Hasil Kompromi Dengan Setan

Beny Akumo


“Sekarang gini aja deh, kamu mau saya daftarin ke Neraka jahanam kelas VVIP atau Neraka jahanam yang kelas Bisnis?” Napsu, si setan matanya melotot merah, menunjukkan taring-taring giginya yang sudah mulai menguning – jarang disikat giginya kayaknya. Badannya mengejang, menahan amarah yang menggelegak-gelegak, tanduknya terlihat mengepulkan asap, sementara senjata garpu bergagang tiga dia ketuk-ketukkan ke lantai dengan tangan kanannya .. “tuingggg … tuinggg … tuiiiing” bunyinya seperti garpu tala yang dipakai guru kesenian waktu SMP dulu, mencari nada untuk lagu “Tanah Airku” … doooo … samakan suara … dooooo …

Tapi kali ini Setan ini tidak mencari nada, dia mencari persetujuan saya untuk dia mulai meng-collect orang-orang yang bersedia mengikuti jejaknya masuk ke Neraka jahanam. Buku (tepatnya photo album) berisi photo-photo “keindahan” Neraka jahanam dia kempit di antara tangan kirinya – tadi dia sudah angsurkan buku itu untuk saya lihat-lihat isinya, photo-photo berwarna dengan resolusi terbaik yang pernah saya lihat – sepertinya diambil dengan Kamera Canon EOS IDs Mark III dengan lensa yang juga tidak kalah bagusnya – bukaannya pasti yang lebar, fiuuhhhhh … bara api di dalam photo kelas-kelas di Neraka itu terlihat seperti hidup, merah membara.

Ada photo di mana seseorang yang didudukkan di kursi besar, mirip kursi-kursi yang dipakai oleh Direktur-Direktur perusahaan bonafid, mirip-mirip juga dengan kursi-kursi yang dimiliki oleh anggota dewan di gedung miring sana, atau mungkin itu kursi yang dipakai presiden dalam menjalankan tugasnya sehari-hari? wah .. pokoknya kursi besar itu terlihat nyamannnnn, hal itu terlihat karena orang yang didudukkan dikursi itu tersenyum lebar menunjukkan giginya yang putih terawat, dengan mengacungkan dua jari ke depan – melambangkan “Peace” … dan topi Golf yang bagus nangkring di kepalanya (nggak keliatan merk nya …)

Kali lain, atau photo lainnya saya melihat ruangan yang penuh dengan makanan beraneka rupa, buah-buahan import terbaik dari Thailand atau Australia, dengan minuman madu dari Arab, di tengah-tengah berbagai makanan aneka rupa itu ada orang yang sedang memakan buah zaitun … Wah pokoknya photo-photo di dalam buku / album itu sangat menarik, sangat sangat amat menjanjikan kemewahan, sangat sangat amat mendirikan bulu roma saya untuk sekedar mencoba dan menempati ruangan-ruangan indah dan megah dalam photo album milik Setan.

“Ada free trial nya nggak?” tanya saya beberapa saat setelah saya mulai mendengar gigi-gigi yang bergemelutuk milik si Setan penawar jasa Neraka jahanam, Setan yang mulai tidak sabar menunggui saya yang sedang menerima telephone dari seseorang yang menjanjikan saya kedudukan tinggi dalam partai yang sedang naik daun “pokoknya you jangan kuatir soal jabatan, you tinggal pilih, nanti ai kondisikan dengan boss besar masalah itu … tapi tolong you komit dengan omongan you, bahwa you mau menyerahkan sebagian harta you buat kemajuan partai ini, ok? Boss besar sudah sering telephone saya menanyakan ini, tolonglah pastikan, sebentar lagi boss mau ke New York dan dia minta sebelum kakinya menginjak tangga pesawat terakhir, ai sudah kasih khabar bahwa you “in” ke partai kita” …

Setan sudah mulai menguap tidak sabar, dari mulutnya meluncur lidah api yang indah dan panas “blaaarrr …” begitu bunyinya dalam sekali menguap “jadi? kamu mau coba Free Trial dulu ke Neraka jahanam pimpinan saya ini? Mau yang mana? Kelas VVIP? Atau kelas Bisnis? Mudah itu saya atur, tapi tolong sign dulu kontrak kerja kita, kamu kasih saya DP 30%, nggak usah sekarang bayar DP nya, bisa dicicil selama 12 kali …”

Mendengar itu, ada rasa senang di hati saya – wihhh free trial nih, siapa sih yang nggak mau free trial? … “kapan bisa saya mulai free trialnya? Apa kalo saya sudah tanda tangan kontrak dan bayar cicilan DP yang pertama?” … “segeraaaaaaaa …” kata Setan dengan suara nya yang terkenal bariton itu .. Sembari tangan kirinya menjentik, tiba-tiba sudah ada meja kerja indah dengan kursi empuk di hadapan kami, dan di atasnya sudah ada Kontrak kerja terbuat dari kertas pilihan dan tersaji dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia – iseng saya coba tanya, kenapa pake dua bahasa? “bukannya itu yang diwajibkan melalui undang-undang bahwa jika membuat perjanjian dan kontrak harus menggunakan dua bahasa?” … hehe .. update juga nih Setan masalah bagaimana membuat kontrak atau perjanjian yang baik.

Sementara di seberang telephone sana seseorang yang dari tadi masih nyerocos meminta persetujuan saya bergabung dengan partai tempatnya “mencari nafkah” sudah mulai juga memberikan gambaran-gambaran indah, puja-puji selangit jika saya masuk ke partai tersebut … saya pegang ballpoint merk terkenal yang disediakan setan untuk saya menandatangani Kontrak kerja, saya coba goreskan di kertas kosong …bweeessss… tintanya dari api, langsung mengukir indah di kertas itu, merah menyala seperti darah … saya kembali mendengar seseorang di seberang telephone sana mengatakan “kalau you in, you langsung menjabat Sek-Jend …”

“Kaboooommm …” berseliweran dan bergantian, tabung-tabung gas elpiji tiga kilogram warna hijau terang mulai meledak satu persatu, banyak rumah yang hancur, banyak nyawa melayang, banyak orang kehilangan mata pencaharian, tapi partai sedang naik daun beserta jajaran di dalamnya, atau partai-partai lain yang semua berkumpul di gedung indah namun sedikit miring itu hanya diam, hanya melihat, dan kemudian saling menyalahkan.

“Maaf, saya tidak jadi ambil kesempatan yang menarik ini, saya sangat mengerti kesempatan itu tidak datang dua atau tiga kali, kesempatan selalu datang sekali … jika saya tidak ambil, maka ada dua kemungkinan: pertama saya kalah, atau kedua saya bakalan menang … biarlah saya ambil resiko itu, mudah-mudahan yang menang yang saya dapat kan …”

Setan meraung marah, membumbung ke langit merah, mencuit-cuit keras lalu menjatuhkan hujatan-hujatan “sialan … kamu buang-buang waktu saya, kamu tidak tahu diuntung” … Seseorang di seberang telephone tidak terdengar suara nya lagi, hanya bunyi tuutttt tuuuutttt panjang tidak berhenti.

Photo-photo indah Neraka jahanam kelas VVIP masih terbayang-bayang di pelupuk mata “kapan saya punya Kamera Canon EOS IDs Mark III itu ya?” ….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.