[Mengunjungi Tanah Leluhur] Bagian 2: Shangri La

Handoko Widagdo – Solo


Kota Shangri La adalah nama baru dari Kota Zhong Dian. Shangri La adalah symbol orang Tibet, yaitu matahari dan bulan ada secara harmoni di dalam hati.

Saya tiba di Shangri La tepat pukul sembilan malam. Di mobil yang menjemput kami di bandaran tertera angka 3.150 mdpl pada altimeternya dan 10 derajat Celsius pada thermometernya. Kota Shangrila terletak diatas bukit dengan ketinggian 3.300 mdpl. Setelah makan malam di salah satu restoran, kami segera menuju hotel dan istirahat. Malam itu saya tidak bisa tidur. Ketika terlelap, segera saja terbangun lagi. Dan begitu terus terjadi sampai pagi. Saat pagi hari saya terserang sakit kepala yang sangat berat. Saya kehilangan selera makan.

Teman saya memberi tahu bahwa saya terserang altitude sickness, yaitu suatu penyakit akibat berpindah ketinggian terlalu cepat. Sebenarnya, saat di mobil menuju ke Bandara di Kunming, teman saya sudah menjelaskan masalah ini. Dia bilang bahwa saat pertama terbang ke Lhasa dia mengalami penyakit semacam ini. Namun saat itu saya tidak terlalu memperhatikannya karena Kunming adalah 2000 mdpl. Jadi, tak berbeda jauh. Akhirnya aku harus mendapat bantuan oksigen dan menelan aspirin untuk mengurangi efek altitude sickness tersebut. Temanku bilang, kalau sampai muntah harus dibawa ke dokter. Tapi untunglah setelah dua hari, saya sudah bisa menyesuaikan dengan udara yang sangat sedikit mengandung oksigen tersebut.

Tugas saya dalam proyek ini adalah memberi masukan bagi disain sektor pertanian. Namun proyek ini tidak hanya khusus menggarap pertanian saja. Ada komponen lain, seperti pengembangan kerajinan khas Tibet, preservasi budaya, dan micro finance. Karena permasalahan birokrasi, saya tak bisa segera ke lapangan. Maka selama dua hari di Shangri La, saya bergabung dengan tim yang bertugas untuk mengembangkan disain proyek di sektor kerajinan dan preservasi budaya Tibet.

Shangri La adalah sebuah kota yang indah. Mayoritas penduduknya adalah minoritas Tibet. Namun ada juga suku Naxi. Kota ini terletak di sebuah lembah yang dikelilingi oleh bukit-bukit. Salah satu obyek yang sangat terkenal adalah roda doa putar terbesar di dunia. Roda doa ini terletak di sebelah Kuil Song Zanlin yang berumur tua.

Selain itu, tepat di tengah kota lama ada sebuah pagoda Budha Tibet yang menyambut para pendatang.

Banyak bangunan tua atau dibuat dengan arsitektur tua di kota lama. Sekarang, seluruh wilayah kota lama adalah wilayah turisme. Jadi kemanapun kita pergi kita bisa menyaksikan took-toko cindera mata yang menjajakan berbagai jenis buah tangan.

Selain dari tempat belanja cindera mata, ada dua museum bagus yang bisa kita kunjungi, yaitu museum Tea Horse Road dan Long March Musium. Sayang saya tidak sempat masuk melihat-lihat Tea Horse Road Musium. Padahal Shangri La adalah salah satu tempat perhentian penting bagi perdagangan teh dari China ke Tibet.

Dalam perjalanan long march, Mao Tze Tung sempat singgah dan diterima baik oleh pendeta Budha Tibet di Shangri La. Itulah sebabnya museum Long March dibangun ditempat ini. Bangunan musium merupakan pintu gerbang dari bangunan rumah di mana Mao diterima oleh sang pendeta.

Tepat setelah pintu masuk, ada patung yang menggambarkan Mao bertemu pendeta. Patung ini berada di sebelah kiri dari pintu masuk. Selanjutnya kita disuguhi berbagai foto, gambar dan peninggalan tentara yang melakukan long march. Ada juga diorama bagaimana mereka melewati padang rumput dan salju yang sangat berat.

