Bajo – Ruteng – Bajawa (6 – Habis)

Abhisam DM


Pesawat Riau Airlines –Fokker 50, baling-baling- mendarat di Bandara H. Hasan Aroeboesman. Suara kencang tadi suara pesawat ternyata, sempat membuat kaget juga. Lalu semuanya berlangsung cukup singkat; pesawat berhenti, penumpang dan bagasi berganti.

Orang-orang seperti tidak terlalu peduli dengan gempa, aku heran. Tapi bagusnya aku jadi terbawa suasana. Perhatianku kini total terfokus pada penerbangan dari Ende ke Maumere; penerbangan yang hanya lima belas menit dan akan menjadi penerbangan terpendekku. Sebelumnya penerbangan terpendekku adalah tiga puluh menit dari Pontianak ke Ketapang.

Aku membayangkan kemungkinan penerbangan pendek yang lain. Mungkin pesawat-pesawat perusahaan minyak untuk tranportasi ke pulau-pulau kecil. Bisa juga pesawat dari Jakarta ke Bandung, jika ada. Atau mungkin pesawat-pesawat militer tertentu. Bisa banyak kemungkinan, aku tak tahu pasti. Namun yang jelas untuk penerbangan komersil –aku agak bersikap sok tahu- ini adalah salah satu yang terpendek, bukan hanya di Nusantara saja, tapi juga di dunia.

Keluar dari ruang tunggu, berjalan sedikit sebelum meniti satu per satu anak tangga ke dalam pesawat, aku diliputi antusiasme tinggi. Setelah masuk, duduk, dan mengencangkan sabuk pengaman, aku menghela nafas panjang. Ini akan menjadi penerbangan yang akan kukenang sepanjang hidupku. Jantungku berdebar agak kencang, aku dapat merasakannya.

Kemudian flight attendance mengumumkan penerbangan dari Ende ke Maumere akan ditempuh dalam waktu dua puluh lima menit. Aku kaget. Sial. Kupastikan lagi ketika flight attendance mengumumkan dalam bahasa Inggris. Ternyata benar, twenty five minutes. Aku mendadak lemas. Sungguh sial. Pupus sudah impian. Aku menghela nafas panjang, kali ini untuk mencoba menghibur diri. Setidaknya ini akan tetap menjadi penerbangan terpendekku meski hanya terpaut lima menit dari sebelumnya.

Keterangan selanjutnya dari flight attendance adalah pesawat akan terbang 5000 kaki di atas permukaan laut. Lumayan, ini akan menjadi penerbangan terendahku, lagi-lagi aku menghibur diri. Sebelumnya beberapa kali aku naik pesawat baling-baling, biasanya terbang di antara 10-20 ribu kaki di atas permukaan laut. Kalau naik pesawat Boeing malah sampai lebih dari 30 ribu kaki di atas permukaan laut. Tapi, sejujurnya, tetap saja ada kekecewaan tersisa di hatiku. Lima belas menit, lima belas menit, dan lima belas menit; pupusnya impian.

Pesawat menuju ke ujung landasan. Jam di tangan kiriku terus kuperhatikan, hanya memastikan waktu saja. Ini salah satu kebiasaan tersendiri. Mulai pesawat take off sampai stabil di udara, atau sampai tanda kenakan sabuk pengaman mati, lima menit. Stabil di udara sampai ada pengumuman prepare for landing juga lima menit. Mulai prepare for landing hingga pesawat mendarat juga lima menit. Kira-kira hitunganku begitu. Aku tersentak, tersadar sesuatu: berarti memang benar-benar lima belas menit!

Aku tersenyum, ada kebahagian menyembul dari situ. Kebahagiaan, atau kepuasan mungkin, setelah menjalani salah satu penerbangan yang –menurut sikap sok tahuku- terpendek di dunia. Terpendek, dan terendah, pula seumur hidupku. Penerbangan lima belas menit dan lima ribu kaki di atas permukaan laut. Luar biasa. Aku sampai tidak sadar pesawat sudah siap melanjutkan penerbangan ke Kupang. Kulihat ke sekeliling, penumpang penuh, padahal tadi dari Ende sedikit sekali. Di sebelahku yang tadinya kosong juga sudah ada orang. Kapan naiknya orang-orang ini, batinku. Aku jadi malu.

Kembali flight attendance mengumumkan, penerbangan ke Kupang akan ditempuh dalam waktu empat puluh lima menit, dengan ketinggian 13 ribu kaki di atas permukaan laut. Tidak ada yang menarik, pikirku. Tentu saja, aku masih larut dalam eforia penerbangan terpendek dan terendah seumur hidupku. Anehnya, ketika disampaikan dalam bahasa Inggris, flight attendance menyampaikan penerbangan ke Kupang akan ditempuh dalam waktu empat puluh menit. Forty  minutes. Jelas sekali. Ah, pantas saja. Sedikit jengkel juga aku. Akurasi informasi buruk sekali. Tadi juga hampir dibuat kecewa, katanya dua puluh lima menit ternyata hanya lima belas menit. Tapi mungkin lima atau sepuluh menit memang tidak terlalu penting.

***

Kupang, ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), aku belum pernah kesana. Biasanya aku akan memanggul perasaan tak sabar ingin segera sampai jika pergi ke suatu daerah yang baru. Baru kali ini tidak begitu. Dan kupastikan ini karena masalah euforia.

