Haji Mesir

Bisyri Ichwan


Alhamdulillah. Kata ini yang senantiasa terucap ketika satu impian dari sekian banyak impian yang aku bangun hampir tercapai. Impianku pertama kali ketika menginjakkan kaki di Mesir adalah bisa menunaikan ibadah haji secepatnya dan pada hari ini ketika urusan haji telah selesai dan semuanya telah lunas kubayar, rasa syukur itu berhak aku panjatkan. Rasanya tidak sia-sia selama tiga bulan ini aku mencari uang dengan menguras tenaga dan fikiran.

Depan pintu keluar di gedung pusat imigrasi Mesir; Mujamma’ (Foto : Bisyri)

Pada bulan Juni niat untuk berangkat ke tanah suci kubulatkan. Saat itu tabungan yang aku punya hanya 100 dollar, tidak ada sisa simpanan lain. Doa senantiasa kupanjatkan dan aku berusaha menelpon orang tua untuk meminta pertimbangan atas keinginanku ini dan meminta doa dan restunya. Alhamdulillah, bapak sangat bahagia atas niatku, ibu juga sangat mendukungnya, tetapi ketika ku katakan bahwa aku perlu sedikit bantuan keuangan dari mereka seikhlasnya, bapak hanya bisa diam dan tidak menjawabnya.

Keesokan harinya beliau mengirim sms ke nomorku dan mengatakan bahwa beliau hanya sanggup memberikan bantuan senilai 5 juta rupiah dan untuk sisanya aku harus mencari sendiri, entah dari mana saja. Saat itu yang aku punya hanya keyakinan, aku yakin kalau aku bisa berangkat haji. Sejak manajer tempat perusahaan saat ini aku bekerja pulang ke Indonesia, aku diberikan amanah olehnya untuk menggantikan posisinya dan gaji yang kuperoleh dibagi antara aku dan dirinya. Aku menyanggupi ajakannya.

Dari sinilah rejeki itu ku dapatkan, dalam waktu tiga bulan pada pertengahan September 2010 ini, alhamdulillah aku mampu mengumpulkan uang pas, sekitar 1300 dollar dan semua biaya haji mulai dari biaya untuk pemberangkatan, rusum untuk bank Faisal, ta’syir ‘audah (re-entry visa) dan ‘tetek bengek’ urusan lainnya habisanya sekitar 1740 dollar (hampir 17,5 juta). Dengan keyakinan itu pada awalnya, ternyata selalu ada jalan terbuka yang kudapatkan untuk mewujudkan impian itu.

Tepat satu tahun lebih 3 bulan keberadaanku di Mesir dan satu impian itu akan tercapai. Tadi malam seorang sahabatku yang mendapatkan tanggung jawab untuk mengurusi haji menelponku untuk mengajak melengkapi urusan administrasi haji di rumah sakit di Rab’ah El Adawea dan di pusat imigrasi Mesir di Mujmma’ sekitar jam 10 pagi.

Jam 8.30 pagi aku sudah stand by menunggu bus di bawwabah tiga yang langsung menuju rab’ah. Sampai rab’ah sekitar jam 9.45, waktu lima belas menit ku gunakan untuk mencari majalah yang berada tepat di samping masjid, “salamu’alaik, fiy majallah al-azhar”, “salam..ada majallah Al-Azhar”, aku bertanya pada seorang penjaga kios. “Wallahi ma fisy”, “Demi Allah, gak ada”. Oh, majalah yang sering menjadi langgananku yang mengupdate apa saja tentang Al-Azhar tidak ada.

Aku tetap berputar-putar melihat buku yang ada di kios sambil sesekali membaca sekilas novel yang banyak terpampang. “Fiy hagah bita’i Naguib Mahfudz?”, “ada bukunya Naguib Mahfudz gak?”, ku tanyakan lagi padanya, sekedar basa basi. “Syuf..hinak kullu bitai’ Naguib Mahfudz”, sambil menudingkan tulunjuknya dia katakan bahwa di salah satu rak itu semuanya milik Naguib Mahfudz. Aku sedikit menengok buku karangan Naguib yang lumayan banyak dan membeli satu yang lumayan tebal yang berjudul “Baynal Qosrain”, yang berarti “Antara dua istana” dengan gambar perempuan bercadar di sampul bukunya.

Di mahattah dengan ditemani irama klakson segala kendaraan yang nyaring, aku menunggu sahabatku, mas atho’ yang orang Banten itu yang menelponku tadi malam sambil membaca novelnya Naguib Mahfudz yang ternyata banyak dari kosa katanya yang belum aku faham. Ku pencet nomornya di hp-ku dan tiba-tiba dia sudah nongol di 50 meter tempat aku duduk. “Salamu’alaik, gimana kabarnya, yuk kita langsung nyeberang”, basa basi dia bersama kawannya yang bernama Halim yang ternyata orang madura.

Di tempat pendaftaran dan pembayaran di rumah sakit sudah banyak teman-teman Indonesia yang menunggu untuk check kesehatan haji juga. Setiap dari kami membayar 50 pound. Agak lama kami menunggu dan kami berjalan bersama menuju tempat suntik. Giliran aku yang masuk ke ruangan suntik, aku memohon sedikit keringanan kepada pak dokter Mesir yang hendak menyuntik anti biotik ke kedua lenganku, “mumkin wahid bas ya fandim?”, “mungkin satu lengan saja yang disuntik, pak”, kataku.