Selanjutnya digambarkan juga bagaimana para penduduk minoritas, khususnya suku Tibet mengatasi persoalan-persoalan perang yang dihadapi bersama dengan China. Museum ini terbuka untuk umum dan bebas biaya.

Seperti telah aku jelaskan di atas, proyek ini mempunyai komponen preservasi budaya Tibet. Sektor budaya dikembangkan melalui tiga kegiatan, yaitu pengembangan kerajinan tangan, karpet dan Tangka. Penduduk, terutama perempuan, dilatih untuk membuat kerajinan dan setelah mereka terampil mereka dipekerjakan dengan cara diberikan bahan-bahan untuk dibuat di rumah.

Karpet Wangden sangat terkenal. Karpet Wangden dulu hanya bisa ditemui di Lembah Lhasa. Sebab karpet ini dulunya hanya digunakan untuk meditasi di tiga kuil besar di Lhasa. Karpet Wangden juga digunakan oleh Dalai Lama kelima.

Usaha pengembangan karpet menggunakan motif karpet Wangden yang asli maupun sudah dikreasi.

Ada juga motif baru, tapi tetap berhubungan dengan Tibet, seperti motif Yak di bawah ini.

Tangka adalah seni melukis yang dulu hanya boleh dilakukan para pendeta Budha Tibet. Namun kini, kesempatan untuk melukis dengan gaya Tangka telah diperkenalkan kepada umum. Bahkan salah satu pendeta ahli Tangka menganjurkan para perempuan untuk belajar melukis dengan gaya Tangka. Bahan-bahan yang digunakan sebagai pewarna dalam melukis Tangka berasal dari batu-batuan alam.

Seni Tangka bukanlah sekedar melukis. Namun pelukisnya harus melakukan ritual meditasi. Di Tangka Academy, kita bisa mendapat pelatihan melukis Tangka dengan bimbingan dari Pendeta Buddha Tibet yang memang ahlinya.

Saya juga sempat mengunjungi Kuil Ayam (Chicken Temple). Entah mengapa kuil ini dinamai demikian. Padahal tak ada bentuk yang berhubungan dengan ayam. Saat hari kunjungan adalah bersamaan dengan moodn cake festival. Jadi kuil ini sangat ramai dan penuh asap dupa.





About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

50 Comments to "[Mengunjungi Tanah Leluhur] Bagian 2: Shangri La"

  1. Meitasari S  7 November, 2011 at 07:13

    pak han, sy ini dr peradabn 200thn yg lalu. N pk han brasl dr 100thn yg lalu jd cm p. Han n sy yg tau apa itu ngowoh. Wkwkwk…

  2. Handoko Widagdo  7 November, 2011 at 07:05

    Meitasari, setahu saya ‘ngowoh’ itu sudah tidak dipakai dalam berbahasa sejak seratus tahun yang lalu

  3. Meitasari S  7 November, 2011 at 07:03

    cuma bs kagum ngowoh n heran. Aku tak tahu smua yg di omongin pak han.

    Trmksh sdh mbuatku tmbh pengetahuan

  4. Handoko Widagdo  7 November, 2011 at 06:55

    Mia, saya hanya mengalami masalah saat pertama kesana. Setelah itu saya bolak-balik ke Shangrila langsung dari Jakarta (yang sekarang berada di bawah laut) tidak mengalami masalah.

  5. Mia  6 November, 2011 at 09:58

    Supaya bisa acclimatized dengan altitude yang tinggi, disarankan bila hendak ke Shangrila lagi, perlu tinggal di kunming 2 hari, di lijiang at least 2 hari, baru ke Shangrila.
    Kunming sekitar 1900dpl, Lijiang kota sekitar 2.500dpl… jadi bisa gradually acclimatized…

    Bila ke Shangrila dan tidak tahan dingin disarankan jangan ke sana pada bulan Des-Jan… It’s freezing…!!

    Fotonya bagus2, pak Handoko.!
    Happy Sunday, and Gbu!

  6. Handoko Widagdo  5 November, 2011 at 21:14

    Thanks Niki.

  7. niki  4 November, 2011 at 16:53

    banyak terima kasih atas foto2 nya yg bagus dan menarik sedikit banyak tambah masukan buat para GIser’s dan juga kita yg belum pernah kesana.Tq .Gbu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *