Hatta: Hikayat Cinta dan Kemerdekaan

Nur Mursidi


Judul buku  : Hatta:Hikayat Cinta dan Kemerdekaan

Penulis        : Dedi Ahimsa Riyadi

Penerbit      : Penerbit Edelweiss, Jakarta

Cetakan      : Pertama, 2010

Tebal buku  : vii+279 halaman

Harga buku : 40.000,- (diskon 15%) = 34.000,-

SEORANG pengarang adalah seorang penutur kehidupan. Ia bisa menuturkan peristiwa yang terjadi di masa lalu, masa sekarang bahkan peristiwa yang akan datang. Tetapi, tatkala seorang pengarang menulis “peristiwa di masa lalu” dengan bersandar fakta sejarah, dengan menuturkan kehidupan atau biografi tokoh ternama yang pernah menorehkan sejarah, setidaknya ia dihadapkan pada dua hal. Pertama, kebenaran faktual –dari catatan sejarah. Kedua, fiksionalisasi sejarah dalam bingkai estetika.

Dua hal itu, tak bisa disangkal, menjeburkan pengarang pada setumpuk data sejarah yang harus diolah dengan cermat, dan pada sisi yang lain menuntut pengarang mewartakan fakta yang pernah ada atau mungkin terjadi dengan “perenungan intelektualitas”, membangun sebuah dunia yang hoheren dan kesadaran akan problem kemanusian dalam bingkai estetika. Kegagalan dalam menuturkan dua hal itu, akan menjadikan biografi seorang tokoh penting dalam sejarah yang ditulis dalam bentuk novel (karya sastra) akan menjadi karya yang kering.

Dengan dua hal itu, pengarang buku ini mengangkat biografi/kehidupan Mohammad Hatta, sang proklamator dalam bentuk novel. Dari awal, tujuan Dedi memang mulia: ingin menerabas kekakuan tulisan biografi seorang tokoh agar tidak terjebak dua hal. Pertama, tak jarang bigrafi tokoh dalam peta sejarah kerap ditulis secara ilmiah, sehingga tak dimungkiri kerap dibaca kalangan tertentu, seperti akademisi dan peminat sejarah. Kedua, biografi pun ditulis dengan acuan metodologi sejarah, sehingga menjadikan bahasanya kaku dan berat. Pengarang buku ini –tak diingkari– ingin menerabas kekakuan itu dan berharap buku yang ditulis tentang Mohammad Hatta ini menjadi buku yang renyah dan menawan.

Teguh Memegang Prinsip    Mohammad Hatta, salah satu dari dua tokoh proklamator Kemerdekaan Indonesia telah meninggalkan nama yang harum dalam catatan sejarah Indonesia.  Hatta bagai oase di tengah gurun padang sahara. Apalagi, di saat krisis kepemimpinan seperti sekarang,  perjuangan serta kiprah yang ditorehkan sang proklamator ini dapat menjadi cermin: bagaimana semestinya pemimpin negeri ini jadi pelayan bagi rakyat. Maklum M. Hatta dikenal sebagai pemimpin yang teguh dalam memegang prinsip. Setia pada janji yang pernah ia ucapkan.

Setidaknya, ada tiga hal penting yang direkam Dedi Ahimsa Riyadi tentang sosok Hatta dalam buku ini. Pertama, ia digambarkan sebagai pemimpin yang memiliki pemikiran visioner ke depan. Hatta mencita-citakan kemerdekaan jauh-jauh hari dengan cara elegan dan mengedepankan akan pentingnya pendidikan, pengkarderan dan kesadaran rakyat akan kemerdekaan. Maka, ia menolak ketergantungan pada sosok/figur individu. Dengan tegas, ia mengobarkan semangat kemerdekaan dan selama bertahun-tahun, dia berjuang lewat tulisan dan pengkaderan di daerah-daerah untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang visioner.

Ia memiliki jiwa nasionalisme yang tak terbatasi lingkup etnis, melainkan berpijak pada ke-Indonesia-an. Maka latar belakang Hatta yang dari Sumatra tak menjadikan ia terkotak-kotakan dalam bingkai golongan atau perkumpulan yang bersifat etnisitas tetapi pada bingkai nasionalisme yang luas. Ketika ia menjadi pemimpin Perhimpunan Indonesia, ia pun lantang berteriak menyuarakan kemerdekaan Indonesia. Lalu, sepulang dari Nederland, ia melalui partai PNI, melakukan pengkaderan dan berjuang untuk kemerdekaan Indonenesia.