“La, ma yanfa’sy, lazim itsnain!”, dengan santai dia menjawab, “gak, gak mungkin, harus ke dua lengan!”. Aku manut saja, tetapi kedua mataku tidak berani melihat suntikan yang menancap keras di lenganku. Ketika aku keluar dari ruangan, dari luar aku lihat teman-teman yang disuntik dan aduhh, emang kasar sekali dokter Mesir kalau menyuntik, sepertinya dia tidak pakai otak, hanya cubles, cubles dan cubles, yang penting cepat selesai karena yang akan disuntik berjumlah puluhan dan ruangannya juga selalu terbuka sehingga aku bisa memotretnya.

Sekitar 10 menit, keterangan dari cek kesehatan sudah di tanganku dan kami melanjutkan urusan di Mujamma’ untuk mencari ta’syir ‘audah (re-entry visa) ke Saudi Arabia. Seperti biasa, jalan dari Rab’ah adawea menuju Tahrir yang melewati kubri 6th Oktober selalu macet di waktu jam kerja seperti ini. Kawasan paling parah adalah saat berada di atas Ramsis, semua kendaraan dari Ramsis dan Gamrah berkumpul jadi satu di jalan layang.

Apalagi ditambah dengan suhu Cairo siang ini yang lumayan panas. Di dalam mobil aku menyibukkan diri dengan membaca “Kompas Cetak Hari ini”, seperti biasa langganan bacaan pertama kali yang kubaca adalah “Mata Hari” saat matahari tahu bahwa sopir taksi yang membawanya ke danau adalah sahabatnya sendiri bernama Von Bayerling. Mata hari jengkel sekaligus senang sampai akhirnya mereka bercinta di atas perahu di atas danau. Paling tidak dengan membaca bisa mengurangi kepenatanku dengan macetnya Cairo.

Sesampai di gedung megah Mujamma’ yang orang Mesir menyebutnya dengan Mugamma’ kami turun dan langsung menuju ke pusat Jawazat (pengurusan visa). Tebakanku tentang Mesir tepat, bukan Mesir namanya kalau tidak antri. Entah di jalan, di pasar bahkan hingga di imigrasi semuanya harus antri. Banyak para turis asing yang juga mengurus visa sedang ikut antri. Kami membeli dan mengambil istimarah (formulir) beserta damgohnya (perangko). Semuanya habis 51,5 pound.

Selesai ku tulis semua keterangan di formulir dan ku tempelkan perangkonya. Sahabatku mencoba memberikannya kepada madam yang menjaga di loket. “Dih, bita’ak?”, “ini milikmu?”, madam bertanya. “aiwah”, kata sahabatku. Madam itu membuka pasportku dan tahu kalau itu bukan milik sahabatku melainkan aku dan dia langsung menolaknya dan berkata, “tigi bukroh hina”, “ke sini lagi besok!”, dengan wajah merengut.

Waduh!, bisa gawat. Aku ingin urusan selesai hari ini. Aku meminta formulir itu dari sahabatku dan pergi ke loket lain serta memberikannya sendiri. Alhamdulillah, loket yang aku datangi kali ini diurus oleh laki-laki dan sepertinya dia sabar. Passport milikku langsung dimasukkan dalam data dan aku bertanya, kapan re-entry visa bisa diambil. “Ghodan insya Allah”, besok, sambil sedikit tersenyum. Ya, gak apa-apa, besok aku harus bangun pagi dan pergi sendiri mengambil pasport yang sudah ada re-entry visanya.

Keluar dari gedung Mujamma’ ku ucapkan terimakasih kepada sahabatku mas atho’ yang membantu kelancaran urusan ibadah hajiku dan kami berpisah dengan mengambil jalur perjalanan masing-masing. Dia hendak pulang Madinat buust islamiyah dan aku pulang ke Hayyul Asyir, Nasr City. Metro Cairo bawah tanah yang tepat berada di bawah gedung Mujamma’ menjadi pilihanku untuk pulang.

Semua gerbong penuh, rakyat Cairo saat ini hampir mencapai 8 juta jiwa dengan kotanya yang tidak sebesar Jakarta, sehingga di mana-mana termasuk di kendaraan umum selalu penuh. Aku turun di Ramsis dan selanjutnya naik bus merah dan turun langsung di Tubromli. Akibat kemacetan yang sangat parah, dari keberangkatanku di Mujamma’ jam 12.45, aku bisa sampai rumah jam 14.45. Padahal jika menggunakan mobil sendiri pada malam hari hanya butuh waktu satu jam saja.

Ya, alhamdulillah. Puji syukur padaMu Ya Rabb. Tidak sia-sia rasanya aku bekerja membangun impian selama tiga bulan ini. Doa yang kupanjatkan, ridlo dan doa dari orang tua, ridlo dan doa dari para guru dan sahabat telah memudahkanku untuk memperoleh impianku itu, impian untuk merengkuh haji di tanah suci. Semoga haji mabrur menjadi predikat yang bisa kudapatkan nantinya. Amin.

————————————-

Catatan sederhana usai mengurusi persyaratan pemberangkatan ibadah haji barusan. Rencana berangkat ke Saudi insya Allah sekitar tanggal 25 Oktober 2010 besok. Mohon doa restu dari para sahabat Baltyra semuanya.


Dokter sedang menyuntik lengan seorang teman. Ku potret dari luar jendela (Foto : Bisyri)


Suasana antri di pintu keluar Metro Cairo bawah tanah di Ramsis (Foto : Bisyri)


Di dalam bus merah menuju Hayyul Asyir, Nasr City (Foto : Bisyri)

Salam

Bisyri Ichwan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.