Dalam penerbangan dari Maumere ke Kupang aku mereview sedikit Pulau Flores. Satu yang tegas membedakannya dengan Jawa: keramaian. Nagekeo –kabupaten baru hasil pemekaran tahun 2007- adalah kabupaten paling kecil di Flores. Luasnya 1.386 km² dengan penduduk 110.147 jiwa. Sementara di Jawa tidak banyak kabupaten/ kota yang luasnya di atas 1.000 km² namun penduduknya relatif padat.

Kediri di Jawa Timur, luasnya 963,21 km², jumlah penduduknya 1.475.000 jiwa. Kudus di Jawa Tengah, luasnya 425,17 km², jumlah penduduknya 813.000 jiwa. Bantul di Jogyakarta, luasnya 506,86 km², jumlah penduduknya 815.811 jiwa. Cirebon di Jawa Barat, luasnya 988,28 km², jumlah penduduknya 2.085.000 jiwa.

Lebih mencolok lagi Jakarta Barat di DKI Jakarta, luasnya 127,11 km², jumlah penduduknya 2.389.900 jiwa. Bahkan jika dihitung keseluruhan DKI Jakarta, luasnya hanya 740,28 km², tapi jumlah penduduknya 8.792.000 jiwa. Keseluruhan luas DKI Jakarta itu hanya separuh –lebih sedikit- dari luas kabupaten terkecil di Flores, Nagekeo, tapi jumlah penduduknya hampir 80 kali lipatnya.

Aku tahu bangsa ini punya masalah serius dengan pendataan. Aku juga tahu terlalu naïf mengambil perbandingan hanya berdasarkan data-data tadi. Tapi ini hanya otak-atik, iseng. Sekadar membuat penggambaran saja. Intinya Jakarta sudah terlalu ramai. Terlalu padat, juga terlalu sumpek. Tidak heran jika banyak penurunan kualitas hidup; air, tanah, udara, waktu, kerawanan sosial, dan masih banyak lagi.

Tapi orang Jakarta –mereka yang tinggal di Jakarta maksudnya- sangat menjunjung tinggi kesetiaan. Sejelek-jeleknya Jakarta tidak membuat mereka “berpaling ke lain hati”. Mereka mau menerima “kekasihnya” itu apa adanya. Bahkan luka bakar di sekujur wajah tidak membuat perasaan berubah, sedikitpun. Kira-kira begitu gambaran kesetiaannya. Dan itu hebatnya orang Jakarta. “Dan itu sarkasme,” kata temanku yang ku-sms setelah pesawat landing di Kupang.

“Lho, itu interpretasimu,” balasku.

“Gaya Kiai Mbeling kamu pakai,” balasnya lagi.

“Ndak kok, serius.”

“Sumpah demi Tuhan?”

“Masalah gini aja kok bawa-bawa Tuhan.”

“Wek.”

“Wek juga.”

Kupang panas sekali. Meski begitu keinginanku berputar-putar di kota ini tidak leleh. Sayang hanya transit, tak ada waktu untuk itu. Mungkin lain waktu. Kali ini menginjakkan kaki di bumi Nusantara bagian Kupang dan mencium udaranya secara langsung sudah cukup. Setidaknya dicukup-cukupkan. Kata orang alim “dicukup-cukupkan” adalah salah satu siasat agar kita mudah bersyukur. Aku percaya itu.

Sambil menunggu pesawat ke Jakarta aku berkeliling di dalam bandara El Tari melihat-lihat souvenir dan makanan khas. Anggap saja sebagai ganti tidak sempat keliling kota. Tapi hanya melihat-lihat saja, tidak beli. Tidak banyak counter di sini, sebentar saja keliling juga sudah habis. Lalu kulewatkan waktu dengan surfing, terutama mencari informasi soal gempa di Ende tadi. Informasi yang kudapat, gempa berkekuatan 6,9 SR, berpusat di laut 234 km Tenggara Bau-bau, Sulawesi Tenggara, dengan kedalaman 670 km. Gempa tidak berpotensi tsunami, efek getarannya dirasakan di Kupang, Ende, Waingapu, Namlea, Karangkates, Makassar dan Bali.

Aku juga dapat kabar, teman kantorku waktu gempa terjadi ada di Waingapu ternyata. Ia sedang buang air besar. Sadar ada gempa, buru-buru ia selesaikan “hajat”nya lalu keluar dari kamar mandi. Aku tertawa, lalu kutanya, “Tapi waktu keluar dah sempat pake celana kan?” Dijawabnya, “Embeeeeeeer.”

Panggilan naik ke pesawat terdengar dari pengeras suara. Akhirnya. Kembali juga ke Jakarta. Aku kangen pada kasurku, termasuk bantal dan gulingnya. Kasur itu punya nilai tinggi, tapi hanya buatku saja, tidak buat orang lain. Saking tingginya aku sampai punya keyakinan, kelak jika punya istri yang pertama kali ia cemburui pasti kasur itu, termasuk bantal dan gulingnya. Biar saja.

Selesai sudah sepuluh hari perjalananku di Pulau Flores. Semua kabupaten di sana sudah kulewati, kecuali satu, Flores Timur. Dan kecuali dari Ende ke Maumere, semua kutempuh dengan perjalanan darat. Betapa kesempatan yang menyenangkan. Ini pelajaran sesungguhnya tentang wawasan nusantara. Ah, makin dalam saja cintaku pada Nusantara Raya ini.


The end


Artikel sebelumnya:

Bajo – Ruteng – Bajawa (1)

Bajo – Ruteng – Bajawa (2)

Bajo – Ruteng – Bajawa (3)

Bajo – Ruteng – Bajawa (4)

Bajo – Ruteng – Bajawa (5)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.