Sehari di Beijing, dari Dimsum ke Bebek

Junanto Herdiawan


Saat berkunjung ke Beijing, saya beruntung karena dapat bertemu dengan Mas Bambang Eko dan Mbak Sophie Mou. Keduanya adalah sahabat yang selama ini hanya saya kenal di dunia maya. Perkenalan dan pembicaraan kitapun selama ini dilakukan hanya melalui e-mail, facebook, maupun telpon. Nah di Beijing kemarin, kita “kopi darat” untuk pertama kalinya.

Mas Bambang tinggal di Shanghai dan kebetulan sedang berada di Beijing untuk sebuah seminar. Sedangkan Sophie adalah seorang penulis dan editor beberapa buku,  yang juga pengelola web komunitas baltyra.com. Sophie tinggal di Beijing bersama suaminya, Michael Mou, serta kedua anaknya.

Tanpa mereka berdua, dapat dipastikan saya akan tersesat di Beijing yang mahaluas. Cina adalah negara yang maha besar. Mulai dari bangunan, hingga jalan rayanya. Semua dibuat super duper besar. Selain itu, kendala terbesar lainnya kalau kita pergi ke Cina adalah soal bahasa. “Cang ..cing…cung..” bahasa Cina sama sekali tidak saya pahami. Belum lagi huruf kanjinya yang membingungkan. Komunikasi dengan orang Cinapun tidak mudah. Beberapa kali saya sering salah paham, bahkan untuk urusan sederhana, seperti bertanya soal toilet dan arah, kerap harus menggunakan gerak tubuh yang merepotkan.

Untunglah Mas Bambang dan Mbak Sophie berbaik hati bergantian menemani kami menjelajahi Beijing. Mas Bambang mengajak kami berkeliling kota, dan Mbak Sophie berwisata kuliner. Pagi-pagi sekali, Sophie dan suaminya, Michael, menjemput kami di hotel untuk mencicipi dim sum sebagai makan pagi. Mereka mengajak kami ke kedai dim sum yang terkenal di Beijing. Namanya Jin Ding Xuan. Kedai dim sum ini buka 24 jam dan menawarkan deretan dim sum yang sungguh sangat menggiurkan.

Dumpling

Saya sendiri adalah pecinta dim sum. Di Jakarta, secara rutin, saya kerap mencari sarapan dim sum di berbagai tempat. Namun di luar negeri, saya agak khawatir mencicipi dim sum karena ragu akan kehalalannya. Nah, Mbak Sophie sangat paham hal itu. Jadi saat pertama memesan, ia sudah bicara “cang cing cung” dengan pelayannya agar kami dipilihkan dim sum yang halal.

Dim Sum di Jin Ding Xuan ini sungguh luar biasa lezatnya. Rasanya autentik dan tak salah kalau dikatakan sebagai “the best dim sum” di Beijing. Deretan dimsum yang dipesan Sophie disajikan di meja kami, mulai dari bubur ayam ikan, chang fen, ceker ayam, tim tulang rawan ayam, pangsit isi sayuran (vegetable dumpling), martabak mini, Fried puff, cakwe goreng, dan kembang tahu special Beijing. Hmmm sungguh lezat, menggiurkan, dan pastinya menyenangkan.  Heavenly delight !!

Beijing Tofu

Dim sum dalam dialek Kanton berarti “menyentuh hati”, walau bisa juga diartikan sebagai makanan ringan. Merasakan dim sum di Jin Ding Xuan Beijing memang menyentuh hati. Apalagi disajikan dalam suasana kekeluargaan dan persahabatan yang hangat dari Sophie dan Michael. Tradisi makan dim sum sambil minum teh ini juga merupakan tradisi masyarakat Tiongkok sejak jaman dahulu.

Usai dim sum, Sophie mengajak kita untuk melihat-lihat secara singkat tradisi dan kemajuan kota Beijing, mulai dari Temple of Heaven hingga Stadion Olimpiade yang berbentuk sarang burung, sebelum menawarkan lagi untuk mencicipi Beijing Duck (Peking Duck). Yup yup, inilah ikon terkenal dari kuliner Beijing. Kalau ke Beijing, siapa tahan untuk tidak mencoba Peking Duck? Meski perut masih setengah penuh oleh dim sum, Bebek Peking siapa takut?

Bebek Peking Utuh

Mencari bebek peking yang paling enak adalah sebuah dilema. Kalau kita tanya pada orang Beijing, mana Bebek Peking yang terbaik, jawabannya akan sangat beragam. Memang banyak sekali restoran Bebek Peking di seantero Beijing yang menawarkan rasa dengan kualitas kelezatan yang sama. Saat baru pertama tiba di Beijing misalnya, kami mencicipi Bebek Peking di daerah Chaoyang. Itupun rasanya sudah sangat sensasional dan nikmat luar biasa.

Nah kali ini, Sophie mengajak kita untuk mencicipi restoran Bebek Peking Quan Ju De di daerah Xuan Wu. Quan Ju De adalah restoran Bebek Peking yang tertua di Beijing, berdiri sejak tahun 1522. Dahulu, Bebek Peking memang hanya boleh dimakan oleh Raja. Namun pemberontakan di Cina telah menyebabkan banyak juru masak istana yang lari keluar dan kemudian membuka warung Bebek Peking. Quan Ju De adalah salah satu kedai yang pertama didirikan di luar istana.

Rasanya sungguh orisinal dan lezat. Kelembutan serat bebeknya tak akan terlupakan. Keharuman daging bebek panggang, berbaur dengan bumbunya, sungguh mengenang di lidah dan atap mulut. Tak ada bau, ataupun amis, yang kerap dikhawatirkan para pencicip bebek pemula. Selain daging bebek, disajikan pula hati dan ampela bebek panggang. Rasanyapun lembut dan lezat. Hmmm, tekstur ampelanya jauh lebih lembut dari ampela ayam. Pengalaman ratusan tahun memasak bebek tentu menjadikan Restoran Quan Ju De jagoan dalam menyajikan kenikmatan tak terperi. Sekali lagi, heavenly delight !! Inilah makanan raja-raja.

Ampela Bebek Peking

Detil rasa bebek panggang ini pernah ditulis Sophie dalam artikelnya di Baltyra http://baltyra.com/2010/01/11/quan-ju-de-di-antara-bebek-panggang-beijing/.

Mencicipi makanan yang terbaik Beijing dalam waktu yang singkat adalah sebuah pengalaman menyenangkan dan tak terlupakan. Cina memang luar biasa. Bukan hanya kemajuan ekonominya yang impresif, namun juga bagaimana mereka bisa menjaga tradisi panjang  budaya, termasuk sajian kulinernya.

Terima kasih pada Mbak Sophie dan Mas Bambang yang telah menemani kami mengenal Beijing, khususnya dalam hal mencicipi makanan raja-raja hehehe … Salam.



Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *