Bisa Karena Terpaksa

Hariatni Novitasari


Selama ini, kita banyak mendengar kata bijak, “Bisa karena biasa”. Tapi menurut saya, ada satu lagi kalimat sok bijak yang saya temukan, “Bisa karena terpaksa.” Nah, ini banyak terjadi pada diri saya, hehehe. Terutama berhubungan dengan hal masak-memasak.

Dari kecil, meskipun sudah terbiasa dengan segala macam kegiatan/tugas di rumah. Saya memulai karir sebagai tukang cuci dari kelas 2 SD. Sayangnya, saya kurang suka masak-memasak. Sukanya hanya makan saja. Baru ketika mulai kuliah, tinggal di luar kota, jatah bulanan di bawah standar, dan tidak ada yang memasakkan, maka dengan terpaksa saya turun ke dapur. Karena hanya dengan memasak sendiri, saya bisa bertahan hidup di Surabaya.

Mulailah saya rajin ke tukang sayuran, dan berkenalan dengan banyak ibu-ibu, dan bertanya resep masakan. Resep sederhana saja. Mulailah saya masak berbagai jenis masakan tidak bernama, asal saya bisa makan. Lama-lama, saya menyadari bahwa memasak itu menyenangkan. Misalnya saja, kalau sedang spannen dengan tugas di kampus yang kebanyakan, lalu mulailah saya memasak dan menikmati masakan itu.

Setelah itu, otak saya menjadi lebih segar dan siap lagi bertempur mengerjakan tugas. Dengan memasak, saya bisa mensiasati jatah bulanan yang kurang, sekaligus saya bisa menjamu teman-temanku, tergantung mereka datannya ke kosku. Kalau pagi dapat sarapan, kalau siang dapat makan siang. Kalau hari Minggu, dengan teman baik biasanya mengadakan “pesta kecil”. Masak makanan yang agak mewah dan beli sparkling grapes. Makan, minum, ngobrol dan bermimpi.

Entah darimana berita itu berasal, sampai menyebar di dosen-dosen kalau saya adalah tukang masak, dan seorang dosen pernah bilang ke saya “Sudah, kamu bikin saja usaha jasa catering!” Waksss… Jujur, masakan saya tidak enak, hanya karena teman-teman saya saja suka makan, dan definisi makanan hanya ENAK dan UENAKKK.. makanya, apapun dilahap dan beredar berita itu. Wusss.. angin saja kalah cepat.

Ketika bekerja dan rumah sebelah punya asisten rumah tangga, maka tamatlah riwayat karir masak memasakku. Asisten rumah sebelah yang menggantikannya. Karena jujur, sudah capek sekali kerja dari pagi sampai dengan jam 9 malaman, dan pulang harus masih memasak. Memang enak langsung makan dan tidur.

Nah ketika pindah ke Sen Luwis ini, otomatis harus terjun ke dapur kembali. Pertama, karena kosku jauh dari mana-mana. Mau dapat warung makanan harus jalan sekitar setengah jam ke Natural Bridge Road. Yang ada di sana hanya American Restaurants. Atau jalan 10 menit ke arah Florisant Road adalah warung Mc. D di Cool Valley. Warung di kampus hanya buka weekdays dan hanya sampai jam 5 sore. Menu makanannya juga begini dan begitu.

Once again, American menu and portion. Ada juga sih sushi, tapi masak setiap hari mau makan sushi. Kedua, harga makanan masak berlipat-lipat daripada kita beli mentah dan dimasak sendiri. Ketiga, kuliahku semuanya sore hari. Jadi kalau pagi memasak, masih ada waktu untuk memasak ala kadarnya. Keempat, sudah menemukan satu toko Asia kecil ke kota. Meskipun tidak banyak yang mereka jual, paling tidak sudah bisa menemukan beberapa bahan dan bumbu Asia. Ah, apa lagi yang kurang? Tidak ada. Sejak detik itu mulailah tercipta banyak masakan tidak bernama, yang penting aku sendiri doyan, hehehe.