Kedua, dia adalah seorang terpelajar yang mencintai buku. Kecintaan Hatta pada buku, membuatnya tak mau berpisah dengan buku. Dia pun dikisahkan mengangkut enam belas peti bukunya ke pengasingan, waktu Belanda membuang Hatta. Ketiga, Hatta dikenal sebagai seorang yang teguh memegang prinsip. Kecintaan Hatta pada Indonesia (juga pada rakyat Indonesia dan buku), menjadikan ia rela tak menikah hingga Indonesia merdeka. Semua orang pun tahu akan janji yang pernah diucapkan Hatta itu dan ternyata Hatta memenuhi janjinya itu. Ia menikah 3 bulan setelah Indonesia merdeka –18 November 1945, seminggu setelah pertempuran heroik di Surabaya. Hatta menikahi Rahmi Rachim, dan ia memberi hadiah kepada sang istri buku Alam Pemikiran Yunani.

Kecintaan Hatta pada Indonesia itulah, yang menjadikan Mavin Rose menyebut Hatta dengan sebutan unik: “muslim sejati” karena Hatta beristri empat: Indonesia, rakyat Indonesia, buku dan Rahmi Rachim. Dan Hatta, memang sosok yang selalu dikenang sepanjang masa. Sosok yang hampir semua orang tidak meragukan lagi akan keteguhan, kecintaan dan perjuangan yang ia torehkan untuk kemerdekaan Indonesia. Tidak salah, jika Iwan Fals pun mengenangnya dalam sebuah lagu. Itu tak lain, karena Hatta jadi ikon dan teladan bagi rakyat Indonesia sehingga digambarkan seperti seorang sahabat yang selalu dekat di hati rakyat.

Tergelincir Kehati-hatian    Keteladanan Hatta itulah yang ingin direkam Dedi Ahimsa Riyadi dalam buku Hatta: Hikayat Cinta dan Kemerdekaan ini. Lebih dari itu, buku ini pun diberi titel “sebuah novel biografi”. Tetapi, titel sebuah novel biografi yang sedari awal ingin mengenal sosok Hatta dalam sekeping novel ini, justru meninggalkan jejak kontroversi karena tidak didukung laku bertutur pengarang yang jalan seirama antara isi dan bentuk novel.

Pengarang memang berhasil menuturkan peristiwa-peristiwa penting di masa lalu yang dilalui Hatta dengan alur cerita yang tidak lurus, diawali dengan pembuka pembajakan kapal perang Belanda HNMLS De Zeven Provincien oleh awak kapal pribumi dan Eropa sebagai bentuk protes atas pemangkasan upah, lalu berkembang ke masa kecil Hatta di kampung hingga belajar ke Belanda, kemudian dilukiskan detik-detik kemerdekaan Indonesia. Habis itu, kembali ke kehidupan Hatta di Belanda, hingga ia pulang ke Indonesia, dibuang dan sekelumit kisah cinta Hatta –dengan gadis bernama Rahmi Rachim.

Tapi alur cerita yang digulirkan pengarang nyaris dingin dan kaku. Juga laku bertutur pengarang lebih bersifat naratif dari pada deskriptif. Penggarapan estetika dengan modal naratif itulah yang menjadikan karakter-karakter tokoh dalam novel ini terasa hambar bahkan dingin. Beberapa peristiwa heroik Hatta, sebenarnya bisa dielaborasi baik dengan mengedepankan teknik membangun dramatisasi dan suspense tapi pengarang seperti dihantui akan sebongkah sikap kehati-hatian kalau terjebak pada kesalahan yang fatal, mengingat yang dikisahkan adalah: tokoh besar Bung Hatta.

Tak pelak, kekeringan estetika fiksionalisasi dengan memanfaatkan data sejarah itulah justru menjadikan buku ini yang diberi titel sebuah novel biografi ini kering. Apalagi pengarang seperti pelit mengumbar dialog. Bahkan buku ini nyaris kering dialog. Padahal, dialog memiliki kekuatan bisa menguatkan tokoh cerita. Alhasil, buku ini pun mirip biografi.

Kendati demikian, keinginan mulia pengarang mengangkat sosok Hatta dalam buku ini patut disambut gembira. Buku ini bisa jadi telaga yang jernih bagi pemimpin bangsa, bahwa perjuangan Hatta untuk Indonesia layak dan patut ditiru. Sedang bagi generasi penerus bangsa, tidak bisa dipungkiri, buku ini meninggalkan jejak perjuangan Hatta yang patut dikenang sepanjang masa.

*) N. Mursidi, cerpenis dan owner toko buku online etalasebuku.com


About Nur Mursidi

Cerpenis kelahiran Lasem, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa seperti Kompas, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Republika, Jurnal Nasional, Suara Karya, Tabloid Nova, Majalah Femina, Majalah Anggun, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Tribun Jabar, Batam Pos, Radar Surabaya, Surabaya Post, Surya, Lampung Post, Bengawan Post, Solo Post, Inilah Koran, Suara Merdeka, dan Tabloid Cempaka. Dia bekerja sebagai wartawan sebuah majalah di Jakarta. Karya terbarunya: Tidur Berbantal Koran (Elex Media: 2013).

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *