Mahadi dan Teh Manis Hangat

Bamby Cahyadi


Kerap tanpa disadari olehnya, Mahadi selalu merasa miskin. Miskin untuk ukuran Mahadi, tidak punya uang. Kalau ingin membeli sesuatu harus utang dulu sana-sini. Termasuk membeli kebutuhan hidup untuk anak dan istrinya. Padahal, ia bukanlah pengangguran. Mahadi seorang pegawai honorer di Kantor Pemda.

(laskar pelangi)

Memang, jabatannya tergolong rendah. Hanya semacam tukang antar surat dan pesuruh yang bertugas melakukan pekerjaan serabutan di kantor pemerintahan itu. Seperti menyapu lantai lantas mengepelnya. Menyapu halaman kantor dan merawat tanamannya. Mengganti lampu yang mati. Membetulkan genteng yang bocor dan pekerjaan-pekerjaan rendahan lainnya. Ya, uang gajinya memang sangat kecil, meski sudah memenuhi syarat upah minimum provinsi setelah dipotong kas bon sana-sini.

Dari hasil kerja serabutan di kantor, Mahadi terkadang mendapat uang tip dari atasannya atau orang yang menyuruhnya. Lumayan, seribu-duaribu perak, sangat cukup untuk menyambung hidupnya selama sehari. Karena, gajinya yang kecil itu, sudah diserahkan semua kepada istrinya setiap tanggal gajian. Tak ada sisa untuknya, kecuali untuk transportasi. Mahadi maklum, karena kelima anaknya lebih penting dari dirinya.

Mahadi yang miskin. Begitulah, yang kerap ia ucapkan pada dirinya sendiri.

“Betapa sulit hidup di negeri yang harga sembakonya selalu melambung tinggi,” gerutu Mahadi, sambil mengambil sapu lidi besar bergagang panjang dan segera menyapu pekarangan kantor kabupaten. Ia sering membayangkan dirinya menjadi orang kaya. Seperti Pak Bupati, misalnya.

Betapa senangnya menjadi orang kaya. Punya banyak uang, mau beli ini-itu tinggal merogoh kocek lalu keinginan dan kebutuhan terpenuhi. Mahadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan dirinya punya banyak duit, sembari dengan terampil tangannya memegang tangkai sapu lidi menyapu halaman kantor yang kotor. Dengan telaten ia terus menyapu sampah-sampah dan dedaunan kering yang mengotori halaman kantor.

Begitulah Mahadi, walaupun hidup terasa begitu sulit dengan beban ekonomi yang menghimpit akibat kekurangan uang, ia tetap bekerja giat tanpa terlihat bermalas-malasan. Mahadi tidak seperti lulusan sekolah menengah umum zaman sekarang, yang tak sudi bekerja keras, hanya karena upah yang diterimanya tak bisa membeli pulsa handphone.

“Seandainya daun-daun kering itu berubah menjadi lembaran uang. Ah, betapa nikmatnya hidup ini,” batin Mahadi berkhayal.

Mahadi lalu memunguti daun-daun kering itu satu per satu dengan sangat cermat. Lalu daun-daun itu dimasukkannya ke dalam kantong sampah.

“Tentu sampai kiamat pun daun-daun itu tak akan pernah menjadi duit!” umpatnya, lalu ia tersenyum kecut. Halaman kantor pun kini bersih.

“Mahadi…!”

Seseorang memanggil namanya dengan suara keras. Mahadi menoleh ke belakang. Rupanya Jasmer, Kepala Unit Satpol PP Kantor Bupati yang memanggilnya. Dengan sopan Mahadi menyahut panggilan itu.

“Iya, saya Pak Jasmer. Ada apa?” jawab Mahadi, seraya berjalan mendekati Jasmer dengan sedikit membungkuk. Mahadi memang sangat sopan kepada semua orang.

“Tolong buatkan aku kopi,” kata Jasmer. “Nanti kopinya langsung bawa saja ke ruanganku,” lanjut Jasmer meninggalkan Mahadi sambil melangkah ke dalam ruangan kantornya.

“Segera laksanakan, Pak!” ujar Mahadi sigap. Ya, salah satu job description Mahadi adalah membuatkan kopi atau membelikan makanan untuk pegawai-pegawai dan atasannya. Tugas yang mirip office boy di kantor-kantor swasta.

Tak berselang lama Mahadi telah selesai membuat segelas kopi panas. Setelah itu, ia bergegas menuju ruang Jasmer yang tidak terkunci. Jasmer sedang menerima telepon, wajah Kepala Satpol PP itu tampak tegang.

