Tangan Kiri

Anwari Doel Arnowo


Special Note Redaksi:

Beberapa waktu yang lalu, Pak Anwari terjatuh yang mengakibatkan tangan kanan beliau harus beristirahat dan di’gips. Ternyata, semangat beliau ini memang luar biasa, dalam kondisi tangan di’gips pun, masih bisa menghasilkan artikel ini dan tetap membaca serta mengikuti perjalanan BALTYRA.com dari hari ke hari, dari artikel ke artikel dan dari komentar ke komentar.

Cepat sembuh, Pak Anwari, banyak istirahat…


Sudah lama, sekitar dua belas tahunan yang  lalu saya mulai belajar menulis lagi, tetapi menggunakan tangan kiri saya. Untuk apa pula?? Begini, pada tahun itu saya memutuskan untuk mulai berhenti total bekerja yang rutin dan tetap, maka terlibatlah saya di dalam kegiatan kerja sosial, tanpa gaji dan pendapatan finansial lain. Kegiatan ini saya mulai dari pengetahuan saya yang nilainya nol di dalam wadah yang menampung kegiatan sebuah Yayasan, yang bergiat di dalam segala macam “masalah” stroke. Kerja utama Yayasan Stroke ini adalah mengumpulkan dana yang pada akhirnya disumbangkan kepada para IPS – Insan Pasca Stroke, inilah sebutan bagi mereka yang pernah terserang penyakit-penyakit yang memaksa dan menyebabkan mereka menyandang kondisi stroke.

Kondisi stroke?. Iya, karena stroke itu bukan penyakit! Stroke itu adalah akibat dari penyakit-penyakit penyebabnya, antara lain: tekanan darah tinggi atau cholesterol yang tidak seimbang (seperti muara kalau penyakit itu adalah sungai). Mengenai IPS dan stroke  dapat anda baca di link berikut ini yang ada di salah satu blog saya, berikut ini:  http://jiwaragasehat.blogspot.com/2010/08/tulisan-lima-tahun-yang-lalu-i-p-s.html .

Di dalam kegiatan Yayasan ini saya banyak berkenalan dengan dokter-dokter spesialis syaraf dan tokoh-tokoh lain, dan siapapun yang perduli dan pemerhati masalah Stroke. Saya, meski bukan seorang dokter, malah pernah menjabat salah satu dari tiga Ketuanya untuk Wilayah DKI Jakarta yang turut serta mengelola 10 buah Klub Stroke yang berpusat di Rumah Sakit yang besar-besar seperti RSTM, Fatmawati, Pertamina, RS Islam di Cempaka Putih, Gatot Subroto, RS Pondok Indah dan lain-lain. Beberapa Klub Stroke ini ada yang memiliki anggota sebanyak 500 orang, terdiri dari IPS yang berat dan ringan kondisinya.

Tidak sedikit yang lumpuh di bagian kiri saja atau kanan tubuh saja. Memberi perhatian dengan selalu seksama, terhadap hal-hal seperti inilah saya memutuskan untuk belajar menulis dengan antisipasi menggunakan tangan kiri saja lebih banyak. Meskipun saya belum mahir benar, saya sudah menyiapkan mental, agar apabila mengalami hal yang buruk nasib dan menjadi lumpuh, maka saya sudah siap. Bukankah itu adalah risiko hidup manusia?? Seperti saya saksikan berkali-kali para IPS ini banyak yang masih bersemangat tinggi, yang masih bepergian dengan menggunakan angkutan umum, demi untuk bisa bersenam bersama sejawatnya di Klub Stroke masing-masing.

