung hanya 5 menit nunggu, sudah ada tempat bagi kami. Sebelum makanan datang, kami sudah dihibur dengan suara bapak pengamen yang sangat merdu. Beliau sedikit atau sama sekali buta (kurang tau), tapi suaranya sangat merdu. Jelas Dj. minta lagu ” Bengawan Solo “, karena belum dikarang lagu ” Bengawan Jogja  ” hahahahaha…!!!

Nah di Restaurant bu Hj. Amad ini benar-benar suangat uenak makanannya, tidak ada yang tidak enak. Sampai Dj. nambah….hahahahahaha….!!! Tapi bukan nasinya, hanya lauknya saja, terutama kering tempenya.

Kamipun sampailah di Kali Kuning, di mana dibangun “Bunker” untuk melindungi masyarakat dari ancaman G. Merapi apabila meletus. tapi (ceritanya) malah para penolong yang melarikan diri ke Bunker tersebutlah yang akhirnya menjadi korban, entah berapa puluh jiwa.

Mungkin Bu GuCan yang tinggal di Jogja, satu saat bisa menulis tentang bunker ini dan beringin putih. Kami tidak sempat melihatnya, karena takut Susi kecapean dan sakit lagi.

Mendengar cerita tersebut, (Ttg Bunker ini) maka Daniel minta ijin untuk turun dan berdoa di bawah.

Inilah bekas kios dan warung yang tertimpa lahar dari letusan Gunung Merapi. Kami yang di sana saat itu, sempat merinding melihat keadaan di sekitar kali Kuning.

Di Gardu di Kali Kuning. Daniel gandeng mamanya, turun dari Kali Kuning…

Dari kali Kuning, maka kami meneruskan ke Kali Urang, sayang hujan deras, olehnya kami hanya lewat saja.

Sesampainya kami di Jogja, maka kami segera menuju ke Restaurant “Bumbu Desa” di Jalan Kartini. Karena 2008 kami pernah ke sana (bersama mbak Sekar). Restaurant ini selain bagus, bersih dan enak makanannya.

Ternyata sang pemilik, adalah tetangga rumah sebelah di Semarang. Jadi kami malah bernostalgia…Kalau sedang liburan ke Jogja, Dj. hanya bisa menyarankan, silahkan coba makan di Bumbu Desa. Pasti anda akan ke sana lagi, apalagi bagi yang tinggal di L.N. pasti akan ketagihan….hahahahaha….!!!!

Nah ya kami datang sebelum jam makan malam, tapi karena Susi belum makan siang, hanya makan cake saja. Maka dia cukup lapar dan olehnya dia minta agar kami makan di Bumbu Desa.

Setelah dari Bumbu Desa, kami kekenyangan dan pulang ke Hotel, bleg seg….ngorok….hahahaha…!!!

Nah sobat juga pengasuh di BalTyRa yang budiman semuanya, Mudah-mudahan cerita di atas tidak membosankan. Buanyak sekali photo yang Dj. ambil, ini sengaja Dj. cari yang jelek untuk dikirim disini, agar tidak selalu dipuji….hahahahahaha….!!!

Apalagi dimas Josh Chen sudah kasi lampu ijo…..dan photo Daniel sengaja Dj. tayangkan lebih banyak, agar tidak jadi rebutan, silahkan ambil mana yang disukai, dengan harapan Mea dan Nuchan bisa puas…..Hahaahahahaha….!!!

Maafkan Dj. kalau cerita di atas membosankan, apalagi kalau ada kata-kata yang tidak berkenan, maaf ya.

Adakah anda semua baca / lihat perbedaan antara cerita di Jogja ini dengan cerita sebelumnya…???

Jelaskan…???

1. Si Eva sudah tidak ikutan, karena sudah pulang ke Mainz duluan, sudah harus mengajar.

2. Di Jogja, tidak ada dari kami yang sakit dan tidak perlu ke rumah sakit.

Kami boleh menikmati liburan di Jogja dengan suasana yang menyenangkan.

Mengapa demikian…??? Jelas, karena tahun 2003 Dj. sudah masuk rumah sakit Bethesda, untuk kami sekeluarga… (soktau.com)

TERIMAKASIH…. PENGASUH   BALTYRA….!!!  TERIMAKASIH  ANDA SEMUANYA…..!!!

Anda semua begitu bersabar menemani oret-oretan Dj. Setelah baca cerita di atas, Dj. harap anda semua semakin sehat, semakin diberkati oleh TUHAN Yang Maha Pengasih.

Salam manis dari Mainz, untuk anda semuanya…


Tschüüüüüüßß……!!!!

Dj. 813



About Djoko Paisan

Berasal dari Semarang. Sejak muda merantau ke mana-mana, Bandung dan Sulawesi dirambahnya. Benua Eropa adalah tempatnya berlabuh setelah bertemu dengan pendampingnya di Jerman. Dikaruniai 2 putra dan 1 putri, serta 3 cucu. Keluarga besar Paisan bergaung ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.