“Gawat!” Itu kalimat yang terdengar oleh Mahadi saat ia menyeruak masuk ke ruang Jasmer. Jasmer lalu meletakkan gagang telepon. Wajahnya kini tampak gusar.

“Pak Jasmer, kopinya sudah siap… Silakan,” kata Mahadi meletakkan segelas kopi panas di meja Jasmer. Ia lalu mohon pamit pada Jasmer yang tak menjawab basa-basinya. Mahadi sangat maklum dengan Jasmer, karena ia adalah satu-satunya Kepala Unit yang tak pernah memberikan uang tip kepadanya. Akan tetapi sebelum Mahadi mencapai daun pintu, Jasmer memanggilnya.

“Hmm, apakah Pak Jasmer akan memberiku tip?” tanyanya dalam hati.

“Mahadi…! Sini dulu,” panggil Jasmer, suaranya tidak sekeras ketika memanggilnya tadi. Cukup lembut dan penuh maksud. Mahadi berpaling ke arah Jasmer.

“Ada apa Pak?” tanya Mahadi, sopan.

“Begini…,” ragu-ragu Jasmer mengutarakan maksudnya. “Enggg, sudahlah! Nanti saja, enggak jadi!” kata Jasmer sambil mempersilakan Mahadi untuk keluar ruangannya dengan mengibaskan tangan. Mahadi tak banyak menyahut, lelaki itu keluar dengan patuh. Ada semacam perasaan dongkol, tapi langsung ditepisnya jauh-jauh. Jasmer tak memberikan tip itu sudah biasa. Namun Mahadi bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba Jasmer memanggilnya dan kemudian tak jadi mengungkapkan sesuatu? Lalu ia pun berpikir, situasi gawat macam apa yang sedang melanda Jasmer.

“Ah, ada apa dengan Pak Jasmer? Seperti orang ragu-ragu dan apa pula yang gawat?” batin Mahadi, lalu ia menggeleng-geleng kepalanya tanda tak mengerti. Adalah sebuah pilihan yang tepat untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Toh, kalaupun namanya sempat dipanggil untuk sesuatu hal, belum tentu hal itu berlaku bagi dirinya. Mahadi kemudian menuju ruangannya yang terletak di belakang kantor.

Belum sempat sampai ke ruangannya. Ia mendengar namanya dipanggil. Kali ini yang memanggilnya, Rustam, supir pribadi Bupati.

Bapak Bupati memang aneh, padahal selaku Kepala Daerah, ada beberapa supir yang disediakan oleh Pemda, tetapi Pak Bupati selalu mempercayai mobilnya disupiri oleh Rustam. Walaupun begitu, Rustam tidak serta-merta menjadi PNS. Menurut informasi, Rustam digaji langsung oleh Bupati. Gaji Rustam bukan dari kas Pemda. Lagi pula sebelum jadi Bupati, Karyadi Khasnawan–nama lengkap Bupati–sudah jadi pengusaha yang sukses. Sehingga supir-supir resmi Bupati, akhirnya sering makan gaji buta, mereka banyak nganggurnya. Paling-paling sesekali menyupiri staf-staf Pemda yang mau belanja atau jalan-jalan ke mal.

Rustam kembali memanggil Mahadi. Dikiranya Mahadi tidak mendengar panggilannya yang pertama.

“Ada apa Pak Rustam?”

“Gawat!”

“Gawat apa Pak? Tadi juga Pak Jasmer bilang gawat saat bertelepon.”

“Begini, tadi Pak Bupati hampir saja terbunuh?”

“Terbunuh?”

“Iya, mobil kami ada yang menyeruduk dengan sengaja. Untung Pak Bupati dan saya tak cidera, hanya mobilnya saja yang lumayan parah.”

“Diseruduk apa?”

“Truk tronton!”

“Gila!”

Oh, rupanya saat ia masuk ke ruang Jasmer, Sang Kepala Satpol PP itu menerima telepon mengenai mobil Bupati yang diseruduk truk tronton. Mahadi membuat kesimpulan sendiri atas peristiwa itu dengan kesimpulan sederhana.

***

Berita ditabraknya mobil Bupati keesokan hari mendominasi halaman depan koran-koran lokal. Menjadi berita utama. Berbagai opini, ulasan dan spekulasi membumbui berita heboh itu. Spekulasi yang bikin gerah Pemda adalah masalah perselingkuhan Karyadi.