Di antara IPS ini ada yang Mantan Wakil Gubernur DKI, ada mantan Menteri Pertanian, kolonel dan Jenderal Benny Moerdani. Selebriti ada juga, seperti Ebet Kadarusman dan Bill Saragih, ada insinyur atau Doktor. Penyakit menyerang manusia, tidak perduli siapapun dia. Diam-diam saya menduga kuat bahwa seorang Abang Becak saja ada yang terserang stroke, akan tetapi sudah pasti tidak terselamatkan, atau bahkan tidak akan sampai ke kalangan ini, karena banyak hambatan. Akibatnya adalah kondisi stroke itu. Bukankah Bapak Presiden Abdurrahman Wahid adalah IPS juga, yang mengalami brain attack lebih dari tiga kali? Itulah hal-hal yang telah mendorong saya untuk bekerja sosial, menyumbangkan tenaga dan materi dengan ikhlas untuk manusia manusia yang kurang kondisi keberutungannya apabila dibandingkan dengan  diri saya yang sedang beruntung masih sehat dan segar bugar.

Kembali ke masalah kidal, kédé (Bahasa Jawa) yang “diderita” sekitar 10% dari jumlah manusia yang mendiami Planet Bumi ini, yang berarti meliputi jumlah sekitar enam ratus juta jiwa saat ini, ternyata bukanlah jelek seperti anggapan banyak orang Jawa generasi yang dahulu. Generasi saya saja masih merasakan beban mental apabila menggunakan tangan kiri dalam brsosialisasi dengan orang lain, biarpun bukan dari suku Jawa, apalagi terhadap yang sudah tergolong sesepuh atau senior. Sebaliknya sekarang saja saya malah mengajarkan, agak memaksa juga, agar membiarkan saja anaknya yang adalah cucu saya juga, yang bertendensi kidal. Bukankah cucu saya tidak pernah minta dilahirkan dengan “bakat” seperti itu?

Kidal itu ternyata “hinggap” dan ada di tubuh-tubuh manusia-manusia yang memiliki keistimewan tertentu yang dapat dibuktikan dengan lebih banyaknya (50% lebih) Presiden Negara Amerika Serikat yang kidal tangannya. Terutama beberapa Presiden yang berturutan sampai dengan Tuan Barack Hussein Steve Obama. Silakan baca link berikut ini:

http://www.anythingleft-handed.co.uk/presidents.html

Sudah dilakukan dengan diam-diam perubahan design alat-alat yang akan bisa mudah digunakan oleh mereka yang kidal maupun yang non kidal, seperti pegangan pembuka dan penutup pintu rumah maupun mobil, obeng dan alat-alat pertukangan kayu dan sebagainya.

Saya ketikkan di laptop, tulisan di atas 98% DENGAN MENGGUNAKAN JARI-JARI TANGAN KIRI. Tangan kanan saya, salah satu tulang lengannya bagian bawah, patah di arah tengah. Sekarang dalam keadaan digips. Pada tanggal 24 bulan ini, seminggu  yang lalu, saya terjatuh dari lantai dua rumah ke lantai satu, pagi hari setelah baru bangun tidur. Tangan kanan saya ulurkan  untuk mencapai stekker lampu listrik, tetapi kaki kanan saya tidak sabar, mendahului ke arah anak tangga pertama, meleset.

Tubuh saya seperti pohon nyiur, tumbang ke kanan. Setelah kepala membentur di anak tangga ke lima dari atas, tubuh saya terus melanjutkan perjalanannya ke lantai satu melalui tujuh anak tangga lagi. Semua ada dua belas anak tangga, sebelum saya berteriak minta tolong. Sungguh mengherankan anak istri dan menantu saya orang Jawa, tetapi berlumuran darah kesakitan saya menggunakan bahasa Indonesia!!! Saya tidak mual atau muntah berarti otak saya tidak cedera apapun, meskipun dokter melakukan tindakan dengan tiga jahitan benang nylon untuk menutup luka di kepala. Hari ini adalah hari keempat setelah dirawat sebentar di Emergency, meskipun meminum pain killer Ibuprofen dan Tylenol, saya masih merasakan nyeri di tempat lecet-lecet yang ada di sana sini. Gips di tangan kanan saya ini masih HARUS dikenakan sampai enam atau tujuh minggu ke depan. Jadi bila masih ada tulisan-tulisan saya yang dalam masa tangan digips ini, pasti itu adalah sebagian besar hasil karya tangan kiri.


Anwari Doel Arnowo

Toronto, Kanada  –  29 September, 2010

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.