Kuno? Modern?

Anwari Doel Arnowo


Suatu saat seseorang mengatakan kepada temannya bahwa si G yang sudah berumur itu kuno, baik jalan pikirannya maupun cara hidupnya. Padahal tidak ada seorangpun yang pernah mengamatinya telah melihat sesuatu halangan berupa apapun  yang menyebabkan dia mengambil sikap hidup seperti itu.

Dari kecukupan pemilikan uang tunainya serta kecerdasan otaknya, dia memang memilikinya. Tetapi dia tetap tinggal di kediamannya yang duapuluhan tahun yang lalu dan juga tidak pernah membeli mobil lain, selain yang telah dimilikinya sejak sepuluh tahun yang lalu. Dia sekalipun tidak segan menggunakan kendaraan umum. Berbahagiakah G?? Saya melihatnya dia biasa-biasa saja. Pergi ke luar negeri dia pergi juga pernah ke mana-mana, ke dalam negeri dia juga pernah ke mana-mana. Pergaulan sosialnyapun lumayan luas.

Jadi apa pasal? Tak ada!!

Yang jelas dia menggunakan barang-barang yang amat berguna bagi dia. Misalnya saja, saya melihat telepon genggamnya juga model yang lama dan dia bisa mengendalikan semua urusannya hanya dengan barang itu.

Semua urusan beres sama persis seperti beresnya semua urusan seorang anak muda, si H, yang menjadi eksekutip sebuah perusahaan besar.

Anak muda yang gajinya sekitar dua puluh juta Rupiah sebulan itu, menggunakan juga telepon genggam, tetapi yang paling modern dan paling mutakhir. Mengendarai mobil sedan yang 2000 cc dan mempunyai sebuah rumah di sebuah kompleks perumahan yang sedikit di luar pusat bisnis.

Profil anak muda yang seperti ini amat diidamkan oleh banyak anak muda yang lain pada jaman sekarang. Ada rumah, ada mobil dan ada peralatan elektronik agar dapat disebut sebagai seorang yang sukses. Bedanya, anak muda ini kalau memang hanya itu pendapatannya dalam sebulan, maka dapat dipastikan akan adanya keterikatannya dengan yang disebut dengan istilah pawn the future – menggadaikan masa depan. Barang-barang yang dimilikinya dan digunakannya dalam hidup sehari-hari itu hanyalah barang ambil sekarang dan bayar kemudian, dan urusan bunga uang adalah masalah mudah.

Kata Bank yang membiayainya biasanya adalah: anda membayar sesuai dengan kemampuan anda, tentukan sendiri besarnya uang muka dan angsurannya setiap bulan. Di negara Kanada ada banyak sekali penawaran barang dengan kata-kata membujuk: No payment until 2008!! Tidak disebutkan dengan gamblang bahwa, apabila telah jatuh tempo membayar pembayaran awal, maka besarnya nilai pembayaran akan ditambah dengan bunga-bunga yang tertunggak, sehingga menjadi bunga berbunga. Bahwa bunga yang lebih tinggi itu akan dikenakan mulai Januari 2008 apabila ada uang angsuran yang tertunggak. Dia memutuskan membeli ketika dia terbuai oleh kata-kata manis bahwa dia tidak usah membayar satu senpun sampai tahun 2008.

Anak muda itu kalau bernasib baik dan karier terus menanjak stabil, maka mungkin tidak akan mengalami keuangan yang patut dirisaukan.

Tetapi adakah karier yang seperti itu?

Saya selalu mengibaratkan jalan hidup seseorang itu biasanya akan seperti kurva-kurva ideal seperti sinus-cosinus yang ada di dalam Ilmu Ukur Sudut.

Di dalam gerak seperti tergambar di dalam kurva ideal itu ada bagian kurva yang menurun dan mencapai titik nadir yang maksimum negatipnya. Kalau hidup dia mengalami hal seperti demikian, sedang dia masih dalam keadaan mendatar seperti digambarkan, maka dia akan mengalami apa yang disebut kondisi kejut, yang biasanya mengakibatkan panik. Panik ini terjadi karena dia tidak siap dengan keadaan yang memaksa untuk mengikuti kurva menurun itu. Ikut turun, berarti dia akan mungkin harus mau untuk mengganti kendaraan sedannya dan mulai sebagai pengguna angkutan umum. Mungkin juga dia harus mengganti telepon genggamnya dengan yang agak murah. Semua ini amat menurunkan gengsinya. Gengsi? Iya!

Kok gengsi??

Yang pokok dia tidak siap menghadapi hal ini.

Apakah bisa sang eksekutif muda itu nanti di hari tuanya menyamai cara hidup dan sikap hidup si G tersebut terdahulu?

Itu tanda tanya besar!!