Sudah bukan rahasia umum, Pak Bupati terlibat asmara dengan seorang perempuan pengusaha batik bernama Sintawati. Pengusaha batik itu memang tidak tinggal di ibukota kabupaten, ia menetap di Jakarta. Hanya sesekali ia datang ke kabupaten untuk melihat pabrik dan proses produksi batiknya. Dan, tentu saja bertemu diam-diam dengan Pak Bupati. Begitu juga sebaliknya, demi alasan tugas Pemda ke Jakarta, Karyadi sering menyelinap diam-diam ke kamar apartemen Sintawati.

Kemungkinan besar, Ibu Bupati yang ingin mencelakai suaminya yang berselingkuh itu. Begitulah spekulasi yang terjadi di beberapa paragraf koran-koran. Sudah lama Karyadi dan Wartina–nama istri Bupati–pisah ranjang. Namun, berita-berita tak sedap tentang kehidupan orang nomor satu di kabupaten itu tak jadi besar berkat kelihaian partai politik pendukung Karyadi yang bergerilya untuk meredam media dan para wartawannya.

Mahadi membaca koran lokal dengan saksama. Ia merasa rugi apabila tak membacanya secara detail dan tuntas. Tentu, karena berita-berita itu begitu heboh menggosipkan orang nomor satu di kabupaten ini.

”Mahadi….!”

Seseorang memanggilnya dengan lantang, siapa lagi kalau bukan Jasmer. Bergegas Mahadi menuju ruangan Jasmer.

Di ruangan itu Mahadi melihat seorang perempuan yang ia sudah sangat kenal, istri Karyadi. Ibu Bupati itu berada di ruang kantor Jasmer. Ia terlihat begitu gelisah, duduk berdiri, duduk lagi berdiri lagi. Mahadi membungkukkan badannya menghormati Wartina. Kepalanya ia tundukkan dalam-dalam, tak berani ia memandang Wartina. Mahadi tampak tegang sekali.

Wartina memang kalah cantik dibanding Sintawati, selingkuhan Pak Bupati. Wartina hanya menang di tinggi badan saja, untuk ukuran kecantikan wajah Wartina tentu biasa-biasa saja. Sintawati berparas sangat cantik.

”Bu, ini Mahadi, pesuruh di kantor ini,” Jasmer melumerkan ketegangan Mahadi dan kegelisahan Wartina.

”Oh, Pak Mahadi, saya mau minta tolong,” kata Wartina dengan suara sedikit bergetar tapi berwibawa.

”Siap, Bu!” jawab Mahadi masih menunduk.

”Kau yang membuatkan minuman untuk Bapak?”

”Betul Ibu, setiap pagi saya membuatkan teh manis hangat kesukaan Bapak.”

”Pak Mahadi, mulai saat ini tolong buatkan Bapak teh manis hangat, dengan menggunakan teh celup dari saya ini,” kata Wartina, sembari menyerahkan sekotak teh celup dengan merk yang tak asing bagi Mahadi ke tangannya.

”Ingat, harus pakai teh itu. Tidak boleh teh lain!”

”Laksanakan, Bu!”

”Sana pergi!”

”Baik, Bu! Mohon pamit.”

***

Selanjutnya Mahadi selalu menyuguhkan teh manis hangat pagi-pagi untuk Pak Bupati dengan teh celup dari Ibu Bupati setiap harinya. Hingga akhirnya Mahadi tak pernah lagi membuatkan teh manis hangat. Di suatu pagi, Pak Bupati wafat karena sakit. Sakit karena apa, entahlah.

Tentu semua warga kabupaten sangat bersedih, termasuk dirinya juga Rustam, supir pribadi Pak Bupati. Pada saat pemakamam, hadir juga Sintawati. Kedua perempuan itu saling menghujam tatap. Tatapan yang saling memendam rasa. Rasa amarah yang berkobar-kobar.

Setelah acara pemakamam selesai. Wartina menghampiri Sintawati. Seraya tersenyum penuh kemenangan. Kemenangan itu telah diraihnya melalui tangan Mahadi yang tak tahu apa-apa.

Sampai kini, Mahadi tetap bekerja di Kantor Pemda dengan segala kesederhanaan dan kemiskinannya. Hanya saja, ia tak lagi menyuguhkan teh manis hangat kepada Bupati baru pengganti Karyadi, Bupati yang telah mangkat itu. Karena Bupati yang baru, sangat suka kopi panas dengan gula setengah sendok makan saja.***

Jakarta, 29 April 2009 – 01 Mei 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.