Memang, pada awal berbelanja di sini, memang masih harus menyesuaikan diri. Misalnya saja, satu ketika aku butuh beli garam. Bukannya masakan menjadi enak dan asin, tetapi berubah menjadi sangat aneh. Awalnya aku mikir karena bahan makananku. Sampai satu ketika, saat saya sedang memasak di dapur dan mau menaburkan garam ke masakan, kebetulan ada D temannya housemateku. Dia bertanya, apakah itu. Saya bilang itu garam. Dia kemudian meneliti kaleng garam itu, terus dia bilang, “Ini bukannya No Salt?” tentu saja aku kaget, dan melihat kemasannya. “Kamu butuh garam, tapi kamu justru beli yang NO SALT. Berarti, kamu beli yang non garam…”

OMG, saya benar-benar baru sadar, kalau yang aku beli itu semacam “perasa asin” untuk makanan yang mungkin saja untuk orang-orang dengan penyakit tekananan darah tinggi. Semacam pemanis gula buatan untuk orang-orang penderita diabetes. Setelah itu saya baru tahu, darimana sumber makanan saya kurang enak semua. Karenanya, saya harus membeli garam yang sesungguhnya. Garam yang GARAM.

Selain masalah dengan bumbu, juga bermasalah dengan teknologi. Di kosan, kompor menggunakan kompor gas dengan surface heat. Awal memasak berpikir, lha kok ini tidak keluar apinya ya? Mau tak sentuh, untung temanku serumah datang. “Jangan, itu panas sekali.” Ah, untung dia datang. Kalau tidak, tanganku pasti sudah gosong.

Yang terakhir terjadi hari Minggu yang lalu. Seharian di Normandy dan sekitarnya mendung, gerimis dan udara sudah mulai dingin. Tetapi, terpaksa harus keluar rumah karena ada tugas yang harus diselesaikan di lab. Setelah balik dari lab, saya mampir ke kosan teman saya untuk mengambil samosa. Sehari sebelumnya dia pergi ke kota, dan saya titip samosa kepada dia ke toko Mediteranian Market. Karena dingin, aku sudah membayangkan, akan enak makan samosa panas-panas sambil menyelesaikan tugas statistik.

Begitu sampai kosan, langsung saya buka kotak samosa dan membaca bagaimana memasaknya. Ada dua cara untuk memasak samosa: deep fried and bake untuk reheat. Karena sedang malas dengan minyak-minyak, akhirnya saya lebih memiih untuk reheat saja. Dalam pikiran saya, yang namanya reheat itu adalah dengan menggunakan microwave. Cukup dipanaskan selama 6-8 menit makan samosa akan siap santap.

Sudah, akhirnya aku coba dengan tiga biji samosa besar aku masukkan ke dalam tupperware untuk microwaveku. Segera aku masukkan ke dalam mesin, dan aku set 8 menit. Perfect. Sambil menunggu samosa matang, aku makan nasi uduk di meja makan. Di tengah enak-enaknya makan, saya melihat asap keluar dari microwave. Paniklah…. Langsung saya lari ke arah microwve. Aku STOP dan masuk buka tutupnya. Saya melihat kalau tupperware itu telah meleleh dan bikin asap, samosa telah jadi gosong juga.

Asap segera memenuhi ruangan. Pintu langsung saya buka dan exhausted fan segera aku nyalakan. Bodohnya, kenapa smoke detector tidak berbunyi. Teman serumah kemudian keluar dari kamarnya dan bertanya apa yang sedang terjadi. Dia senyum-senyum saja, dan tidak marah. Dia bertanya ada apa dan aku jelaskan ke dia apa yang sedang terjadi. Dia kemudian melihat bungkus samosa. “Maksudnya bake itu, kamu menggunakan pemanggang di kompor, bukan memanggang di microwave. Pakai microwave juga bisa tapi tidak sampai 8 menit. Tiga menit mungkin sudah cukup…. ” Alamak.. begitu tho ceritanya…. Kita kemudian ngakak bersama, menertawakan kebodohan saya. :D :D. Akhirnya, di hari Minggu yang dingin itu tidak jadi makan samosa, tapi diganti makan dumpling. :D :D

Begitulah ceritanya aku mulai kembali ke dapur, karena terpaksa.. :D :D.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.