Saya pernah menanyakan kepada beberapa orang ABG (Anak baru Gede atau Anak Babe Gue?) begini: “Sanggupkah kamu, hanya demi mencoba mentalmu kuat atau tidaknya saja, kamu dibawai uang tunai sebanyak lima juta Rupiah dan masuk ke dalam sebuah pusat belanja, tetapi ketika keluar uang lima juta Rupiah tidak berkurang hanya karena telah dibelanjakan??”

Saya menanyakannya kepada beberapa orang dan jawaban yang saya peroleh, sekitar delapan puluh persen kira-kira sama: “Wah sama juga dengan bohong, dong!”. Yang bilang: “Bisa!” hanya lima persen. Tentu saja survey amatiran yang saya lakukan itu tidak dapat dikatakan sebagai pencerminan sikap hidup ABG.

Yang menarik adalah percakapan yang sengaja saya buat dan menggiring si G untuk mengemukakan pendapatnya. Saya tanya soal telepon dan mobilnya. Ternyata dia menjawab: “Makin tua umur saya, maka makin berkurang keperluan dan kebutuhan saya. Naik mobil ini dan naik mobil yang baru, tujuan akhirnya dapat dicapai dengan sama mudahnya. Tetapi secara biaya itu amat lain sekali pembelanjaannya. Telepon juga demikian. Saya bisa berhubungan dengan suara maupun dengan pesan singkat SMS.

Singkatnya cost of money – beban keuangan nya jauh lebih rendah!!”

Sikap hidup seperti inilah yang membuat saya berkesimpulan bahwa: Uang adalah alat. Alat bayar!! Janganlah sekali-kali membuat uang berkesempatan berbuat sebaliknya, yakni: Uang yang memberi perlakuan kepada diri kita hanya sebagai alat. Perumpamaan: Money on my back hanya beda tambahan huruf k berubah menjadi monkey on my back.

Saya pernah membaca pengalaman seorang Indonesia yang mempunyai rekan sekerja seorang asal China, yang sama-sama bekerja di sebuah perusahaan Amerika di sebuah kota internasional yang terletak di Amerika Serikat. Meskipun status kedudukannya dan status pendapatannya setara, mereka menempuh hidup sehari-harinya jauh amat berlainan. Si orang Indonesia bercerita bahwa dia tidak bisa meniru tata cara hidup orang asal China tersebut, yang nota bene tingkatan status keuangannya hampir sama tingginya.

Temannya itu makan siang dengan membawa bekal dari rumah yang telah disiapkannya sendiri pada pagi hari sebelum keberangkatannya ke tempat kerja. Dia tidak pernah menggunakan taksi, biarpun hari sedang bercuaca dingin sekali dan bersalju tebal. Dia selalu mencapai tempat kerja dengan berjalan kaki, setelah turun dari subway train-kereta bawah tanah. Pada suatu kesempatan dia pernah mengunjungi tempat tinggal teman kerjanya ini, dan terbukti hanya sebuah kamar kecil dengan tempat tidur yang amat sederhana dan kitchenette-dapur kecil yang satu ruangan dengan tempat tidurnya.

Semua itu terlalu amat sederhana untuk ukuran orang Indonesia, apalagi yang memang berasal dari keluarga yang lumayan mampu secara perhitungan ekonomi, berada di negeri orang yang kondisinya makmur seperti Amerika Serikat.

Dia melihat bahwa temannya yang asal China itu memang mempunyai sifat seperti itu, bukan dibuat-buat dan atau terpaksa berbuat demikian. Bukan pura-pura atau karena seperti sebutan orang Indonesia yang menggunakan kata: sinting. Yang penting adalah sesuatu yang jelas sekali, bahwa kalaupun orang seperti ini dijuluki sebagai seorang yang miser – kikir dan pelit, bukankah itu tidak melanggar peraturan apapun? Bukankah perbuatan itu adalah perbuatan yang sama sekali tidak bisa digolongkan sebagai perbuatan kriminal? Apa yang bisa didapat dari kedua conto, yang satu di Indonesia dan yang satunya dialami oleh seorang Indonesia dan tinggal di Amerika Serikat? Dua-dua hal patut direnungkan untuk dapat diambil kegunaannya, bagi siapa saja yang mau, untuk mengubah sikap hidup, sebelum menyatu dengan tabiat yang akan merugikan diri sendiri.

Gunakanlah akal sehat dan gunakanlah suara hati, yang sesuai dengan diri kita masing-masing, agar tidak menyesali diri di kemudian hari atau di hari tua nanti.


Anwari Doel Arnowo

Jumat, 07 Desember 2007 – 18:27:58

Air Blows and The Water Runs so Life Goes On. Do not meddle Do not tamper

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.